Minggu, 24 Januari 2010
Sabtu, 23 Januari 2010
Suku Baduy di Pedalaman Banten
Orang Kanekes atau
orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah
Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang
diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut,
berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan
mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang
berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai
Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut.
Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau
"orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang
mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo
| |
Wilayah kanekes bermukim tepat di kaki
pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten
Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota
Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa
sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa
Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar.
Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu. Namun inti dari kepercayaan itu sendiri ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” ( kepatuhan) dengan konsep tidak ada perubahan sesedikit mungkin atau tanpa perubahan apapun. | |
Objek kepercayaan terpenting bagi
masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan
dianggap paling sakral. masyarakatnya mengunjungi lokasi tersebut dan
melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan kalima. Hanya ketua adat
tertinggi puun dan rombongannya yang terpilih saja yang dapat
mengikuti rombongan tersebut. Di daerah arca tersebut terdapat batu
lumping yang dipercaya apa bila saat pemujaan batu tersebut terlihat
penuh maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil,
dan begitu juga sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan
terjadi kegagalan pada panen.
Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar. Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger. | |
BADUY BUKAN SUKU TERASING
(http://disbudpar.wordpress.com) Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng – Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten. Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu. | |
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur
oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan
kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu
Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup
masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh
beberapa tokoh adat lainnya.
Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku
yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan
upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan
Camat Leuwidamar.
Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja. | |
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
daftar suku suku di indonesia
Daftar
Lengkap Suku-Suku Yang Ada Di Nusantara - Indonesia adalah negara
kepulauan yang terdiri dari belasan ribu pulau, baik pulau besar maupun
kecil. Dari sekian banyak pulau tersebut, ada beraneka ragam kebudayaan
yang terdapat di dalamnya. Kebudayaan-kebudayan tersebut lahir dari
berbagai macam suku bangsa yang berdiam di tanah Kepulauan Nusantara.Inilah suku bangsa terbesar yang ada di Indonesia:
* Suku Aceh di Aceh: kabupaten Aceh Besar
* Suku Alas di kabupaten Aceh Tenggara
* Suku Alor di NTT: kabupaten Alor
* Suku Ambon di kota Ambon
* Suku Ampana di Sulawesi Tengah
* Suku Anak Dalam di Jambi
* Suku Aneuk Jamee di kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya
* Suku Arab-Indonesia
* Suku Aru di Maluku: Kepulauan Aru
* Suku Asmat di Papua
* Suku Abung di Lampung
* Suku Bali di Bali
* Suku Balantak di Sulawesi Tengah
* Suku Banggai di Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Kepulauan
* Suku Baduy di Banten
* Suku Bajau di Kalimantan Timur
* Suku Bangka di Bangka Belitung
* Suku Banjar di Kalimantan Selatan
* Suku Batak di Sumatera Utara
* Suku Batin di Jambi
* Suku Bawean di Jawa Timur: Gresik
* Suku Belitung di Bangka Belitung
* Suku Bentong di Sulawesi Selatan
* Suku Berau di Kalimantan Timur: kabupaten Berau
* Suku Betawi di Jakarta
* Suku Bima NTB: kota Bima
* Suku Boti di kabupaten Timor Tengah Selatan
* Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara: Kabupaten Bolaang Mongondow
* Suku Bugis di Sulawesi Selatan
* Suku Bungku di Sulawesi Tengah: Kabupaten Morowali
* Suku Buru di Maluku: Kabupaten Buru
* Suku Buol di Sulawesi Tengah: Kabupaten Buol
* Suku Buton di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
* Suku Bonai di Riau: Kabupaten Rokan Hilir
* Suku Damal di Mimika
* Suku Dampeles di Sulawesi Tengah
* Suku Dani di Papua: Lembah Baliem
* Suku Dairi di Sumatera Utara
* Suku Dayak di Kalimantan
* Suku Dompu NTB: Kabupaten Dompu
* Suku Donggo, Bima
* Suku Donggala di Sulawesi Tengah
* Suku Dondo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
* Suku Duri Terletak di bagian utara Kabupaten Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, meliputi tiga kecamatan induk Anggeraja, Baraka, dan Alla di Sulawesi Selatan
* Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)
* Suku Flores di NTT: Flores Timur
* Suku Gayo di Aceh: Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
* Suku Gorontalo di Gorontalo: Kota Gorontalo
* Suku Gumai di Sumatera Selatan: Lahat
* Suku India-Indonesia
* Suku Banten di Banten
* Suku Cirebon di Jawa Barat: Kota Cirebon
* Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta
* Suku Jambi di Jambi: Kota Jambi
* Suku Kei di Maluku Tenggara: Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual
* Suku Kaili di Sulawesi Tengah: Kota Palu
* Suku Kaur di Bengkulu: Kabupaten Kaur
* Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
* Suku Kerinci di Jambi: Kabupaten Kerinci
* Suku Komering di Sumatera Selatan: Kabupaten Ogan Komering Ilir, Baturaja
* Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
* Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
* Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
* Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
* Suku Kutai di Kalimantan Timur: Kutai Kartanegara
* Suku Kluet di Aceh: Aceh Selatan
* Suku Krui di Lampung
* Suku Laut, Kepulauan Riau
* Suku Lampung di Lampung
* Suku Lematang di Sumatera Selatan
* Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
* Suku Lintang, Sumatera Selatan
* Suku Lom, Bangka Belitung
* Suku Lore, Sulawesi Tengah
* Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
* Suku Madura di Jawa Timur
* Suku Makassar di Sulawesi Selatan: Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba (sebagian), Kabupaten Sinjai (bagian perbatasan Kab Gowa)Kabupaten Maros (sebagian) Kabupaten Pangkep (sebagian)Kota Makassar
* Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat: Kabupaten Mamasa
* Suku Mandar Sulawesi Barat: Polewali Mandar
* Suku Melayu (Suku Melayu Riau di Riau, Suku Melayu Tamiang di Aceh: Aceh Tamiang)
* Suku Mentawai di Sumatera Barat: Kabupaten Kepulauan Mentawai
* Suku Minahasa di Sulawesi Utara: Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
* Suku Minangkabau, Sumatera Barat
* Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
* Suku Muko-Muko di Bengkulu: Kabupaten Mukomuko
* Suku Muna di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Muna
* Suku Muyu di Kabupaten Boven Digoel, Papua
* Suku Mekongga di Sulawes Tenggara: Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara
* Suku Nias di Sumatera Utara: Kabupaten Nias, Nias Selatan
* Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
* Suku Ogan di Sumatera Selatan
* Suku Ocu di Kabupaten Kampar, Riau
* Suku Papua/Irian
* Suku Asmat di Kabupaten Asmat
* Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
* Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
* Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
* Suku Amungme di Mimika
* Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
* Suku Arfak di Manokwari
* Suku Kamoro di Mimika
* Suku Palembang di Sumatera Selatan: Kota Palembang
* Suku Pamona di Sulawesi Tengah: Kabupaten Poso
* Suku Pasemah di Sumatera Selatan
* Suku Pesisi di Sumatera Utara: Tapanuli Tengah
* Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
* Suku Rejang di Bengkulu: Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
* Suku Rote di NTT: Kabupaten Rote Ndao
* Suku Rongga di NTT Kabupaten Manggarai Timur
* Suku Saluan di Sulawesi Tengah
* Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat: Kabupaten Sambas
* Suku Sangir di Sulawesi Utara: Kepulauan Sangihe
* Suku Sasak di NTB, Lombok
* Suku Sekak Bangka
* Suku Sekayu di Sumatera Selatan
* Suku Semendo di Bengkulu, Sumatera Selatan: Muara Enim
* Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
* Suku Simeulue di Aceh: Kabupaten Simeulue
* Suku Sumbawa Di NTB: Kabupaten Sumbawa
* Suku Sumba di NTT: Sumba Barat, Sumba Timur
* Suku Sunda di Jawa Barat
* Suku Talaud di Sulawesi Utara: Kepulauan Talaud
* Suku Talang Mamak di Riau: Indragiri Hulu
* Suku Tamiang di Aceh: Kabupaten Aceh Tamiang
* Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
* Suku Ternate di Maluku Utara: Kota Ternate
* Suku Tidore di Maluku Utara: Kota Tidore
* Suku Timor di NTT, Kota Kupang
* Suku Tionghoa-Indonesia
* Suku Tojo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
* Suku Toraja di Sulawesi Selatan: Tana Toraja
* Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara: Kendari
* Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
* Suku Tomini di Sulawesi Tengah: Kabupaten Parigi Moutong
* Suku Una-una di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
* Suku Ulu di Sumatera utara: mandailing natal
* Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
suku wolio buton sulawesi tenggara
Suku Wolio-Buton-Sulawesi Tenggara
Letak : Sulawesi Tenggara
Populasi : 30.000 jiwa
Bahasa : Wolio
Agama Mayoritas : Islam
Suku wolio atau yang biasa juga disebut orang-orang Buton berdiam
di kepulauan Buton, Muna dan Kabaena di Propinsi
Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau kecil di propinsi Sulawesi Selatan.
Mereka berbicara dalam bahasa Wolio, sub kelompok bahasa Buton-Muna
dari kelompok bahasa Austronesia. Nenek moyang mereka adalah imigran
yang datang dari Johor sekitar abad 15 yang mendirikan kerajaan Buton.
Pada tahun 1960, dengan kematian sultan yang terakhir, kesultanan
dibubarkan yang akhirnya mencerai-beraikan tradisi di kepulauan
tersebut. Dalam kerajaan Buton diterapkan pula sistem kasta. Saat ini,
Buton lebih terkenal sebagai penghasil aspal di Indonesia.
SOSIAL BUDAYA
Di dalam perkampungan mereka umumnya terdapat pasar yang menjual
hasil-hasil tenunan dari sutera, katun dan sejenisnya. Banyak kampung
juga memiliki toko-toko kecil dan penjaja keliling, di mana hal ini
terlihat dari gerobak-gerobak yang mereka buat sendiri untuk berjualan.
Mata pencaharian utama suku Wolio adalah bertani, karena tanah yang
mereka tempati sangatlah subur. Hasil pertanian tersebut antara lain
beras, jagung dan singkong. Banyak juga yang menjadi nelayan atau
pembuat perahu. Perairan pulau Buton dan Mina kaya akan ikan tuna dan
ikan ekor kuning. Tetapi sejak kesempatan untuk memperoleh penghasilan
yang cukup di daerah terasa sulit, banyak dari mereka yang kemudian
pergi meninggalkan pulau mereka dengan bekerja sebagai buruh di
perusahan-perusahaan dagang dalam jangka waktu yang lama.
![]() |
| Pakaian Khas Wolio |
Saat ini, banyak orang-orang Wolio asli yang tinggal di Indonesia
bagian timur (Maluku dan Irian Jaya). Dalam masyarakat Wolio, laki-laki
yang mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan
pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun
dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki. Sejak
dulu, orang Wolio juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang
baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki
kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari
bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan
di bidang sosial.
Perkawinan dalam kebudayaan Buton sudah bersifat monogami. Setelah
menikah, pasangan akan tinggal di rumah keluarga wanita sampai sang
suami anggup mendirikan rumah sendiri. Tanggup jawab membesarkan anak
ada di bahu ayah dan ibu. Rumah tempat tinggal suku Wolio didirikan di
atas sebidang tanah dengan menggunakan papah yang kuat, dengan sedikit
jendela dan langit-langit yang terbuat dari papan yang kecil dan daun
kelapa.
AGAMA/KEPERCAYAAN
Hampir semua orang Wolio beragama Islam. Namun, terdapat kepercayaan
terhadap roh-roh. Selain itu, di tingkat pusat juga dikenal suatu aliran
yang disebut Sufi. Melalui ajaran Sufi ini, mereka melakukan meditasi
untuk mencari visi dari Allah atau mencari hal-hal yang tersembunyi di
luar akal mereka. Reinkarnasi juga dipercaya oleh banyak dari mereka
sebagai akibat dari ajaran Hindu yang masih melekat. Roh-roh jahat yang
dapat menimbulkan penyakit, roh-roh penolong yang dapat memberikan
petunjuk-petunjuk adalah roh-roh yang mereka percayai. Selain itu mereka
juga percaya adanya roh para leluhur yang dapat menolong atau dapat
menimbulkan penyakit tergantung dari tingkah laku/kebiasaan mereka.
KEBUTUHAN
| Rumah Adat |
Orang Wolio membutuhkan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan
uang untuk membiayai hidup. Kendatipun tanah mereka subur, hasil
pertanian dan juga non pertanian belum dapat meningkatkan perekonomian
orang Wolio secara berarti. Keadaan geografis yang berupa kepulauan
membutuhkan sarana perhubungan yang cukup memadai untuk memungkinkan
mereka mengadakan kontak dengan dunia luar. Para nelayan membutuhkan
ketrampilan menangkap ikan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat
meningkatkan produksi dan distribusi hasil laut daerah mereka yang
terkenal seperti ikan tuna dan ikan ekor kuning di pulau Buton dan
Muna. Selain itu, sikap haus ilmu orang Wolio memproyeksikan KEBUTUHAN
pengajar dan pendidik yang dapat mengembangkan potensi dan wawasan
mereka.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Kamis, 21 Januari 2010
sari boso jowo
Perangane Awak
| No. | Ngoko | KramÄ MadyÄ | KrÄmÄ Inggil |
01.
02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. |
alĂs
ati awak balĂșng bangkĂškan bathĂșk bĂłkĂłng brĂȘngos cangkĂȘm cĂȘngĂȘl dhĂ„dhĂ„ dhĂȘngkul dlamakan driji ĂȘmbun-ĂȘmbunan ĂȘndhas ĂšpĂšk-ĂšpĂšk gĂȘgĂȘr gĂȘlung gĂȘtĂh githok gulu idĂȘp idu igĂ„ ilat irung janggĂșt jĂ©nggot kĂ©mpol kringĂȘt kuku kupĂng lambĂ© luh mĂ„tĂ„ pipi pundhak pupu rai rambĂșt riyak sikĂl susu suwĂ„rĂ„ tangan umbĂȘl untu uyĂșh wĂȘtĂȘng wudĂȘl |
alĂs
manah badan balung bangkĂškan bathĂșk bokong brĂȘngos cangkĂȘm cĂȘngĂȘl dhĂ„dhĂ„ dhĂȘngkul dlamakan driji ĂȘmbun-ĂȘmbunan sirah ĂšpĂšk-ĂšpĂšk gĂȘgĂȘr gĂȘlung rah githĂłk gulu idep idu igĂ„ ilat irung janggĂșt jĂ©nggot kĂ©mpol kringĂȘt kuku kupĂng lambĂ© luh mripat pipi pundhak pupu rai rambĂșt riyak suku susu swantĂȘn tangan umbĂȘl untu toyan wĂȘtĂȘng wudĂȘl |
imbÄ
(pĂȘng) galih salirĂ„ tosan pamĂȘkan palarapan bocong gumbĂ„lĂ„, rawis tutuk griwĂ„ jĂ„jĂ„ jengku samparan racikan pasundhulan mustĂ„kĂ„ tapak astĂ„ pĂȘngkĂȘran ukĂȘl rah julukan jangga ibĂng kĂȘcoh unusan lidhah grana kĂšthĂškan,adhĂȘgan gumbala wĂȘngkĂȘlan riwĂ© kĂȘnĂ„kĂ„ talingan lathi waspĂ„ paningal, socĂ„ pangarasan pamidhangan wĂȘntĂs pasuryan rĂ©mĂ„, rĂkmĂ„ jlagrĂ„ ampĂ©yan prĂȘmbayĂșn swantĂȘn astĂ„ gadhĂng wĂ„jĂ„ turas padharan tuntunan |
Tembung Ngoko - Krama Madya - Krama Inggil
| No. | Ngoko | KrÄma MadyÄ | KrÄmÄ Inggil |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. |
A
abang adhi adĂȘg adĂłh adĂșs ajang aku ambĂșng amĂt anak anak-anak anggo aran arĂȘp (pĂȘm)-barĂȘp asu awĂšh ayo Ă© | abrĂt adhi ngadĂȘg tĂȘbĂh adĂșs ajang kulĂ„ ambĂșng amĂt yogĂ„ anak-anak anggĂ© nĂ„mĂ„ ajĂȘng, badhĂ© pĂȘmbajĂȘng sĂȘgawon nyukani mĂ„nggĂ„ nĂk | abrĂt rayi jumĂȘnĂȘng tebĂh siram ambĂȘng kawulĂ„,dalĂȘm aras kulĂ„nuwun, putrĂ„ peputrĂ„ agĂȘm asmĂ„ kĂȘrsĂ„ pĂȘmbajĂȘng sĂȘgawon maringi sumanggĂ„ pĂșn |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. |
B
bali bantal banyu bapak batĂșr bĂȘbĂȘd bĂ©bĂ©k bĂȘnĂȘr bĂȘras biyĂšn bojo borĂšh buri buwang bĂȘbuwang buyar | mantĂșk bantal toyĂ„ bapak rĂ©ncang bĂȘbĂȘd kambangan lĂȘrĂȘs uwĂłs riyĂn sĂ©mah borĂšh wingkĂng bucal bĂȘbucal rampĂșng | kĂșndĂșr kajang sirah toyĂ„ rĂ„mĂ„ abdi nyamping kambangan kasinggihan uwĂłs rumiyin garwĂ„ kĂłnyĂłh pĂȘngkĂȘran kĂȘndhang bĂłbĂłtan rampĂșng |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. |
C
caritĂ„ caturan cawis cĂȘkĂȘl cĂšlĂšng cĂ©wok clathu cucĂșl cukĂșr cundhĂșk | cariyĂłs wicantĂȘn cawĂs cĂȘpĂȘng andhapan cawĂk wicantĂȘn cucĂșl cukĂșr cundhĂșk | cariyĂłs ngendikĂ„ caĂłs astĂ„ andhapan cawĂk ngvndikĂ„ lukar paras, pangkas sangsangan |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. |
D
dadi dalan dandan dĂȘlĂȘng dhĂ©wĂ© dhuwĂt dudu doyan dolan dulang durĂșng duwĂ© | dadĂłs radinan dandĂłs ningali piyambak yatrĂ„ sanĂšs purĂșn dolan ndulang dĂȘrĂȘng gadhah | dadĂłs margi busĂ„nĂ„ mriksani piyambak artĂ„ sanĂšs kersĂ„ amĂȘng-amĂȘng ndhahari dĂšrĂšng kagungan |
| No. | Ngoko | KrÄmÄ MadyÄ | KrÄmÄ Inggil |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. |
E
Ă©lĂng ĂȘmbah ĂȘmbuh ĂȘndhĂȘm ĂȘndi ĂȘntĂšni ĂȘnyang ĂȘpĂšk Ă©suk | Ă©lĂng ĂȘmbah kirangan mĂȘndhĂȘm pundi ĂȘntosi awĂs pĂȘndhĂȘt Ă©njĂng | Ă©mĂșt, Ă„ngĂȘt Ă©yang ngapuntĂȘn wuni pundi rantosi awĂs pundhĂșt Ă©njĂng |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. |
I
ikĂȘt iki ilang imbĂșh inĂȘp irĂȘng ngiringakĂȘn isĂ„ isĂn iwak iyĂ„ | ikĂȘt niki ical imbĂȘt nyipĂȘng cĂȘmĂȘng ngiringakĂȘn sagĂȘd isĂn ulam inggĂh | dĂȘstar punikĂ„ ical tandĂșk nyarĂ© cĂȘmĂȘng ndhĂšrĂškakĂšn sagĂȘd lingsĂȘm ulam sĂȘndikĂ„ |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. |
J
jĂ„gĂ„ jago jalĂșk jamu jaran jarĂt jenat jerĂșk jisĂm jogĂšd jungkat jupĂșk | jagi sawĂșng nĂȘdi jampi jaran sinjang jĂȘnat jĂȘram jisĂm jogĂšd sĂȘrat pĂȘndhĂȘt | rĂȘksĂ„ sawĂșng nyuwĂșn lĂłlĂłh titihan nyamping swargi jĂȘram layĂłn bĂȘksĂ„ pĂȘthat pundhĂșt |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. |
K
kabĂšh kĂ„cĂ„mĂ„tĂ„ kagĂšt kakang kalĂșng kanggo kĂ„ndhĂ„ kathĂłk katĂșr kayu kĂȘbo kĂȘlambi kĂȘlĂșd kĂȘmbang kĂȘmbĂȘn kĂȘmĂșl kĂȘrĂs kijĂng kirĂ„ kĂłngkĂłn kowĂ© kramas krĂ„sĂ„ krungu dikubĂșr kuburan kurang kuwat kuwi | sĂȘdĂ„yĂ„ kĂ„cĂ„mripat kagĂšt kakang kalĂșng kanggĂ© sanjang kathĂłk katĂșr kajĂȘng maĂ©sĂ„ rasukan kĂȘlud sĂȘkar kĂȘmbĂȘn kĂȘmul dhuwĂșng kijĂng kintĂȘn kĂšngkĂšn sampĂ©yan kramas kraĂłs kĂȘpirĂȘng dipĂȘtak kuburan kirang kiyat niku | sĂȘdantĂȘn kĂ„cĂ„tingal kĂȘjĂłt rĂ„kĂ„ sangsangan kagĂȘm ngĂȘndika lancingan konjĂșk kajĂȘng maĂ©sĂ„ agĂȘman samparan sĂȘkar kĂȘsĂȘmĂȘkan singĂȘp wangkingan sĂȘkaran kintĂȘn utĂșs pĂȘnjĂȘnĂȘngan jamas kraĂłs midhangĂȘt disarĂškakĂ© pasarĂ©yan kirang kiyat punikĂ„ |
| No. | Ngoko | KrÄmÄ MadyÄ | KrÄmÄ Inggil |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. |
L
labĂșh lagi laĂr lali lanang lĂ„rĂ„ larang layang lemah lĂȘmu liwat lungĂ„ lĂȘlungan lunggĂșh | labĂȘt sawĂȘg lair supĂ© jalĂȘr sakĂt awĂs sĂȘrat siti lĂȘma langkĂșng kĂ©sah kĂȘkĂ©sahan lĂȘnggah | labĂȘt nĂȘmbĂ© miyĂłs kalimĂȘngan kakĂșng gĂȘrah, gĂȘring awĂs nawĂ„lĂ„ siti lĂȘmĂ„ langkĂșng tindak pĂȘparan pinarak |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. |
M
mĂ„cĂ„ macan malĂng mambu manak mangan mangkat marang mati mayĂt mĂȘlĂšk mĂšlu mĂšnĂšhi mĂȘnjangan menyang mĂȘtu mikir minggat mlaku mudhĂșn mulang mulĂh muni murah | mĂ„cĂ„ macan maling mambĂȘt nglairakĂȘn nĂȘdhĂ„ bidhal dhatĂȘng pĂȘjah mayĂt mĂȘlĂšk tumĂșt nyukani sangsam dhatĂȘng mĂȘdal manah minggat mlampah mandhap mucal mantuk mungĂȘl mirah | maĂłs simĂł pandĂșng nggĂ„ndĂ„ mbabar dhahar tindak, jengkar dhatĂȘng sedĂ„, surĂșd layĂłn wungu ndhĂšrĂšk maringi, nyaĂłsi sangsam dhatĂȘng miyĂłs nggalĂh lĂłlĂłs tindak mandhap mucal kĂșndĂșr mungĂȘl mirah |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. |
N
nandĂșr nangĂs nĂȘpsu nĂłm nunggang ngadĂȘg ngaggo ngarĂȘp ngaso ngĂȘlu ngĂšngĂšr ngĂȘntĂšni ngimpi ngirĂm ngisĂng ngombĂ© ngĂłngkĂłn nguyĂșh nyambĂșt gawĂ© nyĂȘkĂȘl nyilĂh nyrĂȘngĂȘni nyritani | nanĂȘm nangĂs, mular nĂȘpsu nĂšm numpak ngadĂȘg nganggĂ© ngajĂȘng kĂšndĂȘl ngĂȘlu ngĂšngĂšr ngĂȘntosi ngimpi ngintun bebanyu nginum ngĂšngkĂšn toyan nyambut damĂȘl nyĂȘpĂȘng nyambut nyrĂȘngĂȘni nyriyosi | nanĂȘm muwĂșn duka timĂșr nitĂh jumĂȘnĂȘng ngagĂȘm ngarsĂ„ kĂšndĂȘl puyĂȘng ngabdi ngrantĂłs nyupĂȘna ngintĂșn bĂłbĂłtan ngunjĂșk ngutĂșs ngaturi turas ngastĂ„ damĂȘl ngastĂ„ ngampĂl ndukani nyriyĂłsi |
01. 02. 03. 04. 05. |
O
ĂłmbĂł obat olĂšh ĂłmpĂłng ora | wiyar jampi angsal ĂłmpĂłng bĂłtĂȘn | wiyar usĂ„dĂ„ pikantuk, kĂȘparĂȘng dhaĂșt bĂłtĂȘn |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. |
P
pĂ„dhĂ„ padusan paidĂłn panas pangan pangilĂłn paturĂłn payĂșng peĂ©an pikĂr pilĂs pitĂk prau pupak pupĂșr putĂh putu | sami padusan paidĂłn bĂȘntĂšr tĂȘdhan pangilĂłn patilĂȘman payĂșng pĂ©tan manah pilĂs ayam kapal pupak pupĂșr pĂȘthak putu | sami pasiraman kĂȘcohan bĂȘntĂšr dhaharan paningalan pasarĂ©eyan sĂłngsĂłng ulĂk penggalĂh blĂłnyĂłh ayam baitĂ„ dhaĂșt tasĂk pĂȘthak wayah |
| No. | Ngoko | KrÄmÄ MadyÄ | KrÄmÄ Inggil |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. |
R
rabi rĂ„dĂ„ rĂ„sĂ„ rĂ„tĂ„ raĂșp rekĂ„sĂ„ rupĂ„ rusak | Ă©mah ĂȘmah radi raĂłs radin raĂșp rĂȘkaos warni risak | krĂ„mĂ„ radi raĂłs radin suryan rekaĂłs warni risak |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. |
S
sabĂșk sadĂȘla sadulĂșr salĂn sandhangan sapi sapĂh sapu sĂȘga sĂȘgĂ„rĂ„ selĂr sendhĂłk silĂh slamĂȘt suwĂ© | sabĂșk sĂȘkĂȘdhap sadhĂšrĂšk gantĂłs panganggĂ© lĂȘmbu sapĂh sapu sĂȘkul sĂȘgantĂȘn selĂr sĂ©ndhok sambĂșt wilujĂȘng dangu | pĂȘningsĂȘt sĂȘkĂȘdhap sadhĂšrĂšk gantĂłs pangagĂȘm lĂȘmbu pĂȘgĂȘng samparan sĂȘkul sĂȘgantĂȘn ampil, ampĂ©yan lantaran ampĂl sugĂȘng dangu |
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. |
T
takĂłn tandang gawĂ© tĂ„ndhĂ„ tangan tandĂșr tangi tapihan tĂȘka tĂȘkĂȘn tĂȘtak, sunat tiba tilĂk tuku turah turu turĂșn | takĂšn nyambut damĂȘl tĂ„ndhĂ„ tangan tanĂȘm tangi tapihan dugi, dhatĂȘng tĂȘkĂȘn tĂȘtak, sunat dhawah tuwi tumbas tirah tilĂȘm turĂșn | ndangu ngastĂ„ damel tapak astĂ„ tanem wungu nyampingan rawĂșh lantaran supĂt dhawah tuwi mundhut tirah sarĂ©, nĂ©ndrĂ„ tĂȘdhak |
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
MuncĂșlĂ© AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar
SawisĂ© jaman MĂ„jĂ„pait, muncĂșl jaman Islam lan uga jaman KolonialismĂȘ KulĂłn ing Tanah Jawa.
Ing jaman iki banjĂșr muncĂșl naskah-naskah manuskrip kapisan sĂng wĂs nganggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar.
Naskah-naskah iki ora namĂșng katulĂs ing gĂłdhĂłng palĂȘm (rĂłntal utawa nipah) manĂšh, nangĂng ugĂ„ ing dluwang utawa kĂȘrtas lan awujĂșd buku utĂ„wĂ„ codex ("kodhĂšks").
Naskah-naskah iki ditĂȘmĂłkakĂ© ing tlatah pasisir lĂłr JĂ„wĂ„ lan pĂ„dhĂ„ digawani mĂȘnyang Eropah ing abad kapĂng 16 utĂ„wĂ„ 17.
BĂȘntukĂ© aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar iki wĂs bĂ©dĂ„ karo aksĂ„rĂ„ sadurungĂ© kayĂ„tĂ„ aksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„paitan.
Prabédan utÄmÄ iku anané serif tambahan ing aksara HÄnÄcÄrÄkÄ Anyaran.
Prabédan utÄmÄ iku anané serif tambahan ing aksara HÄnÄcÄrÄkÄ Anyaran.
AksĂ„rĂ„-aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ awal iki bĂȘntĂșkĂ© mĂšmpĂȘr kabĂšh sĂ„kĂ„ BantĂȘn ing sisĂh kulĂłn nganti tĂȘkan Bali.
NangĂng banjĂșr akirĂ© pirang-pirang tlatah ora nganggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ lan pindhah nganggo PĂ©gĂłn lan aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya Surakartan sĂng dadi baku.
NangĂng saka kabĂšh aksĂ„rĂ„ iku, aksara Bali sĂng bĂȘntĂșkĂ© tĂȘtĂȘp padha nganti ing abad kapĂng 20.
NangĂng banjĂșr akirĂ© pirang-pirang tlatah ora nganggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ lan pindhah nganggo PĂ©gĂłn lan aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya Surakartan sĂng dadi baku.
NangĂng saka kabĂšh aksĂ„rĂ„ iku, aksara Bali sĂng bĂȘntĂșkĂ© tĂȘtĂȘp padha nganti ing abad kapĂng 20.
AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ ing médhia céthak
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ wiwĂt digunakakĂ© kanggo nyithak buku ing pĂșrwanĂ© abad kapĂng 19.
TĂšknik mĂ©dhia cithak wiwĂt ditĂȘpangi pĂșrwanĂ© ing Eropah ing tĂȘngahĂ© abad kapĂng 15 ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© tahĂșn 1450.
SĂng kapisan ngriptĂ„ iku Johannes Gutenberg sĂ„kĂ„ JĂȘrman.
MĂ„wĂ„ sistĂ©m Gutenberg iki, dadi sawijinĂng tĂšks ora usah ditulĂs mĂ„wĂ„ tangan manĂšh dĂ©nĂng sawijinĂng juru tulĂs nangĂng bisa dicithak.
AkibatĂ© buku-buku bisĂ„ diprodhĂșksi massal lan Ă©wadĂ©nĂ© bisĂ„ diĂȘdĂłl luwĂh murah lan panyĂȘbaranĂ© luwĂh jĂȘmbar.
BÄngsÄ
Ăropah wĂs pĂ„dhĂ„ nĂȘkani NuswantĂ„rĂ„ wiwĂt taun 1511, lan manyinaĂłni
bĂ„sĂ„-bĂ„sĂ„ pribumi ing tlatah kĂ©nĂ©, nangĂng gagasan kanggo nyithak
buku-buku mĂ„wĂ„ aksĂ„rĂ„ pribumi lagi muncĂșl ing purwanĂ© abad kapĂng 19.
SadurungĂ© Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂng marĂȘmi brayat umĂșm, ana sawĂȘtĂ„rĂ„ gagasan-gagasan sĂng muncĂșl prĂȘkĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak sĂng apĂk sĂ„kĂ„ sumbĂȘr sĂng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ©.
Ing kĂ„lĂ„ sĂȘmono pangriptĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak iki dadi diprakarsani dĂ©nĂng kĂȘlĂłmpĂłk sĂng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ© yaiku: Raffles, pamarĂ©ntah Hindhia-WalĂ„ndĂ„, kaĂșm panyĂȘbar agĂ„mĂ„ KristĂȘn (zending), lan pĂ„rĂ„ ngĂšlmuwan.
SadurungĂ© Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂng marĂȘmi brayat umĂșm, ana sawĂȘtĂ„rĂ„ gagasan-gagasan sĂng muncĂșl prĂȘkĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak sĂng apĂk sĂ„kĂ„ sumbĂȘr sĂng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ©.
Ing kĂ„lĂ„ sĂȘmono pangriptĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak iki dadi diprakarsani dĂ©nĂng kĂȘlĂłmpĂłk sĂng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ© yaiku: Raffles, pamarĂ©ntah Hindhia-WalĂ„ndĂ„, kaĂșm panyĂȘbar agĂ„mĂ„ KristĂȘn (zending), lan pĂ„rĂ„ ngĂšlmuwan.
Kanggo
aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ JĂ„wĂ„, priyayi sĂng kapisan nggawĂ© cithakan aksĂ„rĂ„
HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku Thomas Stamford Raffles ing bukunĂ© sĂng misuwĂșr The
History of Java (Raffles 1817).
NangĂng aksĂ„rĂ„ cithak JĂ„wĂ„ iki namĂșng kanggo ilustrasi ing bukunĂ© waĂ©, ora kanggo nyithak tĂšks sĂng akĂšh.
NangĂng aksĂ„rĂ„ cithak JĂ„wĂ„ iki namĂșng kanggo ilustrasi ing bukunĂ© waĂ©, ora kanggo nyithak tĂšks sĂng akĂšh.
Van Vlissingen
Sawisé
iku ing taĂșn 1820, kĂȘpala Algemeene Secretarie ing Batavia, J.C. Baud
mutĂșsakĂ© supĂ„yĂ„ Ă„nĂ„ mĂȘsĂn cithak mĂ„wĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„. Baud banjĂșr awĂšh
parĂ©ntah marang sawijinĂng pakar bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„ Walanda sĂng nalika iku
manggón ing SurÄkÄrtÄ, P. van Vlissingen supÄyÄ bisÄ ngrancang
sawijinĂng aksĂ„rĂ„ cithak sĂng praktis tur apik. Van Vlissingen sarujĂșk
lan nggawĂ© sawijinĂng modhĂšl aksaranĂ©. NangĂng dhĂšwĂškĂ© ing taĂșn 1821
mulĂh mĂȘnyang WalĂ„ndĂ„.
SĂȘnadyan mĂȘngkono pĂ„rĂ„ pĂȘnggĂȘdhĂ© ing Batavia sĂȘnĂȘng marang rancanganĂ© lan Van Vlissingen sĂng wĂs ing WalĂ„ndĂ„ dikirim layang supĂ„yĂ„ nĂȘrusakĂ© gayuhĂ©.
BanjĂșr wusananĂ© ing Juni 1825 aksĂ„rĂ„ cithak iki tĂȘkan ing Batavia. WĂłng-wĂłng ing kĂ„nĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng amĂȘrgĂ„ aksaranĂ© bisĂ„ kanggo nyithak tulisan tĂȘnanan lan tuladhanĂ© yĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂng kaanggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ© kĂ„lĂ„ iku: aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya kĂȘratĂłnan SurĂ„kĂ„rtĂ„. NangĂng sĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ Ă„nĂ„ kritik marang aksĂ„rĂ„ cithak iki. AksaranĂ© kĂȘcilikĂȘn ukuranĂ© minĂ„ngkĂ„ rĂ©latif lan akĂšh pĂ„dĂ„-pĂ„dĂ„ sĂ„hĂ„ sandhangan sĂng ora mĂšlu kacipta dadi aksĂ„rĂ„ iki ora bisa kanggo nyithak tĂšks-tĂšks kasusastran, namĂșng kanggo nyithak tĂšks-tĂšks biyĂ„sĂ„ waĂ© ing koran.
KamĂ„ngkĂ„ rĂȘncananĂ© mbiyĂšn olĂšhĂ© nggawĂ© aksĂ„rĂ„ cithak iku supĂ„yĂ„ bisa nyithak buku-buku kasusastran
SĂȘnadyan mĂȘngkono pĂ„rĂ„ pĂȘnggĂȘdhĂ© ing Batavia sĂȘnĂȘng marang rancanganĂ© lan Van Vlissingen sĂng wĂs ing WalĂ„ndĂ„ dikirim layang supĂ„yĂ„ nĂȘrusakĂ© gayuhĂ©.
BanjĂșr wusananĂ© ing Juni 1825 aksĂ„rĂ„ cithak iki tĂȘkan ing Batavia. WĂłng-wĂłng ing kĂ„nĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng amĂȘrgĂ„ aksaranĂ© bisĂ„ kanggo nyithak tulisan tĂȘnanan lan tuladhanĂ© yĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂng kaanggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ© kĂ„lĂ„ iku: aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya kĂȘratĂłnan SurĂ„kĂ„rtĂ„. NangĂng sĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ Ă„nĂ„ kritik marang aksĂ„rĂ„ cithak iki. AksaranĂ© kĂȘcilikĂȘn ukuranĂ© minĂ„ngkĂ„ rĂ©latif lan akĂšh pĂ„dĂ„-pĂ„dĂ„ sĂ„hĂ„ sandhangan sĂng ora mĂšlu kacipta dadi aksĂ„rĂ„ iki ora bisa kanggo nyithak tĂšks-tĂšks kasusastran, namĂșng kanggo nyithak tĂšks-tĂšks biyĂ„sĂ„ waĂ© ing koran.
KamĂ„ngkĂ„ rĂȘncananĂ© mbiyĂšn olĂšhĂ© nggawĂ© aksĂ„rĂ„ cithak iku supĂ„yĂ„ bisa nyithak buku-buku kasusastran
BrĂŒckner
BanjĂșr
kurang luwĂh ing mĂ„ngsĂ„ sĂng pĂ„dhĂ„ Ă„nĂ„ sawijinĂng juru dakwah ProtĂšstan
(Walanda zendeling) sĂ„kĂ„ JĂȘrman ajĂȘnĂȘng Gottlob BrĂŒckner sĂng nduwĂ©
kapĂ©nginan nĂȘrjĂȘmahakĂ© Alkitab ing bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„. BrĂŒckner wĂs manggĂłn wiwĂt
taĂșn 1814 ing SĂȘmarang. AlĂhbĂ„sĂ„ AlkitabĂ© wĂs rampĂșng ing taĂșn 1821,
banjĂșr dhĂšwĂškĂ© kĂȘpĂ©ngĂn nyithak naskahĂ© lan takĂłn mĂȘnyang pamarĂ©ntah
kolonial Ă„pĂ„ bisa nggawĂ© mĂȘsĂn cithak aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ ora.
NangĂng suwĂ© ora olĂšh rĂ©aksi wusananĂ© dhĂšwĂškĂ© nggawĂ© aksara cithakan dhĂ©wĂ© sĂng rampĂșng ing taĂșn 1831.
AksaranĂ© iki saliyanĂ© kanggo nyithak pratĂ©lan AlkitabĂ©, uga diĂȘnggo nyithak pamflĂšt-pamflĂšt KristĂȘn sĂng diĂȘdĂșmakĂ© ing SĂȘmarang taĂșn 1831.
Ing SĂȘmarang pĂ„rĂ„ pĂȘdunĂșng pribumi tibakĂ© sĂȘnĂȘng bangĂȘt marang tulisanĂ© nganti pamarĂ©ntah kolonial dadi wĂȘdi lan mbĂȘslah Ă„pĂ„ sĂng turah.
BanjĂșr BrĂŒckner ugĂ„ olĂšh pĂšngĂȘtan yĂšn Alkitab-AlkitabĂ© ugĂ„ bakal dibĂȘslah yĂšn diĂȘdĂșmakĂ©.
WujĂșd aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya BrĂŒckner iki ditliti dĂ©nĂng pĂ„rĂ„ pakar sastrĂ„ JĂ„wĂ„ kĂ„lĂ„ iku yaiku C.F. Winter lan J.F.C. Gericke.
PĂ„rĂ„ pakar iki kĂșrang sĂȘnĂȘng marang modhĂšl aksaranĂ© BrĂŒckner amĂȘrga kaanggĂȘp dudu cangkĂłkan gaya KĂȘratĂłn SurĂ„kartan sĂng kĂ„lĂ„ iku kaanggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ©.
NangĂng suwĂ© ora olĂšh rĂ©aksi wusananĂ© dhĂšwĂškĂ© nggawĂ© aksara cithakan dhĂ©wĂ© sĂng rampĂșng ing taĂșn 1831.
AksaranĂ© iki saliyanĂ© kanggo nyithak pratĂ©lan AlkitabĂ©, uga diĂȘnggo nyithak pamflĂšt-pamflĂšt KristĂȘn sĂng diĂȘdĂșmakĂ© ing SĂȘmarang taĂșn 1831.
Ing SĂȘmarang pĂ„rĂ„ pĂȘdunĂșng pribumi tibakĂ© sĂȘnĂȘng bangĂȘt marang tulisanĂ© nganti pamarĂ©ntah kolonial dadi wĂȘdi lan mbĂȘslah Ă„pĂ„ sĂng turah.
BanjĂșr BrĂŒckner ugĂ„ olĂšh pĂšngĂȘtan yĂšn Alkitab-AlkitabĂ© ugĂ„ bakal dibĂȘslah yĂšn diĂȘdĂșmakĂ©.
WujĂșd aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya BrĂŒckner iki ditliti dĂ©nĂng pĂ„rĂ„ pakar sastrĂ„ JĂ„wĂ„ kĂ„lĂ„ iku yaiku C.F. Winter lan J.F.C. Gericke.
PĂ„rĂ„ pakar iki kĂșrang sĂȘnĂȘng marang modhĂšl aksaranĂ© BrĂŒckner amĂȘrga kaanggĂȘp dudu cangkĂłkan gaya KĂȘratĂłn SurĂ„kartan sĂng kĂ„lĂ„ iku kaanggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ©.
Roorda van Eysinga lan RadĂšn Saleh
Roorda van Eysinga, sawijinĂng pakar sastrĂ„ JĂ„wĂ„ ing nĂȘgĂ„rĂ„ WalĂ„ndĂ„ uga tau ditugasi nggawĂ© aksara cithak.
Roorda van Eysinga banjĂșr ngrancang sawijinĂng aksĂ„rĂ„, rinĂ©wangan dĂ©nĂng RadĂšn SalĂšh.
AksĂ„rĂ„ riptan Roorda van Eysingan iki rampĂșng ing taĂșn 1835. NangĂng kasilĂ© dikritik amĂȘrgĂ„ rupanĂ© isĂh Ă„lĂ„ lan wujĂșdĂ© wujĂșd aksĂ„rĂ„ pĂȘsisiran, dudu aksĂ„rĂ„ gaya SurĂ„kartan.
Roorda van Eysinga banjĂșr ngrancang sawijinĂng aksĂ„rĂ„, rinĂ©wangan dĂ©nĂng RadĂšn SalĂšh.
AksĂ„rĂ„ riptan Roorda van Eysingan iki rampĂșng ing taĂșn 1835. NangĂng kasilĂ© dikritik amĂȘrgĂ„ rupanĂ© isĂh Ă„lĂ„ lan wujĂșdĂ© wujĂșd aksĂ„rĂ„ pĂȘsisiran, dudu aksĂ„rĂ„ gaya SurĂ„kartan.
Roorda
Taco
Roorda iku sĂng kapisan bisĂ„ nggawĂ© aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ sĂng bisĂ„ dianggĂȘp
suksĂšs amĂȘrgĂ„ aksaranĂ© ditampa dĂ©ning pĂ„rĂ„ pakar sajaman lan tĂȘtĂȘp
diĂȘnggo nganti luwih saka 100 taĂșn.
AksĂ„rĂ„ Roorda iki rampĂșng ing taĂșn 1838.
AksĂ„rĂ„ Roorda iki rampĂșng ing taĂșn 1838.
Taco Roorda iku sajatinĂ© pakar bĂ„sĂ„ WĂ©tan TĂȘngah kaya ta bĂ„sĂ„ Ibrani, budaya WĂ©tan TĂȘngah, sĂ„hĂ„ tafsir Prajanjian Lawas.
NangĂng dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor bĂ„sĂ„ lan sastrĂ„ JĂ„wĂ„ wiwĂt taĂșn 1842 ing Delftsche Academie, akadĂȘmi studi ‘Hinda’ ing Delft. SawisĂ© lĂȘmbaga iki dibubarakĂ© ing taĂșn 1864, dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor ing lĂȘmbaga pĂȘnĂȘrusĂ© ing Leiden sĂng diarani Rijksinstelling tot Opleiding van Indische Ambtenaren utĂ„wĂ„ 'LĂȘmbaga NegĂ„rĂ„ bagi PĂȘndidikan PĂȘgawai NĂȘgĂȘri Hindia'.
NangĂng dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor bĂ„sĂ„ lan sastrĂ„ JĂ„wĂ„ wiwĂt taĂșn 1842 ing Delftsche Academie, akadĂȘmi studi ‘Hinda’ ing Delft. SawisĂ© lĂȘmbaga iki dibubarakĂ© ing taĂșn 1864, dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor ing lĂȘmbaga pĂȘnĂȘrusĂ© ing Leiden sĂng diarani Rijksinstelling tot Opleiding van Indische Ambtenaren utĂ„wĂ„ 'LĂȘmbaga NegĂ„rĂ„ bagi PĂȘndidikan PĂȘgawai NĂȘgĂȘri Hindia'.
Roorda
dhĂ©wĂ© miturĂșt panuturĂ© dhĂ©wĂ© bisĂ„ nggawĂ© aksĂ„rĂ„ sĂng apĂk mĂȘrgĂ„ bisa
niliki lan sinau sĂ„kĂ„ pĂȘngalaman pĂ„rĂ„ pĂȘndahulu-nĂ©. SaliyanĂ© iku dhĂšwĂškĂ©
bisĂ„ nggambar mĂ„wĂ„ apĂk, mulanĂ© bisa nggambar konsĂšp cithakan aksaranĂ©.
BanjĂșr jĂȘnĂs aksĂ„rĂ„ sing diĂȘnggo dĂ©nĂng Roorda iku jĂȘnisĂ© pancĂšn tĂȘpat, yaiku aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya KaratĂłn SurĂ„kĂ„rtĂ„ sĂng kĂ„lĂ„ iku dianggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ©.
BanjĂșr jĂȘnĂs aksĂ„rĂ„ sing diĂȘnggo dĂ©nĂng Roorda iku jĂȘnisĂ© pancĂšn tĂȘpat, yaiku aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya KaratĂłn SurĂ„kĂ„rtĂ„ sĂng kĂ„lĂ„ iku dianggĂȘp apĂk dhĂ©wĂ©.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
AksÄrÄ MÄjÄpait
Prasasti SinghÄsari 1351
Ing sajarah NuswantĂ„rĂ„ mĂ„ngsĂ„ antĂ„rĂ„ taĂșn 1250 - 1450 iki ditandhani karo dhominasi MĂ„jĂ„pait ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
AksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iki ugĂ„ nudĂșhakĂ© pangarĂșh sĂ„kĂ„ gaya panulisan ing rĂłntal lan rupanĂ© Ă©ndhah. GayanĂ© sĂȘmu kaligrafis.
Conto utĂ„mĂ„ gaya panulisan aksara iki bisa paling bĂȘcĂk didĂȘlĂȘng ing Prasasti SinghĂ„sari 1351 sing gambarĂ© ana ing sisih ndhuwur iki.
Gaya panulisan aksĂ„rĂ„ gaya MĂ„jĂ„pait iki wis nyĂȘdhaki gaya modhĂšrn.
AksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iki ugĂ„ nudĂșhakĂ© pangarĂșh sĂ„kĂ„ gaya panulisan ing rĂłntal lan rupanĂ© Ă©ndhah. GayanĂ© sĂȘmu kaligrafis.
Conto utĂ„mĂ„ gaya panulisan aksara iki bisa paling bĂȘcĂk didĂȘlĂȘng ing Prasasti SinghĂ„sari 1351 sing gambarĂ© ana ing sisih ndhuwur iki.
Gaya panulisan aksĂ„rĂ„ gaya MĂ„jĂ„pait iki wis nyĂȘdhaki gaya modhĂšrn.
05 AksÄrÄ Pasca-MÄjÄpait
Prasasti NgadĂłman
Sawisé
jaman MĂ„jĂ„pait sĂng miturĂșt tradhisi JĂ„wĂ„ nĂȘgĂ„rĂ„ binĂȘdhah ing taĂșn 1478
(cĂ„ndrĂ„sangkalanĂ© sirnĂ„ ilang krĂȘtaning bumi) nganti pungkasan abad
kapĂng 16 utĂ„wĂ„ awal abad kapĂng 17, kanggo sajarah aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ bisa
diarani "jaman pĂȘtĂȘng".
AmĂȘrgĂ„ sawisĂ© iku nganti awal kapĂng 17 mĂšh ora ditĂȘmĂłkakĂ© bukti panulisan.
Ujug-ujug bĂȘntĂșk aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ dadi bĂȘntukĂ© sĂng modhĂšrn.
SĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© prasasti sĂng wigati amĂȘrgĂ„ dianggĂȘp dadi "missing link" antĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ sĂ„kĂ„ jaman JĂ„wĂ„ KunĂ„ lan aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂng isĂh diĂȘnggo ing Tanah JĂ„wĂ„, utamanĂ© ing sakiwa-tĂȘngĂȘning GunĂșng MĂȘrapi lan MĂȘrbabu nganti abad kaping 18.
Prasasti sĂng diĂłmĂłngakĂ© iki diarani Prasasti NgadĂłman sĂng ditĂȘmĂłkakĂ© cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„.
NangĂng conto aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂng paling tuwĂ„ didugĂ„ asalĂ© sĂ„kĂ„ JĂ„wĂ„ KulĂłn lan ditĂȘmĂłkakĂ© ing naskah-naskah sĂng ngamĂłt Kakawin Arjunawiwaha lan Kunjarakarna gancaran.
AmĂȘrgĂ„ sawisĂ© iku nganti awal kapĂng 17 mĂšh ora ditĂȘmĂłkakĂ© bukti panulisan.
Ujug-ujug bĂȘntĂșk aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ dadi bĂȘntukĂ© sĂng modhĂšrn.
SĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© prasasti sĂng wigati amĂȘrgĂ„ dianggĂȘp dadi "missing link" antĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ sĂ„kĂ„ jaman JĂ„wĂ„ KunĂ„ lan aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂng isĂh diĂȘnggo ing Tanah JĂ„wĂ„, utamanĂ© ing sakiwa-tĂȘngĂȘning GunĂșng MĂȘrapi lan MĂȘrbabu nganti abad kaping 18.
Prasasti sĂng diĂłmĂłngakĂ© iki diarani Prasasti NgadĂłman sĂng ditĂȘmĂłkakĂ© cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„.
NangĂng conto aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂng paling tuwĂ„ didugĂ„ asalĂ© sĂ„kĂ„ JĂ„wĂ„ KulĂłn lan ditĂȘmĂłkakĂ© ing naskah-naskah sĂng ngamĂłt Kakawin Arjunawiwaha lan Kunjarakarna gancaran.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
AksÄrÄ Pallawa
Prasasti Yupa
AksĂ„rĂ„ Pallawa iku asalĂ© sĂ„kĂ„ India sisĂh kidĂșl. JĂȘnĂs aksĂ„rĂ„ iki digunakakĂ© ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© abad kapĂng 4 lan abad kapĂng 5.
BĂșkti kapisan panganggonan jĂȘnĂs aksĂ„rĂ„ iki ing NuswantĂ„rĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo Kalimantan sisĂh wĂ©tan ing cĂȘdhak tlatah sĂng saiki diarani Kutai.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ iki ugĂ„ digunakakĂ© ing pulo Jawa ing Tatar SundhĂ„ ing prasastinĂ© TarumanĂȘgara sĂng katulis ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© taun 450. Ing Tanah JĂ„wĂ„ dhĂ©wĂ© aksĂ„rĂ„ iki kagunakakĂ© ing Prasasti TĂșk Mas lan Prasasti Canggal.
BĂșkti kapisan panganggonan jĂȘnĂs aksĂ„rĂ„ iki ing NuswantĂ„rĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo Kalimantan sisĂh wĂ©tan ing cĂȘdhak tlatah sĂng saiki diarani Kutai.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ iki ugĂ„ digunakakĂ© ing pulo Jawa ing Tatar SundhĂ„ ing prasastinĂ© TarumanĂȘgara sĂng katulis ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© taun 450. Ing Tanah JĂ„wĂ„ dhĂ©wĂ© aksĂ„rĂ„ iki kagunakakĂ© ing Prasasti TĂșk Mas lan Prasasti Canggal.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki bisĂ„ dianggĂȘp babĂłnĂng kabĂšh aksĂ„rĂ„ ing NuswantĂ„rĂ„, kalĂȘbu aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„.
YĂšn didĂȘlĂȘng aksĂ„rĂ„ Pallawa iki rupanĂ© makothak-kothak. Ing basa InggrĂs prĂȘkĂ„rĂ„ iki diarani nganggo ukara “box head” utĂ„wĂ„ “square head-mark”. BanjĂșr mĂšh kabĂšh aksĂ„rĂ„ tinulĂs nganggo Ă„pĂ„ sĂng kasĂȘbĂșt mĂ„wĂ„ istilah serif. Serif-Ă© tinulis ing sisĂh kiwĂ„.
YĂšn didĂȘlĂȘng aksĂ„rĂ„ Pallawa iki rupanĂ© makothak-kothak. Ing basa InggrĂs prĂȘkĂ„rĂ„ iki diarani nganggo ukara “box head” utĂ„wĂ„ “square head-mark”. BanjĂșr mĂšh kabĂšh aksĂ„rĂ„ tinulĂs nganggo Ă„pĂ„ sĂng kasĂȘbĂșt mĂ„wĂ„ istilah serif. Serif-Ă© tinulis ing sisĂh kiwĂ„.
SĂȘnadyan
aksĂ„rĂ„ Pallawa wĂs ditĂȘpangi ing NuswantĂ„rĂ„ wiwĂt abad kapĂng 4,
nangĂng bĂ„sĂ„ NuswantĂ„rĂ„ asli durĂșng Ă„nĂ„ sĂng katulis ing aksĂ„rĂ„ iki.
AksÄrÄ Kawi Wiwitan
Prabédan antÄrÄ aksÄrÄ Kawi Wiwitan karo aksÄrÄ Pallawa iku utamané gayané.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iku kĂȘtĂ„rĂ„ yĂšn sawijinĂng aksara monumĂšntal sĂng kanggo nulĂs ing watu.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan katĂłnĂ© utamanĂ© aksĂ„rĂ„ sĂng kanggo nulĂs ing rĂłntal lan mulanĂ© bĂȘntĂșkĂ© dadi luwih kursif.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan digunakakĂ© antara taun 750 nganti 925. Prasasti-prasasti sing katulĂs ing aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan cacahĂ© akĂšh, kurang luwĂh 1/3 (sapratĂȘlĂłn) sĂ„kĂ„ kabĂšh prasasti sĂng ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo JĂ„wĂ„.
Ing Tanah JĂ„wĂ„, aksĂ„rĂ„ iki palĂng tuwĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing Prasasti Plumpungan (cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„) sĂng kurang luwĂh ditulĂs ing taĂșn 750. Prasasti iki isĂh ditulĂs ing bĂ„sĂ„ SangskrĂȘta.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iku kĂȘtĂ„rĂ„ yĂšn sawijinĂng aksara monumĂšntal sĂng kanggo nulĂs ing watu.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan katĂłnĂ© utamanĂ© aksĂ„rĂ„ sĂng kanggo nulĂs ing rĂłntal lan mulanĂ© bĂȘntĂșkĂ© dadi luwih kursif.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan digunakakĂ© antara taun 750 nganti 925. Prasasti-prasasti sing katulĂs ing aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan cacahĂ© akĂšh, kurang luwĂh 1/3 (sapratĂȘlĂłn) sĂ„kĂ„ kabĂšh prasasti sĂng ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo JĂ„wĂ„.
Ing Tanah JĂ„wĂ„, aksĂ„rĂ„ iki palĂng tuwĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing Prasasti Plumpungan (cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„) sĂng kurang luwĂh ditulĂs ing taĂșn 750. Prasasti iki isĂh ditulĂs ing bĂ„sĂ„ SangskrĂȘta.
AksÄrÄ Kawi Pungkasan
Kira-kira sawisĂ© taĂșn 925, pusat kakuwasan ing pulo JĂ„wĂ„ dadi pindhah ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
Pangalihan kakuwasan iki uga katĂłn pangaruhĂ© ing jĂȘnisĂng aksĂ„rĂ„ sĂng kanggo.
MĂ„ngsĂ„ aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan iki kirĂ„-kirĂ„ sĂ„kĂ„ taĂșn 925 nganti 1250. SajatinĂ© aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan ora bĂ©da akĂšh ing wujudĂ© karo aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan, namĂșng gayanĂ© waĂ© sing dadi rĂ„dĂ„ sĂ©jĂ©.
Pangalihan kakuwasan iki uga katĂłn pangaruhĂ© ing jĂȘnisĂng aksĂ„rĂ„ sĂng kanggo.
MĂ„ngsĂ„ aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan iki kirĂ„-kirĂ„ sĂ„kĂ„ taĂșn 925 nganti 1250. SajatinĂ© aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan ora bĂ©da akĂšh ing wujudĂ© karo aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan, namĂșng gayanĂ© waĂ© sing dadi rĂ„dĂ„ sĂ©jĂ©.
Ing sisi liyĂ„, gaya aksĂ„rĂ„ sĂng kanggo ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan sadurungĂ© taĂșn 925 uga wĂs bĂ©dĂ„ karo gaya ing Jawa TĂȘngah.
Dadi katĂłnĂ© prabĂ©dan iki ora namĂșng prabĂ©dan ing wĂȘktu waĂ© nanging uga ing papan.
Dadi katĂłnĂ© prabĂ©dan iki ora namĂșng prabĂ©dan ing wĂȘktu waĂ© nanging uga ing papan.
Ing mÄngsÄ iki bisÄ dibédakaké papat gaya aksÄrÄ sing bédÄ-bédÄ:
1. AksĂ„rĂ„ Kawi JĂ„wĂ„ WĂ©tanan sĂ„kĂ„ taĂșn 910 - 950;
2. AksÄrÄ Kawi JÄwÄ Wétanan sÄkÄ jaman prabu Airlangga
(1019 - 1042);
(1019 - 1042);
3. Aksara Kawi JĂ„wĂ„ WĂ©tanan KĂȘdhiri
(kurang luwĂh 1100 - 1220)
(kurang luwĂh 1100 - 1220)
4. Aksara tĂȘgak (quadrate script) isĂh sĂ„kĂ„ mĂ„ngsĂ„ KĂȘdhiri
(1050-1220).
(1050-1220).
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
AksÄrÄ JÄwÄ HÄnÄcÄrÄkÄ
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku babĂłnĂ© aksĂ„rĂ„ Brahmi sĂng asalĂ© sĂ„kĂ„ HindhĂșstan.
Ing anak bawĂ„nĂ„ Indhia iku akĂšh rupa-rupanĂng aksĂ„rĂ„. Salah sijinĂng aksĂ„rĂ„ sĂng wigati iku aksara Pallawa saka Indhia sisih kidĂșl.
AksĂ„rĂ„ iki inaranan mĂȘngkĂ©nĂ© miturĂșt jĂȘnĂȘngĂ© salah siji karatĂłn ing Indhia kidĂșl yaiku Karajan Pallawa.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki digunakakĂ© ing kiwa tĂȘngĂȘnĂ© abad kapĂng-4 MasĂšhi.
Ing NusantÄrÄ patilasan sajarah arupÄ prasasti YupÄ saka Kutai, Kalimantan Wétan tinulis nganggo aksÄrÄ Pallawa.
AksÄrÄ Pallawa iki dadi babóné kabÚh aksÄrÄ NusantÄrÄ, antarané aksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ ugÄ aksÄrÄ Réncóng (aksara Kaganga), Surat Batak, aksara Makassar lan aksara Baybayin (aksarané saka Filipina).
Professor J.G. de Casparis, yaiku pakar palĂ©ografi utĂ„wĂ„ ahli ngĂšlmu sajarah aksĂ„rĂ„ misuwĂșr sĂ„kĂ„ WalĂ„ndĂ„ mĂ©rang sajarah tuwuhĂng aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ ing limang mĂ„ngsĂ„ utĂ„mĂ„:
Ing anak bawĂ„nĂ„ Indhia iku akĂšh rupa-rupanĂng aksĂ„rĂ„. Salah sijinĂng aksĂ„rĂ„ sĂng wigati iku aksara Pallawa saka Indhia sisih kidĂșl.
AksĂ„rĂ„ iki inaranan mĂȘngkĂ©nĂ© miturĂșt jĂȘnĂȘngĂ© salah siji karatĂłn ing Indhia kidĂșl yaiku Karajan Pallawa.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki digunakakĂ© ing kiwa tĂȘngĂȘnĂ© abad kapĂng-4 MasĂšhi.
Ing NusantÄrÄ patilasan sajarah arupÄ prasasti YupÄ saka Kutai, Kalimantan Wétan tinulis nganggo aksÄrÄ Pallawa.
AksÄrÄ Pallawa iki dadi babóné kabÚh aksÄrÄ NusantÄrÄ, antarané aksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ ugÄ aksÄrÄ Réncóng (aksara Kaganga), Surat Batak, aksara Makassar lan aksara Baybayin (aksarané saka Filipina).
Professor J.G. de Casparis, yaiku pakar palĂ©ografi utĂ„wĂ„ ahli ngĂšlmu sajarah aksĂ„rĂ„ misuwĂșr sĂ„kĂ„ WalĂ„ndĂ„ mĂ©rang sajarah tuwuhĂng aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ ing limang mĂ„ngsĂ„ utĂ„mĂ„:
1. AksÄrÄ Pallawa
2. AksÄrÄ Kawi Wiwitan
3. AksÄrÄ Kawi Pungkasan
4. AksÄrÄ MÄjÄpait
5. AksÄrÄ Pasca-MajÄpÄit utawa HÄnÄcÄrÄkÄ
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki digunakakĂ© ing NusantĂ„rĂ„ sĂ„kĂ„ abad kapĂng 4 nganti kurang luwĂh abad kapĂng 8.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan diĂȘnggo sĂ„kĂ„ abad kapĂng 8 nganti abad kapĂng 10 utamanĂ© ing Jawa TĂȘngah.
Aksara Kawi Pungkasan digunakakĂ© sawisĂ© abad kapĂng 10 nganti kirĂ„-kirĂ„ abad kapĂng 13 ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iku digunakakĂ© ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan nalikĂ„ jaman MĂ„jĂ„pait.
BanjĂșr sawisĂ© karajan MĂ„jĂ„pait binĂȘdhah, muncĂșl aksara HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ modhĂšrn sĂng ugĂ„ kĂȘrĂȘp diarani aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„.
AksĂ„rĂ„ ini banjĂșr dadi kanggo ing saubĂȘngĂng Tanah Jawa, Tatar SundhĂ„, MadurĂ„, lan Bali.
KabĂšh-kabĂšh aksĂ„rĂ„ iki dadi sakĂȘlĂłmpĂłk lan isĂh sakĂȘrabat.
NangĂng sajatinĂ© ugĂ„ Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ liyanĂ© ing tanah JĂ„wĂ„ sĂng luwĂh lawas lan isĂh diĂȘnggo.
AksĂ„rĂ„ iki jĂȘnĂȘngĂ© dadi aksara BudĂ„.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan diĂȘnggo sĂ„kĂ„ abad kapĂng 8 nganti abad kapĂng 10 utamanĂ© ing Jawa TĂȘngah.
Aksara Kawi Pungkasan digunakakĂ© sawisĂ© abad kapĂng 10 nganti kirĂ„-kirĂ„ abad kapĂng 13 ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iku digunakakĂ© ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan nalikĂ„ jaman MĂ„jĂ„pait.
BanjĂșr sawisĂ© karajan MĂ„jĂ„pait binĂȘdhah, muncĂșl aksara HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ modhĂšrn sĂng ugĂ„ kĂȘrĂȘp diarani aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„.
AksĂ„rĂ„ ini banjĂșr dadi kanggo ing saubĂȘngĂng Tanah Jawa, Tatar SundhĂ„, MadurĂ„, lan Bali.
KabĂšh-kabĂšh aksĂ„rĂ„ iki dadi sakĂȘlĂłmpĂłk lan isĂh sakĂȘrabat.
NangĂng sajatinĂ© ugĂ„ Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ liyanĂ© ing tanah JĂ„wĂ„ sĂng luwĂh lawas lan isĂh diĂȘnggo.
AksĂ„rĂ„ iki jĂȘnĂȘngĂ© dadi aksara BudĂ„.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ banjĂșr dĂ©nĂng wĂłng-wĂłng Eropah digawĂškakĂ© vĂšrsi aksĂ„rĂ„ cĂ©thak ing abad kapĂng 19.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Sejarah HÄnÄcÄrÄkÄ
AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ ( utĂ„wĂ„ ) iku sarupanĂng aksĂ„rĂ„ sĂng kaanggo ing Tanah JĂ„wĂ„ lan saubĂȘngĂ© kĂ„yĂ„ tĂ„ ing MadurĂ„, Bali, LĂłmbĂłk lan ugĂ„ Tatar SundhĂ„.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku ugĂ„ diarani aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nangĂng sajatinĂ© ukĂ„rĂ„ iki kurang srĂȘg amargĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ iku warnanĂ© akĂšh saliyanĂ© iku aksĂ„rĂ„ iki ora namĂșng diĂȘnggo nulĂs bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„ waĂ©.
AksĂ„rĂ„ iki uga diĂȘnggo nulĂs bĂ„sĂ„ SangskrĂȘta, bĂ„sĂ„ Arab, bĂ„sĂ„ Bali, bĂ„sĂ„ SundhĂ„, basa MadurĂ„, bĂ„sĂ„ Sasak lan ugĂ„ bĂ„sĂ„ MĂȘlayu.
NangĂng ing artikĂȘl iki ukĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ lan aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ diĂȘnggo loro-loronĂ© lan yĂšn Ă„nĂ„ ukĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ sĂng dirujĂșk iku aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„.
AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ kagólóng aksÄrÄ jinis abugida utÄwÄ hibridha antÄrÄ aksÄrÄ silabik lan aksÄrÄ alfabÚt.
AksĂ„rĂ„ silabik iki tĂȘgĂȘsĂ© yĂšn sabĂȘn aksĂ„rĂ„ ugĂ„ nyandhang sawijinĂng swĂ„rĂ„. Hanacaraka kalĂȘbu kulĂ„wargĂ„ aksĂ„rĂ„ Brahmi sĂng asalĂ© sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan.
YĂšn bĂȘntĂșkĂ©, aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Ă„nĂ„ wĂs kĂ„yĂ„ saiki wiwĂt minimal abad kapĂng 17.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iki jĂȘnĂȘngĂ© dijupĂșk sĂ„kĂ„ limang aksĂ„rĂ„ wiwitanĂ©.
Ătimologi lan lĂȘgĂšndha asalAksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ jĂȘnĂȘngĂ© dijupĂșk sĂ„kĂ„ urutan limang aksĂ„rĂ„ wiwĂtan iki sĂng uninĂ© "hĂ„nĂ„ cĂ„rĂ„kĂ„".
Urutan dhasar aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nglĂȘgĂȘna iki cacahĂ© Ă„nĂ„ rĂłngpulĂșh lan nglambangakĂ© kabĂšh fonĂ©m bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„.
Urutan aksĂ„rĂ„ iki kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ©:
hÄ nÄ cÄ rÄ kÄdÄ tÄ sÄ wÄ lÄ
pÄ dhÄ jÄ yÄ nyÄ
mÄ gÄ bÄ thÄ ngÄUrutan iki uga bisÄ diwÄcÄ dadi ukÄrÄ-ukÄrÄ:
"HĂ„nĂ„ cĂ„rĂ„kĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "Ă nĂ„ utusan""DĂ„tĂ„ sĂ„wĂ„lĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ garĂȘjĂȘgan"
"PĂ„dhĂ„ jĂ„yĂ„nyĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ digjayanĂ©"
"MĂ„gĂ„ bĂ„thĂ„ngĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ dadi bathang".
Urutan ukĂ„rĂ„ iki digawĂ© miturĂșt lĂȘgĂšndha yĂšn aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ iku diastĂ„ dĂ©nĂng Aji SĂ„kĂ„ sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan mĂȘnyang Tanah JĂ„wĂ„.
BanjĂșr Aji SĂ„kĂ„ ngarang urutan aksĂ„rĂ„ kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ© kanggo mĂšngĂȘti rĂłng pĂ„nĂ„kawanĂ© sĂng sĂȘtyĂ„ nganti pati: DorĂ„ lan SĂȘmbĂ„dĂ„.
LoronĂ© mati amĂȘrgĂ„ ora bisa mbĂșktĂškakĂ© dhawuhĂ© sang ratu.
MulĂ„ Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr nyiptakakĂ© aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ supĂ„yĂ„ bisĂ„ kanggo nulĂs layang.
CaritanĂ© kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ©:
KacaritĂ„ ing jaman mbiyĂšn Ă„nĂ„ wĂłng sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan anĂłm jĂȘnĂȘngĂ© Aji SĂ„kĂ„.
DhĂšwĂškĂ© putranĂ© ratu, nangĂng kĂȘpĂ©ngĂn dadi pandhitĂ„ sĂng pintĂȘr.
KasĂȘnĂȘnganĂ© mulang kawrĂșh rupĂ„-rupĂ„. DhĂšwĂškĂ© banjĂșr pĂ©ngĂn lunga mĂȘncarakĂ© ngĂšlmu kawruh ing Tanah JĂ„wĂ„.
BanjĂșr anuju sawijinĂng dinĂ„ Aji SĂ„kĂ„ sidĂ„ mangkat mĂȘnyang Tanah JĂ„wĂ„, karo abdinĂ© papat sĂng jĂȘnĂȘngĂ© DugĂ„, PrayogĂ„, DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„. BarĂȘng tĂȘkan ing Pulo MajĂȘthi pĂ„dhĂ„ lĂšrĂšn.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr nilar abdinĂ© loro; DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„ ing pĂșlo iku.
DĂ©nĂ© Aji SĂ„kĂ„ karo DugĂ„ lan PrayogĂ„ arĂȘp njajah Tanah JĂ„wĂ„ dhisĂk.
DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„ diwĂȘlĂng orĂ„ olĂšh lungĂ„ sĂ„kĂ„ kono. SaliyanĂ© iku abdi loro wau dipasrahi kĂȘrĂs pusakanĂ©, didhawuhi ngrĂȘksĂ„, ora olĂšh diĂȘlĂșngakĂ© marang sĂ„pĂ„-sĂ„pĂ„.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr tindak karo abdinĂ© loro mĂȘnyang ing Tanah JĂ„wĂ„. NjujĂșg ing nĂȘgĂ„rĂ„ MĂȘndhang Kamolan.
SĂng jumĂȘnĂȘng ratu ing kono ajĂȘjulĂșk Prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar. Sang prabu iku sĂȘnĂȘnganĂ© dhahar dagingĂ© wĂłng. KawulanĂ© akĂšh sĂng pĂ„dhĂ„ wĂȘdi banjĂșr pĂ„dhĂ„ ngalĂh mĂȘnyang nĂȘgara liya. PatihĂ© ngaran Kyai TĂȘnggĂȘr.
Kacarita Aji SĂ„kĂ„ Ă„nĂ„ ing MĂȘndhang Kamolan jumĂȘnĂȘng guru, wĂłng-wĂłng pĂ„dhĂ„ mlĂȘbu dadi siswanĂ©.
PĂ„rĂ„ siswanĂ© pĂ„dhĂ„ trĂȘsna marang Aji SĂ„kĂ„ amĂȘrga dhĂšwĂškĂ© sĂȘnĂȘng tĂȘtulĂșng.
Nalika sĂȘmana Aji SĂ„kĂ„ mĂłndhĂłk nĂšng omahĂ© nyai rĂ„ndhĂ„ SĂȘngkĂȘran dipĂšk anak karo nyai rĂ„ndhĂ„.
Kyai patĂh karo nyai rĂ„ndhĂ„ iyĂ„ wĂs dadi siswanĂ© Aji SĂ„kĂ„.
Anuju sawijinĂng dinĂ„ sang prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar dukĂ„ bangĂȘt ora wĂłng manĂšh sĂng bisĂ„ didhahar.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr sagĂșh dicaĂłsakĂ© sang nĂ„tĂ„ dadi dhaharanĂ©.
Sang nyai rĂ„ndhĂ„ lan patĂh dadi kagĂšt bangĂȘt.
NangĂng Aji SĂ„kĂ„ cĂȘlathu yĂšn wĂłng loro iku ora usah kuwatĂr yĂšn dhĂšwĂškĂ© ora bakal mati.
BanjĂșr Aji SĂ„kĂ„ diatĂȘrakĂ© ngadhĂȘp prabu DĂ©wata CĂȘngkar.
Prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar yĂ„ rumĂ„ngsĂ„ Ă©man lan kĂȘrsĂ„ ngangkat Aji SĂ„kĂ„ dadi priyayi, nangĂng Aji SĂ„kĂ„ ora gĂȘlĂȘm. Ă nĂ„ siji panyuwunĂ©, yĂ„iku nyuwĂșn lĂȘmah saikĂȘt jĂȘmbarĂ©. SĂng ngukĂșr kudu sĂ„ng prabu dhĂ©wĂ©.
Sang prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar iyĂ„ banjĂșr nglilani.
Nuli wiwĂt ngukĂșr lĂȘmah diastĂ„ dhĂ©wĂ©.
IkĂȘtĂ© Aji SĂ„kĂ„ dijĂšrĂšng. IkĂȘtĂ© tansah mulĂșr baĂ©, dadi Ă„mbĂ„ sĂȘrtĂ„ dĂ„wĂ„. Iya dituti waĂ© dĂ©nĂng sang prabu.
Nganti nĂłtĂłg ing sĂȘgĂ„rĂ„ kidĂșl. BarĂȘng wĂs mĂšpĂšd ing pinggĂr sĂȘgĂ„rĂ„, ikĂȘtĂ© dikĂȘbĂștakĂ©.
DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar katĂșt mlĂȘsat kĂȘcĂȘmplĂșng ing sĂȘgĂ„rĂ„.
MalĂh dadi bĂ„yĂ„ putĂh, ngratĂłni saisinĂng sĂȘgĂ„rĂ„ kidĂșl.
WĂłng-wĂłng ing MĂȘndhang Kamolan pĂ„dhĂ„ bungah.
AwĂt ratunĂ© sĂng diwĂȘdĂšni wĂs sĂrnĂ„.
SĂȘka panyuwunĂ© wĂłng akĂšh. Aji Saka nggantĂšni jumĂȘnĂȘng ratu Ă„nĂ„ ing nĂȘgĂ„rĂ„ MĂȘndhang Kamolan ajĂȘjulĂșk Prabu JĂ„kĂ„, iya prabu WidĂ„yĂ„kĂ„.
DĂ©nĂ© patihĂ© isĂh lĂȘstari kyai patĂh TĂȘnggĂȘr. Si DugĂ„ lan si PrayogĂ„ didadĂškakĂ© bupati, ngaranĂ© tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lan tumĂȘnggung PrayogĂ„.
Sang prabu JÄkÄ, iyÄ sang prabu WidÄyÄkÄ nimbali si DorÄ lan si SambadÄ.
Kacarita sang prabu WidĂ„yĂ„ka, pinuju miyĂłs siniwĂ„kĂ„. DiadhĂȘp kyai patĂh sartĂ„ pĂ„rĂ„ bupati. Sang prabu kĂšngĂȘtan abdinĂ© sĂng didhawuhi ngrĂȘksĂ„ pusĂ„kĂ„ kĂȘrĂs Ă„nĂ„ ing Pulo MajĂȘthi.
Ndangu marang DudugĂ„ lan PrayogĂ„ kĂȘpriyĂ© wartanĂ© si DorĂ„ lan si SĂȘmbĂ„dĂ„. PrayogĂ„ lan DudugĂ„ ora bisa mangsuli awit wĂs suwĂ© ora krungu Ă„pĂ„-Ă„pĂ„.
Kacarita si DorĂ„ lan si SambĂ„dĂ„ sing kari Ă„nĂ„ ing Pulo MajĂȘthi.
WĂłng loro iku wĂs pĂ„dhĂ„ krungu pawĂ„rtĂ„ manĂ„wĂ„ gĂșstinĂ© wĂs jumĂȘnĂȘng ratu Ă„nĂ„ rĂng MĂȘndhang Kamolan.
Si DorĂ„ ngajak sowan nangĂng si SambĂ„dĂ„ ora gĂȘlĂȘm awĂt wĂȘdi nĂȘrak wĂȘwalĂȘrĂ© gĂșstinĂ©, ora parĂȘng lungĂ„-lungĂ„ sĂȘkĂ„ pulo MajĂȘthi, yĂšn ora tinimbalan.
NangĂng si DorĂ„ nĂ©kad arĂȘp sowan dhĂ©wĂ©.
Si SambĂ„dĂ„ ditilapakĂ©. BanjĂșr mangkat ijĂšn waĂ©.
Ă nĂ„ ing dalan si DorĂ„ kapĂȘthĂșk karo tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lan PrayogĂ„. Utusan loro mau banjĂșr diajak bali dĂ©nĂng si DorĂ„.
Awit si SambadĂ„ dijak ora gĂȘlĂȘm.
WĂłng tĂȘlu banjĂșr sowan ing ngarsanĂ© sang prabu.
Sang Prabu ndangu si SĂȘmbĂ„dĂ„ Ă„nĂ„ ing ngĂȘndi lan diwangsuli yĂšn dhĂšwĂškĂ© ora gĂȘlĂȘm diajak.
MirĂȘng aturĂ© si DorĂ„, sang prabu dukĂ„ bangĂȘt, lali dhawuhĂ© dhĂ©wĂ© mbiyĂšn.
BanjĂșr DorĂ„, didhawuhi bali mĂȘnyang pulo MajĂȘthi lan nimbali si SambĂ„dĂ„.
YĂšn mĂȘksĂ„ ora gĂȘlĂȘm didhawuhi dirampungi lan kĂȘrisĂ© dibalĂškakĂ©.
DorĂ„ sanalikĂ„ mangkat. Ing pulo MajĂȘthi kĂȘtĂȘmu karo SĂȘmbĂ„dĂ„. KĂ„ndhĂ„ yĂšn mĂȘntas sowan gĂșstinĂ©.
Saiki diutĂșs nimbali si SambĂ„dĂ„. PusĂ„kĂ„ kĂȘrĂs didhawuhi nggĂ„wĂ„.
NangĂng si SambĂ„dĂ„ ora ngandĂȘl marang kandhanĂ© si DorĂ„. BanjĂșr pĂ„dhĂ„ padu ramĂ©.
SuwĂ©-suwĂ© pĂ„dhĂ„ kĂȘkĂȘrĂȘngan, dĂȘdrĂȘg ora Ă„nĂ„ sĂng kalah, awĂt pĂ„dhĂ„ digdayanĂ©.
WasĂ„nĂ„ banjĂșr pĂ„dhĂ„ nganggo gaman kĂȘrĂs pĂ„dha gĂȘnti nyudĂșk. WĂȘkasan pĂȘrangĂ© sampyĂșh.
Si DorÄ lan si SambÄdÄ pÄdhÄ mati kabÚh.
Sang Prabu ngarĂȘp-arĂȘp tĂȘkanĂ© si DorĂ„. WĂs sawĂȘtĂ„rĂ„ suwĂ©nĂ© tĂȘkĂ„ durĂșng sowan-sowan mĂ„ngkĂ„ didhawuhi Ă©nggal bali.
Sang prabu nimbali tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lĂ„n PrĂ„yogĂ„. Didhawuhi nusul si DorĂ„ mĂȘnyang pulo MajĂȘthi.
SanalikĂ„ banjĂșr mangkat.
BarĂȘng DudugĂ„ lan PrayogĂ„ wĂs tĂȘkĂ„ ing pulo mau, kagĂšt bangĂȘt dĂ©nĂ© si DorĂ„ lan si SambĂ„dĂ„ kĂȘtĂȘmu wĂs pĂ„dhĂ„ mati kabĂšh.
TilasĂ© mĂȘntas pĂ„dhĂ„ kĂȘkĂȘrangan pĂ„dhĂ„ tatu kĂȘnĂ„ ing gaman. PusĂ„kĂ„ kĂȘrĂs sĂng dadi rĂȘrĂȘksan gumlĂ©thak Ă„nĂ„ ing sandhingĂ©.
PusĂ„kĂ„ banjĂșr dijupuk arĂȘp diatĂșrakĂ© marang gĂșstinĂ©.
DudugĂ„ lan PrayogĂ„ banjĂșr bali sowan ing ngarsanĂ© gĂșstinĂ© lan mratĂ©lakĂ© kahananĂ©.
Sang Prabu WidĂ„yĂ„kĂ„ kagĂšt bangĂȘt mirĂȘng pawaranĂ©, awĂt pancĂšn kaluputanĂ© dhĂ©wĂ© wĂs kĂȘsupĂšn pandhawuhĂ©.
BanjĂșr sang prabu nganggĂt aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nglĂȘgĂȘna kanggo mĂšngĂȘti abdinĂ© loro iku.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Kapercayan Katuhanan
PitudĂșh : # 1
PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngĂȘndi papan, langgĂȘng, sĂng nganakakĂ© jagad iki saisinĂ©, dadi sĂȘsĂȘmbahan wĂłng saalam donyĂ„ kabĂšh, panĂȘmbahan nganggo caranĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©. PitudĂșh : # 2PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ iku anglimput Ă„nĂ„ ing ngĂȘndi papan, anĂšng sira ugĂ„ Ă„nĂ„ PangĂ©ran (maksudĂ© : tajalinĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi). PitudĂșh : # 3PangĂ©ran iki MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, pĂȘpĂȘsthĂšn sĂ„kĂ„ karsaning PangĂ©ran ora Ă„nĂ„ sĂng bisĂ„ murĂșngakĂ©.
PitudĂșh : # 4
PangĂ©ran iku nitahakĂ© sirĂ„ lantaran bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„, mulĂ„ kudu sirĂ„ ngurmati marang bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„.
PitudĂșh : # 5
Ing donyĂ„ iki Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„ sĂng diarani bĂȘbĂȘnĂȘr, yakuwi bĂȘnĂȘr mungguhĂng PangĂ©ran lan bĂȘnĂȘr sĂ„kĂ„ kang lagi kuwĂ„sĂ„. PitudĂșh : # 6KĂȘtĂȘmu Gusti (PangĂ©ran) iku lamĂșn sira tansah Ă©lĂng. PitudĂșh : # 7CĂ„krĂ„ manggilingan (urĂp iku ibaratĂ© rodhĂ„ kang tansah mubĂȘng). PitudĂșh : # 8Ă jĂ„ sirĂ„ wani-wani ngaku PangĂ©ran, sĂȘnadyan kawrĂșhira wĂs tumĂȘka "NgadĂȘg SarirĂ„ Tunggal" utĂ„wĂ„ bisa mĂȘngĂȘrtĂšni "Manunggaling KawulĂ„ Gusti".PitudĂșh : # 9Ă jĂ„ ndisiki kĂȘrsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 10
Ă jĂ„ sirĂ„ wani marang wĂłng tuwanira, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ bĂȘndhu sĂ„kĂ„ Kang MĂșrbĂšng Dumadi. WĂȘwalĂȘr : # 11Ă jĂ„ mĂșng kĂšlingan lan migatĂškakĂ© barang kang katĂłn baĂ©, sĂȘbab kang katĂłn gumĂȘlar iki ananĂ© malah ora langgĂȘng. WĂȘwalĂȘr : # 12Ă jĂ„ darbĂ© pangirĂ„ yĂšn lĂȘlĂȘmbĂșt iku mĂȘsthi alanĂ©, jalaran sĂng apik iyĂ„ Ă„nĂ„, sĂng Ă„lĂ„ iyĂ„ Ă„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ karo manungsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 13Ă jĂ„ lali sabĂȘn ari (dinĂ„) Ă©ling marang PangĂ©ranira, jalaran sĂȘjatinĂ© sirĂ„ iku tansah katunggĂłn PangĂ©ranirĂ„.
PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngĂȘndi papan, langgĂȘng, sĂng nganakakĂ© jagad iki saisinĂ©, dadi sĂȘsĂȘmbahan wĂłng saalam donyĂ„ kabĂšh, panĂȘmbahan nganggo caranĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©. PitudĂșh : # 2PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ iku anglimput Ă„nĂ„ ing ngĂȘndi papan, anĂšng sira ugĂ„ Ă„nĂ„ PangĂ©ran (maksudĂ© : tajalinĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi). PitudĂșh : # 3PangĂ©ran iki MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, pĂȘpĂȘsthĂšn sĂ„kĂ„ karsaning PangĂ©ran ora Ă„nĂ„ sĂng bisĂ„ murĂșngakĂ©.
PitudĂșh : # 4
PangĂ©ran iku nitahakĂ© sirĂ„ lantaran bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„, mulĂ„ kudu sirĂ„ ngurmati marang bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„.
PitudĂșh : # 5
Ing donyĂ„ iki Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„ sĂng diarani bĂȘbĂȘnĂȘr, yakuwi bĂȘnĂȘr mungguhĂng PangĂ©ran lan bĂȘnĂȘr sĂ„kĂ„ kang lagi kuwĂ„sĂ„. PitudĂșh : # 6KĂȘtĂȘmu Gusti (PangĂ©ran) iku lamĂșn sira tansah Ă©lĂng. PitudĂșh : # 7CĂ„krĂ„ manggilingan (urĂp iku ibaratĂ© rodhĂ„ kang tansah mubĂȘng). PitudĂșh : # 8Ă jĂ„ sirĂ„ wani-wani ngaku PangĂ©ran, sĂȘnadyan kawrĂșhira wĂs tumĂȘka "NgadĂȘg SarirĂ„ Tunggal" utĂ„wĂ„ bisa mĂȘngĂȘrtĂšni "Manunggaling KawulĂ„ Gusti".PitudĂșh : # 9Ă jĂ„ ndisiki kĂȘrsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 10
Ă jĂ„ sirĂ„ wani marang wĂłng tuwanira, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ bĂȘndhu sĂ„kĂ„ Kang MĂșrbĂšng Dumadi. WĂȘwalĂȘr : # 11Ă jĂ„ mĂșng kĂšlingan lan migatĂškakĂ© barang kang katĂłn baĂ©, sĂȘbab kang katĂłn gumĂȘlar iki ananĂ© malah ora langgĂȘng. WĂȘwalĂȘr : # 12Ă jĂ„ darbĂ© pangirĂ„ yĂšn lĂȘlĂȘmbĂșt iku mĂȘsthi alanĂ©, jalaran sĂng apik iyĂ„ Ă„nĂ„, sĂng Ă„lĂ„ iyĂ„ Ă„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ karo manungsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 13Ă jĂ„ lali sabĂȘn ari (dinĂ„) Ă©ling marang PangĂ©ranira, jalaran sĂȘjatinĂ© sirĂ„ iku tansah katunggĂłn PangĂ©ranirĂ„.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Kautamaning Batin
PitudĂșh : # 14
Kahanan donyĂ„ iku ora langgĂȘng, mulĂ„ Ă„jĂ„ ngĂȘgungakĂ© kasugihan lan drajadira, awĂt samĂ„ngsĂ„ wolak-walikĂng jaman ora kisinan.
PitudĂșh : # 15
Kahanan kang Ă„nĂ„ iki ora suwĂ© mĂȘsthi ngalami owah gingsĂr, mulĂ„ Ă„jĂ„ lali marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂng tumitah.
PitudĂșh : # 16
SĂng sĂ„pĂ„ sĂȘnĂȘng ngrusak katĂȘntrĂȘmanĂng liyan bakal dibĂȘndhu dĂ©ning PangĂ©ran lan diwĂȘlĂšhakĂ© dĂ©ning tumindakĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 17
WatakĂng manungsĂ„ iku kĂȘpingĂn kuwĂ„sĂ„, nangĂng PangĂ©ran iku bakal marĂngakĂ© panguwĂ„sĂ„ miturĂșt kĂȘrsanĂ© PangĂ©ran pribadi.
PitudĂșh : # 18
JanmĂ„ iku tan kĂȘnĂ„ kinĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, mulĂ„ sirĂ„ Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng ngaku lan rumangsa pintĂȘr dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 19
RamĂ© ing gawĂ© sĂȘpi ing pamrih, mĂȘmayu hayunĂng bawĂ„nĂ„.
PitudĂșh : # 20
ManungsĂ„ sadĂȘrmĂ„ nglakĂłni, kadyĂ„ wayang saupamanĂ©. PitudĂșh : # 21 Mulat sarirĂ„, tansah Ă©lĂng lan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 22
SabĂȘgjĂ„-bĂȘgjanĂ© kang lali, luwih bĂȘgjĂ„ kang Ă©lĂng klawan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 23
SĂng sĂ„pĂ„ salah sĂšlĂšh, lan mĂ©lĂk nggĂ©ndhĂłng lali.
PitudĂșh : # 24
NglurĂșg tanpĂ„ bĂ„lĂ„, sugĂh ora nyimpĂȘn, sĂȘkti tĂ„npĂ„ maguru, lan mĂȘnang tanpĂ„ ngasĂłrakĂ©.PitudĂșh : # 25 YĂšn sirĂ„ dibĂȘciki liyan tulisĂȘn ing watu supĂ„yĂ„ ora ilang lan tansah kĂšlingan, yĂšn sirĂ„ gawĂ© kabĂȘcikan marang liyan tulisĂȘn ing lĂȘmah, supĂ„yĂ„ Ă©nggal ilang lan ora kĂšlingan.
PitudĂșh : # 26
SĂng sĂȘnĂȘng gawĂ© nĂȘlangsanĂ© liyan iku ing tĂȘmbĂ© bakal kĂȘnĂ„ piwalĂȘs sĂ„kĂ„ panggawĂ©nĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 27
LamĂșn sirĂ„ mĂșng sĂȘnĂȘng dialĂȘm baĂ©, ing tĂȘmbĂ© kĂȘtĂȘmu bab-bab kang kurang prayogĂ„.PitudĂșh : # 28 Wani ngalah luhĂșr wĂȘkasanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 29
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© rusakĂng liyan, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ siku dhĂȘndhaning Guru SĂȘjatinirĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 30
Ă jĂ„ sira nyacad piyandĂȘling liyan, jalaran durĂșng mĂȘsthi yĂšn piyandĂȘlirĂ„ iku sĂng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 31
Ă jĂ„ lali marang kĂȘbĂȘcikan liyan.WĂȘwalĂȘr : # 32 Ă jĂ„ sirĂ„ dĂȘgsurĂ„, ngaku luwĂh pintĂȘr tinimbang sĂ©jĂ©nĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 33
Ă jĂ„ rumangsa bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©, jalaran ing donya iki ora Ă„nĂ„ sĂng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.WĂȘwalĂȘr : # 34 Ă jĂ„ wĂȘdi kangĂšlan, jalaran urĂp anĂšng donyĂ„ iku pancĂšn angĂšl.
WĂȘwalĂȘr : # 35
Ă jĂ„ gawĂ© sĂȘrĂk atining liyan lan Ă„jĂ„ golĂšk mungsĂșh.WĂȘwalĂȘr : # 36 Ă jĂ„ sirĂ„ mulang gĂȘthing marang liyan, jalaran iku bakal nandĂșr cĂȘcongkrahan kang ora Ă„nĂ„ uwis-uwisĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 37
Ă jĂ„ ngumbar hĂ„wĂ„ napsu lan Ă„jĂ„ mĂ©lĂk darbĂškĂng liyan, mundhak sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ©.
Kahanan donyĂ„ iku ora langgĂȘng, mulĂ„ Ă„jĂ„ ngĂȘgungakĂ© kasugihan lan drajadira, awĂt samĂ„ngsĂ„ wolak-walikĂng jaman ora kisinan.
PitudĂșh : # 15
Kahanan kang Ă„nĂ„ iki ora suwĂ© mĂȘsthi ngalami owah gingsĂr, mulĂ„ Ă„jĂ„ lali marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂng tumitah.
PitudĂșh : # 16
SĂng sĂ„pĂ„ sĂȘnĂȘng ngrusak katĂȘntrĂȘmanĂng liyan bakal dibĂȘndhu dĂ©ning PangĂ©ran lan diwĂȘlĂšhakĂ© dĂ©ning tumindakĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 17
WatakĂng manungsĂ„ iku kĂȘpingĂn kuwĂ„sĂ„, nangĂng PangĂ©ran iku bakal marĂngakĂ© panguwĂ„sĂ„ miturĂșt kĂȘrsanĂ© PangĂ©ran pribadi.
PitudĂșh : # 18
JanmĂ„ iku tan kĂȘnĂ„ kinĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, mulĂ„ sirĂ„ Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng ngaku lan rumangsa pintĂȘr dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 19
RamĂ© ing gawĂ© sĂȘpi ing pamrih, mĂȘmayu hayunĂng bawĂ„nĂ„.
PitudĂșh : # 20
ManungsĂ„ sadĂȘrmĂ„ nglakĂłni, kadyĂ„ wayang saupamanĂ©. PitudĂșh : # 21 Mulat sarirĂ„, tansah Ă©lĂng lan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 22
SabĂȘgjĂ„-bĂȘgjanĂ© kang lali, luwih bĂȘgjĂ„ kang Ă©lĂng klawan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 23
SĂng sĂ„pĂ„ salah sĂšlĂšh, lan mĂ©lĂk nggĂ©ndhĂłng lali.
PitudĂșh : # 24
NglurĂșg tanpĂ„ bĂ„lĂ„, sugĂh ora nyimpĂȘn, sĂȘkti tĂ„npĂ„ maguru, lan mĂȘnang tanpĂ„ ngasĂłrakĂ©.PitudĂșh : # 25 YĂšn sirĂ„ dibĂȘciki liyan tulisĂȘn ing watu supĂ„yĂ„ ora ilang lan tansah kĂšlingan, yĂšn sirĂ„ gawĂ© kabĂȘcikan marang liyan tulisĂȘn ing lĂȘmah, supĂ„yĂ„ Ă©nggal ilang lan ora kĂšlingan.
PitudĂșh : # 26
SĂng sĂȘnĂȘng gawĂ© nĂȘlangsanĂ© liyan iku ing tĂȘmbĂ© bakal kĂȘnĂ„ piwalĂȘs sĂ„kĂ„ panggawĂ©nĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 27
LamĂșn sirĂ„ mĂșng sĂȘnĂȘng dialĂȘm baĂ©, ing tĂȘmbĂ© kĂȘtĂȘmu bab-bab kang kurang prayogĂ„.PitudĂșh : # 28 Wani ngalah luhĂșr wĂȘkasanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 29
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© rusakĂng liyan, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ siku dhĂȘndhaning Guru SĂȘjatinirĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 30
Ă jĂ„ sira nyacad piyandĂȘling liyan, jalaran durĂșng mĂȘsthi yĂšn piyandĂȘlirĂ„ iku sĂng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 31
Ă jĂ„ lali marang kĂȘbĂȘcikan liyan.WĂȘwalĂȘr : # 32 Ă jĂ„ sirĂ„ dĂȘgsurĂ„, ngaku luwĂh pintĂȘr tinimbang sĂ©jĂ©nĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 33
Ă jĂ„ rumangsa bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©, jalaran ing donya iki ora Ă„nĂ„ sĂng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.WĂȘwalĂȘr : # 34 Ă jĂ„ wĂȘdi kangĂšlan, jalaran urĂp anĂšng donyĂ„ iku pancĂšn angĂšl.
WĂȘwalĂȘr : # 35
Ă jĂ„ gawĂ© sĂȘrĂk atining liyan lan Ă„jĂ„ golĂšk mungsĂșh.WĂȘwalĂȘr : # 36 Ă jĂ„ sirĂ„ mulang gĂȘthing marang liyan, jalaran iku bakal nandĂșr cĂȘcongkrahan kang ora Ă„nĂ„ uwis-uwisĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 37
Ă jĂ„ ngumbar hĂ„wĂ„ napsu lan Ă„jĂ„ mĂ©lĂk darbĂškĂng liyan, mundhak sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ©.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Laku Budi UtÄmÄ
PitudĂșh : # 38
Ă lĂ„ lan bĂȘcĂk iku dumunĂșng Ă„nĂ„ awakĂ© dhĂ©wĂ©, mĂ©lĂk nggĂ©ndhĂłng lali, ngundhĂșh wĂłhĂng pakarti.
PitudĂșh : # 39
SĂng sĂ„pĂ„ lali marang kabĂȘcikan liyan, iku kĂ„yĂ„ kĂ©wan.
PitudĂșh : # 40
AjinĂng dhiri iku dumunĂșng Ă„nĂ„ ing lathi lan budi.
PitudĂșh : # 41
YitnĂ„ yuwĂ„nĂ„, lĂ©nĂ„ kĂȘnĂ„.PitudĂșh : # 42 Ă lĂ„ kĂȘtĂ„rĂ„, bĂȘcĂk kĂȘtitĂk.
PitudĂșh : # 43
Klabang iku wisané ÄnÄ ing capité.
KĂ„lĂ„jĂȘngkĂng wisanĂ© mĂșng Ă„nĂ„ pucĂșk buntĂșt (ĂȘntĂșp).
YĂšn ulĂ„ mung dumunĂșng Ă„nĂ„ untunĂ© ulĂ„ kang duwĂ© wisĂ„.
NangĂng yĂšn durjĂ„nĂ„ wisanĂ© dumunĂșng Ă„nĂ„ ing sakujĂșr badan.PitudĂșh : # 44 RawĂ©-rawĂ© rantas, malang-malang putĂșng.PitudĂșh : # 45 MumpĂșng ĂȘnĂłm ngudiyĂ„ laku utĂ„mĂ„.PitudĂșh : # 46 SĂng prasĂ„jĂ„, pĂȘrcĂ„yĂ„ marang dhiri pribadi.PitudĂșh : # 47NgĂšlmu pari, sĂ„yĂ„ isi sĂ„yĂ„ tumungkĂșl.
PitudĂșh : # 48
Wóng mati iku bandhané ora digÄwÄ.
PitudĂșh : # 49
WĂłng iku kudu ngudi kabĂȘcikan, jalaran kabĂȘcikan iku sangunĂng urĂp.PitudĂșh : # 50 WĂłng kang ora gĂȘlĂȘm ngudi kabĂȘcikan iku prasasat sĂ©tan. PitudĂșh : # 51 WĂłng linuwĂh iku ambĂȘg wĂȘlasan lan sugĂh pangapurĂ„.
PitudĂșh : # 52
PĂȘrang tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ© iku pambudidĂ„yĂ„ murih bisa mĂšpĂšr hĂ„wĂ„ nĂȘpsu.
PitudĂșh : # 53
NgĂšlmu iku kĂȘlakĂłnĂ© kanthi laku, sĂȘnajan akĂšh ngĂšlmunĂ© lamĂșn ora ditangkarakĂ© lan ora digunakakĂ©, ngĂšlmu iku tanpĂ„ gunĂ„.PitudĂșh : # 54 TurutĂȘn pituturĂ© wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 55
WĂłng kang ora wĂȘrĂșh tĂ„tĂ„krĂ„mĂ„ udĂ„nagĂ„rĂ„ (unggah-ungguh), iku pĂ„dhĂ„ karo ora bisĂ„ ngrasakakĂ© rĂ„sĂ„ nĂȘm warnĂ„ (lĂȘgi, kĂȘcĂșt, asĂn, pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt, lan pait).
PitudĂșh : # 56
WĂłng pintĂȘr nangĂng Ă„lĂ„ tumindakĂ©, sĂȘnĂȘngĂ© karo wĂłng Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 57
WĂłng linuwĂh iku kudu bisĂ„ ngĂȘpĂšk ati lan ngĂȘpĂ©nakakĂ© atinĂ© liyan. YĂšn kumpĂșl karo mitrĂ„ kudu bisĂ„ ngĂȘtrapakĂ© tĂȘmbĂșng kang manĂs kang pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt,bisa gawĂ© sĂȘnĂȘngĂng ati. YĂšn kumpĂșl pandhitĂ„ kudu bisĂ„ ngĂłmĂłngakĂ© tĂȘmbĂșng kang bĂȘcĂk. YĂšn Ă„nĂ„ sangarĂȘpĂng mungsĂșh kudu bisĂ„ ngatĂłnakĂ© kuwĂ„sĂ„ pangaribĂ„wĂ„ kaluwihanĂ©.WĂȘwalĂȘr : # 58 Ă jĂ„ panastĂšn lan Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© gĂȘndrĂ„, jalaran gawĂ© gĂȘndrĂ„ iku sipatĂng dhĂȘmĂt.
WĂȘwalĂȘr : # 59
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn dĂšn alĂȘm, Ă„jĂ„ sĂȘngit yĂšn dĂšn cacad.WĂȘwalĂȘr : # 60 Ă jĂ„ lali piwulang bĂȘcĂk.
Ă lĂ„ lan bĂȘcĂk iku dumunĂșng Ă„nĂ„ awakĂ© dhĂ©wĂ©, mĂ©lĂk nggĂ©ndhĂłng lali, ngundhĂșh wĂłhĂng pakarti.
PitudĂșh : # 39
SĂng sĂ„pĂ„ lali marang kabĂȘcikan liyan, iku kĂ„yĂ„ kĂ©wan.
PitudĂșh : # 40
AjinĂng dhiri iku dumunĂșng Ă„nĂ„ ing lathi lan budi.
PitudĂșh : # 41
YitnĂ„ yuwĂ„nĂ„, lĂ©nĂ„ kĂȘnĂ„.PitudĂșh : # 42 Ă lĂ„ kĂȘtĂ„rĂ„, bĂȘcĂk kĂȘtitĂk.
PitudĂșh : # 43
Klabang iku wisané ÄnÄ ing capité.
KĂ„lĂ„jĂȘngkĂng wisanĂ© mĂșng Ă„nĂ„ pucĂșk buntĂșt (ĂȘntĂșp).
YĂšn ulĂ„ mung dumunĂșng Ă„nĂ„ untunĂ© ulĂ„ kang duwĂ© wisĂ„.
NangĂng yĂšn durjĂ„nĂ„ wisanĂ© dumunĂșng Ă„nĂ„ ing sakujĂșr badan.PitudĂșh : # 44 RawĂ©-rawĂ© rantas, malang-malang putĂșng.PitudĂșh : # 45 MumpĂșng ĂȘnĂłm ngudiyĂ„ laku utĂ„mĂ„.PitudĂșh : # 46 SĂng prasĂ„jĂ„, pĂȘrcĂ„yĂ„ marang dhiri pribadi.PitudĂșh : # 47NgĂšlmu pari, sĂ„yĂ„ isi sĂ„yĂ„ tumungkĂșl.
PitudĂșh : # 48
Wóng mati iku bandhané ora digÄwÄ.
PitudĂșh : # 49
WĂłng iku kudu ngudi kabĂȘcikan, jalaran kabĂȘcikan iku sangunĂng urĂp.PitudĂșh : # 50 WĂłng kang ora gĂȘlĂȘm ngudi kabĂȘcikan iku prasasat sĂ©tan. PitudĂșh : # 51 WĂłng linuwĂh iku ambĂȘg wĂȘlasan lan sugĂh pangapurĂ„.
PitudĂșh : # 52
PĂȘrang tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ© iku pambudidĂ„yĂ„ murih bisa mĂšpĂšr hĂ„wĂ„ nĂȘpsu.
PitudĂșh : # 53
NgĂšlmu iku kĂȘlakĂłnĂ© kanthi laku, sĂȘnajan akĂšh ngĂšlmunĂ© lamĂșn ora ditangkarakĂ© lan ora digunakakĂ©, ngĂšlmu iku tanpĂ„ gunĂ„.PitudĂșh : # 54 TurutĂȘn pituturĂ© wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 55
WĂłng kang ora wĂȘrĂșh tĂ„tĂ„krĂ„mĂ„ udĂ„nagĂ„rĂ„ (unggah-ungguh), iku pĂ„dhĂ„ karo ora bisĂ„ ngrasakakĂ© rĂ„sĂ„ nĂȘm warnĂ„ (lĂȘgi, kĂȘcĂșt, asĂn, pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt, lan pait).
PitudĂșh : # 56
WĂłng pintĂȘr nangĂng Ă„lĂ„ tumindakĂ©, sĂȘnĂȘngĂ© karo wĂłng Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 57
WĂłng linuwĂh iku kudu bisĂ„ ngĂȘpĂšk ati lan ngĂȘpĂ©nakakĂ© atinĂ© liyan. YĂšn kumpĂșl karo mitrĂ„ kudu bisĂ„ ngĂȘtrapakĂ© tĂȘmbĂșng kang manĂs kang pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt,bisa gawĂ© sĂȘnĂȘngĂng ati. YĂšn kumpĂșl pandhitĂ„ kudu bisĂ„ ngĂłmĂłngakĂ© tĂȘmbĂșng kang bĂȘcĂk. YĂšn Ă„nĂ„ sangarĂȘpĂng mungsĂșh kudu bisĂ„ ngatĂłnakĂ© kuwĂ„sĂ„ pangaribĂ„wĂ„ kaluwihanĂ©.WĂȘwalĂȘr : # 58 Ă jĂ„ panastĂšn lan Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© gĂȘndrĂ„, jalaran gawĂ© gĂȘndrĂ„ iku sipatĂng dhĂȘmĂt.
WĂȘwalĂȘr : # 59
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn dĂšn alĂȘm, Ă„jĂ„ sĂȘngit yĂšn dĂšn cacad.WĂȘwalĂȘr : # 60 Ă jĂ„ lali piwulang bĂȘcĂk.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
kebangsaan
PitudĂșh : # 61
BĂ„ngsĂ„ iku minĂ„ngkĂ„ sarĂ„nĂ„ kuwatĂng nagĂ„rĂ„, mula Ă„jĂ„ nglĂrwakakĂ© kabangsanirĂ„ pribadi supĂ„yĂ„ antĂșk kanugrahan adĂȘgĂng bangsa kang "AndĂ„nĂ„ WarĂh" PitudĂșh : # 62 NĂȘgĂ„rĂ„ iku ora gunĂ„ lamĂșn ora duwĂ© anggĂȘr-anggĂȘr minĂ„ngkĂ„ pikukuhĂng nĂȘgĂ„rĂ„ kang adhĂȘdhasar isi kalbunĂ© mĂȘnungsĂ„ salumahĂng nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi. PitudĂșh : # 63 Kang bĂȘcĂk iku lamĂșn ngĂȘrti ananĂ© sĂȘsantinĂ© ngabdi bĂȘbrayan agĂșng : "Ing NgarsĂ„ AsĂșng TulĂ„dhĂ„, Ing MadyĂ„ AmangĂșn KarsĂ„, TĂșt Wuri Handayani".
PitudĂșh : # 64
NĂȘgĂ„rĂ„ kita bisĂ„ tĂȘntrĂȘm lamĂșn murah sandhang klawan pangan, margĂ„ pĂ„rĂ„ kawulĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng nyambĂșt gawĂ©, lan Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ kang darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ laksĂ„nĂ„”.
PitudĂșh : # 65
WadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłng prĂ„jĂ„ kang sĂȘnĂȘng marang kawulĂ„ alĂt iku dadi sĂȘnĂȘnganĂ© pĂ„rĂ„ kawulĂ„ sajronĂng prĂ„jĂ„ lan bisa gawĂ© kukĂșh sartĂ„ dadi tamĂšngĂng nagĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 66 PĂ„rĂ„ mudhĂ„ Ă„jĂ„ ngungkĂșrakĂ© ngudi kawrĂșh kang nyĂ„tĂ„ amrĂh bisĂ„ kinaryĂ„ kuwatĂng nagĂ„rĂ„, unggulĂng bĂ„ngsĂ„, lan bisĂ„ gawĂ© rahayunĂng sasĂ„mĂ„.
PitudĂșh : # 67
PanguwĂ„sĂ„ pamĂłngĂ© nĂȘgĂ„rĂ„ iku kudu bisĂ„ gawĂ© tĂȘntrĂȘm pĂ„rĂ„ kawulanĂ©, amargĂ„ yĂšn ora mangkono bisĂ„ kadadĂ©yan pĂ„rĂ„ kawulĂ„ ngrĂȘbĂșt panguwasanĂng nĂȘgĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 68 NĂȘgĂ„rĂ„ kuwat iku margĂ„ kawulanĂ© sĂȘnĂȘng uripĂ© lan disujudi dĂ©nĂng liyĂ„ nĂȘgĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 69 LamĂșn sirĂ„ dadi wadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłngĂng nagĂ„rĂ„, Ă„jĂ„ sirĂ„ dhĂȘmĂȘn kuwĂ„sĂ„ dhĂ©wĂ©. Jalaran yĂšn sirĂ„ wĂs ora kasinungan panguwĂ„sĂ„ manĂšh, ing tĂȘmbĂ© bakal ndadĂškakĂ© ora kajĂšnĂng awakirĂ„ ing tĂȘngahĂng bĂȘbrayan. NgĂ©lingĂ„nĂ„ yĂšn sĂȘjatinĂ© isĂh Ă„nĂ„ wĂłng kang bisĂ„ ngalahakĂ© sirĂ„ ing babakan Ă„pĂ„ baĂ©.
PitudĂșh : # 70
DĂ©nĂ© sĂng mĂȘngku nagĂ„rĂ„ ora darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ lĂȘksĂ„nĂ„". Iku bisĂ„ njalari wadyabĂ„lĂ„ kang dadi tĂȘtungguling prajurĂt nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi ora sujĂșd manĂšh lan bisĂ„ ugĂ„ kĂȘpingĂn ngrĂȘbĂșt panguwasanĂng nĂȘgĂ„rĂ„.
PitudĂșh : # 71
YĂšn wĂłng bĂȘcĂk kang kuwĂ„sĂ„, kabĂšh kang Ă„lĂ„ didandani lamĂșn kĂȘnĂ„, dĂ©nĂ© yĂšn ora kĂȘnĂ„ disingkĂrakĂ© mundhak nulari (cuplak andhĂȘng-andhĂȘng).
PitudĂșh : # 72
PĂȘrang iku bĂȘcĂk lamĂșn tujuwanĂ© nggayĂșh kamardikanĂng nagĂ„rĂ„ lan bangsanĂ©, lan pĂȘrang iku Ă„lĂ„ lamĂșn kanggo njarah rayah darbĂškĂng liyan. PitudĂșh : # 73 WĂłng Ă„lĂ„ yĂšn bisa kuwĂ„sĂ„, kang Ă„lĂ„ iku diarani bĂȘcĂk. KĂłsĂłkbalinĂ© yĂšn wĂłng bĂȘcĂk kang kuwasa, kang bĂȘcĂk iku kang ditindakakĂ©.
PitudĂșh : # 74
WajibĂng warganĂng nagĂ„rĂ„ iku kudu bisĂ„ rumĂ„ngsĂ„ mĂšlu handarbĂšni, wajĂb mĂšlu hanggĂłndhĂšli. Mulat sarirĂ„ hangrĂ„sĂ„ wani.
WĂȘwalĂȘr : # 75
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn lagi darbĂ© panguwĂ„sĂ„, sĂȘrĂk yĂšn lagi ora darbĂ© panguwĂ„sĂ„. jalaran kuwi-kuwi Ă„nĂ„ bĂȘbĂȘndhunĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©. WĂȘwalĂȘr : # 76 Ă jĂ„ mĂșng kĂȘpingĂn mĂȘnangĂ© dhĂ©wĂ© kang bisĂ„ marĂškakĂ© crahĂng nagĂ„rĂ„ lan bĂ„ngsĂ„, kudu sĂȘnĂȘng rĂȘrĂȘmbugan njĂ„gĂ„ katĂȘntrĂȘman lahĂr batĂn.
BĂ„ngsĂ„ iku minĂ„ngkĂ„ sarĂ„nĂ„ kuwatĂng nagĂ„rĂ„, mula Ă„jĂ„ nglĂrwakakĂ© kabangsanirĂ„ pribadi supĂ„yĂ„ antĂșk kanugrahan adĂȘgĂng bangsa kang "AndĂ„nĂ„ WarĂh" PitudĂșh : # 62 NĂȘgĂ„rĂ„ iku ora gunĂ„ lamĂșn ora duwĂ© anggĂȘr-anggĂȘr minĂ„ngkĂ„ pikukuhĂng nĂȘgĂ„rĂ„ kang adhĂȘdhasar isi kalbunĂ© mĂȘnungsĂ„ salumahĂng nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi. PitudĂșh : # 63 Kang bĂȘcĂk iku lamĂșn ngĂȘrti ananĂ© sĂȘsantinĂ© ngabdi bĂȘbrayan agĂșng : "Ing NgarsĂ„ AsĂșng TulĂ„dhĂ„, Ing MadyĂ„ AmangĂșn KarsĂ„, TĂșt Wuri Handayani".
PitudĂșh : # 64
NĂȘgĂ„rĂ„ kita bisĂ„ tĂȘntrĂȘm lamĂșn murah sandhang klawan pangan, margĂ„ pĂ„rĂ„ kawulĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng nyambĂșt gawĂ©, lan Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ kang darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ laksĂ„nĂ„”.
PitudĂșh : # 65
WadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłng prĂ„jĂ„ kang sĂȘnĂȘng marang kawulĂ„ alĂt iku dadi sĂȘnĂȘnganĂ© pĂ„rĂ„ kawulĂ„ sajronĂng prĂ„jĂ„ lan bisa gawĂ© kukĂșh sartĂ„ dadi tamĂšngĂng nagĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 66 PĂ„rĂ„ mudhĂ„ Ă„jĂ„ ngungkĂșrakĂ© ngudi kawrĂșh kang nyĂ„tĂ„ amrĂh bisĂ„ kinaryĂ„ kuwatĂng nagĂ„rĂ„, unggulĂng bĂ„ngsĂ„, lan bisĂ„ gawĂ© rahayunĂng sasĂ„mĂ„.
PitudĂșh : # 67
PanguwĂ„sĂ„ pamĂłngĂ© nĂȘgĂ„rĂ„ iku kudu bisĂ„ gawĂ© tĂȘntrĂȘm pĂ„rĂ„ kawulanĂ©, amargĂ„ yĂšn ora mangkono bisĂ„ kadadĂ©yan pĂ„rĂ„ kawulĂ„ ngrĂȘbĂșt panguwasanĂng nĂȘgĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 68 NĂȘgĂ„rĂ„ kuwat iku margĂ„ kawulanĂ© sĂȘnĂȘng uripĂ© lan disujudi dĂ©nĂng liyĂ„ nĂȘgĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 69 LamĂșn sirĂ„ dadi wadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłngĂng nagĂ„rĂ„, Ă„jĂ„ sirĂ„ dhĂȘmĂȘn kuwĂ„sĂ„ dhĂ©wĂ©. Jalaran yĂšn sirĂ„ wĂs ora kasinungan panguwĂ„sĂ„ manĂšh, ing tĂȘmbĂ© bakal ndadĂškakĂ© ora kajĂšnĂng awakirĂ„ ing tĂȘngahĂng bĂȘbrayan. NgĂ©lingĂ„nĂ„ yĂšn sĂȘjatinĂ© isĂh Ă„nĂ„ wĂłng kang bisĂ„ ngalahakĂ© sirĂ„ ing babakan Ă„pĂ„ baĂ©.
PitudĂșh : # 70
DĂ©nĂ© sĂng mĂȘngku nagĂ„rĂ„ ora darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ lĂȘksĂ„nĂ„". Iku bisĂ„ njalari wadyabĂ„lĂ„ kang dadi tĂȘtungguling prajurĂt nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi ora sujĂșd manĂšh lan bisĂ„ ugĂ„ kĂȘpingĂn ngrĂȘbĂșt panguwasanĂng nĂȘgĂ„rĂ„.
PitudĂșh : # 71
YĂšn wĂłng bĂȘcĂk kang kuwĂ„sĂ„, kabĂšh kang Ă„lĂ„ didandani lamĂșn kĂȘnĂ„, dĂ©nĂ© yĂšn ora kĂȘnĂ„ disingkĂrakĂ© mundhak nulari (cuplak andhĂȘng-andhĂȘng).
PitudĂșh : # 72
PĂȘrang iku bĂȘcĂk lamĂșn tujuwanĂ© nggayĂșh kamardikanĂng nagĂ„rĂ„ lan bangsanĂ©, lan pĂȘrang iku Ă„lĂ„ lamĂșn kanggo njarah rayah darbĂškĂng liyan. PitudĂșh : # 73 WĂłng Ă„lĂ„ yĂšn bisa kuwĂ„sĂ„, kang Ă„lĂ„ iku diarani bĂȘcĂk. KĂłsĂłkbalinĂ© yĂšn wĂłng bĂȘcĂk kang kuwasa, kang bĂȘcĂk iku kang ditindakakĂ©.
PitudĂșh : # 74
WajibĂng warganĂng nagĂ„rĂ„ iku kudu bisĂ„ rumĂ„ngsĂ„ mĂšlu handarbĂšni, wajĂb mĂšlu hanggĂłndhĂšli. Mulat sarirĂ„ hangrĂ„sĂ„ wani.
WĂȘwalĂȘr : # 75
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn lagi darbĂ© panguwĂ„sĂ„, sĂȘrĂk yĂšn lagi ora darbĂ© panguwĂ„sĂ„. jalaran kuwi-kuwi Ă„nĂ„ bĂȘbĂȘndhunĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©. WĂȘwalĂȘr : # 76 Ă jĂ„ mĂșng kĂȘpingĂn mĂȘnangĂ© dhĂ©wĂ© kang bisĂ„ marĂškakĂ© crahĂng nagĂ„rĂ„ lan bĂ„ngsĂ„, kudu sĂȘnĂȘng rĂȘrĂȘmbugan njĂ„gĂ„ katĂȘntrĂȘman lahĂr batĂn.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
Kakaluwargaan
PitudĂșh : # 77
BĂ„pĂ„ biyĂșng iku minĂ„ngkĂ„ lantaran urĂp ing ngalam donyĂ„. PitudĂșh : # 78 SĂng sĂ„pĂ„ lali marang wĂłng tuwanĂ© prĂȘsasat lali marang PangĂ©ranĂ©, NgabĂȘktiyĂ„ marang wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 79
WĂłng tuwĂ„ kang ora ngudi kabĂȘcikan sartĂ„ ora ngĂȘrti marang udĂ„nagĂ„rĂ„ (trapsilĂ„, unggah-ungguh) lan tĂ„tĂ„ krĂ„mĂ„, kuwi sĂȘjatinĂ© dudu panutanĂ© putrĂ„ wayah. PitudĂșh : # 80 SĂ„pĂ„ sĂng sĂȘnĂȘng urĂp tĂȘtanggan, kalĂȘbu janmĂ„ linuwĂh.
TĂ„nggĂ„ iku pĂȘrlu dicĂȘdaki nanging Ă„jĂ„ ditrĂȘsnani. PitudĂșh : # 81 ParibasanĂ© tĂ„nggĂ„ iku pĂ„dhĂ„ karo bĂ„pĂ„ biyĂșng. PitudĂșh : # 82 TĂ„nggĂ„ kang ora bĂȘcĂk atinĂ© Ă„jĂ„ dicĂȘdhaki nangĂng Ă„jĂ„ dimungsuhi. PitudĂșh : # 83 Sadumuk bathĂșk sanyari bumi ditĂłh pati.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© kasĂȘtyanĂ© marang kulĂ„wargĂ„).
PitudĂșh : # 84
Mikul dhuwĂșr mĂȘndhĂȘm jĂȘro.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwĂ„nĂ©). PitudĂșh : # 85 Anak iku minĂ„ngkĂ„ tĂȘrusanĂ© wĂłng tuwĂ„, ora Ă„nĂ„ katrĂȘsnan kang ngluwihi katrĂȘsnanĂ© wĂłng tuwĂ„ marang anak.
PitudĂșh : # 86
TrĂȘsnĂ„ marang mantu iku pĂ„dhĂ„ baĂ© trĂȘsnĂ„ marang putrĂ„, jalaran putu iku wĂłhĂng katrĂȘsnanĂ© putrĂ„ lan mantu.
PitudĂșh : # 87
SayojĂ„nĂ„ iku dĂłhĂ© sĂȘpulĂșh Ăšwu dhĂȘpĂ„.
SwĂ„rĂ„ kang krungu nganti sayojĂ„nĂ„, arumĂng jĂȘnĂȘng ngambar-ambar salumahĂng bumi (dialĂȘmbĂ„nĂ„).
PitudĂșh : # 88
GĂłlĂšk jodho Ă„jĂ„ mĂșng mburu Ă©ndahĂng warnĂ„, sĂȘnajan ayu utĂ„wĂ„ bagĂșs.
WĂȘwalĂȘr : # 89
Ă jĂ„ ngaku wĂłng tuwĂ„ lamun wĂłng tuwamu katĂłn sugĂh lan dhuwĂșr drajadĂ©, jalaran pangkat lan bandhanĂ© wĂłng tuwamu iku mau bisa sirnĂ„ sadurungĂ© sirĂ„ warisi.
WĂȘwalĂȘr : # 90
Ă jĂ„ gampang nyĂȘpatani anak nganggo tĂȘmbĂșng kang ora prayogĂ„, jalaran sĂȘpatanĂ© wĂłng tuwĂ„ bisa numusi sartĂ„ bisa ngilangakĂ© rĂ„sĂ„ bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 91
Ă jĂ„ mĂšnĂšhi jĂȘnĂȘng marang anak sĂng kurang pantĂȘs, jalaran jĂȘnĂȘng sĂng disandhang anak bakalĂ© kagĂ„wĂ„ nganti dĂȘlahan (akhĂ©rat).
BĂ„pĂ„ biyĂșng iku minĂ„ngkĂ„ lantaran urĂp ing ngalam donyĂ„. PitudĂșh : # 78 SĂng sĂ„pĂ„ lali marang wĂłng tuwanĂ© prĂȘsasat lali marang PangĂ©ranĂ©, NgabĂȘktiyĂ„ marang wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 79
WĂłng tuwĂ„ kang ora ngudi kabĂȘcikan sartĂ„ ora ngĂȘrti marang udĂ„nagĂ„rĂ„ (trapsilĂ„, unggah-ungguh) lan tĂ„tĂ„ krĂ„mĂ„, kuwi sĂȘjatinĂ© dudu panutanĂ© putrĂ„ wayah. PitudĂșh : # 80 SĂ„pĂ„ sĂng sĂȘnĂȘng urĂp tĂȘtanggan, kalĂȘbu janmĂ„ linuwĂh.
TĂ„nggĂ„ iku pĂȘrlu dicĂȘdaki nanging Ă„jĂ„ ditrĂȘsnani. PitudĂșh : # 81 ParibasanĂ© tĂ„nggĂ„ iku pĂ„dhĂ„ karo bĂ„pĂ„ biyĂșng. PitudĂșh : # 82 TĂ„nggĂ„ kang ora bĂȘcĂk atinĂ© Ă„jĂ„ dicĂȘdhaki nangĂng Ă„jĂ„ dimungsuhi. PitudĂșh : # 83 Sadumuk bathĂșk sanyari bumi ditĂłh pati.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© kasĂȘtyanĂ© marang kulĂ„wargĂ„).
PitudĂșh : # 84
Mikul dhuwĂșr mĂȘndhĂȘm jĂȘro.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwĂ„nĂ©). PitudĂșh : # 85 Anak iku minĂ„ngkĂ„ tĂȘrusanĂ© wĂłng tuwĂ„, ora Ă„nĂ„ katrĂȘsnan kang ngluwihi katrĂȘsnanĂ© wĂłng tuwĂ„ marang anak.
PitudĂșh : # 86
TrĂȘsnĂ„ marang mantu iku pĂ„dhĂ„ baĂ© trĂȘsnĂ„ marang putrĂ„, jalaran putu iku wĂłhĂng katrĂȘsnanĂ© putrĂ„ lan mantu.
PitudĂșh : # 87
SayojĂ„nĂ„ iku dĂłhĂ© sĂȘpulĂșh Ăšwu dhĂȘpĂ„.
SwĂ„rĂ„ kang krungu nganti sayojĂ„nĂ„, arumĂng jĂȘnĂȘng ngambar-ambar salumahĂng bumi (dialĂȘmbĂ„nĂ„).
PitudĂșh : # 88
GĂłlĂšk jodho Ă„jĂ„ mĂșng mburu Ă©ndahĂng warnĂ„, sĂȘnajan ayu utĂ„wĂ„ bagĂșs.
WĂȘwalĂȘr : # 89
Ă jĂ„ ngaku wĂłng tuwĂ„ lamun wĂłng tuwamu katĂłn sugĂh lan dhuwĂșr drajadĂ©, jalaran pangkat lan bandhanĂ© wĂłng tuwamu iku mau bisa sirnĂ„ sadurungĂ© sirĂ„ warisi.
WĂȘwalĂȘr : # 90
Ă jĂ„ gampang nyĂȘpatani anak nganggo tĂȘmbĂșng kang ora prayogĂ„, jalaran sĂȘpatanĂ© wĂłng tuwĂ„ bisa numusi sartĂ„ bisa ngilangakĂ© rĂ„sĂ„ bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 91
Ă jĂ„ mĂšnĂšhi jĂȘnĂȘng marang anak sĂng kurang pantĂȘs, jalaran jĂȘnĂȘng sĂng disandhang anak bakalĂ© kagĂ„wĂ„ nganti dĂȘlahan (akhĂ©rat).
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
kadonyan
PitudĂșh : # 92
BĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂk iku bĂ„ndhĂ„ kang sĂ„kĂ„ nyambĂșt karyĂ„ lan sĂ„kĂ„ pamĂȘtu sĂ©jĂ©nĂ© kang ora ngrusakakĂ© liyan.
DĂ©nĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora rĂȘsĂk iku bĂ„ndhĂ„ cĂłlĂłngan utĂ„wĂ„ sĂ„kĂ„ nĂȘmu
duwĂškĂng liyan kang kawruhan sĂng duwĂ©.
PitudĂșh : # 93
Kadonyan kang Ă„lĂ„ iku atĂȘgĂȘs mĂșng ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ golĂšk bĂ„ndhĂ„ donyĂ„ ora mikirakĂ© kiwĂ„ tĂȘngĂȘnĂ©, ugĂ„ ora mikirakĂ© kahanan batĂn.
PitudĂșh : # 94
GolĂšk bĂ„ndhĂ„ iku samadyĂ„ baĂ©, udinĂȘn katĂȘntrĂȘman njĂ„bĂ„ njĂȘro. PitudĂșh : # 95 BĂ„ndhĂ„ iku ananĂ© mĂșng anĂšng donyĂ„, mula yĂšn mati ora digĂ„wĂ„.
PitudĂșh : # 96
WĂłng golĂšk kĂȘmakmuran iku ora kalĂȘbu ngoyak kadonyan.
PitudĂșh : # 97
BĂ„ndhĂ„ iku gawĂ© mĂșlyĂ„ lan ugĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„.
GawĂ© mĂșlya lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang bĂȘcĂk, gawĂ© cilĂ„kĂ„ lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 98
WĂłng urĂp Ă„jĂ„ tansah kĂȘpingĂn bĂ„ndhĂ„ baĂ©, jalaran kasugihan iku ing samĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ bisĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„. PitudĂșh : # 99 SĂng sĂ„pĂ„ tansah ngĂȘgĂșngakĂ© pangkatĂ©, wirang lamĂșn Ă„nĂ„ owahing jaman.
SĂng sĂ„pĂ„ ngĂȘgĂșngakĂ© bandhanĂ©, wirang lamĂșn sĂrnĂ„ bandhanĂ©.
PitudĂșh : # 100
DhĂšk jaman kunĂ„ pĂȘrang iku rĂȘbutan bĂ„ndhĂ„, nĂȘgĂ„rĂ„, lan mbĂłyĂłng putri. NangĂng jaman iku ilang barĂȘng wĂs ngĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ wanitĂ„ bĂłyĂłngan mau bisĂ„ gawĂ© ringkihĂng nagĂ„rĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 101
BĂ„ndhĂ„ iku pĂȘrlu nangĂng Ă„jĂ„ diumĂșk-umĂșkakĂ©, drajad lan pangkat iku pĂȘrlu, Ă„jĂ„ dipamĂšr pamĂšrakĂ©, jalaran bisĂ„ mlĂšsĂšdakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 102
Ă jĂ„ mĂ©lĂk darbĂšking liyan, margĂ„ rĂȘbutan rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„ lan wanita iku bisĂ„ gawĂ© congkrahĂng pĂ„rĂ„ sujĂ„nĂ„ lan gawĂ© nisthanĂng ati.
WĂȘwalĂȘr : # 103
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng mamĂšrakĂ© bĂ„ndhĂ„ lan ngĂȘgĂșngakĂ© pangkat, sĂȘbab bĂ„ndhĂ„ bisĂ„ lungĂ„, drajad/pangkat bisa oncat. WĂȘwalĂȘr : # 104 Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng marang wĂłng kang ngujĂ„ hĂ„wĂ„ napsu margĂ„ akĂšh bandhanĂ©. Jalaran bĂ„ndhĂ„ mau bisa gawĂ© cilĂ„kĂ„ amargĂ„ durĂșng mĂȘsthi bĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂk.
BĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂk iku bĂ„ndhĂ„ kang sĂ„kĂ„ nyambĂșt karyĂ„ lan sĂ„kĂ„ pamĂȘtu sĂ©jĂ©nĂ© kang ora ngrusakakĂ© liyan.
DĂ©nĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora rĂȘsĂk iku bĂ„ndhĂ„ cĂłlĂłngan utĂ„wĂ„ sĂ„kĂ„ nĂȘmu
duwĂškĂng liyan kang kawruhan sĂng duwĂ©.
PitudĂșh : # 93
Kadonyan kang Ă„lĂ„ iku atĂȘgĂȘs mĂșng ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ golĂšk bĂ„ndhĂ„ donyĂ„ ora mikirakĂ© kiwĂ„ tĂȘngĂȘnĂ©, ugĂ„ ora mikirakĂ© kahanan batĂn.
PitudĂșh : # 94
GolĂšk bĂ„ndhĂ„ iku samadyĂ„ baĂ©, udinĂȘn katĂȘntrĂȘman njĂ„bĂ„ njĂȘro. PitudĂșh : # 95 BĂ„ndhĂ„ iku ananĂ© mĂșng anĂšng donyĂ„, mula yĂšn mati ora digĂ„wĂ„.
PitudĂșh : # 96
WĂłng golĂšk kĂȘmakmuran iku ora kalĂȘbu ngoyak kadonyan.
PitudĂșh : # 97
BĂ„ndhĂ„ iku gawĂ© mĂșlyĂ„ lan ugĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„.
GawĂ© mĂșlya lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang bĂȘcĂk, gawĂ© cilĂ„kĂ„ lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 98
WĂłng urĂp Ă„jĂ„ tansah kĂȘpingĂn bĂ„ndhĂ„ baĂ©, jalaran kasugihan iku ing samĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ bisĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„. PitudĂșh : # 99 SĂng sĂ„pĂ„ tansah ngĂȘgĂșngakĂ© pangkatĂ©, wirang lamĂșn Ă„nĂ„ owahing jaman.
SĂng sĂ„pĂ„ ngĂȘgĂșngakĂ© bandhanĂ©, wirang lamĂșn sĂrnĂ„ bandhanĂ©.
PitudĂșh : # 100
DhĂšk jaman kunĂ„ pĂȘrang iku rĂȘbutan bĂ„ndhĂ„, nĂȘgĂ„rĂ„, lan mbĂłyĂłng putri. NangĂng jaman iku ilang barĂȘng wĂs ngĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ wanitĂ„ bĂłyĂłngan mau bisĂ„ gawĂ© ringkihĂng nagĂ„rĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 101
BĂ„ndhĂ„ iku pĂȘrlu nangĂng Ă„jĂ„ diumĂșk-umĂșkakĂ©, drajad lan pangkat iku pĂȘrlu, Ă„jĂ„ dipamĂšr pamĂšrakĂ©, jalaran bisĂ„ mlĂšsĂšdakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 102
Ă jĂ„ mĂ©lĂk darbĂšking liyan, margĂ„ rĂȘbutan rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„ lan wanita iku bisĂ„ gawĂ© congkrahĂng pĂ„rĂ„ sujĂ„nĂ„ lan gawĂ© nisthanĂng ati.
WĂȘwalĂȘr : # 103
Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng mamĂšrakĂ© bĂ„ndhĂ„ lan ngĂȘgĂșngakĂ© pangkat, sĂȘbab bĂ„ndhĂ„ bisĂ„ lungĂ„, drajad/pangkat bisa oncat. WĂȘwalĂȘr : # 104 Ă jĂ„ sĂȘnĂȘng marang wĂłng kang ngujĂ„ hĂ„wĂ„ napsu margĂ„ akĂšh bandhanĂ©. Jalaran bĂ„ndhĂ„ mau bisa gawĂ© cilĂ„kĂ„ amargĂ„ durĂșng mĂȘsthi bĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂk.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
memayu hayuning pribadi
PitudĂșh : # 105 Ing samubarang gawĂ© Ă„jĂ„ sĂłk wani mĂȘsthĂškakĂ©, awĂt akĂšh lĂȘlakĂłn kang akĂšh bangĂȘt sambĂ©kalanĂ© sĂng ora bisĂ„ dinuga tumibanĂ©. JĂȘr
kĂ„yĂ„ uninĂ© pĂȘpĂšngĂȘt, "MĂȘnĂ„wĂ„ manungsĂ„ iku pancĂšn wajĂb ihtiyar, nangĂng
pĂȘpĂȘsthĂšnĂ© dumunĂșng ing astanĂ© PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ Wikan".
MulĂ„ ora samĂȘsthinĂ© yĂšn manungsĂ„ iku nyumurupi bab-bab sĂng durĂșng kĂȘlakĂłn. SaupĂ„mĂ„ nyumurupĂ„, prayogĂ„ Ă„jĂ„ diblakakakĂ© wĂłng liyĂ„, awĂt tĂȘmahanĂ© mĂșng bakal murihakĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 106
Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbĂșh karo uninĂ© bĂȘbasan : "Sabar iku kuncinĂng swargĂ„", atĂȘgĂȘs marganĂng kamulyan.
Sabar, lirĂ© mĂłmĂłt kuwat nandhang sakĂšhĂng cobĂ„ lan pandadaranĂng ngaurĂp, nangĂng ora atĂȘgĂȘs gampang pĂȘpĂȘs kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
SuwalikĂ© malah kĂȘbak pĂȘngarĂȘp-arĂȘp lan kuwĂ„wĂ„ nampani Ă„pĂ„ baĂ© kang gumĂȘlar ing salumahĂ© jagad iki.
PitudĂșh : # 107
Kahanan donya iki ora langgĂȘng, tansah owah gingsĂr.
YĂšn sirĂ„ kĂȘbĂȘnĂȘran katunggĂłnan bĂ„ndhĂ„ lan kasinungan pangkat, Ă„jĂ„ banjĂșr rumangsa "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn", tansah ngĂȘndĂȘlakĂ© panguwasanĂ© tumindak dĂȘgsurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„.
Ălinga yĂšn bĂ„ndhĂ„ iku gampang ilang (sĂrnĂ„).
Pangkat sawayah-wayah bisa oncat.
PitudĂșh : # 108
SaibĂ„ bĂȘcikĂ© samangsĂ„ wĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan nampĂ„ kabungahan iku tansah Ă©lĂng gĂȘdhĂ© ngucap syukĂșr marang Kang PĂȘparĂng. AwĂt Ă©linga yĂšn tumindak kĂ„yĂ„ mangkono mau kĂȘjĂ„bĂ„ bisĂ„ ngilangi watak jubriyĂ„ uga mlĂȘtikakĂ© rĂ„sĂ„ rumĂ„ngsĂ„ yĂšn wĂłng dilairakĂ© marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂ© titah, mbĂȘngkas kasangsaran, munggahĂ© ngrĂȘksĂ„ hayunĂng jagad.
PitudĂșh : # 109
Ă jĂ„ sĂłk ngĂȘndĂȘl-ĂȘndĂȘlakĂ© samubarang kaluwihanmu, Ă„pĂ„ manĂšh mamĂšrakĂ© kasugihan lan kapintĂȘranmu.
YĂšn anggĂłnmu ngĂłngasakĂ© dhiri mau mĂșng winatĂȘs ing lathi tanpĂ„ bĂșkti, dhĂłngĂ© pakarti kĂ„yĂ„ mangkono iku ngĂȘngĂłn awakmu dadi ora aji.
LuwĂh prayogĂ„ turutĂȘn pralampitanĂ© tanduran pari.
Pari kang mĂȘntĂȘs mĂȘsthi tumĂȘlĂșng, kang ndongak mracihnani yĂšn kĂłthĂłng tanpĂ„ isi.
PitudĂșh : # 110
"RumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ duwĂ©" lan "SarwĂ„ duwĂ© rumĂ„ngsĂ„", iku yĂšn ditulĂs gĂȘnah mĂșng diwolak-walĂk baĂ©, nangĂng surasanĂ© jĂȘbĂșl kĂ„yĂ„ bumi karo langit.
SĂng kapisan nudĂșhakĂ© watak ngĂȘdĂr-ĂȘdĂrakĂ©, wĂȘngĂs satindak lakunĂ© (polahĂ©), yĂšn nggayĂșh pĂȘpĂ©nginan ora maĂšlu laku dudu, samubarang pakarti nisthĂ„ ditrajang wani.
DĂ©nĂ© sĂng kapindho pakartinĂ© tansah kĂȘbak wĂȘlas asĂh, wicaksĂ„nĂ„ ing sabĂȘn laku, rumĂ„ngsĂ„ dosĂ„ samĂ„ngsĂ„ gawĂ© kapitunanĂ© liyan.
PitudĂșh : # 111
Nadyan wĂȘsi iku kanyatanĂ© atĂłs, Ă©wa sĂȘmono yĂšn wĂs kĂȘtrajang ing taiyĂšng yĂ„ bakal ĂȘntĂšk gripĂs.
SĂȘmono ugĂ„ tumrapĂng wĂłng kang kataman rĂ„sĂ„ mĂšri, atinĂ© mbĂ„kĂ„ sĂȘthithĂk ugĂ„ bakal gripĂs, awĂt rumangsa yĂšn awakĂ© tansah apĂȘs, saĂ©nggĂ„ kĂ©langan grĂȘgĂȘt lan lumĂșh makaryĂ„.
WusananĂ© pĂȘpĂȘs atinĂ© kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
PitudĂșh : # 112
YĂšn sirĂ„ sacĂ„rĂ„ badaniyah lan rohaniyah tĂȘtĂȘp kĂȘpingĂn bagas kuwarasan, tansah Ă©lingĂ„ rĂłng prakĂ„rĂ„ iki :
1. Tansah jaganĂȘn sakĂšhĂng samubarang kang nĂȘdyĂ„ sirĂ„ lĂȘbĂłkakĂ© ing
tutĂșk, dithinthĂng luwĂh dhisĂk Ă„pĂ„ bakal gawĂ© rusakĂng rĂ„gĂ„ Ă„pĂ„ ora.
2. KulinaknĂ„ mikĂr luwih dhisĂk samubarang kang arĂȘp sirĂ„ wĂȘtĂłkakĂ©
sĂ„kĂ„ tutĂșk.
LirĂ© pikirĂȘn luwĂh dhisĂk klawan matĂȘng Ă„pĂ„ kang bakal sirĂ„
wĂȘtĂłkakĂ© iku ora malah gawĂ© kucĂȘmĂng awakmu dhĂ©wĂ©, nglarani
atinĂng liyan Ă„pĂ„ ora.
DĂ©nĂ© yĂšn ora Ă„nĂ„ paĂ©dahĂ© luwĂh bĂȘcĂk Ă„jĂ„ kĂłk kojah amrĂh ora
nandhang piduwĂșng.PitudĂșh : # 113
DigĂȘndhĂłngĂ„nĂ„ dikuncĂšnĂ„nĂ„ kĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, nangĂng wĂłng iku yĂšn wĂs tinakdĂr tĂȘkan janjinĂ© utĂ„wĂ„ ajalĂ©, mĂ„ngsĂ„ bakal wurungĂ„.
Iki manĂšh pĂ©lĂng kita, yĂšn kita manungsĂ„ mono ing atasĂ© badan lan umurĂ© dhĂ©wĂ© ora kuwĂ„sĂ„.
Ă pĂ„ manĂšh sĂng mĂșng wujĂșd barang sampiran kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© drajad sĂȘmat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan, lan kalungguhan.
Mula sĂ„kĂ„ iku Ă„jĂ„ kibĂr, jubriya lan Ă„jĂ„ sĂłk dumĂšh.
AwĂt isĂh Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ liyĂ„ (GĂșsti Allah) kang luwĂh kuwĂ„sĂ„.
PitudĂșh : # 114
NgombĂ© lan mĂȘmangan yĂšn tanpĂ„ takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂh-pilĂh iku pancĂšn bisĂ„ nĂȘkakakĂ© bilahi.
Mula nyandhĂȘt ubalĂng kĂȘpinginan ngombĂ© lan mĂȘmangan kang kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau wĂs atĂȘgĂȘs sawijinĂng pamarsudi nyĂȘgah karusakanĂng jiwĂ„ lan rĂ„gĂ„.
WĂłndĂ©nĂ© srananĂ© kang prayogĂ„ yaiku pĂ„sĂ„ sĂng mĂȘngku ancas pupĂșr sadurungĂ© bĂȘnjĂșt nyingkiri sadurungĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 115
Kamulyan lan kanikmataning urĂp wĂłng-wĂłng kang sugĂh dituku mĂ„wĂ„ tangising rakyat kang mlarat.
PitudĂșh : # 116
Kang kinaran janmĂ„ kang wĂs kadunĂșngan cĂptĂ„ kang wĂȘnĂng iku, yĂ„iku sĂ„pĂ„ kang wĂs tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘn mantĂȘp pangidhĂȘpĂ© marang GĂșsti Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
WĂłng kang kĂ„yĂ„ mangkono mau samĂ„ngsĂ„ nindakakĂ© pakarti Ă„pĂ„ tĂ„ Ă„pĂ„ tansah linambaran ati kang sarwĂ„ tĂȘpa tulĂșs, kabĂšh-kabĂšh amĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
Ora cilĂk ati, gĂȘdhĂ©nĂ© ngrĂ„sĂ„ owĂšt ing kalanĂ© wĂłhĂng panggawĂ©nĂ© mitunani awakĂ© dhĂ©wĂ©, nangĂng bisĂ„ gawĂ© raharjanĂ© sĂȘsamanĂng dumadi.
KĂłsĂłkbalinĂ© wĂłng kang nindakakĂ© pangibadah nangĂng isih ndarbĂšni pĂȘpinginan supĂ„yĂ„ diwĂȘruhana lan digawĂłkana dĂ©nĂng Allah, iku pratĂ„ndhĂ„ yĂšn pangidhĂȘpĂ© lan pangibadahĂ© durĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
PitudĂșh : # 117
PambudidayanirĂ„ manĂȘmbah marang PangĂ©ran iku prayoganĂ© Ă„jĂ„ sirĂ„ anggo sarĂ„nĂ„ ngalab tumurunĂng pĂȘparingĂ©, nangĂng mligiya nindakakĂ© panĂȘmbah mĂșng sĂ„kĂ„ niyat manĂȘmbah.
AwĂt wĂłng kang nyĂȘnyadhĂłng sihĂng PangĂ©ran sarĂ„nĂ„ laku panĂȘmbah kathĂk banjĂșr nyĂ„tĂ„ kalĂȘksanan panyuwunĂ©, ing adat wĂłng mau banjĂșr dadi kĂȘthĂșl kawaspadanĂ© marang kaluhuran lan kĂȘagunganĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
Aran isĂh bĂȘgjĂ„ yĂšn ora banjĂșr dadi wĂłng jubriyĂ„ sĂȘnĂȘng nyĂȘpĂšlĂškakĂ© marang sĂȘsamanĂng dumadi.
PitudĂșh : # 118
Ă nĂ„ sawĂšnĂšhĂng wĂłng kang duwĂ© pĂȘnganggap mĂȘnawa nyĂȘnyuwĂșn sihĂng Allah iku ora Ă„nĂ„ gawĂ©nĂ©.
AwĂt GĂșsti Allah iku adĂl lan MĂ„hĂ„ Wuninga saĂ©nggĂ„ ora bakal pĂȘparĂng marang wĂłng kang ora pantĂȘs nampa ganjaran, nangĂng wĂłng mau sajak lali yĂšn GĂșsti Allah mono Maha WĂȘlas lan Maha AsĂh.
UgĂ„ ana sawĂšnĂšhĂng wĂłng kang ora prĂȘcĂ„yĂ„ marang ananĂ© GĂșsti Allah, prĂȘsasat ugĂ„ ora prĂȘcaya marang ananĂ© dhĂ©wĂ©, dĂ©nĂ© nganti awakĂ© lair Ă„nĂ„ ing donya.
NangĂng yĂšn wĂłng mau nandhang rĂȘribĂȘd lan nalarĂ© wĂs pantĂłg, adatĂ© tuwĂșh osikĂng atinĂ© yĂšn PangĂ©ran iku Ă„nĂ„ malah banjĂșr disĂȘsuwuni.
PitudĂșh : # 119
WĂłng kang kulina ngĂ©nĂngakĂ© cĂptanĂ© kang rĂȘsĂk ing wayah Ă©sĂșk, lawas-lawas banjĂșr bisĂ„ ngĂȘningakĂ© cĂptanĂ© ing wayah bĂȘngi ugĂ„, lan sangsĂ„yĂ„ lawas manĂšh bisa ngĂȘningakĂ© cĂptĂ„ ing wayah Ă„pĂ„ baĂ© lan ing ngĂȘndiya baĂ©.
NangĂng sabarang pratingkah iku bisĂ„ dadi pakulinan manĂ„wĂ„ katindakakĂ© kanthi ajĂȘg, sarĂ„nĂ„ panglantĂh kang tumĂȘmĂȘn lan ora bosĂȘn.
Klawan mangkono sabarang kang maunĂ© rinĂ„sĂ„ rĂȘkĂ„sĂ„ lan abĂłt, bakal sĂrnĂ„.
Mangkono ugĂ„ Ă„nĂ„ bĂ©danĂ© yĂšn kita kĂȘpingĂn nanĂȘm wiji kautaman, iya kudu kita gladhi tanpĂ„ bosĂȘn.PitudĂșh : # 120
YĂšn pinuju wayah bĂȘngi langitĂ© tĂȘrang banjĂșr tumĂȘngÄÄ ing tawang, kita bakal nyipati sapĂ©ranganĂ© gĂȘlarĂng alam, abyĂłrĂng langĂt kang sumilak sinĂȘbaran lintang-lintang patĂng krĂȘlip, gĂȘdhĂ© cilĂk kĂ„yĂ„ wĂs sĂȘngadi tinĂ„tĂ„ panggĂłnanĂ©, angin sumilĂr ngobahakĂ© kĂȘkayĂłnan lan gĂȘgĂłdhĂłngan kang ngandhĂșt arumĂng gandanĂ© kĂȘkĂȘmbangan.
SĂng kĂ„yĂ„ mangkono sayĂȘkti bisa nuwĂșhakĂ© rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tĂȘntrĂȘm ing ati kitĂ„.
NangĂng luwĂh sĂ„kĂ„ iku, Ă„pĂ„ sĂng kĂ„yĂ„ mangkono mau ora ngosikakĂ© kita tumrap kaluhuranĂng Kang MĂ„hĂ„ AgĂșng kang wĂșs mranĂ„tĂ„ sakabĂšhĂng mau ?
PitudĂșh : # 121
TumrapĂng wĂłng mĂșrsĂd yĂšn pinuju kambah ing prihatin, nolah-nolĂšh ngiwĂ„ nĂȘngĂȘn wĂs ora Ă„nĂ„ pitulungan manĂšh kang bisĂ„ diarĂȘp-arĂȘp tĂȘkanĂ©.
ParandĂ©nĂ© ora bakal kĂłncadan ing pangarĂȘp-arĂȘp. AwĂt wĂs mangĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ tambanĂ© prihatĂn kang ampĂșh iku ora liyĂ„ kĂȘjĂ„bĂ„ : sabar. Sabar lan tawakal nyĂȘnyuwĂșn kanthi tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘnĂng ati marang kamurahanĂng Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ kang ngrĂȘgĂȘm sakabĂšhĂng mobah-mosikĂng jagad saisinĂ©.
PitudĂșh : # 122
Ala-alanĂng kĂȘlakuwanĂ© wĂłng ora kĂ„yĂ„ kang sinĂșng watak "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn". MargĂ„ sĂšndhĂšnan kaluwihanĂ©, ĂȘmbĂșh kĂȘkuwasaanĂ©, ĂȘmbĂșh karĂłsan, sĂȘnĂȘng tumindak sawĂȘnang-wĂȘnang marang kalahanĂ© kang wĂs titĂ„ ora bakal kumawani mancahi gĂȘdhĂ©nĂ© nganti wani mbandakalani kĂȘkarĂȘpanĂ©.
WĂłng kang nduwĂšni sĂȘsipatan kĂ„yĂ„ mangkono mau prayogĂ„ Ă©nggal ngĂ©linganĂ„ mĂȘnĂ„wĂ„ laku jantranĂng jagad mono wĂs kinodrat cĂ„krĂ„ manggilingan; sĂng wingi Ă„nĂ„ ngisĂłr dĂ©nĂ© sĂ©sĂșk gilĂr gumanti bakal ngĂȘrĂšhakĂ©.
PitudĂșh : # 123
SabĂȘn dinĂ„ kitĂ„ ajĂȘg rĂȘrĂȘsĂk badan lan pĂȘnganggo, kajĂ„bĂ„ amrĂh bagas kuwarasan ugĂ„ katĂłn apĂk lan ngrĂȘsĂȘpakĂ©.
Iki pakulinan kang apĂk. nangĂng luwĂh prayoga manĂšh yĂšn jronĂng ati banjĂșr katuwuhan osĂk : Ă„pĂ„ sabĂȘn dinĂ„ kita ugĂ„ rĂȘrĂȘsĂk lan ngupakara batĂn lan jiwĂ„ kita amrĂh sangsĂ„yĂ„ apĂk lan sangsĂ„yĂ„ rĂȘsĂk sĂ„kĂ„ sakĂšhĂng rĂȘrĂȘgĂȘd sĂ„kĂ„ ananĂ© cacad-cacad lan panggodhĂ„.
SĂȘbab yĂšn badan wadhag kang kĂȘnĂ„ ing rusak iku kita gĂȘmatĂ©ni, gĂ©nĂ©yĂ„ jiwĂ„ kitĂ„ kang asipat langgĂȘng malah kita lĂrwakakĂ© pangupakaranĂ© ?
PitudĂșh : # 124
SumĂ©ndhĂ© ing takdir iku dudu sipatĂ© wĂłng kang sĂȘnĂȘng ulah luhurĂng kĂȘbatinan, nangĂng dadi watakĂ© wĂłng kang lumĂșh tumandang gawĂ© lan cupĂȘt nalarĂ©.
LuhurĂng kĂȘbatinan kudu tansah jumbĂșh lan laras karo ajunĂng kawrĂșh lair.
LirĂ©, kĂȘbatinan kang luhĂșr iyĂ„ kudu bisĂ„ ngujudi pakarti kang luhĂșr ugĂ„, kang bisĂ„ njunjĂșng lan mulyakakĂ© drajadĂng nusĂ„ lan bangsanĂ©.
PitudĂșh : # 125
SĂ„kĂ„ kayungyĂșnĂng manungsĂ„ marang bĂ„ndhĂ„, sĂȘmat lan drajad anggĂłnĂ© migunakakĂ© nganti kĂȘrĂȘp nglĂrwakakĂ© kautaman, nglalĂškakĂ© jĂȘjĂȘrĂng kamangnungsan.
UripĂ© prasasat kaĂȘsĂłk kabĂšh Ă„nĂ„ ing kono. Ora ngĂ©lingi kĂȘpriyĂ© wusananĂng dumadi.
Ing jagad pancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr wĂłng nglumpĂșkakĂ© bĂ„ndhĂ„ rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„, janji pikolĂšhĂ© manĂșt dalan kang bĂȘnĂȘr lan dipigunakakĂ© minĂ„ngkĂ„ prabĂłt prĂȘnatanĂng jagad.
PitudĂșh : # 126
UrĂp tanpĂ„ gĂȘgayuhan luhĂșr, bĂȘbasanĂ© kĂ„yĂ„ lĂȘlawuhan tanpĂ„ uyah, sĂȘpĂ„ tan mirĂ„sĂ„.
GĂȘgayuhan bisanĂ© kasĂȘmbadan kudu sinartan ngĂšlmu, jalaran ngĂšlmu mono pancĂšn sangunĂ© ngaurĂp, wĂłndĂ©nĂ© ngĂšlmu iku tinĂȘmu ing laku lan tandang.
SakĂšhĂng tandang ora bĂȘcĂk kĂȘlakĂłnĂ© yĂšn ora mapan.
LirĂ©, bisowĂ„ tansah ngĂ©lingi marang jantranĂng kahanan.
WĂłng kang tandang tandĂșkĂ© mapan, angĂšl kĂȘpĂšpĂštĂ©, jalaran yĂšn mapan mĂȘsthi cĂȘpak waspadanĂ©.
DĂ©nĂ© waspĂ„dĂ„ mono sirikanĂ© mĂ„lĂ„ lan adĂłh sĂ„kĂ„ bĂȘbĂȘndhu.PitudĂșh : # 127
SakabĂšhĂng tumindak iku panimbangĂ© manĂșt kawusananĂ©.
Mula murĂh bisanĂ© sampĂșrna, sabarang kang bakal dilakĂłni lan ditindakakĂ© iku luwĂh dhisĂk thinthingĂ„nĂ„ lan pilah-pilahna Ă„lĂ„ bĂȘcikĂ© kanthi wĂȘningĂ© nalar/pikĂr.
YĂšn wĂs, tumindakĂ© kanthi dugĂ„ lan prayogĂ„, sartĂ„ mĂ„wĂ„ tĂȘpĂ„ tulĂ„dhĂ„.
LirĂ©, sabarang patrap mau upamaknĂ„ tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ©, ilangnĂ„ pangirĂ„-irĂ„ tumrap awakĂ© liyan kang durĂșng disumurupi.
ĂlingĂ„, sĂ„pĂ„ kang arĂȘp mbĂȘcĂkakĂ© alam donya iku, kudu mbĂȘcĂkakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ© luwĂh dhisĂk.
PitudĂșh : # 128
Ciri-cirinĂ© jiwa kang isih kĂłthĂłng mono bisĂ„ dititĂk sĂ„kĂ„ ulat praupan, tutĂșr wicara, lan tingkah lakunĂ© kang ora natĂ© gĂȘlĂȘm kalah.
Sabarang tindak-tandĂșkĂ© kĂȘpingĂn unggĂșl lan mamĂšrakĂ© kaluwihanĂ©, ora anggĂšr kaluwihan bisĂ„ kanggo ngadhĂȘpi bĂȘbĂ„yĂ„ lan ngĂȘntas sĂ„kĂ„ papan cintrĂ„kĂ„.
Kaluwihan kang tanpĂ„ dilandhĂȘsi kautaman, kĂȘnĂ„ diumpamakakĂ© kayadĂ©nĂ© wĂȘdhak pupĂșr sĂng nĂšmpĂšl ing njaban kulĂt baĂ©, ora bisĂ„ tahan suwĂ© lan gampang luntĂșr margĂ„ sĂ„kĂ„ pakartinĂ© dhĂ©wĂ©, awĂt nĂȘrak dhasar-dhasar bĂȘbĂȘnĂȘr lan kasucian.
PitudĂșh : # 129
SabĂȘn tumindak sĂȘjangkah ngilowĂ„ marang kinclĂłng-kinclĂłngĂ© banyu samudrĂ„ sĂng suthĂk kanggĂłnan sangkrah, jalaran sakĂšhĂ© uwĂșh mĂȘsthi disingkĂrakĂ© minggĂr.
SabĂȘn makaryĂ„ sapĂȘcak, tuladhanĂȘn pakartinĂ© banyu tritisan, nadyan tumĂštĂšs mbĂ„kĂ„ satĂštĂšs, ditindakakĂ© kanthi ajĂȘg kĂȘcĂłnggah mbĂłlĂłngakĂ© watu sĂng atĂłsĂ© ngluwihi wĂ„jĂ„.
PitudĂșh : # 130
SĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© mungsĂșh-mungsĂșhĂ©, dhĂšwĂškĂ© diarani kuwat.
AnangĂng sĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©, iya dhĂšwĂškĂ© iku kang luwĂh kuwat manĂšh.
PitudĂșh : # 131
SamĂ„ngsĂ„ lagi ngadhĂȘpi urĂp rĂȘkĂ„sĂ„ prayoganĂ© adhĂȘpana klawan ĂšsĂȘm gumuyu.
AwĂt iku wus wujĂșd sĂȘnjĂ„tĂ„ kang bisa gawĂ© ĂšnthĂšngĂng sanggan lan bakal numusi mulurĂng pikĂr.
Nanging yĂšn pĂȘnandhangmu mau tansah kĂłk adhĂȘpi kanthi ulat kang suntrĂșt adhakanĂ© kowĂ© bakal kĂȘntĂškan pikĂr kang wĂȘnĂng, wusananĂ© dadi nĂ©kat nuruti pokal kang nĂȘrak bĂȘbĂȘnĂȘr.
PitudĂșh : # 132
SĂ„pĂ„ kang nganggĂȘp Ă„pĂ„ baĂ© gampang, mĂȘsthi bakal nĂȘmu akĂ©h rubĂ©dĂ„.
SĂ„pĂ„ kang gampang janji, iya kuwi kang arang nĂȘtĂȘpi.
PitudĂșh : # 133
UrĂp tĂȘgĂȘsĂ© mbudidĂ„yĂ„ ngĂȘtĂłg tĂȘnĂ„gĂ„ (bĂȘrjuwang).
UrĂp nĂkmat tanpĂ„ angĂn prahĂ„rĂ„ pĂ„dhĂ„ karo sĂȘgĂ„rĂ„ kang mati.
Aku luwĂh sĂȘnĂȘng ditĂȘndhang, dilawan dĂ©nĂng nasĂb, tinimbang diugĂșng.
PitudĂșh : # 134
Laku jujĂșr kuwi pĂ„dhĂ„ karo dhuwit kang bisĂ„ laku ing ngĂȘndi baĂ©.
PitudĂșh : # 135
Kang bĂȘcĂk lan Ă„lĂ„, kabĂšh mĂȘsthi nĂ„mpĂ„ pikolĂšh, sĂȘnajantĂ„ kadhang-kadhang nampanĂ© cĂȘpĂȘt, kadhang-kadhang alĂłn.
PitudĂșh : # 136
WĂłng kang kinaranan bĂȘrbudi iku, yĂ„kuwi wĂłng sĂng rumĂ„ngsĂ„ tambah kasĂksa yĂšn nyumurupi sapĂȘpadhanĂ© nandhang pĂ„pĂ„ lan kasangsaran.
RuntĂșhĂ© rĂ„sĂ„ wĂȘlasĂ© adatĂ© banjĂșr sinusĂșl sarĂ„nĂ„ cucĂșlĂ© prabĂ©yĂ„ lan barang darbĂškĂ©.
NangĂng pancĂšn angĂšl gĂłlĂšk-gĂłlĂškanĂ© wĂłng sĂng kĂ„yĂ„ mangkono iku.
BuktinĂ© ora sĂȘthithĂk wĂłng sĂng mati mĂȘrgĂ„ kĂȘwarĂȘgĂȘn, apamanĂšh wĂłng sĂng mati amargĂ„ kalirĂȘn.
PitudĂșh : # 137
ManungsĂ„ kuwi dadinĂ© bĂȘcĂk miwiti sĂ„kĂ„ njĂȘro mĂȘnjĂ„bĂ„.
PitudĂșh : # 138
Kang waspĂ„dĂ„ marang awakmu dhĂ©wĂ© jalaran iyĂ„ awakmu dhĂ©wĂ© kuwi kang mujĂșdakĂ© mungsĂșhmu kang palĂng gĂȘdhĂ©.
AbĂłt-abĂłting cobĂ„ tumraping ngaurĂp iku malah ora kĂ„yĂ„ wĂłng kang lagi kĂȘbyukan sihĂng GĂșsti Allah.
YĂšn lulĂșs sĂ„kĂ„ pandadaran bisĂ„ dadi manungsĂ„ kang kajĂ„bĂ„ gĂȘdhĂ© sĂh kadarmanĂ© ugĂ„ wicaksĂ„nĂ„ laĂr batinĂ©.
NangĂng yĂšn tĂ„ ora tĂȘgĂșh imanĂ©, wĂłng kang lagi kabĂłmbĂłng ing donyĂ„ artĂ„ lan kĂȘladĂșk rumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ kuwagang mbĂȘndĂșng sĂȘgĂ„rĂ„ njugrĂșgakĂ© gunĂșng mau istingarah bakal kĂłncatan kawaspadanĂ©.
KĂȘjĂ„bĂ„ lali marang sangkan paranĂ© ugĂ„ lali yĂšn sakĂšhĂng drajat lan sĂȘmat dalasan tĂȘkan nyawanĂ© dhĂ©wĂ© pisan iku mĂșng lugu barang titipan kang sawayah-wayah bisa dipundhĂșt bali dĂ©nĂng Kang Kagungan.
PitudĂșh : # 149
AmbudidĂ„yÄÄ ing bĂ„ndhĂ„ manĂșt sakatĂłgĂng tĂȘnĂ„gĂ„ nangĂng Ă„jĂ„ lali kinanthĂšnan tĂ©kad lan sĂȘdya yĂšn sapĂ©rangan bakal kita tanjakakĂ© kanggo nindakakĂ© pangibadah.
Ălinga yĂšn pati iku lawangĂng akhĂ©rat, dĂ©nĂ© laku ngibadah iku kang bisĂ„ dadi sarĂ„nĂ„ nggampangakĂ© manungsĂ„ tumĂȘkanĂ© marang ing lawang mau kanthi rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tobat lan sumarah.
SuwalikĂ©, jiwĂ„ rĂ„gĂ„ kang ora kanggo tobat nalangsa ing GĂșsti Allah iku ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„ angganĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora dijakati lan ora ditanjakakĂ© kanggo pĂȘnggawĂ© kabĂȘcikan.
PitudĂșh : # 150
YĂšn sirĂ„ pinuju nandhang bagas kuwarasan, Ă©linga yĂšn nalika kĂȘnĂ„ ing lĂ„rĂ„, suprĂh sirĂ„ tĂȘtĂȘp bagas kuwarasan kanthi sĂȘsirĂk prakĂ„rĂ„-prakĂ„rĂ„ kang mbiyĂšn nyĂȘbabakĂ© lĂ„rĂ„.
YĂšn ing nalikĂ„ sugĂh, Ă©lingĂ„ yĂšn kĂȘna ing pĂȘkĂr, lĂȘkas sĂng kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau kanggo ngawĂ©kani amrĂh sira ora gampang kadunungan pikiran sĂȘnĂȘng pamĂšr lan sĂȘsĂłngaran.
KawruhĂ„nĂ„, iku kĂȘpĂ„rĂ„ nudĂșhakĂ© pratĂ„ndhĂ„ yĂšn dhĂšwĂškĂ© iku sĂȘjatinĂ© wĂłng kang tunĂ„ ing rĂ„sĂ„ wĂȘlas asĂh lan miskĂn ing kawrĂșh.
PitudĂșh : # 151
KitĂ„ manungsĂ„ iki ora kĂȘnĂ„ tansah ngantu-antu tĂȘkanĂ© wĂȘktu kang bĂȘcĂk, jĂȘr wĂȘktu kang bĂȘcĂk iku sĂȘjatinĂ© kudu kitĂ„ dhĂ©wĂ© sing gawĂ©.
KitĂ„ kudu tansah Ă©lĂng yĂšn sabarang tingkah lan tandĂșk kitĂ„ ing dinĂ„ kang siji iku nggĂ„wĂ„ kĂȘputusan tumrap dinĂ„ sijinĂ©.
DĂ©nĂ© dinĂ„ kang pungkasan iku kang mutĂșsakĂ© sakabĂšhĂng wĂȘktu lan dinĂ„-dinĂ„ kang wis kapungkĂșr.
MulĂ„ sadurungĂ© kitĂ„ tumapak marang dinĂ„ pungkasaning urĂp, dipĂ„dhĂ„ bisĂ„ nglungguhi marang jĂȘjĂȘrĂng urĂp manungsĂ„.
PitudĂșh : # 152
WĂłng nandhang lĂ„rĂ„ mono akĂšh sĂng mĂȘrgĂ„ anggĂłnĂ© ngombĂ© lan mĂȘmangan kliwat takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂh-pilĂh.
MulĂ„ kanggo nyandhĂȘt ubalĂng hĂ„wĂ„ marang bab sakaronĂ© mau, dibisĂ„ marsudi nyudĂ„ nuruti kĂȘcaping lidhah sarĂ„nĂ„ nglakoni pĂ„sĂ„ kang mĂȘngku ancas nyingkiri sadurungĂ© katamaning bilahi.
PitudĂșh : # 153
WĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan kamĂșlyan iku dibisĂ„ marsudi amrĂh langgĂȘng, Ă„jĂ„ banjĂșr kalimpĂșt watak jubriyĂ„ lan sĂȘmbrana sing sisĂp sĂȘmbirĂ© bisĂ„ kĂȘjlungĂșp tibĂ„ ing kasangsaran.
YĂšn wĂs mangkono mĂșng rĂ„sĂ„ gĂȘtĂșn lan piduwĂșng sing kari ing pamburinĂ©.
PitudĂșh : # 154
HĂ„wĂ„ napsu lan watak angkĂ„rĂ„ iku sawutuhĂ© manjĂng ing dhiri pribadinĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©.
YĂšn diumbar ngrĂȘbdĂ„ bakal gawĂ© "BĂȘncĂ„nĂ„ lan kasangsaran".
SuwalikĂ© yĂšn bab mau bisĂ„ dikĂȘndhalĂšni bakal njĂlmĂ„ dadi watak "Sabar lan prasĂ„jĂ„", tulĂșs Ă©klas awĂšh pangapurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„ sĂng gawĂ© kaluputan.
PitudĂșh : # 155
Tapaning ati iku mĂșng tĂȘmĂȘn, yĂšn tapaning nyĂ„wĂ„ mĂșng Ă©lĂng.
SĂng sĂ„pĂ„ bisa Ă©lĂng sĂȘdinĂ„ sĂȘpisan baĂ©, adatĂ© barang kang sinĂȘdyĂ„ bakal Ă„nĂ„.
SĂng sĂ„pĂ„ tĂȘmĂȘn salawasĂ©, kabĂšh pangajabĂ© bakal kĂȘcandhak.
DĂ©nĂ© kang aran sĂȘjatinĂng katĂȘmĂȘnan iku sakabĂšhĂng pakarti kang ditindakakĂ© klawan madĂȘp mantĂȘp tanpĂ„ mandhĂȘg-mangu lan tolah-tolĂšh, saĂ©nggĂ„ sabarang kĂȘkarĂȘpanĂ© bakal ginayĂșh.PitudĂșh : # 156
WĂłng iku yĂšn lagi nandhang lĂ„rĂ„ lagi bisĂ„ ngrasakakĂ© sĂȘpirĂ„ munggĂșh bĂȘgjanĂ© wĂłng kang kanugrahan awak kang tansah kuwarasan.
NangĂng suwalikĂ©, wĂłng sĂng awakĂ© sĂȘgĂȘr waras lumrahĂ© lali rĂȘkasanĂ© wĂłng lĂ„rĂ„.
SangsĂ„yĂ„ adĂłh kĂ©linganĂ©, sangsĂ„yĂ„ cĂȘdhak anggĂłnĂ© ngumbar hĂ„wĂ„ nuruti pĂȘpinginanĂ© mripat, ilat, lan tĂȘlĂh (wadhĂșk, wĂȘtĂȘng) kang sĂȘjatinĂ© ngajak marang rusakĂng rĂ„gĂ„.
MulĂ„ prayoganĂ© tansah Ă©linga pĂȘrihĂng lĂ„rĂ„ kanthi nggĂȘmatĂšni kanikmatan kang wĂs diparingakĂ© dĂ©nĂng GĂșsti Allah tan kĂȘna kinayangĂ„pĂ„ ajinĂ©, yaiku wujĂșd awak kang bagas kuwarasan.
Pituduh : # 157
ManungsĂ„ pinaringan dĂ©nĂng PangĂ©ran pĂ©ranganĂng awak kang kalarasakĂ© karo gumĂȘlarĂng bĂȘbrayan.
Pinaringan mripat loro, pĂȘrlunĂ© supĂ„yĂ„ akĂšhĂ„ kang didĂȘlĂȘng, yĂ„ kang ngĂȘnani ubĂȘr ingĂȘring alam, Ă„lĂ„ bĂȘcikĂng kahanan, lan owah gingsirĂng jaman.
LirĂ©, supĂ„yĂ„ linarasna kanthi lantipĂng panggraitĂ„.
Pinaringan kupĂng loro, murih akĂšhĂ„ swĂ„rĂ„ kang dirungĂłkakĂ©, nuli kathinthingana lan kasaringa kanthi lungidĂng panyiptĂ„ lan alapĂȘn kang awĂšh pakolĂšh.
Pinaringan tangan loro, sikĂl loro, supĂ„yĂ„ akĂšhĂ© kang ditandhangi, pilihĂȘn kang murakabi kanggo bĂȘbrayan agĂșng. PitudĂșh : # 158 PancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr ing jagad iki tumrapĂng wĂłng kang nglumpĂșkakĂ© donya brĂ„nĂ„. nangĂng kitĂ„ kudu tansah Ă©lĂng yĂšn donyĂ„ brĂ„nĂ„ mono dudu panggĂłnanĂ© kalanggĂȘngan.
Nabi Muhammad wĂșs parĂng sabdĂ„ : "Ora prayogĂ„ ninggalakĂ© kadonyan margĂ„ nglakĂłni akhĂ©rat.
NangĂng jĂȘnĂȘng wĂłng kang nisthĂ„ sĂ„pĂ„ kang ninggalakĂ© bab akhĂ©rat margĂ„ mĂșng golĂšk donyĂ„ brĂ„nĂ„ tanpĂ„ waspĂ„dĂ„ marang pungkasanĂng dumadi."
PitudĂșh : # 159
Brangating ati sabisĂ„-bisĂ„ kĂȘndhalĂšnĂ„nĂ„, Ă„jĂ„ diububi nganti muntab dadi ubalĂng nĂȘpsu.
KĂ„yĂ„dĂ©nĂ© nyirĂȘp gĂȘni sarĂ„nĂ„ lĂȘngĂ„.
Napsu amarah mono isĂh tĂȘtĂȘp bakal tansah mbĂȘbĂȘdhag sĂȘlawasĂ© yĂšn tĂ„ ora kinanthĂšnan pikiran kang mĂȘnĂȘp, lan ati kang Ă©lĂng.
ĂlingĂ© ati lan mĂȘnĂȘpĂng pikĂr bakal numusi mulurĂ© budi kang tundhĂłnĂ© bisĂ„ dadi panyirĂȘp sakĂšhing pakartinĂng sĂ©tan.
PitudĂșh : # 160
WĂłng kang ringkĂh iman lan batinĂ© bakal gampang dadi jujuganĂ© dĂșrjĂ„nĂ„ apĂșs-apĂșs kang patĂng sliwĂȘr golĂšk mangsan.
Pirang-pirang kĂšhĂ© wĂłng kasĂȘlak pĂȘrcĂ„yĂ„ rĂȘmbĂșg pangimĂng-imĂng ora pinikĂr bakal kĂȘdadĂ©yanĂ© ing tĂȘmbĂ©.
WusananĂ© nandhang kapitunan lan kĂȘnĂ„ ing apĂșs.
Mula ditansah waspĂ„dĂ„, Ă„jĂ„ lirwĂ„ ing kaprayitnan. PitudĂșh : # 161 SamĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ thukĂșl plĂȘtikĂng pikĂr kang kasarung dĂ©nĂng ubalĂng nafsu Ă„lĂ„, yogyanĂ© sumĂȘnĂȘpnĂ„ sauntĂ„rĂ„.
YĂšn bisĂ„ kĂ„yĂ„ mangkono karan wĂłng wicaksana, jalaran kĂȘjaba bisĂ„ nglĂȘrĂȘmakĂ© ati kanthi mĂȘnĂȘpĂng pikirmu ugĂ„ bakal kĂȘcĂłnggah nyirĂȘp ubalĂng nafsumu mau.
WusĂ„nĂ„ rahayu kang tinĂȘmu mĂȘrgĂ„ bisĂ„ sumingkĂr sĂ„kĂ„ mĂȘmĂ„lĂ„ kang tĂȘkĂ„ arĂȘp ngrĂȘridhu awakmu. PitudĂșh : # 162 WĂłng kang sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ© jalaran Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„.
Kapisan sĂ„kĂ„ kaluputanĂ© dhĂ©wĂ©, kang kapindho mĂȘrgĂ„ sĂ„kĂ„ pokalĂ© dhĂ©wĂ©.
SĂng kapisan iku paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah kodanan lan kĂȘpanasan ora diopĂšni, dĂ©nĂ© sĂng kang kapindho paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah diapĂšk asilĂ© nganti ora kobĂȘr thukĂșl gĂłdhĂłngĂ©. PitudĂșh : # 163 YĂšn sirĂ„ urĂp ing alam donya iki rumĂ„ngsĂ„ nampĂ„ pandĂșm kĂȘsĂȘthithikĂȘn iku wĂs dadi pĂȘpĂȘsthĂšnĂ© urĂpmu, ora pĂȘrlu mbĂłk murinani.
Pamurinamu prayogĂ„ lipurĂȘn sarĂ„nĂ„ mawas lĂȘlabuhanmu dhĂ©wĂ©, jĂȘr lĂȘlabuhan ing alam donya mono dadi trajunĂng akĂšh sĂȘthithikĂ© pandĂșmmu.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!
MulĂ„ ora samĂȘsthinĂ© yĂšn manungsĂ„ iku nyumurupi bab-bab sĂng durĂșng kĂȘlakĂłn. SaupĂ„mĂ„ nyumurupĂ„, prayogĂ„ Ă„jĂ„ diblakakakĂ© wĂłng liyĂ„, awĂt tĂȘmahanĂ© mĂșng bakal murihakĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 106
Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbĂșh karo uninĂ© bĂȘbasan : "Sabar iku kuncinĂng swargĂ„", atĂȘgĂȘs marganĂng kamulyan.
Sabar, lirĂ© mĂłmĂłt kuwat nandhang sakĂšhĂng cobĂ„ lan pandadaranĂng ngaurĂp, nangĂng ora atĂȘgĂȘs gampang pĂȘpĂȘs kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
SuwalikĂ© malah kĂȘbak pĂȘngarĂȘp-arĂȘp lan kuwĂ„wĂ„ nampani Ă„pĂ„ baĂ© kang gumĂȘlar ing salumahĂ© jagad iki.
PitudĂșh : # 107
Kahanan donya iki ora langgĂȘng, tansah owah gingsĂr.
YĂšn sirĂ„ kĂȘbĂȘnĂȘran katunggĂłnan bĂ„ndhĂ„ lan kasinungan pangkat, Ă„jĂ„ banjĂșr rumangsa "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn", tansah ngĂȘndĂȘlakĂ© panguwasanĂ© tumindak dĂȘgsurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„.
Ălinga yĂšn bĂ„ndhĂ„ iku gampang ilang (sĂrnĂ„).
Pangkat sawayah-wayah bisa oncat.
PitudĂșh : # 108
SaibĂ„ bĂȘcikĂ© samangsĂ„ wĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan nampĂ„ kabungahan iku tansah Ă©lĂng gĂȘdhĂ© ngucap syukĂșr marang Kang PĂȘparĂng. AwĂt Ă©linga yĂšn tumindak kĂ„yĂ„ mangkono mau kĂȘjĂ„bĂ„ bisĂ„ ngilangi watak jubriyĂ„ uga mlĂȘtikakĂ© rĂ„sĂ„ rumĂ„ngsĂ„ yĂšn wĂłng dilairakĂ© marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂ© titah, mbĂȘngkas kasangsaran, munggahĂ© ngrĂȘksĂ„ hayunĂng jagad.
PitudĂșh : # 109
Ă jĂ„ sĂłk ngĂȘndĂȘl-ĂȘndĂȘlakĂ© samubarang kaluwihanmu, Ă„pĂ„ manĂšh mamĂšrakĂ© kasugihan lan kapintĂȘranmu.
YĂšn anggĂłnmu ngĂłngasakĂ© dhiri mau mĂșng winatĂȘs ing lathi tanpĂ„ bĂșkti, dhĂłngĂ© pakarti kĂ„yĂ„ mangkono iku ngĂȘngĂłn awakmu dadi ora aji.
LuwĂh prayogĂ„ turutĂȘn pralampitanĂ© tanduran pari.
Pari kang mĂȘntĂȘs mĂȘsthi tumĂȘlĂșng, kang ndongak mracihnani yĂšn kĂłthĂłng tanpĂ„ isi.
PitudĂșh : # 110
"RumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ duwĂ©" lan "SarwĂ„ duwĂ© rumĂ„ngsĂ„", iku yĂšn ditulĂs gĂȘnah mĂșng diwolak-walĂk baĂ©, nangĂng surasanĂ© jĂȘbĂșl kĂ„yĂ„ bumi karo langit.
SĂng kapisan nudĂșhakĂ© watak ngĂȘdĂr-ĂȘdĂrakĂ©, wĂȘngĂs satindak lakunĂ© (polahĂ©), yĂšn nggayĂșh pĂȘpĂ©nginan ora maĂšlu laku dudu, samubarang pakarti nisthĂ„ ditrajang wani.
DĂ©nĂ© sĂng kapindho pakartinĂ© tansah kĂȘbak wĂȘlas asĂh, wicaksĂ„nĂ„ ing sabĂȘn laku, rumĂ„ngsĂ„ dosĂ„ samĂ„ngsĂ„ gawĂ© kapitunanĂ© liyan.
PitudĂșh : # 111
Nadyan wĂȘsi iku kanyatanĂ© atĂłs, Ă©wa sĂȘmono yĂšn wĂs kĂȘtrajang ing taiyĂšng yĂ„ bakal ĂȘntĂšk gripĂs.
SĂȘmono ugĂ„ tumrapĂng wĂłng kang kataman rĂ„sĂ„ mĂšri, atinĂ© mbĂ„kĂ„ sĂȘthithĂk ugĂ„ bakal gripĂs, awĂt rumangsa yĂšn awakĂ© tansah apĂȘs, saĂ©nggĂ„ kĂ©langan grĂȘgĂȘt lan lumĂșh makaryĂ„.
WusananĂ© pĂȘpĂȘs atinĂ© kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
PitudĂșh : # 112
YĂšn sirĂ„ sacĂ„rĂ„ badaniyah lan rohaniyah tĂȘtĂȘp kĂȘpingĂn bagas kuwarasan, tansah Ă©lingĂ„ rĂłng prakĂ„rĂ„ iki :
1. Tansah jaganĂȘn sakĂšhĂng samubarang kang nĂȘdyĂ„ sirĂ„ lĂȘbĂłkakĂ© ing
tutĂșk, dithinthĂng luwĂh dhisĂk Ă„pĂ„ bakal gawĂ© rusakĂng rĂ„gĂ„ Ă„pĂ„ ora.
2. KulinaknĂ„ mikĂr luwih dhisĂk samubarang kang arĂȘp sirĂ„ wĂȘtĂłkakĂ©
sĂ„kĂ„ tutĂșk.
LirĂ© pikirĂȘn luwĂh dhisĂk klawan matĂȘng Ă„pĂ„ kang bakal sirĂ„
wĂȘtĂłkakĂ© iku ora malah gawĂ© kucĂȘmĂng awakmu dhĂ©wĂ©, nglarani
atinĂng liyan Ă„pĂ„ ora.
DĂ©nĂ© yĂšn ora Ă„nĂ„ paĂ©dahĂ© luwĂh bĂȘcĂk Ă„jĂ„ kĂłk kojah amrĂh ora
nandhang piduwĂșng.PitudĂșh : # 113
DigĂȘndhĂłngĂ„nĂ„ dikuncĂšnĂ„nĂ„ kĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, nangĂng wĂłng iku yĂšn wĂs tinakdĂr tĂȘkan janjinĂ© utĂ„wĂ„ ajalĂ©, mĂ„ngsĂ„ bakal wurungĂ„.
Iki manĂšh pĂ©lĂng kita, yĂšn kita manungsĂ„ mono ing atasĂ© badan lan umurĂ© dhĂ©wĂ© ora kuwĂ„sĂ„.
Ă pĂ„ manĂšh sĂng mĂșng wujĂșd barang sampiran kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© drajad sĂȘmat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan, lan kalungguhan.
Mula sĂ„kĂ„ iku Ă„jĂ„ kibĂr, jubriya lan Ă„jĂ„ sĂłk dumĂšh.
AwĂt isĂh Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ liyĂ„ (GĂșsti Allah) kang luwĂh kuwĂ„sĂ„.
PitudĂșh : # 114
NgombĂ© lan mĂȘmangan yĂšn tanpĂ„ takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂh-pilĂh iku pancĂšn bisĂ„ nĂȘkakakĂ© bilahi.
Mula nyandhĂȘt ubalĂng kĂȘpinginan ngombĂ© lan mĂȘmangan kang kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau wĂs atĂȘgĂȘs sawijinĂng pamarsudi nyĂȘgah karusakanĂng jiwĂ„ lan rĂ„gĂ„.
WĂłndĂ©nĂ© srananĂ© kang prayogĂ„ yaiku pĂ„sĂ„ sĂng mĂȘngku ancas pupĂșr sadurungĂ© bĂȘnjĂșt nyingkiri sadurungĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 115
Kamulyan lan kanikmataning urĂp wĂłng-wĂłng kang sugĂh dituku mĂ„wĂ„ tangising rakyat kang mlarat.
PitudĂșh : # 116
Kang kinaran janmĂ„ kang wĂs kadunĂșngan cĂptĂ„ kang wĂȘnĂng iku, yĂ„iku sĂ„pĂ„ kang wĂs tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘn mantĂȘp pangidhĂȘpĂ© marang GĂșsti Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
WĂłng kang kĂ„yĂ„ mangkono mau samĂ„ngsĂ„ nindakakĂ© pakarti Ă„pĂ„ tĂ„ Ă„pĂ„ tansah linambaran ati kang sarwĂ„ tĂȘpa tulĂșs, kabĂšh-kabĂšh amĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
Ora cilĂk ati, gĂȘdhĂ©nĂ© ngrĂ„sĂ„ owĂšt ing kalanĂ© wĂłhĂng panggawĂ©nĂ© mitunani awakĂ© dhĂ©wĂ©, nangĂng bisĂ„ gawĂ© raharjanĂ© sĂȘsamanĂng dumadi.
KĂłsĂłkbalinĂ© wĂłng kang nindakakĂ© pangibadah nangĂng isih ndarbĂšni pĂȘpinginan supĂ„yĂ„ diwĂȘruhana lan digawĂłkana dĂ©nĂng Allah, iku pratĂ„ndhĂ„ yĂšn pangidhĂȘpĂ© lan pangibadahĂ© durĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
PitudĂșh : # 117
PambudidayanirĂ„ manĂȘmbah marang PangĂ©ran iku prayoganĂ© Ă„jĂ„ sirĂ„ anggo sarĂ„nĂ„ ngalab tumurunĂng pĂȘparingĂ©, nangĂng mligiya nindakakĂ© panĂȘmbah mĂșng sĂ„kĂ„ niyat manĂȘmbah.
AwĂt wĂłng kang nyĂȘnyadhĂłng sihĂng PangĂ©ran sarĂ„nĂ„ laku panĂȘmbah kathĂk banjĂșr nyĂ„tĂ„ kalĂȘksanan panyuwunĂ©, ing adat wĂłng mau banjĂșr dadi kĂȘthĂșl kawaspadanĂ© marang kaluhuran lan kĂȘagunganĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
Aran isĂh bĂȘgjĂ„ yĂšn ora banjĂșr dadi wĂłng jubriyĂ„ sĂȘnĂȘng nyĂȘpĂšlĂškakĂ© marang sĂȘsamanĂng dumadi.
PitudĂșh : # 118
Ă nĂ„ sawĂšnĂšhĂng wĂłng kang duwĂ© pĂȘnganggap mĂȘnawa nyĂȘnyuwĂșn sihĂng Allah iku ora Ă„nĂ„ gawĂ©nĂ©.
AwĂt GĂșsti Allah iku adĂl lan MĂ„hĂ„ Wuninga saĂ©nggĂ„ ora bakal pĂȘparĂng marang wĂłng kang ora pantĂȘs nampa ganjaran, nangĂng wĂłng mau sajak lali yĂšn GĂșsti Allah mono Maha WĂȘlas lan Maha AsĂh.
UgĂ„ ana sawĂšnĂšhĂng wĂłng kang ora prĂȘcĂ„yĂ„ marang ananĂ© GĂșsti Allah, prĂȘsasat ugĂ„ ora prĂȘcaya marang ananĂ© dhĂ©wĂ©, dĂ©nĂ© nganti awakĂ© lair Ă„nĂ„ ing donya.
NangĂng yĂšn wĂłng mau nandhang rĂȘribĂȘd lan nalarĂ© wĂs pantĂłg, adatĂ© tuwĂșh osikĂng atinĂ© yĂšn PangĂ©ran iku Ă„nĂ„ malah banjĂșr disĂȘsuwuni.
PitudĂșh : # 119
WĂłng kang kulina ngĂ©nĂngakĂ© cĂptanĂ© kang rĂȘsĂk ing wayah Ă©sĂșk, lawas-lawas banjĂșr bisĂ„ ngĂȘningakĂ© cĂptanĂ© ing wayah bĂȘngi ugĂ„, lan sangsĂ„yĂ„ lawas manĂšh bisa ngĂȘningakĂ© cĂptĂ„ ing wayah Ă„pĂ„ baĂ© lan ing ngĂȘndiya baĂ©.
NangĂng sabarang pratingkah iku bisĂ„ dadi pakulinan manĂ„wĂ„ katindakakĂ© kanthi ajĂȘg, sarĂ„nĂ„ panglantĂh kang tumĂȘmĂȘn lan ora bosĂȘn.
Klawan mangkono sabarang kang maunĂ© rinĂ„sĂ„ rĂȘkĂ„sĂ„ lan abĂłt, bakal sĂrnĂ„.
Mangkono ugĂ„ Ă„nĂ„ bĂ©danĂ© yĂšn kita kĂȘpingĂn nanĂȘm wiji kautaman, iya kudu kita gladhi tanpĂ„ bosĂȘn.PitudĂșh : # 120
YĂšn pinuju wayah bĂȘngi langitĂ© tĂȘrang banjĂșr tumĂȘngÄÄ ing tawang, kita bakal nyipati sapĂ©ranganĂ© gĂȘlarĂng alam, abyĂłrĂng langĂt kang sumilak sinĂȘbaran lintang-lintang patĂng krĂȘlip, gĂȘdhĂ© cilĂk kĂ„yĂ„ wĂs sĂȘngadi tinĂ„tĂ„ panggĂłnanĂ©, angin sumilĂr ngobahakĂ© kĂȘkayĂłnan lan gĂȘgĂłdhĂłngan kang ngandhĂșt arumĂng gandanĂ© kĂȘkĂȘmbangan.
SĂng kĂ„yĂ„ mangkono sayĂȘkti bisa nuwĂșhakĂ© rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tĂȘntrĂȘm ing ati kitĂ„.
NangĂng luwĂh sĂ„kĂ„ iku, Ă„pĂ„ sĂng kĂ„yĂ„ mangkono mau ora ngosikakĂ© kita tumrap kaluhuranĂng Kang MĂ„hĂ„ AgĂșng kang wĂșs mranĂ„tĂ„ sakabĂšhĂng mau ?
PitudĂșh : # 121
TumrapĂng wĂłng mĂșrsĂd yĂšn pinuju kambah ing prihatin, nolah-nolĂšh ngiwĂ„ nĂȘngĂȘn wĂs ora Ă„nĂ„ pitulungan manĂšh kang bisĂ„ diarĂȘp-arĂȘp tĂȘkanĂ©.
ParandĂ©nĂ© ora bakal kĂłncadan ing pangarĂȘp-arĂȘp. AwĂt wĂs mangĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ tambanĂ© prihatĂn kang ampĂșh iku ora liyĂ„ kĂȘjĂ„bĂ„ : sabar. Sabar lan tawakal nyĂȘnyuwĂșn kanthi tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘnĂng ati marang kamurahanĂng Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ kang ngrĂȘgĂȘm sakabĂšhĂng mobah-mosikĂng jagad saisinĂ©.
PitudĂșh : # 122
Ala-alanĂng kĂȘlakuwanĂ© wĂłng ora kĂ„yĂ„ kang sinĂșng watak "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn". MargĂ„ sĂšndhĂšnan kaluwihanĂ©, ĂȘmbĂșh kĂȘkuwasaanĂ©, ĂȘmbĂșh karĂłsan, sĂȘnĂȘng tumindak sawĂȘnang-wĂȘnang marang kalahanĂ© kang wĂs titĂ„ ora bakal kumawani mancahi gĂȘdhĂ©nĂ© nganti wani mbandakalani kĂȘkarĂȘpanĂ©.
WĂłng kang nduwĂšni sĂȘsipatan kĂ„yĂ„ mangkono mau prayogĂ„ Ă©nggal ngĂ©linganĂ„ mĂȘnĂ„wĂ„ laku jantranĂng jagad mono wĂs kinodrat cĂ„krĂ„ manggilingan; sĂng wingi Ă„nĂ„ ngisĂłr dĂ©nĂ© sĂ©sĂșk gilĂr gumanti bakal ngĂȘrĂšhakĂ©.
PitudĂșh : # 123
SabĂȘn dinĂ„ kitĂ„ ajĂȘg rĂȘrĂȘsĂk badan lan pĂȘnganggo, kajĂ„bĂ„ amrĂh bagas kuwarasan ugĂ„ katĂłn apĂk lan ngrĂȘsĂȘpakĂ©.
Iki pakulinan kang apĂk. nangĂng luwĂh prayoga manĂšh yĂšn jronĂng ati banjĂșr katuwuhan osĂk : Ă„pĂ„ sabĂȘn dinĂ„ kita ugĂ„ rĂȘrĂȘsĂk lan ngupakara batĂn lan jiwĂ„ kita amrĂh sangsĂ„yĂ„ apĂk lan sangsĂ„yĂ„ rĂȘsĂk sĂ„kĂ„ sakĂšhĂng rĂȘrĂȘgĂȘd sĂ„kĂ„ ananĂ© cacad-cacad lan panggodhĂ„.
SĂȘbab yĂšn badan wadhag kang kĂȘnĂ„ ing rusak iku kita gĂȘmatĂ©ni, gĂ©nĂ©yĂ„ jiwĂ„ kitĂ„ kang asipat langgĂȘng malah kita lĂrwakakĂ© pangupakaranĂ© ?
PitudĂșh : # 124
SumĂ©ndhĂ© ing takdir iku dudu sipatĂ© wĂłng kang sĂȘnĂȘng ulah luhurĂng kĂȘbatinan, nangĂng dadi watakĂ© wĂłng kang lumĂșh tumandang gawĂ© lan cupĂȘt nalarĂ©.
LuhurĂng kĂȘbatinan kudu tansah jumbĂșh lan laras karo ajunĂng kawrĂșh lair.
LirĂ©, kĂȘbatinan kang luhĂșr iyĂ„ kudu bisĂ„ ngujudi pakarti kang luhĂșr ugĂ„, kang bisĂ„ njunjĂșng lan mulyakakĂ© drajadĂng nusĂ„ lan bangsanĂ©.
PitudĂșh : # 125
SĂ„kĂ„ kayungyĂșnĂng manungsĂ„ marang bĂ„ndhĂ„, sĂȘmat lan drajad anggĂłnĂ© migunakakĂ© nganti kĂȘrĂȘp nglĂrwakakĂ© kautaman, nglalĂškakĂ© jĂȘjĂȘrĂng kamangnungsan.
UripĂ© prasasat kaĂȘsĂłk kabĂšh Ă„nĂ„ ing kono. Ora ngĂ©lingi kĂȘpriyĂ© wusananĂng dumadi.
Ing jagad pancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr wĂłng nglumpĂșkakĂ© bĂ„ndhĂ„ rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„, janji pikolĂšhĂ© manĂșt dalan kang bĂȘnĂȘr lan dipigunakakĂ© minĂ„ngkĂ„ prabĂłt prĂȘnatanĂng jagad.
PitudĂșh : # 126
UrĂp tanpĂ„ gĂȘgayuhan luhĂșr, bĂȘbasanĂ© kĂ„yĂ„ lĂȘlawuhan tanpĂ„ uyah, sĂȘpĂ„ tan mirĂ„sĂ„.
GĂȘgayuhan bisanĂ© kasĂȘmbadan kudu sinartan ngĂšlmu, jalaran ngĂšlmu mono pancĂšn sangunĂ© ngaurĂp, wĂłndĂ©nĂ© ngĂšlmu iku tinĂȘmu ing laku lan tandang.
SakĂšhĂng tandang ora bĂȘcĂk kĂȘlakĂłnĂ© yĂšn ora mapan.
LirĂ©, bisowĂ„ tansah ngĂ©lingi marang jantranĂng kahanan.
WĂłng kang tandang tandĂșkĂ© mapan, angĂšl kĂȘpĂšpĂštĂ©, jalaran yĂšn mapan mĂȘsthi cĂȘpak waspadanĂ©.
DĂ©nĂ© waspĂ„dĂ„ mono sirikanĂ© mĂ„lĂ„ lan adĂłh sĂ„kĂ„ bĂȘbĂȘndhu.PitudĂșh : # 127
SakabĂšhĂng tumindak iku panimbangĂ© manĂșt kawusananĂ©.
Mula murĂh bisanĂ© sampĂșrna, sabarang kang bakal dilakĂłni lan ditindakakĂ© iku luwĂh dhisĂk thinthingĂ„nĂ„ lan pilah-pilahna Ă„lĂ„ bĂȘcikĂ© kanthi wĂȘningĂ© nalar/pikĂr.
YĂšn wĂs, tumindakĂ© kanthi dugĂ„ lan prayogĂ„, sartĂ„ mĂ„wĂ„ tĂȘpĂ„ tulĂ„dhĂ„.
LirĂ©, sabarang patrap mau upamaknĂ„ tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ©, ilangnĂ„ pangirĂ„-irĂ„ tumrap awakĂ© liyan kang durĂșng disumurupi.
ĂlingĂ„, sĂ„pĂ„ kang arĂȘp mbĂȘcĂkakĂ© alam donya iku, kudu mbĂȘcĂkakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ© luwĂh dhisĂk.
PitudĂșh : # 128
Ciri-cirinĂ© jiwa kang isih kĂłthĂłng mono bisĂ„ dititĂk sĂ„kĂ„ ulat praupan, tutĂșr wicara, lan tingkah lakunĂ© kang ora natĂ© gĂȘlĂȘm kalah.
Sabarang tindak-tandĂșkĂ© kĂȘpingĂn unggĂșl lan mamĂšrakĂ© kaluwihanĂ©, ora anggĂšr kaluwihan bisĂ„ kanggo ngadhĂȘpi bĂȘbĂ„yĂ„ lan ngĂȘntas sĂ„kĂ„ papan cintrĂ„kĂ„.
Kaluwihan kang tanpĂ„ dilandhĂȘsi kautaman, kĂȘnĂ„ diumpamakakĂ© kayadĂ©nĂ© wĂȘdhak pupĂșr sĂng nĂšmpĂšl ing njaban kulĂt baĂ©, ora bisĂ„ tahan suwĂ© lan gampang luntĂșr margĂ„ sĂ„kĂ„ pakartinĂ© dhĂ©wĂ©, awĂt nĂȘrak dhasar-dhasar bĂȘbĂȘnĂȘr lan kasucian.
PitudĂșh : # 129
SabĂȘn tumindak sĂȘjangkah ngilowĂ„ marang kinclĂłng-kinclĂłngĂ© banyu samudrĂ„ sĂng suthĂk kanggĂłnan sangkrah, jalaran sakĂšhĂ© uwĂșh mĂȘsthi disingkĂrakĂ© minggĂr.
SabĂȘn makaryĂ„ sapĂȘcak, tuladhanĂȘn pakartinĂ© banyu tritisan, nadyan tumĂštĂšs mbĂ„kĂ„ satĂštĂšs, ditindakakĂ© kanthi ajĂȘg kĂȘcĂłnggah mbĂłlĂłngakĂ© watu sĂng atĂłsĂ© ngluwihi wĂ„jĂ„.
PitudĂșh : # 130
SĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© mungsĂșh-mungsĂșhĂ©, dhĂšwĂškĂ© diarani kuwat.
AnangĂng sĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©, iya dhĂšwĂškĂ© iku kang luwĂh kuwat manĂšh.
PitudĂșh : # 131
SamĂ„ngsĂ„ lagi ngadhĂȘpi urĂp rĂȘkĂ„sĂ„ prayoganĂ© adhĂȘpana klawan ĂšsĂȘm gumuyu.
AwĂt iku wus wujĂșd sĂȘnjĂ„tĂ„ kang bisa gawĂ© ĂšnthĂšngĂng sanggan lan bakal numusi mulurĂng pikĂr.
Nanging yĂšn pĂȘnandhangmu mau tansah kĂłk adhĂȘpi kanthi ulat kang suntrĂșt adhakanĂ© kowĂ© bakal kĂȘntĂškan pikĂr kang wĂȘnĂng, wusananĂ© dadi nĂ©kat nuruti pokal kang nĂȘrak bĂȘbĂȘnĂȘr.
PitudĂșh : # 132
SĂ„pĂ„ kang nganggĂȘp Ă„pĂ„ baĂ© gampang, mĂȘsthi bakal nĂȘmu akĂ©h rubĂ©dĂ„.
SĂ„pĂ„ kang gampang janji, iya kuwi kang arang nĂȘtĂȘpi.
PitudĂșh : # 133
UrĂp tĂȘgĂȘsĂ© mbudidĂ„yĂ„ ngĂȘtĂłg tĂȘnĂ„gĂ„ (bĂȘrjuwang).
UrĂp nĂkmat tanpĂ„ angĂn prahĂ„rĂ„ pĂ„dhĂ„ karo sĂȘgĂ„rĂ„ kang mati.
Aku luwĂh sĂȘnĂȘng ditĂȘndhang, dilawan dĂ©nĂng nasĂb, tinimbang diugĂșng.
PitudĂșh : # 134
Laku jujĂșr kuwi pĂ„dhĂ„ karo dhuwit kang bisĂ„ laku ing ngĂȘndi baĂ©.
PitudĂșh : # 135
Kang bĂȘcĂk lan Ă„lĂ„, kabĂšh mĂȘsthi nĂ„mpĂ„ pikolĂšh, sĂȘnajantĂ„ kadhang-kadhang nampanĂ© cĂȘpĂȘt, kadhang-kadhang alĂłn.
PitudĂșh : # 136
WĂłng kang kinaranan bĂȘrbudi iku, yĂ„kuwi wĂłng sĂng rumĂ„ngsĂ„ tambah kasĂksa yĂšn nyumurupi sapĂȘpadhanĂ© nandhang pĂ„pĂ„ lan kasangsaran.
RuntĂșhĂ© rĂ„sĂ„ wĂȘlasĂ© adatĂ© banjĂșr sinusĂșl sarĂ„nĂ„ cucĂșlĂ© prabĂ©yĂ„ lan barang darbĂškĂ©.
NangĂng pancĂšn angĂšl gĂłlĂšk-gĂłlĂškanĂ© wĂłng sĂng kĂ„yĂ„ mangkono iku.
BuktinĂ© ora sĂȘthithĂk wĂłng sĂng mati mĂȘrgĂ„ kĂȘwarĂȘgĂȘn, apamanĂšh wĂłng sĂng mati amargĂ„ kalirĂȘn.
PitudĂșh : # 137
ManungsĂ„ kuwi dadinĂ© bĂȘcĂk miwiti sĂ„kĂ„ njĂȘro mĂȘnjĂ„bĂ„.
PitudĂșh : # 138
Kang waspĂ„dĂ„ marang awakmu dhĂ©wĂ© jalaran iyĂ„ awakmu dhĂ©wĂ© kuwi kang mujĂșdakĂ© mungsĂșhmu kang palĂng gĂȘdhĂ©.
PitudĂșh : # 139
ManungsĂ„ kang mĂșng ngĂ©lingi marang pakartinĂ© pancadriyanĂ© mono bakal tansah kasinungan rĂ„sĂ„ dhĂȘmĂȘn utĂ„wĂ„ sĂȘngsĂȘm.
SĂ„kĂ„ RĂ„sĂ„ DhĂȘmĂȘn banjĂșr kathukĂșlan rĂ„sĂ„ mĂ©lĂk, sĂ„kĂ„ rĂ„sĂ„ mĂ©lĂk munggah dadi nafsu, sĂ„kĂ„ nafsu banjĂșr nasar pakartinĂ© lan sĂrnĂ„ bĂȘbudĂšnĂ© sĂng wĂȘkasanĂ© tumiba ing pĂ„pĂ„, nandhang kasangsaran.
PitudĂșh : # 140
WĂłng juwĂšh, kawruhĂ© tumĂšmpĂšl ing lambĂ©, kumrĂȘcĂȘk ngĂȘbaki ing pasamuwan, katĂșt samirĂ„nĂ„ mrĂ„nĂ„-mrĂ©nĂ©.
BĂ©dĂ„ karo wĂłng mĂȘnĂȘng, kawruhĂ© sumimpĂȘn Ă„nĂ„ ing ati wĂȘnĂng.
WĂȘtunĂ© ora sarĂ„nĂ„ lambĂ©, nangĂng katampanan ing pucukĂng pĂšn, mili ambĂšr ing kĂȘrtas putĂh, rinasakakĂ© ing wĂłng sajagad.
PitudĂșh : # 141
AmrĂh urĂp kita tansah nĂȘmĂłni rahayu, Ă„jĂ„ kĂȘndhat nggĂȘgulang nandĂșr cĂptĂ„ utĂ„mĂ„ sajronĂng ati sanubari kita sinartan panyuwunan kang manthĂȘng marang GĂșsti Kang MĂ„hĂ„ WĂȘlas lan MĂ„hĂ„ AsĂh, mugĂ„ pinaringan nugrĂ„hĂ„ bisĂ„ ndarbĂšni ati kang wĂȘnĂng lan jiwĂ„ kang utĂ„mĂ„.
PancĂšn ora gampang wĂłng ngudi bisanĂ© kasinungan cĂptĂ„ utĂ„mĂ„ ngĂ©lingi mĂȘnĂ„wĂ„ manungsĂ„ mono mulĂ„ wĂs kĂȘsĂȘrĂȘnan sipat apĂȘs lan lali.
SĂłk ngonowĂ„ yĂšn tĂ„ sawisĂ© nandhang apĂȘs lan lali banjĂșr gumrĂ©gah manĂšh pangudinĂ© Ă„pĂ„ dĂ©nĂ© ora kĂȘndhat ing panglantihĂ© mantĂȘpĂ„ ing kĂȘyakinan yĂšn GĂșsti Allah ora bakal ora ngudanĂȘni panyuwĂșn kitĂ„.
PitudĂșh : # 142
KawrĂșh lan "Ilmu pĂȘngĂȘtahuan" iku mĂșng bisĂ„ digayĂșh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo Ă„pĂ„ kang diwulangakĂ©.
LirĂ©, ajaran tĂ©orinĂ© kudu bisĂ„ dicakakĂ© lan ditrapkakĂ© kanggo karahayĂłnĂng bĂȘbrayan. WĂłndĂ©nĂ© lakunĂ© mono kudu sinartan tĂ©kad kang gilĂg lan kĂȘkarĂȘpan kang tulĂșs lan mantĂȘp kinanthĂšnan katĂȘguhanĂng iman, kanggo ngadhĂȘpi sakĂšhĂng panggodhĂ„ sartĂ„ nyingkiri sikĂȘp laku kang sarwĂ„ dudu. PitudĂșh : # 143 Banyu iku bisanĂng bĂȘnĂng yĂšn wĂs mĂȘnĂȘp. Sanadyan maunĂ© buthĂȘk, nangĂng yĂšn wĂs mĂȘnĂȘp, iyĂ„ banjĂșr bĂȘnĂng.
SĂȘmono ugĂ„ tumrap pĂȘpinginan utĂ„wĂ„ gĂȘgayuhan yĂšn diudi nganti katĂłg lan mĂȘnĂȘp ing tĂȘmbĂ© ugĂ„ bakal kasinungan sifat bĂȘnĂng.
LirĂ©, nadyan pĂȘpinginan lan panggayu bisa kalĂȘksanan klawan tumuli, Ă©wĂ„ sĂȘmono yĂšn ditlatĂšni suwĂ©ning suwĂ© ugĂ„ bakal kasĂȘmbadan.
PitudĂșh : # 144 YĂšn kĂȘpingĂn nglungguhi pangkat kang dhuwĂșr luwĂh prayogĂ„ yĂšn dikawiti sĂ„kĂ„ kalungguhan kang ĂȘndhĂšk dhĂ©wĂ©.
AwĂt klawan mĂȘngkono ing tĂȘmbĂ© kowĂ© ora bakal gampang disĂȘpĂšlĂškakĂ© dĂ©nĂng bawahanmu.
Lan kang utĂ„mĂ„ yaiku kowĂ© nuli bisĂ„ madĂȘg dadi pĂȘmimpĂn kang bisĂ„ nglungguhi ing kawicaksanan, adĂłh sĂ„kĂ„ watak dĂȘgsurĂ„, ananĂ© mĂșng sarwĂ„ kĂȘbak rĂ„sĂ„ tĂȘpĂ„ salirĂ„. PitudĂșh : # 145 GinubĂȘl dĂ©nĂng rĂ„sĂ„ "Tansah kurang marĂȘm" marang asilĂng pakaryan utawa jĂȘjibahan kang diayahi, saugĂȘr ora ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„, sayĂȘkti malah dadi pamĂȘcĂșt kang bĂȘcĂk kanggo luwĂh maju.
NangĂng yĂšn rĂ„sĂ„ tansah kurang marĂȘm mau ngĂȘnani wuwuhĂng donyĂ„-brĂ„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© rĂȘridhu sĂng ĂšsthinĂ© mĂșng tansah rinĂ„sĂ„ kayadĂ©nĂ© pasiksanĂ© ngaurĂp. PitudĂșh : # 146
ĂlingĂ„, mbĂ©sĂșk yĂšn wĂs tumĂȘkaning janjinĂ© ora kĂȘnĂ„ ora, badan wadhag lan sabarang kalĂr kang kita darbĂšni iki bakal kita tinggalakĂ© kabĂšh, ora Ă„nĂ„ kang kitĂ„ gĂ„wĂ„ mĂȘnyang alam kalanggĂȘngan.
Mula Ă„jĂ„ bangĂȘt nggĂłnira katrĂȘm marang kadonyan.
Ă pĂ„ manĂšh, sĂ„pĂ„ kang tansah ngĂȘgĂșl-ĂȘgĂșlakĂ© marang donyĂ„ brananĂ© lan gandrĂșng marang pĂȘpinginan kang ora langgĂȘng, ĂšsthinĂ© ora bakal bisa nĂȘmĂłkakĂ© kahanan kang bisĂ„ gawĂ© langgĂȘngĂng kasĂȘnĂȘngan lan katĂȘntrĂȘmanĂng ati.
PitudĂșh : # 147
BatinĂ© wĂłng kang bisa ndarbĂšni ati nriman iku tansah ayĂȘm lan tĂȘntrĂȘm, margĂ„ satingkah laku tansah linambaran kĂȘyakinan kang kandĂȘl marang kadar pĂȘparingĂ© PangĂ©ran.
Nriman ora tĂȘgĂȘs wis marĂȘm Ă„pĂ„ ananĂ©, nangĂng suwalikĂ© kĂȘpĂ„rĂ„ malah sungkan mĂȘnĂȘng.
MĂșng baĂ© ora grusa-grusu kĂ„yĂ„ tumindakĂ© wĂłng kang nduwĂšni sipat ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ kĂ„yĂ„ ora gĂȘlĂȘm ngakĂłni karang ananĂ© pandĂșm.
PitudĂșh : # 148 ManungsĂ„ kang mĂșng ngĂ©lingi marang pakartinĂ© pancadriyanĂ© mono bakal tansah kasinungan rĂ„sĂ„ dhĂȘmĂȘn utĂ„wĂ„ sĂȘngsĂȘm.
SĂ„kĂ„ RĂ„sĂ„ DhĂȘmĂȘn banjĂșr kathukĂșlan rĂ„sĂ„ mĂ©lĂk, sĂ„kĂ„ rĂ„sĂ„ mĂ©lĂk munggah dadi nafsu, sĂ„kĂ„ nafsu banjĂșr nasar pakartinĂ© lan sĂrnĂ„ bĂȘbudĂšnĂ© sĂng wĂȘkasanĂ© tumiba ing pĂ„pĂ„, nandhang kasangsaran.
PitudĂșh : # 140
WĂłng juwĂšh, kawruhĂ© tumĂšmpĂšl ing lambĂ©, kumrĂȘcĂȘk ngĂȘbaki ing pasamuwan, katĂșt samirĂ„nĂ„ mrĂ„nĂ„-mrĂ©nĂ©.
BĂ©dĂ„ karo wĂłng mĂȘnĂȘng, kawruhĂ© sumimpĂȘn Ă„nĂ„ ing ati wĂȘnĂng.
WĂȘtunĂ© ora sarĂ„nĂ„ lambĂ©, nangĂng katampanan ing pucukĂng pĂšn, mili ambĂšr ing kĂȘrtas putĂh, rinasakakĂ© ing wĂłng sajagad.
PitudĂșh : # 141
AmrĂh urĂp kita tansah nĂȘmĂłni rahayu, Ă„jĂ„ kĂȘndhat nggĂȘgulang nandĂșr cĂptĂ„ utĂ„mĂ„ sajronĂng ati sanubari kita sinartan panyuwunan kang manthĂȘng marang GĂșsti Kang MĂ„hĂ„ WĂȘlas lan MĂ„hĂ„ AsĂh, mugĂ„ pinaringan nugrĂ„hĂ„ bisĂ„ ndarbĂšni ati kang wĂȘnĂng lan jiwĂ„ kang utĂ„mĂ„.
PancĂšn ora gampang wĂłng ngudi bisanĂ© kasinungan cĂptĂ„ utĂ„mĂ„ ngĂ©lingi mĂȘnĂ„wĂ„ manungsĂ„ mono mulĂ„ wĂs kĂȘsĂȘrĂȘnan sipat apĂȘs lan lali.
SĂłk ngonowĂ„ yĂšn tĂ„ sawisĂ© nandhang apĂȘs lan lali banjĂșr gumrĂ©gah manĂšh pangudinĂ© Ă„pĂ„ dĂ©nĂ© ora kĂȘndhat ing panglantihĂ© mantĂȘpĂ„ ing kĂȘyakinan yĂšn GĂșsti Allah ora bakal ora ngudanĂȘni panyuwĂșn kitĂ„.
PitudĂșh : # 142
KawrĂșh lan "Ilmu pĂȘngĂȘtahuan" iku mĂșng bisĂ„ digayĂșh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo Ă„pĂ„ kang diwulangakĂ©.
LirĂ©, ajaran tĂ©orinĂ© kudu bisĂ„ dicakakĂ© lan ditrapkakĂ© kanggo karahayĂłnĂng bĂȘbrayan. WĂłndĂ©nĂ© lakunĂ© mono kudu sinartan tĂ©kad kang gilĂg lan kĂȘkarĂȘpan kang tulĂșs lan mantĂȘp kinanthĂšnan katĂȘguhanĂng iman, kanggo ngadhĂȘpi sakĂšhĂng panggodhĂ„ sartĂ„ nyingkiri sikĂȘp laku kang sarwĂ„ dudu. PitudĂșh : # 143 Banyu iku bisanĂng bĂȘnĂng yĂšn wĂs mĂȘnĂȘp. Sanadyan maunĂ© buthĂȘk, nangĂng yĂšn wĂs mĂȘnĂȘp, iyĂ„ banjĂșr bĂȘnĂng.
SĂȘmono ugĂ„ tumrap pĂȘpinginan utĂ„wĂ„ gĂȘgayuhan yĂšn diudi nganti katĂłg lan mĂȘnĂȘp ing tĂȘmbĂ© ugĂ„ bakal kasinungan sifat bĂȘnĂng.
LirĂ©, nadyan pĂȘpinginan lan panggayu bisa kalĂȘksanan klawan tumuli, Ă©wĂ„ sĂȘmono yĂšn ditlatĂšni suwĂ©ning suwĂ© ugĂ„ bakal kasĂȘmbadan.
PitudĂșh : # 144 YĂšn kĂȘpingĂn nglungguhi pangkat kang dhuwĂșr luwĂh prayogĂ„ yĂšn dikawiti sĂ„kĂ„ kalungguhan kang ĂȘndhĂšk dhĂ©wĂ©.
AwĂt klawan mĂȘngkono ing tĂȘmbĂ© kowĂ© ora bakal gampang disĂȘpĂšlĂškakĂ© dĂ©nĂng bawahanmu.
Lan kang utĂ„mĂ„ yaiku kowĂ© nuli bisĂ„ madĂȘg dadi pĂȘmimpĂn kang bisĂ„ nglungguhi ing kawicaksanan, adĂłh sĂ„kĂ„ watak dĂȘgsurĂ„, ananĂ© mĂșng sarwĂ„ kĂȘbak rĂ„sĂ„ tĂȘpĂ„ salirĂ„. PitudĂșh : # 145 GinubĂȘl dĂ©nĂng rĂ„sĂ„ "Tansah kurang marĂȘm" marang asilĂng pakaryan utawa jĂȘjibahan kang diayahi, saugĂȘr ora ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„, sayĂȘkti malah dadi pamĂȘcĂșt kang bĂȘcĂk kanggo luwĂh maju.
NangĂng yĂšn rĂ„sĂ„ tansah kurang marĂȘm mau ngĂȘnani wuwuhĂng donyĂ„-brĂ„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© rĂȘridhu sĂng ĂšsthinĂ© mĂșng tansah rinĂ„sĂ„ kayadĂ©nĂ© pasiksanĂ© ngaurĂp. PitudĂșh : # 146
ĂlingĂ„, mbĂ©sĂșk yĂšn wĂs tumĂȘkaning janjinĂ© ora kĂȘnĂ„ ora, badan wadhag lan sabarang kalĂr kang kita darbĂšni iki bakal kita tinggalakĂ© kabĂšh, ora Ă„nĂ„ kang kitĂ„ gĂ„wĂ„ mĂȘnyang alam kalanggĂȘngan.
Mula Ă„jĂ„ bangĂȘt nggĂłnira katrĂȘm marang kadonyan.
Ă pĂ„ manĂšh, sĂ„pĂ„ kang tansah ngĂȘgĂșl-ĂȘgĂșlakĂ© marang donyĂ„ brananĂ© lan gandrĂșng marang pĂȘpinginan kang ora langgĂȘng, ĂšsthinĂ© ora bakal bisa nĂȘmĂłkakĂ© kahanan kang bisĂ„ gawĂ© langgĂȘngĂng kasĂȘnĂȘngan lan katĂȘntrĂȘmanĂng ati.
PitudĂșh : # 147
BatinĂ© wĂłng kang bisa ndarbĂšni ati nriman iku tansah ayĂȘm lan tĂȘntrĂȘm, margĂ„ satingkah laku tansah linambaran kĂȘyakinan kang kandĂȘl marang kadar pĂȘparingĂ© PangĂ©ran.
Nriman ora tĂȘgĂȘs wis marĂȘm Ă„pĂ„ ananĂ©, nangĂng suwalikĂ© kĂȘpĂ„rĂ„ malah sungkan mĂȘnĂȘng.
MĂșng baĂ© ora grusa-grusu kĂ„yĂ„ tumindakĂ© wĂłng kang nduwĂšni sipat ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ kĂ„yĂ„ ora gĂȘlĂȘm ngakĂłni karang ananĂ© pandĂșm.
AbĂłt-abĂłting cobĂ„ tumraping ngaurĂp iku malah ora kĂ„yĂ„ wĂłng kang lagi kĂȘbyukan sihĂng GĂșsti Allah.
YĂšn lulĂșs sĂ„kĂ„ pandadaran bisĂ„ dadi manungsĂ„ kang kajĂ„bĂ„ gĂȘdhĂ© sĂh kadarmanĂ© ugĂ„ wicaksĂ„nĂ„ laĂr batinĂ©.
NangĂng yĂšn tĂ„ ora tĂȘgĂșh imanĂ©, wĂłng kang lagi kabĂłmbĂłng ing donyĂ„ artĂ„ lan kĂȘladĂșk rumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ kuwagang mbĂȘndĂșng sĂȘgĂ„rĂ„ njugrĂșgakĂ© gunĂșng mau istingarah bakal kĂłncatan kawaspadanĂ©.
KĂȘjĂ„bĂ„ lali marang sangkan paranĂ© ugĂ„ lali yĂšn sakĂšhĂng drajat lan sĂȘmat dalasan tĂȘkan nyawanĂ© dhĂ©wĂ© pisan iku mĂșng lugu barang titipan kang sawayah-wayah bisa dipundhĂșt bali dĂ©nĂng Kang Kagungan.
PitudĂșh : # 149
AmbudidĂ„yÄÄ ing bĂ„ndhĂ„ manĂșt sakatĂłgĂng tĂȘnĂ„gĂ„ nangĂng Ă„jĂ„ lali kinanthĂšnan tĂ©kad lan sĂȘdya yĂšn sapĂ©rangan bakal kita tanjakakĂ© kanggo nindakakĂ© pangibadah.
Ălinga yĂšn pati iku lawangĂng akhĂ©rat, dĂ©nĂ© laku ngibadah iku kang bisĂ„ dadi sarĂ„nĂ„ nggampangakĂ© manungsĂ„ tumĂȘkanĂ© marang ing lawang mau kanthi rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tobat lan sumarah.
SuwalikĂ©, jiwĂ„ rĂ„gĂ„ kang ora kanggo tobat nalangsa ing GĂșsti Allah iku ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„ angganĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora dijakati lan ora ditanjakakĂ© kanggo pĂȘnggawĂ© kabĂȘcikan.
PitudĂșh : # 150
YĂšn sirĂ„ pinuju nandhang bagas kuwarasan, Ă©linga yĂšn nalika kĂȘnĂ„ ing lĂ„rĂ„, suprĂh sirĂ„ tĂȘtĂȘp bagas kuwarasan kanthi sĂȘsirĂk prakĂ„rĂ„-prakĂ„rĂ„ kang mbiyĂšn nyĂȘbabakĂ© lĂ„rĂ„.
YĂšn ing nalikĂ„ sugĂh, Ă©lingĂ„ yĂšn kĂȘna ing pĂȘkĂr, lĂȘkas sĂng kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau kanggo ngawĂ©kani amrĂh sira ora gampang kadunungan pikiran sĂȘnĂȘng pamĂšr lan sĂȘsĂłngaran.
KawruhĂ„nĂ„, iku kĂȘpĂ„rĂ„ nudĂșhakĂ© pratĂ„ndhĂ„ yĂšn dhĂšwĂškĂ© iku sĂȘjatinĂ© wĂłng kang tunĂ„ ing rĂ„sĂ„ wĂȘlas asĂh lan miskĂn ing kawrĂșh.
PitudĂșh : # 151
KitĂ„ manungsĂ„ iki ora kĂȘnĂ„ tansah ngantu-antu tĂȘkanĂ© wĂȘktu kang bĂȘcĂk, jĂȘr wĂȘktu kang bĂȘcĂk iku sĂȘjatinĂ© kudu kitĂ„ dhĂ©wĂ© sing gawĂ©.
KitĂ„ kudu tansah Ă©lĂng yĂšn sabarang tingkah lan tandĂșk kitĂ„ ing dinĂ„ kang siji iku nggĂ„wĂ„ kĂȘputusan tumrap dinĂ„ sijinĂ©.
DĂ©nĂ© dinĂ„ kang pungkasan iku kang mutĂșsakĂ© sakabĂšhĂng wĂȘktu lan dinĂ„-dinĂ„ kang wis kapungkĂșr.
MulĂ„ sadurungĂ© kitĂ„ tumapak marang dinĂ„ pungkasaning urĂp, dipĂ„dhĂ„ bisĂ„ nglungguhi marang jĂȘjĂȘrĂng urĂp manungsĂ„.
PitudĂșh : # 152
WĂłng nandhang lĂ„rĂ„ mono akĂšh sĂng mĂȘrgĂ„ anggĂłnĂ© ngombĂ© lan mĂȘmangan kliwat takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂh-pilĂh.
MulĂ„ kanggo nyandhĂȘt ubalĂng hĂ„wĂ„ marang bab sakaronĂ© mau, dibisĂ„ marsudi nyudĂ„ nuruti kĂȘcaping lidhah sarĂ„nĂ„ nglakoni pĂ„sĂ„ kang mĂȘngku ancas nyingkiri sadurungĂ© katamaning bilahi.
PitudĂșh : # 153
WĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan kamĂșlyan iku dibisĂ„ marsudi amrĂh langgĂȘng, Ă„jĂ„ banjĂșr kalimpĂșt watak jubriyĂ„ lan sĂȘmbrana sing sisĂp sĂȘmbirĂ© bisĂ„ kĂȘjlungĂșp tibĂ„ ing kasangsaran.
YĂšn wĂs mangkono mĂșng rĂ„sĂ„ gĂȘtĂșn lan piduwĂșng sing kari ing pamburinĂ©.
PitudĂșh : # 154
HĂ„wĂ„ napsu lan watak angkĂ„rĂ„ iku sawutuhĂ© manjĂng ing dhiri pribadinĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©.
YĂšn diumbar ngrĂȘbdĂ„ bakal gawĂ© "BĂȘncĂ„nĂ„ lan kasangsaran".
SuwalikĂ© yĂšn bab mau bisĂ„ dikĂȘndhalĂšni bakal njĂlmĂ„ dadi watak "Sabar lan prasĂ„jĂ„", tulĂșs Ă©klas awĂšh pangapurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„ sĂng gawĂ© kaluputan.
PitudĂșh : # 155
Tapaning ati iku mĂșng tĂȘmĂȘn, yĂšn tapaning nyĂ„wĂ„ mĂșng Ă©lĂng.
SĂng sĂ„pĂ„ bisa Ă©lĂng sĂȘdinĂ„ sĂȘpisan baĂ©, adatĂ© barang kang sinĂȘdyĂ„ bakal Ă„nĂ„.
SĂng sĂ„pĂ„ tĂȘmĂȘn salawasĂ©, kabĂšh pangajabĂ© bakal kĂȘcandhak.
DĂ©nĂ© kang aran sĂȘjatinĂng katĂȘmĂȘnan iku sakabĂšhĂng pakarti kang ditindakakĂ© klawan madĂȘp mantĂȘp tanpĂ„ mandhĂȘg-mangu lan tolah-tolĂšh, saĂ©nggĂ„ sabarang kĂȘkarĂȘpanĂ© bakal ginayĂșh.PitudĂșh : # 156
WĂłng iku yĂšn lagi nandhang lĂ„rĂ„ lagi bisĂ„ ngrasakakĂ© sĂȘpirĂ„ munggĂșh bĂȘgjanĂ© wĂłng kang kanugrahan awak kang tansah kuwarasan.
NangĂng suwalikĂ©, wĂłng sĂng awakĂ© sĂȘgĂȘr waras lumrahĂ© lali rĂȘkasanĂ© wĂłng lĂ„rĂ„.
SangsĂ„yĂ„ adĂłh kĂ©linganĂ©, sangsĂ„yĂ„ cĂȘdhak anggĂłnĂ© ngumbar hĂ„wĂ„ nuruti pĂȘpinginanĂ© mripat, ilat, lan tĂȘlĂh (wadhĂșk, wĂȘtĂȘng) kang sĂȘjatinĂ© ngajak marang rusakĂng rĂ„gĂ„.
MulĂ„ prayoganĂ© tansah Ă©linga pĂȘrihĂng lĂ„rĂ„ kanthi nggĂȘmatĂšni kanikmatan kang wĂs diparingakĂ© dĂ©nĂng GĂșsti Allah tan kĂȘna kinayangĂ„pĂ„ ajinĂ©, yaiku wujĂșd awak kang bagas kuwarasan.
Pituduh : # 157
ManungsĂ„ pinaringan dĂ©nĂng PangĂ©ran pĂ©ranganĂng awak kang kalarasakĂ© karo gumĂȘlarĂng bĂȘbrayan.
Pinaringan mripat loro, pĂȘrlunĂ© supĂ„yĂ„ akĂšhĂ„ kang didĂȘlĂȘng, yĂ„ kang ngĂȘnani ubĂȘr ingĂȘring alam, Ă„lĂ„ bĂȘcikĂng kahanan, lan owah gingsirĂng jaman.
LirĂ©, supĂ„yĂ„ linarasna kanthi lantipĂng panggraitĂ„.
Pinaringan kupĂng loro, murih akĂšhĂ„ swĂ„rĂ„ kang dirungĂłkakĂ©, nuli kathinthingana lan kasaringa kanthi lungidĂng panyiptĂ„ lan alapĂȘn kang awĂšh pakolĂšh.
Pinaringan tangan loro, sikĂl loro, supĂ„yĂ„ akĂšhĂ© kang ditandhangi, pilihĂȘn kang murakabi kanggo bĂȘbrayan agĂșng. PitudĂșh : # 158 PancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr ing jagad iki tumrapĂng wĂłng kang nglumpĂșkakĂ© donya brĂ„nĂ„. nangĂng kitĂ„ kudu tansah Ă©lĂng yĂšn donyĂ„ brĂ„nĂ„ mono dudu panggĂłnanĂ© kalanggĂȘngan.
Nabi Muhammad wĂșs parĂng sabdĂ„ : "Ora prayogĂ„ ninggalakĂ© kadonyan margĂ„ nglakĂłni akhĂ©rat.
NangĂng jĂȘnĂȘng wĂłng kang nisthĂ„ sĂ„pĂ„ kang ninggalakĂ© bab akhĂ©rat margĂ„ mĂșng golĂšk donyĂ„ brĂ„nĂ„ tanpĂ„ waspĂ„dĂ„ marang pungkasanĂng dumadi."
PitudĂșh : # 159
Brangating ati sabisĂ„-bisĂ„ kĂȘndhalĂšnĂ„nĂ„, Ă„jĂ„ diububi nganti muntab dadi ubalĂng nĂȘpsu.
KĂ„yĂ„dĂ©nĂ© nyirĂȘp gĂȘni sarĂ„nĂ„ lĂȘngĂ„.
Napsu amarah mono isĂh tĂȘtĂȘp bakal tansah mbĂȘbĂȘdhag sĂȘlawasĂ© yĂšn tĂ„ ora kinanthĂšnan pikiran kang mĂȘnĂȘp, lan ati kang Ă©lĂng.
ĂlingĂ© ati lan mĂȘnĂȘpĂng pikĂr bakal numusi mulurĂ© budi kang tundhĂłnĂ© bisĂ„ dadi panyirĂȘp sakĂšhing pakartinĂng sĂ©tan.
PitudĂșh : # 160
WĂłng kang ringkĂh iman lan batinĂ© bakal gampang dadi jujuganĂ© dĂșrjĂ„nĂ„ apĂșs-apĂșs kang patĂng sliwĂȘr golĂšk mangsan.
Pirang-pirang kĂšhĂ© wĂłng kasĂȘlak pĂȘrcĂ„yĂ„ rĂȘmbĂșg pangimĂng-imĂng ora pinikĂr bakal kĂȘdadĂ©yanĂ© ing tĂȘmbĂ©.
WusananĂ© nandhang kapitunan lan kĂȘnĂ„ ing apĂșs.
Mula ditansah waspĂ„dĂ„, Ă„jĂ„ lirwĂ„ ing kaprayitnan. PitudĂșh : # 161 SamĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ thukĂșl plĂȘtikĂng pikĂr kang kasarung dĂ©nĂng ubalĂng nafsu Ă„lĂ„, yogyanĂ© sumĂȘnĂȘpnĂ„ sauntĂ„rĂ„.
YĂšn bisĂ„ kĂ„yĂ„ mangkono karan wĂłng wicaksana, jalaran kĂȘjaba bisĂ„ nglĂȘrĂȘmakĂ© ati kanthi mĂȘnĂȘpĂng pikirmu ugĂ„ bakal kĂȘcĂłnggah nyirĂȘp ubalĂng nafsumu mau.
WusĂ„nĂ„ rahayu kang tinĂȘmu mĂȘrgĂ„ bisĂ„ sumingkĂr sĂ„kĂ„ mĂȘmĂ„lĂ„ kang tĂȘkĂ„ arĂȘp ngrĂȘridhu awakmu. PitudĂșh : # 162 WĂłng kang sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ© jalaran Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„.
Kapisan sĂ„kĂ„ kaluputanĂ© dhĂ©wĂ©, kang kapindho mĂȘrgĂ„ sĂ„kĂ„ pokalĂ© dhĂ©wĂ©.
SĂng kapisan iku paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah kodanan lan kĂȘpanasan ora diopĂšni, dĂ©nĂ© sĂng kang kapindho paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah diapĂšk asilĂ© nganti ora kobĂȘr thukĂșl gĂłdhĂłngĂ©. PitudĂșh : # 163 YĂšn sirĂ„ urĂp ing alam donya iki rumĂ„ngsĂ„ nampĂ„ pandĂșm kĂȘsĂȘthithikĂȘn iku wĂs dadi pĂȘpĂȘsthĂšnĂ© urĂpmu, ora pĂȘrlu mbĂłk murinani.
Pamurinamu prayogĂ„ lipurĂȘn sarĂ„nĂ„ mawas lĂȘlabuhanmu dhĂ©wĂ©, jĂȘr lĂȘlabuhan ing alam donya mono dadi trajunĂng akĂšh sĂȘthithikĂ© pandĂșmmu.
silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!








