Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2012

cara budidaya cacing

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya cacing tanah dimulai dengan sejarah singkat cacing tanah, sentra budidaya cacing tanah, jenis-jenis cacing tanah, manfaat cacing tanah, persyaratan lokasi budidaya cacing tanah, pedoman teknis budidaya cacing tanah, hama dan penyakit cacing tanah dan lain-lain.

1. SEJARAH SINGKAT

Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.

2. SENTRA PERIKANAN

Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya.

3. JENIS

Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak

4. MANFAAT

Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:

Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
5. PERSYARATAN LOKASI

Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.

Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:

pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
Pemeliharaan
Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :

pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
7. HAMA DAN PENYAKIT

Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.

8. PANEN

Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.

9. PASCAPANEN :

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya cacing tanah di Bandung (Jawa Barat) pada ahun 1999 adalah sebagai berikut:

Modal tetap
Sewa tanah seluas 200 m 2 /tahun ————————————————-Rp. 120.000,-
Kandang pelindung:bahan bambu & atap rumbia ———————————–Rp. 150.000,-
Kandang ternak uk 1,5X18 m 2 , Tg 50 Cm :11 bh ——————————–Rp. 600.000,-
Media :
Bahan media 6 Ton, @ Rp. 100,00 ——————————————-Rp. 600.000,-
Plastik 200 m, @ Rp. 1600,00/m ———————————————Rp. 320.000,-
Pelepah Pisang —————————————————————-Rp. 25.000,-
Jumlah ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
Biaya Penyusutan
Tanah ——————————————————————————Rp. 40.000,-
Kandang Pelindung —————————————————————-Rp. 16.667,-
Kandang Ternak ——————————————————————-Rp. 66.667,-
Media
Bahan Media ——————————————————————Rp. 300.000,-
Plastik ————————————————————————-Rp. 160.000,-
Pelepah Pisang —————————————————————–Rp. 6.250,-
Jumlah ————————————————————————-Rp. 589.584,-
Modal Kerja
Bibit sebanyak 40 Kg, @ Rp. 200.000,00/Kg ————————————–Rp. 8.000.000,-
Pakan dalam bentuk limbah sayur(petsai, Mentimun) 5 Ton @Rp. 500,- ————Rp. 2.500.000,-
Tenaga Kerja 4 orang @ Rp. 100.000,-/bulan ————————————–Rp. 400.000,-
Jumlah ——————————————————————————Rp. 10.900.000,-
Jumlah modal yang dibutuhkan :
Modal tetap ————————————————————————Rp. 1.815.000,-
Modal kerja ————————————————————————Rp. 10.900.000,-
Jumlah ——————————————————————————Rp. 12.715.000,-
Produksi/4 bulan
Selama 4 bulan 1600 Kg, @ Rp.210.000,-/Kg ——————————————-Rp. 336.000.000,-
Biaya produksi/4 bulan
Biaya penyusutan ——————————————————————–Rp. 589.584,-
Modal kerja ————————————————————————-Rp. 10.900.000,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 11.489.584,-
Keuntungan/4 bulan
Produksi/4 bulan ———————————————————————Rp. 336.000.000,-
Biaya produksi/4 bulan —————————————————————Rp. 1.489.584,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 324.510.416,-
Break Even Point
Keuntungan/4 bulan ——————————————————————-Rp. 324.510.416,-
Biaya Produksi/4 bulan —————————————————————-Rp. 11.489.584,-
Jumlah ——————————————————————————-Rp. 313.020.822,-
Keuntungan selama 4 bulan ———————————————————-Rp. 313.020.822,-
Untung bersih Produksi Rp. 313.020.822,-/120 hr ———————————–Rp. 2.608.506,-
BEP = Biaya Tetap [ 1 - (Biaya Penyusutan : Keuntungan)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1 - (Rp. 589.584 : Rp. 324.510.416,-)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1- 0.0018 ]
= Rp. 1.815.000,00 X 0.9982
= Rp. 1.811.733,00

Artinya tingkat hasil penjualan sebesar Rp. 1.811.733,00/4 bulan

Tingkat Pengembalian Modal
Modal Kembali =[Jumlah Modal Yang Diperlukan/(keuntungan + penyusutan)] * 1bulan = 1,733 bulan atau 2 bulan dalam 1 kali Produksi. Jadi tempo yang diperlukan untuk menutupi kembali Investasi adalah dalam 1 kali panen atau 2 bulan.
Gambaran Peluang Agribisnis
Cacing tanah merupakan komoditi ekspor yang belakangan ini mendapat respon yang besar dari para petani ataupun pengusaha. Hal ini disebabkan karena besarnya permintaan pasar internasional dan masih kurangnya produksi cacing tanah. Budidaya cacing tanah dapat memberikan hasil yang besar dengan penanganan yang baik.
11. DAFTAR PUSTAKA

Asep, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
Budiarti, Asiani, Palungkun, Roni, Cacing Tanah (Jakarta : Penebar Swadaya, 1992).
Endang, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
Hamzah, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
Hud, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
Rudi, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah ( Bandung : Jum’ at, 2 Juli 1999).
Sayuti, Fahri, Pedoman Praktis Budidaya Cacing Tanah (Bandung : Pusat Latihan Dan Pengembangan, 1999).
Syaeful, Wawancara dengan Peternak Cacing Tanah (Bogor : Jum’ at, 8 Juli 1999).
Waluyo,Neno, Wawancara dengan Mahasiswa Peternak Cacing Tanah (Bogor : Kamis, 24 Juni l999).
12. KONTAK HUBUNGAN

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Minggu, 07 November 2010

Kelengkeng, Si Kecil yang Punya Banyak Manfaat

Kelengkeng (Foto: Google)
KELENGKENG atau lengkeng (Dimocarpus longan) merupakan tanaman buah-buahan yang berasal dari daratan Asia Tenggara. Tanaman yang muncul di daratan China ini merupakan keluarga buah rambutan dan leci. Dalam bahasa Mandarin, lengkeng disebut “ong ya guo” atau “long yan” yang berarti mata naga. Sementara di Indonesia buah ini populer dengan sebutan “mata kucing”. 
Daging buahnya berbentuk bulat, berwarna putih bening, dan mengandung banyak air. Di tengah daging buah terdapat biji berwarna hitam atau cokelat tua. Daging buah lengkeng mengandung banyak zat gizi yang penting untuk kesehatan dan kesegaran tubuh. Ada sukrosa, glukosa, protein (nabati), lemak, vitamin A, vitamin B, asam tartarik, dan senyawa fitokimia (kimia tumbuhan) lain yang berguna bagi kesehatan.

Kombinasi senyawa-senyawa fitokimia ini melahirkan berbagai khasiat, antara lain, mengendurkan saraf. Buah ini memberikan rasa tenang sehingga berkhasiat mengatasi rasa gelisah, susah tidur, dan sulit berkonsentrasi.

“Kandungan fitokimianya berfungsi untuk mengendurkan saraf-saraf alias bisa memberikan efek penenang. Jadi, bagi anak kecil yang sulit tidur, makanlah kelengkeng. Gejala kecemasan (anxiety) atau pun sulit tidur dapat dikurangi dengan mengonsumsi lengkeng,” jelas Yunita, STP dari Herbal Nutrition Club Bandung, Dago Plaza, Bandung.

Lengkeng memiliki efek sedatif (menenangkan) yang dapat mengurangi debaran jantung yang terlalu keras. Lengkeng juga mengandung karbohidrat kompleks (sukrosa) dan glukosa sehingga bisa meningkatkan energi, menambah tenaga, mengurangi rasa lapar, hingga meningkatkan stamina.

“Protein yang dikandungnya pun dapat membantu menyehatkan usus dan memperbaiki proses penyerapan makanan hingga melancarkan buang air kecil,” terang lulusan IPB ini.

Buah lengkeng juga dapat memperkuat limpa, meningkatkan produksi darah merah, menambah nafsu makan, dan menambah tenaga. Karena itu, buah ini sangat baik dikonsumsi oleh orang-orang yang sedang dalam proses pemutihan stamina setelah sakit. Apakah penderita diabetes boleh mengonsumsi buah ini? Tergantung dari setiap tujuan dari manfaat apa yang akan diambil dan resistensi seseorang terhadap senyawa gula. Mungkin ada pembatasan konsumsi gula untuk pengidap penyakit tertentu, seperti diabetes dan sebagainya,” terangnya.

Menurutnya, sebaiknya orang mengonsumsi buah lengkeng setiap hari sebanyak 250 gr (seperempat) buah lengkeng segar. Untuk mengatasi kecemasan (anxiety) dan susah tidur/gelisah, setiap hari minumlah 1 sendok makan saripati lengkeng (cairan atau sirup). Caranya, ambil 500 gr daging lengkeng segar dan 500 gr gula pasir, didihkan dalam air kurang lebih 500 ml, dan aduk hingga kental.

Lengkeng juga dapat mencerahkan mata dan menjaga kesehatan kulit (wajah). “Dampak negatif untuk orang pada umumnya tidak ada jika mengonsumsi kelengkeng secara berlebihan,” imbuhnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya lengkeng adalah buah-buahan penambah energi yang memiliki kandungan fitokimia, sehingga aman dikonsumsi, kecuali oleh orang yang mengidap penyakit degeneratif seperti gula.

Selain daging, akar, daun, dan bijinya juga bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakit. Akar lengkeng bermanfaat untuk melancarkan sirkulasi darah. Daun kelengkeng sebagai antiradang dan peredam demam. Dan bijinya bisa digunakan untuk menyembuhkan luka bakar.

silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

BUDIDAYA TANAMAN MANGGIS

Asal dari kepulauan Malaya termasuk keluarga Guttiferae. Beberapa species membentuk buah yang dapat dimakan, tetapi tidak seenak buah manggis. Kecuali buah, bagian tanaman lain juga sangat bermanfaat seperti misalnya kulit buah, kulit kayu, akar dan lain bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai obat seperti diare, obat cacing, tumor pada rongga mulut. Kulit buah manggis juga merupakan komoditas ekspor dari Singapura ke Cina.
Deskripsi
  • Tinggi tanaman 10-25 m. Mahkota bunga ada yang bulat, ada yang seperti piramid kompak meruncing keatas. Tanaman ini sukar dikembangkan, terutama karena pertumbuhannya yang sangat lambat dan memerlukan beberapa tahun agar sistem perakaran dapat benar-benar efektif.
Syarat Tumbuh
  • Tumbuh baik di daerah yang suhunya tinggi, lembab, curah hujan tinggi merata sepanjang tahun. Tidak tahan pada angin laut. Suhu optimum untuk pertumbuhannya berkisar antara 220-230C. Tanaman muda membutuhkan naungan yang rimbun baik di dataran rendah sampai ketinggian 800 m dengan curah hujan 1500-2500 mm/tahun. Manggis ini sangat baik tumbuh pada tanah yang kaya akan bahan organik dengan aerasi yang cukup baik. Umumnya tumbuh di dataran rendah terutama di pulau Jawa terdapat di selatan Jawa Barat, bagian utara Jawa Barat sekitar Serang, Tangerang, Cibinong, Purwakarta dan Subang, bagian selatan DKI Jakarta, Jawa Tengah sekitar Bumiayu, Kebumen, sebelah selatan Batang, Kendal dan Ungaran. Di Jawa Timur manggis dapat dikembangkan di daerah basah sekitar G. Semeru ke barat sampai lereng G. Kawi dan ke timur sampai lereng G. Lamongan, sekitar Pacitan-Blitar dan lereng selatan G. Raung
Perbanyakan
  • Perbanyakan dengan biji
    Manggis dapat diperbanyak dengan biji tapi bukan merupakan perbanyakan secara generatif, karena biji manggis terbentuk secara apomiktis. Biji mempunyai viabilitas yang rendah dan cepat mengalami kemunduran. Biji harus segera dikecambahkan segera setelah diambil (dikeluarkan) dari buah. Apabila tetap berada dalam buah, biji manggis tetap bertahan viabilitasnya selama 3-5 minggu. Makin besar bijinya makin baik pertumbuhan tunasnya.
  • Perbanyakan secara vegetatif
    Perbanyakan tanaman manggis secara vegetatif dapat berupa setek, cangkok,penempelan, penyambungan dan penyusuan. Cara yang paling berhasil dilakukan dengan cara penyambungan, yaitu sambung pucuk. Cara ini lebih hemat dalam menggunakan cabang entris (batang atas). Sebagai entris digunakan tunas ujung yang masih muda daunnya tetapi telah cukup keras. Sebagai batang bawah digunakan bibit semai yang sudah berumur 2 tahun atau yang diameter batangnya kurang lebih 0,5 cm, mempunyai kulit batang berwarna hijau. Metode penyambungan celah lebih banyak berhasil daripada metode sisi.
Pembibitan
  • Pembibitan perlu dipilih lokasi yang cocok, yaitu teduh dan tidak jauh dari sumber air. Tanah untuk pesemaian diolah cukup dalam, dan dibuat bedengan selebar 1,2 m, tinggi bedengan kira-kira 30 cm. Diantara bedengan dibuat selokan pembuangan air. Tanah diberi pupuk kandang sebanyak 10 kg/m3 apabila biji akan disemai dalam kantong plastik maka media yang baik adalah campuran tanah kebun, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan bagian 1:1:1. Apabila biji disemaikan dalam bedengan, maka biji ditanam pada jarak tanam 40 cm x 30 cm , sedalam 0,5 - 1,0 cm. Pesemaian yang menggunakan kantong plastik, cukup menanam 1 biji dalam 1 kantong plastik. Mulai umur 1 bulan, bibit perlu mendapat pupuk. Setiap bibit diberi 2-3 gram campuran urea dan TSP. Pemberian pupuk diulang sebulan sekali.
Pemeliharaan Tanaman
  • Untuk pertumbuhan vegetatif yang baik, satu bulan setelah tanam diberi 100-200 g urea/pohon. Pemberian diulang setiap 6 bulan sekali ditambah 20-30 kg pupuk kandang. Untuk membantu mempertahankan kesehatan tanaman apabila berbuah nanti, maka untuk bibit sambungan mulai umur 4 tahun diberi pupuk NPK, sebanyak 0,5 kg/pohon. Pemberian pupuk NPK juga diulangi setiap 6 bulan sekali, setelah pohon dewasa perlu diberikan pupuk lebih banyak (3,5kg/pohon).
Panen
  • Saat panen yang baik apabila kira-kira 25% dari permukaan kulit buah sudah berwarna ungu. Pemetikan buah dilakukan dengan mengikutsertakan tangkai buah, supaya dapat bertahan lebih lama.
  • Buah yang baik kemudian dikelompokkan atas dasar ukuran buah yaitu :
    • Mutu super yaitu diameter buah 6,5 cm
    • Mutu I yaitu diameter buah 5,5-6,5 cm
    • Mutu II yaitu diameter buah 5,5 cm
  • Untuk perdagangan internasional, mutu buah ditentukan oleh beratnya. Pasar Malaysia dan Hongkong menghendaki berat minimum buah 65 gr sedangkan pasaran Jepang minimum 80 gr. Buah manggis yang dipetik dengan mengikutsertakan tangkainya, pada suhu kamar, buah yang sehat dapat tetap baik sampai 2-3 minggu setelah panen. Penyimpanan pada suhu 4-60C dapat mempertahankan kualitas buah sampai 49 hari. Pada suhu penyimpanan 9-120C, buah dapat bertahan 33 hari.

silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

BUDIDAYA TANAMAN KELENGKENG

Berasal dari Sri lanka, India, Birma dan Cina. Jenis-jenis kelenkeng liar banyak ditemukan di Kalimantan Timur degan nama buku, ihaw, medaru, kakus atau mata kucing.  Tanaman ini mirip dengan leci yang tumbuh di dataran tinggi.  Di Indonesia, kelengkeng terdapat di Temanggung, Magelang, sedangakn leci di terdapat di Bali.
Deskripsi:
Famili Sapindaceae. Tinggi tanaman dapat mencapai 40 m.  Lebih cocok ditanam di dataran rendah (300-900 m dpl), tipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan.  Suhu malam dingin selama musim kemarau (15 o - 20 o C) mendorong tanaman berbunga.  Ada tanaman yang berbunga sempurna maupun hanya berbunga betina atau jantan saja. Tanaman kelengkeng berbunga setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus-Oktober dan buah dapat dipanen 4 bulan setelah bunga mekar.  Buah kelengkeng berbentuk bulat besar, kulit hijau kasar ketika masih muda dan kuning kecoklatan setelah tua serta tidak berbulu.  Daging buah bening berair, dengan rasa manis dan aroma yang khas.
Karakteristik Beberapa Varietas Kelengkeng:
Karakter BuahVarietas
LumutBatuKopyor
Warna kulit buah matangagak gelapcerahagak cerah
Daging buahtipistebalkurang tebal
Sifat daging buahlengketngelotokngelotok
Rasakurang manismanis segarmanis
Aromalanguagak harumkurang harum
Bijibesarkecilagak besar
Budidaya:
  • Bibit sebaiiknya berasal perbanyakan vegetatif (cangkok dan okulasi).  Tanaman dari biji baru mulai berbuah lebih dari umur 7 tahun
  • Jarak tanam agak lebar (8 x 8 m) karena ukuran tajuknya yang lebar
  • Pemeliharaan yang penting adalah pemangkasan cabang negatif agar sinar matahari dapat masuk  merata ke tajuk tanaman.
Hama dan Penyakit:
  • Hama yang biasanya menyerang adalah serangga pengisap buah.  Sedngakan penyakit yang sering menyerang di musim penghujan adalah Mildew (seperti yang menyerang buah rambutan).
Panen:
  • Tanaman mulai berbunga pada umur 5-6 tahun (Juli-Oktober).  Buah matang 5 bulan setelah bunga mekar.
  • Ciri-ciri buah matang adalah warna kulit buah coklat gelap, licin dan mengeluarkan aroma.
  • Produksi buah rata-rata 300-600 kg per pohon.

silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

BUDIDAYA TANAMAN PISANG


Botani:
  • Famili Musaceae dari ordo Scitaminae dan terdiri dari dua genus, yaitu genus Musa dan Ensete.  Genus Musa terbagi dalam empat golongan, yaitu Rhodochlamys, Callimusa, Australimusa dan Eumusa.  Golongan Australimusa dan Eumusa merupakan jenis pisang yang dapat dikonsumsi, baik segar maupun olahan.  Buah pisang yang dimakan segar sebagian besar berasal dari golongan Emusa, yaituMusa acuminata dan Musa balbisiana.  Tanaman pisang merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara dengan pusat keanekaragaman utama wilayah Indo-Malaya.
  • Tanaman pisang termasuk dalam golongan terna monokotil tahunan berbentuk pohon yang tersusun atas batang semu.  Batang semu ini merupakan tumpukan pelepah daun yang tersusun secara rapat teratur.  Percabangan tanaman bertipe simpodial dengan meristem ujung memanjang dan membentuk bunga lalu buah.  Bagian bawah batang pisang menggembung berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup pada bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang.  Buah pisang umumnya tidak berbiji/bersifat partenokarpi.
Syarat Tumbuh:
  • Tanaman pisang dapat ditanam dan tumbuh dengan baik pada berbagai macam topografi tanah, baik tanah datar ataupun tanah miring.  Produktivitas pisang yang optimum akan dihasilkan pisang yang ditanam pada tanah datar pada ketinggian di bawah 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan keasaman tanah pada pH 4.5-7.5.  Suhu harian berkisar antara 25 o - 27 o C dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. 
Jenis-jenis Pisang yang Dikonsumsi:
  • Pisang Ambon Kuning
    Pisang Ambon Kuning cocok untuk hidangan buah segar, memiliki ukuran buah lebih besar daripada pisang ambon lainnya dengan kulit buah tidak terlalu tebal dengan warna kuning muda.  Daging buah yang sudah matang berwarna putih kemerahan.  Rasa daging buah pulen, manis, dan aromanya harum.  Dalam satu  tandan terdapat 6-9 sisir (satu sisir berisi 15-20 buah) dengan berat per tandan 18-20 kg.
  • Pisang Ambon Lumut
    Pisang Ambon Lumut cocok untuk hidangan buah segar.  Kulit buah berwarna hijau walaupun sudah matang dan lebih tebal daripada kulit buah pisang ambon kuning.  Daging buah hampir sama dengan pisang ambon kuning hanya sedikit lebih putih.  Daging buah agak keras, aroma lebih harum dan rasanya lebih manis.  Dalam satu tandan terdapat 7-12 sisir dengan berat 15 – 18 kg..
  • Pisang Ambon Putih
    Pisang Ambon Putih cocok untuk hidangan buah segar.  Ukuran buah lebih besar daripada pisang ambon lumut. Kulit buah yang sudah matang berwarna kuning keputih-putihan.  Daging buah berwarna puith kekuningan dengan rasa agak asam, dan beraroma harum. Dalam satu tandan terdapat 10-14 sisir dengan berat 15-25 kg.
  • Pisang Barangan
    Pisang Barangan cocok untuk hidangan buah segar.  Pisang Barangan terdiri dari 2 jenis, yaitu pisang barang yang berwarna kemerah-merahan dan yang berwarna kuning.  Pisang Barangan yang berwarna kemerah-merahan memiliki daging buah yang lebih besar dan rasa yang lebih enak dan aroma yang lebih harum daripada yang berwarna kuning.  Dalam satu tandan terdapat 5-12 sisir degang berat 9-20 kg.
  • Pisang Raja  Pisang Raja cocok untuk hidangan buah segar maupun olahan.  Kulit buah tebal dan berwarna kuning berbintik hitam pada buah yang telah masak.  Ukuran buah cukup besar dengan diameter 3,2 cm dan panjang 12-18 cm.  Daging buah yang telah matang berwarna kuning kemerahan bila dimakan terasa legit dan manis dengan aroma harum.  Dalam satu tandan  terdapat 6-9 sisir (setiap sisir berisi 14-16 buah) dengan berat per tandan 12-16 kg.  Bunga muncul 14 bulan sejak anakan dan buah akan masak 5,5 bulan kemudian.
  • Pisang Kepok
    Pisang Kepok cocok untuk makanan olahan.  Jenis pisang kepok yang lebih dikenal adalah pisang kepok putih dan pisang kepok kuning dengan warna daging buah sama seperti namanya.  Daging buah bertekstur agak keras dengan aroma yag kurang harum. Kulit buah sangat tebal dan berwarna hiaju kekuningan pada buah yang telah masak. Pisang kepok kuning rasanya lebih enak daripada pisang kepok putih.  Dalam satu tandan dapat mencapai 10-16 sisir (satu sisir berisi 20 buah pisang) dengan berat per tandan 14-22 kg.
  • Pisang Tanduk
    Pisang Tanduk cocok untuk makanan olahan. Buahnya berukuran besar dengan panjang lebih dari 20 cm.  Kulit buah tebal dan berwarna kuning kemerahan berbintik hitam.  Daging buah yang sudah matang berwarna putih kemerahan.  Dalam satu tandan terdapat hanya sekitar 1-3 sisir (satu sisir terdiri dari 10-15 buah) dengan berat per tandan 7-10 kg.
  • Pisang Badak
    Kulit buah agak tebal, berwarna kuning berbintik hitam.  Daging buah berwarna puith kekuningan.  Rasa buah manis agak asam dengan aroma kurang harum.  Dalam satu tandan terdapat 7-9 sisir dengan berat per tandan mencapai 14 – 18 kg.
  • Pisang Nangka
    Pisang Nangka cocok untuk makanan olahan.  Buah berukuran agak panjang, sekitar 15 cm.  Kulit buah agak tebal dan berwarna hijau walaupun sudah matang (buah yang sangat masak berwarna hijau kekuningan).  Daging buah berwarna kuning kemerahan dengan rasa manis agak asam dan beraroma harum.  Dalam satu tandan terdapat 7-8 sisir dengan berat tandan 11-14 kg.
  • Pisang Mas
    Pisang Mas cocok untuk hidangan buah segar.  Buah berukuran kecil-kecil dengan diameter 3-4 cm.  Kulit buah tipis dengan warna kuning cerah pada buah yang masak.  Daging buah lunak, rasanya sangat manis dan aromanya harum.  Dalam satu tandan terdapat 5-9 sisir (satu sisir dapat mencapai 18 buah) dengan berat per tandan 8-12 kg.
  • Pisang Susu
    Pisang Susu cocok untuk hidangan buah segar.  Ukuran buah kecil hampir sama dengan pisang mas.  Kulit buah tipis, berwarna kuning berbintik hitam.  Daging buah putih kekuningan.  Rasa buah manis, lunak dan berarom harum.  Dalam satu tandan terdapat sekitar 8 sisir (satu sisir berisi 12-16 buah) dengan bertat per tandan 12-16 kg.
  • Pisang Cavendish
    Pisang Cavendish cocok untuk hidangan buah segar.  Dari 36 subkultivar pisang cavendish hanya beberapa subkultivar yang telah diusahakan sebagai tanaman perkebunan, yaitu:
    • Grain Naine, berasal dari Perancis.  Bentuk buah silindris dari atas ke bawah membentuk kerucut.  Setiap tandap terdiri dari 12 sisir(satu sisir terdiri dari 24-36 buah)  dengan bobot 45-65 kg.  Jarak antar sisir cukup longgar sehingga jumlah buah yang salah bentuk tidak banyak.
    • Petit Naine, berasal dari Perancis.  Buah berukuran kecil dan cukup ringan.  Rasanya kurang manis.  Jarak antar sisir cukup dekat sehingga banyak buah yang salah bentuk.
    • Omalag, berasal dari Filipina.  Buah di tandan bagian atas berukuran relatif besar selanjutnya makin ke bawah makin mengecil. Jarak antar sisir berdekatan.
    • William, berasal dari Australia.  Dibedakan menjadi dua, yaitu william tall dan william small.  Ukuran buah relatif seragam dengan kulit buah tipis berwarna kuning kehijauan ketika matang.  Jarak antar sisir cukup jauh.  Bobot buah per tandan 35-50 kg.
    • Valery, berasal dari Amerika Tengah.  Bentuk buah cukup bagus karena jarak antar sisir relatif jauh.  Setiap tandan terdiri dari 14-20 sisir dengan bobot per tandan 35-50 kg.
Kandungan Gizi:
  • Kandungan gizi yang terdapat dalam buah pisang cukup tinggi.  Nilai gizi yang terdapat tiap 100 g buah pisang adalah kalori sebesar 79 kal, protein 1.2 g, lemak 0.2 g, kalsium 8.0 g, besi 0.5 mg, vitamin A 1.0 mg, vitamin C 10 mg dan vitamin B 0.08 mg.
Penggunaan:
  • Buah pisang tidak hanya dikonsumsi dalam keadaan segar namun juga dikonsumsi dalam bnetuk olahan.  Buah pisang dapat diproses menjadi tepung pisang, pure, bir, cuka, kripik, sale, dodol, dan saus. 
  • Tanaman pisang termasuk tanaman yang serbaguna.  Selain buahnya, bagian lainnya juga dapat dimanfaatkan.  Bonggol pisang dapat dijadikan soda sebagai bahan baku sabun dan pupuk kalium.  Batangnya dapat digunakan sebagai pengahsil serat bahan baku kain dan makanan ternak.  Daun pisang banyak digunakan sebagai pembungkus makanan tradisional.
Penanaman:
  • Membuat lubang tanam 50 x 50 x 50 cm
  • Berbagai Jarak Tanam pada Penanaman Beberapa Kultivar Pisang di Indonesia
Jarak tanam (m)
Kultivar pisang
2 x 2
mas, barangan
3 x 3
dwarf cavendish, gross michel, nangka, raja, raja sereh
4 x 4
giant cavendish, tanduk, kepok
  • Pupuk kandang yang telah dicampur furadan diberikan sebesar 15 kg per lubang tanam (untuk tanah berpasir sebesar 20 – 25 kg)
  • Ditaburkan pupuk fosfat 20 g di dasar lubang tanam dan ditutup tanah tipis
  • Sebelum ditanam, bibit dicelupkan ke dalam fungisida Dithane M-45 dengan konsentrasi 1.5 mg/l dan pada lubang tanam ditaburkan furadan sebanyak 10 g
  • Penanaman pisang dilakukan secara bertahap (2 tahap, setahun dua kali) dengan selisih penanaman 6 bulan.  Penanaman pertama dilakukan dengan jarak tanam renggang (4 mx 4 m), kemudian penanaman tahap kedua dilakukan di antara jarak tanam yang telah datanami.  Tujuan penanaman seperti ini adalah untuk mengatur waktu panen dan pembongkaran tanaman pada tahun ke 5, 9 , 13, 17 agar tidak serempak sehingga pada tahun-tahun tersebut masih dimungkinkan adanya panen.
  • Pemupukan dilakukan 4 kali setahun, yaitu pada saat tanam dan sesudah tanam sebanyak 3 kali.  Dosis pupuk tegantung dari tingkat kesuburan tanah.  Jika kandungan N tanah rendah maka pupuk N (ZA) yang diberikan sekitar 1900 kg/ha/tahun.  Jika kandungan N tinggi maka pupuk N (ZA) yang diberikan hanya 900 kg/ha/tahun.  Pemberian pupuk N dibagi menjadi 4 kali, ¼ bagian waktu tanam dan sisanya dibagi merata dalam tiga kali pemupukan.  Pupuk fosfat diberikan saat tanam sebesar 160 kg/ha. Pupuk kalium diberikan sebesar 800 kg/ha/tahun sampai 1250 kg/ha/tahun dengan cara aplikasi sama seperti pupuk N.
Pemeliharaan Tanaman:
  • Pengendalian gulma dilakukan secara manual dan mekanis.  Penyiangan dengan mesin ring wedding berjari-jari 1 meter dilakukan saat tanaman berumur 1 bulan sampai 5 bulan.   Pada usia tiga bulan pertama pembersihan gulma dilakukan secara intensif untuk mengurangi akibat negatif dari kompetisi.  Pengendalian gulma sudah mulai dapat dikurangi pada usia tanaman 5 bulan karena kanopi tanaman dapat menekan pertumbuhan gulma.      Setelah tanaman berumur 5 bulan (tinggi sekitar 1-1.5 m), pengendalian gulma dilakukan dengan herbisida.  Penggunaan herbisida pada saat tanaman mencapai ketinggian 1-1.5 meter bertujuan agar daun tanaman pokok tidak terganggu oleh herbisida.  Penyiangan dilakukan dengan selang waktu 2-3 bulan sekali.
  • Penjarangan anakan dilakukan dengan memelihara 1 tanaman induk  (berusia 9 bulan), 1 anakan/daughter (berusia 7 bulan), dan 1 anakan muda/grand daughter (berusia 3 bulan), dilakukan rutin setiap 6-8 minggu. Tujuan dari penjarangan tanaman adalah menjaga kestabilan jarak tanam, dan menjaga kontinuitas produksi melalui pemilihan umur anakan dalam satu rumpun.  Anakan berumur 6 bulan dapat digunakan sebagai bahan tanaman untuk inisiasi kebun baru dan ditanam di antara baris tanaman pada penanaman tahap pertama.  Pembongkaran dilakukan pada tahun ke-5.  Rumpun pisang hasil penanaman tahap pertama dibongkar pertama kali dilanjutkan pembongkaran kedua pada 6 bulan berikutnya pada sisa rumpun yang ada. 
  • Pemotongan bunga jantan dilakukan setelah 2 sisir terakhir muncul kira-kira 30 hari setelah anthesis.  Kemudian buah dibungkus dengan kantong plastik (polyethylene) Dursband 1E yang mengandung insektisida pada umur 50 hari setelah anthesis.  Pohon yang sedang berbuah ditopang dengan bambu atau mengikatkan pangkal tandan pisang pada kabel yang terbentang diantara barisan tanaman pisang agar batang tidak roboh sebelum buah dipanen.
  • Pemberian air dilakukan untuk menjaga kelembaban tanah agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.  Cara pemberian air dapat dengan sistem leb  atau mengalirkan air melalui saluran irigasi.  Perkebunan-perkebunan pisang di luar negeri seperti Filipina, Brasil dan Panama menerapkan tiga cara irigasi buatan untuk mengairi tanaman pisang, yaitu irigasi curah di atas kanopi (over head system), irigasi curah di bawah kanopi (under tree system), dan irigasi tetes (drip irrigation system).
  • Pemeliharaan sanitasi kebun dilakukan tiap 45 hari sekali meliputi kegiatan pembersihan daun kering, penjarangan anakan dan pembuangan sisa tanaman bekas panen.  Pemeliharaan sanitasi kebun bertujuan untuk menjaga lingkungan kebun yang sehat dan baik bagi pertumbuhan tanaman pisang.
Hama dan Penyakit:
  • Hama:
    • Ulat Penggulung Daun (Erionata thrax) menyebar di Asia Tengara.  Gejala: larva instar awal membuat irisan miring pada tepi daun dan menggulung ke atas bagian yang terpotong sebagian dan lambat laun gulungan makin lebar.  Pada serangan berat hanya tersisa tulang daun dan gulungan daun. Curah hujan yang tinggi menekan populsi instar awal.  Pada daerah yang terlindung dari angin populasi hama tinggi.
    • Penggerek Buah Pisang (Nacoleia octasema) menyebar di Asia Tenggara.  Gejala: seperti kudis  buah bercak kecoklatan sebagian membusuk. 
    • Penggerek Batang Pisang (Cosmopolies sordidus) menyebar di daerah tropika.  Gejala: larva instar awal membuat beberapa gerekan memanjang pada jaaringan bagian luar hinga menembus seludang daun bagian dalam di dekatnya.  Hama ini menggerek pangkal batang dan rhizoma.  Serangan di daerah pegunungan lebih tinggi dari dataran rendah.  Populasi hama banyak terdapat pada tanaman yang terlalu tua serta pada tungul dan rhizoma yang tersisa.  Pengendalian: sanitasi kebun dan pemanenan secara periodik.
    • Odoiporus longicallis  merupakan hama sekunder.  Larva menggerek ke dalam tengah batang hinga seludang daun.
  • Penyakit:
    • Penyakit Layu Fusarium (Penyakit Panama) disebabkan oleh Fusarium oxysporium.  Penyakit ini merupakan penyakit yang merugikan setelah layu bakteri dan menyebar luas diseluruh dunia.
      • Gejala:
        • Tepi daun bawah kuning tua lalu menjadi coklat dan mengering
        • Pangkal tangkai daun patah
        • Kadangkala batang palsu bagian luar belah dari pangkal
        • Pada belahan membujur pangkal batang palsu tedapat garis-garis coklat kehitaman ke berbagai arah (pada pangkal batang)  batang batang palsu hingga tangkai daun terjadi perubahan warna berkas pembuluh
      • Pengendalian: Pencegahan
    • Bercak daun cercospora (penyakit sigatoka) disebabkan oleh Mycosphaerella musicola.  Penyakit ini kadang kala merugikan dapat menurunkan kuantitas dan kualitas buah namun kurang mendapat perhatian di Indonesia.
      • Gejala:
        • Bercak kecil memanjang kuning pucat atau hijau kecoklatan sejajar tulang daun
        • Bercak membesar menjadi coklat tua hingga hitam ellips (0.5 cm x 1.5 cm)
        • Pada daun tua pusat bercak mengering kelabu dengan tepinya coklat tua dengan halo kuning
        • Pada pusat bercak ada titik hitam
    • Bercak daun cordana disebabkan oleh Cordana musae.  Penyakit ini terdapat di tiap negara penanam pisang namun dianggap kurang penting.
      • Gejala:
        • Bercak ellips kecil kemudian membesar coklat pucat  konsentris dengan halo kuning
        • Sering bercampur dengan bercak cercospora
        • Bercak dapat merupakan hawar
    • Penyakit kerdil pisang disebabkan oleh Banana Bunchy Top Virus (BBTV).  Penyebaran penyakit di Asia Tenggara, Asia Selatan, Pasifik, Australia, dan beberapa negara Afrika.
      • Gejala:
        • Awal: garis-garis pendek terputus-putus diselingi titi-titik terdapat di antara dan sejajar tulang-tulang daun sekunder
        • Lanjut: daun-daun yang muncul berikutnya (daun-daun muda) tumbuh lebih tegak  lebih pendek  lebih sempit tangkai daun lebih pendek. Sepanjang tepi daun terjdai klorosi dan kering  daun menjadi rapuh. Infeksi pda tanaman muda menyebabkan tanaman tidak berproduksi
      • Pengendalian:
        • penerapan karantina tumbuhan
        • penggunaan bibit bebas virus
        • roguing
        • penggunaan insektisida
    • Pseudomonas solanacearum atau penyakit layu bakteri pisang.(penyakit moko).  Serangan terjadi terutama saat pisang menjelang berbunga.  Tanaman tiba-tiba layu tanpa didahului menguningnya daun.  Pada bonggol pisan terdapat lendir.
    • Xanthomonas celebens (penyakit darah).  Bakteri menyerang pembuluhbatang pisang melalui akar.  Pembuluh yang terserang akan mengeluarkan cairan seperti darah apabila dipotong.
Pengendalian Kuantitas dan Kualitas Produk:
  • Kegiatan pengendalian kuantitas dan kualitas produk bertujuan untuk menjaga buah agar memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan terutama untuk tujuan ekspor.  Rusaknya buah (turunnya kualitas buah) dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain tandan buah menyentuh tanah karena pohon roboh, gesekan daun/gesekan mekanis lainnya terhadapbuah, serangan hama dan penyakit terhadap buah serta adanya getah yang menempel pada buah. 
  • Pengendalian ini dimulai sejak kuntum bunga muncul dari batang semu hingga buah siap panen.  Kegiatan yang dilakukan meliputi:
    • Penyuntikan kuntum bunga pada saat bunga (jantung) pisang muncul 2/3 dari pucuk batang semu dengan insektisida sistemik untuk mencegah serangan aphid yang dilakukan pada 10 cm dari ujung bunga
    • Pembuangan sisa bunga betina yang menempel pada buah setelah selesai pembungaan pada umur 30 hari setelah anthesis
    • Pembuangan daun terakhir dan daun tua yang menempel pada buah
    • Penyisaan daun pada saat fase perkembangan buah tidak kurang dari 4 helai
    • Pemasangan penyanggah pada tanaman yang sedang berbuah
    • Pembungkusan buah dengan plastik polyethylene yang mengandung insektisida pada saat tandan sudah terbentuk sempurna (50 hari setelah anthesis), jantung yang masih kuncup dan dua sisir buah terbawah dibuang.  Setelah dibungkus, tandan diberi tanda untuk menentukan waktu panen yang tepat sehingga umur dan ukuran buah seragam.
Penentuan Waktu dan Cara Panen:
  • Penentuan waktu panen yang tepat akan menghasilkan kualitas buah pisang yang baik.  Panen buah dilakukan saat tingkat perkembangan fisiologi buah maksimum.  Pada saat perkembangan buah maksimum, kandungan pati mencapai tingkat tertinggi sehingga dalam proses pematangan dapat diubah menjadi gula yang cukup tinggi. Secara visual, buah pisang yang siap panen menunjukkan tanda-tanda seperti bentuk buah tampak bulat berisi dan sudut penampangnya rata serta tangkai bekas putik telah gugur.
  • Cara pemanenan, yaitu batang pisang dipotong kira-kira setengah diameter batang pada ketinggian 1 m dari permukaan tanah. Tandan buah ditahan agar tidak terjatuh ke tanah lalu dipotong.
  • Kriteria kematangan pisang:
TingkatKematangan
Warna Kulit Buah
Persen Pati
Persen Gula
Keterangan
1
Hijau
20
0.5
Keras
2
Hijau Mulai Kuning
18
2.5
-
3
Hijau lebih banyak dari Kuning
16
4.5
-
4
Kuning lebih banyak dari Hijau
13
7.5
-
5
Kuning lebih banyak namun ujung buah masih hijau
7
13.5
-
6
Seluruhnya kuning
2.5
18.0
Mudah dikupas
7
Kuning sedikit   bintik coklat
1.5
19.0
Masak penuh aroma
8
Kuning dengan banyak bintik coklat
1.0
19.0
Lewat masak, daging buah gelap, aroma tinggi sekali
Penanganan Pasca Panen:
  • Pemotongan sisir pisang dari tandannya
  • Pencucian sisir dari kotoran dan getah serta dilakukan seleksi buah
  • Pencucian sisir pisang yang sudah terseleksi dalam air bersih mengalir
  • Penyusunan sisir pada rak terbuka lalu dikeringanginkan dengan mengalirkan udara kering pada sisir-sisir pisang tersebut
  • Pengemasan sisir pisang pada kotak karton per 15 kg (3-5 sisir ukuran besar atau 6-9 sisir ukuran kecil)
  • Penyemprotan fungisida Al2(SO4)3 (120 ml/15 kg pisang)
  • Pengepakan pada kontainer


silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan mohon cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More