Minggu, 24 Januari 2010

berita bola

Sabtu, 23 Januari 2010

Suku Baduy di Pedalaman Banten



Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo
Suku Baduy di Pedalaman Banten
Wilayah kanekes bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar.

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu. Namun inti dari kepercayaan itu sendiri ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” ( kepatuhan) dengan konsep tidak ada perubahan sesedikit mungkin atau tanpa perubahan apapun.
Suku Baduy di Pedalaman Banten
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. masyarakatnya mengunjungi lokasi tersebut dan melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan kalima. Hanya ketua adat tertinggi puun dan rombongannya yang terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan tersebut. Di daerah arca tersebut terdapat batu lumping yang dipercaya apa bila saat pemujaan batu tersebut terlihat penuh maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil, dan begitu juga sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan terjadi kegagalan pada panen.

Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar. Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.


BADUY BUKAN SUKU TERASING
(http://disbudpar.wordpress.com)

Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng – Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten.

Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan.

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Suku Baduy di Pedalaman BantenSuku Baduy di Pedalaman Banten
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.

Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.









silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

daftar suku suku di indonesia




Daftar Lengkap Suku-Suku Yang Ada Di Nusantara - Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari belasan ribu pulau, baik pulau besar maupun kecil. Dari sekian banyak pulau tersebut, ada beraneka ragam kebudayaan yang terdapat di dalamnya. Kebudayaan-kebudayan tersebut lahir dari berbagai macam suku bangsa yang berdiam di tanah Kepulauan Nusantara.

Inilah suku bangsa terbesar yang ada di Indonesia:
* Suku Aceh di Aceh: kabupaten Aceh Besar
* Suku Alas di kabupaten Aceh Tenggara
* Suku Alor di NTT: kabupaten Alor
* Suku Ambon di kota Ambon
* Suku Ampana di Sulawesi Tengah
* Suku Anak Dalam di Jambi
* Suku Aneuk Jamee di kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Barat Daya
* Suku Arab-Indonesia
* Suku Aru di Maluku: Kepulauan Aru
* Suku Asmat di Papua
* Suku Abung di Lampung
* Suku Bali di Bali
* Suku Balantak di Sulawesi Tengah
* Suku Banggai di Sulawesi Tengah: Kabupaten Banggai Kepulauan
* Suku Baduy di Banten
* Suku Bajau di Kalimantan Timur
* Suku Bangka di Bangka Belitung
* Suku Banjar di Kalimantan Selatan
* Suku Batak di Sumatera Utara
* Suku Batin di Jambi
* Suku Bawean di Jawa Timur: Gresik
* Suku Belitung di Bangka Belitung
* Suku Bentong di Sulawesi Selatan
* Suku Berau di Kalimantan Timur: kabupaten Berau
* Suku Betawi di Jakarta
* Suku Bima NTB: kota Bima
* Suku Boti di kabupaten Timor Tengah Selatan
* Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara: Kabupaten Bolaang Mongondow
* Suku Bugis di Sulawesi Selatan
* Suku Bungku di Sulawesi Tengah: Kabupaten Morowali
* Suku Buru di Maluku: Kabupaten Buru
* Suku Buol di Sulawesi Tengah: Kabupaten Buol
* Suku Buton di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
* Suku Bonai di Riau: Kabupaten Rokan Hilir
* Suku Damal di Mimika
* Suku Dampeles di Sulawesi Tengah
* Suku Dani di Papua: Lembah Baliem
* Suku Dairi di Sumatera Utara
* Suku Dayak di Kalimantan
* Suku Dompu NTB: Kabupaten Dompu
* Suku Donggo, Bima
* Suku Donggala di Sulawesi Tengah
* Suku Dondo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
* Suku Duri Terletak di bagian utara Kabupaten Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, meliputi tiga kecamatan induk Anggeraja, Baraka, dan Alla di Sulawesi Selatan
* Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)
* Suku Flores di NTT: Flores Timur
* Suku Gayo di Aceh: Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
* Suku Gorontalo di Gorontalo: Kota Gorontalo
* Suku Gumai di Sumatera Selatan: Lahat
* Suku India-Indonesia
* Suku Banten di Banten
* Suku Cirebon di Jawa Barat: Kota Cirebon
* Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta
* Suku Jambi di Jambi: Kota Jambi
* Suku Kei di Maluku Tenggara: Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual
* Suku Kaili di Sulawesi Tengah: Kota Palu
* Suku Kaur di Bengkulu: Kabupaten Kaur
* Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
* Suku Kerinci di Jambi: Kabupaten Kerinci
* Suku Komering di Sumatera Selatan: Kabupaten Ogan Komering Ilir, Baturaja
* Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
* Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
* Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
* Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
* Suku Kutai di Kalimantan Timur: Kutai Kartanegara
* Suku Kluet di Aceh: Aceh Selatan
* Suku Krui di Lampung
* Suku Laut, Kepulauan Riau
* Suku Lampung di Lampung
* Suku Lematang di Sumatera Selatan
* Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
* Suku Lintang, Sumatera Selatan
* Suku Lom, Bangka Belitung
* Suku Lore, Sulawesi Tengah
* Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
* Suku Madura di Jawa Timur
* Suku Makassar di Sulawesi Selatan: Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba (sebagian), Kabupaten Sinjai (bagian perbatasan Kab Gowa)Kabupaten Maros (sebagian) Kabupaten Pangkep (sebagian)Kota Makassar
* Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat: Kabupaten Mamasa
* Suku Mandar Sulawesi Barat: Polewali Mandar
* Suku Melayu (Suku Melayu Riau di Riau, Suku Melayu Tamiang di Aceh: Aceh Tamiang)
* Suku Mentawai di Sumatera Barat: Kabupaten Kepulauan Mentawai
* Suku Minahasa di Sulawesi Utara: Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
* Suku Minangkabau, Sumatera Barat
* Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
* Suku Muko-Muko di Bengkulu: Kabupaten Mukomuko
* Suku Muna di Sulawesi Tenggara: Kabupaten Muna
* Suku Muyu di Kabupaten Boven Digoel, Papua
* Suku Mekongga di Sulawes Tenggara: Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara
* Suku Nias di Sumatera Utara: Kabupaten Nias, Nias Selatan
* Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
* Suku Ogan di Sumatera Selatan
* Suku Ocu di Kabupaten Kampar, Riau
* Suku Papua/Irian

* Suku Asmat di Kabupaten Asmat
* Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
* Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
* Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
* Suku Amungme di Mimika
* Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
* Suku Arfak di Manokwari
* Suku Kamoro di Mimika

* Suku Palembang di Sumatera Selatan: Kota Palembang
* Suku Pamona di Sulawesi Tengah: Kabupaten Poso
* Suku Pasemah di Sumatera Selatan
* Suku Pesisi di Sumatera Utara: Tapanuli Tengah
* Suku Pasir di Kalimantan Timur: Kabupaten Pasir
* Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
* Suku Rejang di Bengkulu: Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
* Suku Rote di NTT: Kabupaten Rote Ndao
* Suku Rongga di NTT Kabupaten Manggarai Timur
* Suku Saluan di Sulawesi Tengah
* Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat: Kabupaten Sambas
* Suku Sangir di Sulawesi Utara: Kepulauan Sangihe
* Suku Sasak di NTB, Lombok
* Suku Sekak Bangka
* Suku Sekayu di Sumatera Selatan
* Suku Semendo di Bengkulu, Sumatera Selatan: Muara Enim
* Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
* Suku Simeulue di Aceh: Kabupaten Simeulue
* Suku Sumbawa Di NTB: Kabupaten Sumbawa
* Suku Sumba di NTT: Sumba Barat, Sumba Timur
* Suku Sunda di Jawa Barat
* Suku Talaud di Sulawesi Utara: Kepulauan Talaud
* Suku Talang Mamak di Riau: Indragiri Hulu
* Suku Tamiang di Aceh: Kabupaten Aceh Tamiang
* Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
* Suku Ternate di Maluku Utara: Kota Ternate
* Suku Tidore di Maluku Utara: Kota Tidore
* Suku Timor di NTT, Kota Kupang
* Suku Tionghoa-Indonesia
* Suku Tojo di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
* Suku Toraja di Sulawesi Selatan: Tana Toraja
* Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara: Kendari
* Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah: Kabupaten Toli-Toli
* Suku Tomini di Sulawesi Tengah: Kabupaten Parigi Moutong
* Suku Una-una di Sulawesi Tengah: Kabupaten Tojo Una-Una
* Suku Ulu di Sumatera utara: mandailing natal
* Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton









silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

suku wolio buton sulawesi tenggara




Suku Wolio-Buton-Sulawesi Tenggara

Letak : Sulawesi Tenggara
Populasi : 30.000 jiwa
Bahasa : Wolio
Agama Mayoritas : Islam
Suku wolio atau yang biasa juga disebut orang-orang Buton berdiam di kepulauan Buton, Muna dan Kabaena di Propinsi Sulawesi Tenggara dan pulau-pulau kecil di propinsi Sulawesi Selatan. Mereka berbicara dalam bahasa Wolio, sub kelompok bahasa Buton-Muna dari kelompok bahasa Austronesia. Nenek moyang mereka adalah imigran yang datang dari Johor sekitar abad 15 yang mendirikan kerajaan Buton. Pada tahun 1960, dengan kematian sultan yang terakhir, kesultanan dibubarkan yang akhirnya mencerai-beraikan tradisi di kepulauan tersebut. Dalam kerajaan Buton diterapkan pula sistem kasta. Saat ini, Buton lebih terkenal sebagai penghasil aspal di Indonesia.

SOSIAL BUDAYA

Di dalam perkampungan mereka umumnya terdapat pasar yang menjual hasil-hasil tenunan dari sutera, katun dan sejenisnya. Banyak kampung juga memiliki toko-toko kecil dan penjaja keliling, di mana hal ini terlihat dari gerobak-gerobak yang mereka buat sendiri untuk berjualan. Mata pencaharian utama suku Wolio adalah bertani, karena tanah yang mereka tempati sangatlah subur. Hasil pertanian tersebut antara lain beras, jagung dan singkong. Banyak juga yang menjadi nelayan atau pembuat perahu. Perairan pulau Buton dan Mina kaya akan ikan tuna dan ikan ekor kuning. Tetapi sejak kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang cukup di daerah terasa sulit, banyak dari mereka yang kemudian pergi meninggalkan pulau mereka dengan bekerja sebagai buruh di perusahan-perusahaan dagang dalam jangka waktu yang lama.
Pakaian Khas Wolio
Saat ini, banyak orang-orang Wolio asli yang tinggal di Indonesia bagian timur (Maluku dan Irian Jaya). Dalam masyarakat Wolio, laki-laki yang mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki. Sejak dulu, orang Wolio juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan di bidang sosial.
Perkawinan dalam kebudayaan Buton sudah bersifat monogami. Setelah menikah, pasangan akan tinggal di rumah keluarga wanita sampai sang suami anggup mendirikan rumah sendiri. Tanggup jawab membesarkan anak ada di bahu ayah dan ibu. Rumah tempat tinggal suku Wolio didirikan di atas sebidang tanah dengan menggunakan papah yang kuat, dengan sedikit jendela dan langit-langit yang terbuat dari papan yang kecil dan daun kelapa.

AGAMA/KEPERCAYAAN

Hampir semua orang Wolio beragama Islam. Namun, terdapat kepercayaan terhadap roh-roh. Selain itu, di tingkat pusat juga dikenal suatu aliran yang disebut Sufi. Melalui ajaran Sufi ini, mereka melakukan meditasi untuk mencari visi dari Allah atau mencari hal-hal yang tersembunyi di luar akal mereka. Reinkarnasi juga dipercaya oleh banyak dari mereka sebagai akibat dari ajaran Hindu yang masih melekat. Roh-roh jahat yang dapat menimbulkan penyakit, roh-roh penolong yang dapat memberikan petunjuk-petunjuk adalah roh-roh yang mereka percayai. Selain itu mereka juga percaya adanya roh para leluhur yang dapat menolong atau dapat menimbulkan penyakit tergantung dari tingkah laku/kebiasaan mereka.

KEBUTUHAN



Rumah Adat
Orang Wolio membutuhkan lapangan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang untuk membiayai hidup. Kendatipun tanah mereka subur, hasil pertanian dan juga non pertanian belum dapat meningkatkan perekonomian orang Wolio secara berarti. Keadaan geografis yang berupa kepulauan membutuhkan sarana perhubungan yang cukup memadai untuk memungkinkan mereka mengadakan kontak dengan dunia luar. Para nelayan membutuhkan ketrampilan menangkap ikan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat meningkatkan produksi dan distribusi hasil laut daerah mereka yang terkenal seperti ikan tuna dan ikan ekor kuning di pulau Buton dan Muna. Selain itu, sikap haus ilmu orang Wolio memproyeksikan KEBUTUHAN pengajar dan pendidik yang dapat mengembangkan potensi dan wawasan mereka.









silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Kamis, 21 Januari 2010

sari boso jowo



Perangane Awak
No.NgokoKramÄ MadyÄKrÄmÄ Inggil
01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
alĂ­s
ati
awak
balĂșng
bangkĂškan
bathĂșk
bĂłkĂłng
brĂȘngos
cangkĂȘm
cĂȘngĂȘl
dhÄdhÄ
dhĂȘngkul
dlamakan
driji
ĂȘmbun-ĂȘmbunan ĂȘndhas
ĂšpĂšk-ĂšpĂšk
gĂȘgĂȘr
gĂȘlung
gĂȘtĂ­h
githok
gulu
idĂȘp
idu
igÄ
ilat
irung
janggĂșt
jénggot
kémpol
kringĂȘt
kuku
kupĂ­ng
lambé
luh
mÄtÄ
pipi
pundhak
pupu
rai
rambĂșt
riyak
sikĂ­l
susu
suwÄrÄ
tangan
umbĂȘl
untu
uyĂșh
wĂȘtĂȘng
wudĂȘl
alĂ­s
manah
badan
balung
bangkĂškan
bathĂșk
bokong
brĂȘngos
cangkĂȘm
cĂȘngĂȘl
dhÄdhÄ
dhĂȘngkul
dlamakan
driji
ĂȘmbun-ĂȘmbunan
sirah
ĂšpĂšk-ĂšpĂšk
gĂȘgĂȘr
gĂȘlung
rah
githĂłk
gulu
idep
idu
igÄ
ilat
irung
janggĂșt
jénggot
kémpol
kringĂȘt
kuku
kupĂ­ng
lambé
luh
mripat
pipi
pundhak
pupu
rai
rambĂșt
riyak
suku
susu
swantĂȘn
tangan
umbĂȘl
untu
toyan
wĂȘtĂȘng
wudĂȘl
imbÄ
(pĂȘng) galih
salirÄ
tosan
pamĂȘkan
palarapan
bocong
gumbÄlÄ, rawis
tutuk
griwÄ
jÄjÄ
jengku
samparan
racikan
pasundhulan
mustÄkÄ
tapak astÄ
pĂȘngkĂȘran
ukĂȘl
rah
julukan
jangga
ibĂ­ng
kĂȘcoh
unusan
lidhah
grana
kĂšthĂškan,adhĂȘgan
gumbala
wĂȘngkĂȘlan
riwé
kĂȘnĂ„kĂ„
talingan
lathi
waspÄ
paningal, socÄ
pangarasan pamidhangan
wĂȘntĂ­s
pasuryan
rémÄ, ríkmÄ
jlagrÄ
ampéyan
prĂȘmbayĂșn
swantĂȘn
astÄ
gadhĂ­ng
wÄjÄ
turas
padharan
tuntunan



Tembung Ngoko - Krama Madya - Krama Inggil

No.NgokoKrÄma MadyÄKrÄmÄ Inggil

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
A
abang
adhi
adĂȘg
adĂłh
adĂșs
ajang
aku
ambĂșng
amĂ­t
anak
anak-anak
anggo
aran
arĂȘp
(pĂȘm)-barĂȘp
asu
awĂšh
ayo
Ă©

abrĂ­t
adhi
ngadĂȘg
tĂȘbĂ­h
adĂșs
ajang
kulÄ
ambĂșng
amĂ­t
yogÄ
anak-anak
anggé
nÄmÄ
ajĂȘng, badhĂ©
pĂȘmbajĂȘng
sĂȘgawon
nyukani
mÄnggÄ
nĂ­k

abrĂ­t
rayi
jumĂȘnĂȘng
tebĂ­h
siram
ambĂȘng
kawulĂ„,dalĂȘm
aras
kulÄnuwun,
putrÄ
peputrÄ
agĂȘm
asmÄ
kĂȘrsĂ„
pĂȘmbajĂȘng
sĂȘgawon
maringi
sumanggÄ
pĂșn

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
B
bali
bantal
banyu
bapak
batĂșr
bĂȘbĂȘd
bébék
bĂȘnĂȘr
bĂȘras
biyĂšn
bojo
borĂšh
buri
buwang
bĂȘbuwang
buyar

mantĂșk
bantal
toyÄ
bapak
réncang
bĂȘbĂȘd
kambangan
lĂȘrĂȘs
uwĂłs
riyĂ­n
sémah
borĂšh
wingkĂ­ng
bucal
bĂȘbucal
rampĂșng

kĂșndĂșr
kajang sirah
toyÄ
rÄmÄ
abdi
nyamping kambangan
kasinggihan
uwĂłs
rumiyin
garwÄ
kĂłnyĂłh
pĂȘngkĂȘran
kĂȘndhang
bĂłbĂłtan
rampĂșng

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
C
caritÄ
caturan
cawis
cĂȘkĂȘl
cĂšlĂšng
céwok
clathu
cucĂșl
cukĂșr
cundhĂșk

cariyĂłs
wicantĂȘn
cawĂ­s
cĂȘpĂȘng
andhapan
cawĂ­k
wicantĂȘn
cucĂșl
cukĂșr
cundhĂșk

cariyĂłs
ngendikÄ
caĂłs
astÄ
andhapan
cawĂ­k
ngvndikÄ
lukar
paras, pangkas sangsangan

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10. 11.
12.
D
dadi
dalan
dandan
dĂȘlĂȘng
dhéwé
dhuwĂ­t
dudu
doyan
dolan
dulang
durĂșng
duwé

dadĂłs
radinan
dandĂłs
ningali
piyambak
yatrÄ
sanĂšs
purĂșn
dolan
ndulang
dĂȘrĂȘng
gadhah

dadĂłs
margi
busÄnÄ
mriksani
piyambak
artÄ
sanĂšs
kersÄ
amĂȘng-amĂȘng
ndhahari
dĂšrĂšng
kagungan
No.NgokoKrÄmÄ MadyÄKrÄmÄ Inggil

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
E
élíng
ĂȘmbah
ĂȘmbuh
ĂȘndhĂȘm
ĂȘndi
ĂȘntĂšni
ĂȘnyang
ĂȘpĂšk
ésuk

élíng
ĂȘmbah
kirangan
mĂȘndhĂȘm
pundi
ĂȘntosi
awĂ­s
pĂȘndhĂȘt
énjíng

Ă©mĂșt, Ă„ngĂȘt
éyang
ngapuntĂȘn
wuni
pundi
rantosi
awĂ­s
pundhĂșt
énjíng

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
I
ikĂȘt
iki
ilang
imbĂșh
inĂȘp
irĂȘng
ngiringakĂȘn
isÄ
isĂ­n
iwak
iyÄ

ikĂȘt
niki
ical
imbĂȘt
nyipĂȘng
cĂȘmĂȘng
ngiringakĂȘn
sagĂȘd
isĂ­n
ulam
inggĂ­h

dĂȘstar
punikÄ
ical
tandĂșk
nyaré
cĂȘmĂȘng
ndhĂšrĂškakĂšn
sagĂȘd
lingsĂȘm
ulam
sĂȘndikĂ„

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
J
jÄgÄ
jago
jalĂșk
jamu
jaran
jarĂ­t
jenat
jerĂșk
jisĂ­m
jogĂšd
jungkat
jupĂșk

jagi
sawĂșng
nĂȘdi
jampi
jaran
sinjang
jĂȘnat
jĂȘram
jisĂ­m
jogĂšd
sĂȘrat
pĂȘndhĂȘt

rĂȘksĂ„
sawĂșng
nyuwĂșn
lĂłlĂłh
titihan
nyamping
swargi
jĂȘram
layĂłn
bĂȘksĂ„
pĂȘthat
pundhĂșt

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
K
kabĂšh
kÄcÄmÄtÄ
kagĂšt
kakang
kalĂșng
kanggo
kÄndhÄ
kathĂłk
katĂșr
kayu
kĂȘbo
kĂȘlambi
kĂȘlĂșd
kĂȘmbang
kĂȘmbĂȘn
kĂȘmĂșl
kĂȘrĂ­s
kijĂ­ng
kirÄ
kĂłngkĂłn
kowé
kramas
krÄsÄ
krungu
dikubĂșr
kuburan
kurang
kuwat
kuwi

sĂȘdĂ„yĂ„
kÄcÄmripat
kagĂšt
kakang
kalĂșng
kanggé
sanjang
kathĂłk
katĂșr
kajĂȘng
maésÄ
rasukan
kĂȘlud
sĂȘkar
kĂȘmbĂȘn
kĂȘmul
dhuwĂșng
kijĂ­ng
kintĂȘn
kĂšngkĂšn
sampéyan
kramas
kraĂłs
kĂȘpirĂȘng
dipĂȘtak
kuburan
kirang
kiyat
niku

sĂȘdantĂȘn
kÄcÄtingal
kĂȘjĂłt
rÄkÄ
sangsangan
kagĂȘm
ngĂȘndika
lancingan
konjĂșk
kajĂȘng
maésÄ
agĂȘman
samparan
sĂȘkar
kĂȘsĂȘmĂȘkan
singĂȘp
wangkingan
sĂȘkaran
kintĂȘn
utĂșs
pĂȘnjĂȘnĂȘngan
jamas
kraĂłs
midhangĂȘt
disarÚkaké
pasaréyan
kirang
kiyat
punikÄ

No.NgokoKrÄmÄ MadyÄKrÄmÄ Inggil

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09. 10.
11.
12.
13.
14.
L
labĂșh
lagi
laĂ­r
lali
lanang
lÄrÄ
larang
layang
lemah
lĂȘmu
liwat
lungÄ
lĂȘlungan
lunggĂșh

labĂȘt
sawĂȘg
lair
supé
jalĂȘr
sakĂ­t
awĂ­s
sĂȘrat
siti
lĂȘma
langkĂșng
késah
kĂȘkĂ©sahan
lĂȘnggah

labĂȘt
nĂȘmbĂ©
miyĂłs
kalimĂȘngan
kakĂșng
gĂȘrah, gĂȘring
awĂ­s
nawÄlÄ
siti
lĂȘmĂ„
langkĂșng
tindak
pĂȘparan
pinarak

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15. 16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
M
mÄcÄ
macan
malĂ­ng
mambu
manak
mangan
mangkat
marang
mati
mayĂ­t
mĂȘlĂšk
mĂšlu
mĂšnĂšhi
mĂȘnjangan
menyang
mĂȘtu
mikir
minggat
mlaku
mudhĂșn
mulang
mulĂ­h
muni
murah

mÄcÄ
macan
maling
mambĂȘt
nglairakĂȘn
nĂȘdhĂ„
bidhal
dhatĂȘng
pĂȘjah
mayĂ­t
mĂȘlĂšk
tumĂșt
nyukani
sangsam
dhatĂȘng
mĂȘdal
manah
minggat
mlampah
mandhap
mucal
mantuk
mungĂȘl
mirah

maĂłs
simĂł
pandĂșng
nggÄndÄ
mbabar
dhahar
tindak, jengkar
dhatĂȘng
sedĂ„, surĂșd
layĂłn
wungu
ndhĂšrĂšk
maringi, nyaĂłsi
sangsam
dhatĂȘng
miyĂłs
nggalĂ­h
lĂłlĂłs
tindak
mandhap
mucal
kĂșndĂșr
mungĂȘl
mirah

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10. 11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
N
nandĂșr
nangĂ­s
nĂȘpsu
nĂłm
nunggang
ngadĂȘg
ngaggo
ngarĂȘp
ngaso
ngĂȘlu
ngĂšngĂšr
ngĂȘntĂšni
ngimpi
ngirĂ­m
ngisĂ­ng
ngombé
ngĂłngkĂłn
nguyĂșh
nyambĂșt gawĂ©
nyĂȘkĂȘl
nyilĂ­h
nyrĂȘngĂȘni
nyritani

nanĂȘm
nangĂ­s, mular
nĂȘpsu
nĂšm
numpak
ngadĂȘg
nganggé
ngajĂȘng
kĂšndĂȘl
ngĂȘlu
ngĂšngĂšr
ngĂȘntosi
ngimpi
ngintun
bebanyu
nginum
ngĂšngkĂšn
toyan
nyambut damĂȘl
nyĂȘpĂȘng
nyambut
nyrĂȘngĂȘni
nyriyosi

nanĂȘm
muwĂșn
duka
timĂșr
nitĂ­h
jumĂȘnĂȘng
ngagĂȘm
ngarsÄ
kĂšndĂȘl
puyĂȘng
ngabdi
ngrantĂłs
nyupĂȘna
ngintĂșn
bĂłbĂłtan
ngunjĂșk
ngutĂșs ngaturi
turas
ngastĂ„ damĂȘl
ngastÄ
ngampĂ­l
ndukani
nyriyĂłsi

01.
02.
03.
04.
05.
O
ĂłmbĂł
obat
olĂšh
ĂłmpĂłng
ora

wiyar
jampi
angsal
ĂłmpĂłng
bĂłtĂȘn

wiyar
usÄdÄ
pikantuk, kĂȘparĂȘng
dhaĂșt
bĂłtĂȘn

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10. 11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
P
pÄdhÄ
padusan
paidĂłn
panas
pangan
pangilĂłn
paturĂłn
payĂșng
peéan
pikĂ­r
pilĂ­s
pitĂ­k
prau
pupak
pupĂșr
putĂ­h
putu

sami
padusan
paidĂłn
bĂȘntĂšr
tĂȘdhan
pangilĂłn
patilĂȘman
payĂșng
pétan
manah
pilĂ­s
ayam
kapal
pupak
pupĂșr
pĂȘthak
putu

sami
pasiraman
kĂȘcohan
bĂȘntĂšr
dhaharan
paningalan
pasaréeyan
sĂłngsĂłng
ulĂ­k
penggalĂ­h
blĂłnyĂłh
ayam
baitÄ
dhaĂșt
tasĂ­k
pĂȘthak
wayah

No.NgokoKrÄmÄ MadyÄKrÄmÄ Inggil

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
R
rabi
rÄdÄ
rÄsÄ
rÄtÄ
raĂșp
rekÄsÄ
rupÄ
rusak

Ă©mah ĂȘmah
radi
raĂłs
radin
raĂșp
rĂȘkaos
warni
risak

krÄmÄ
radi
raĂłs
radin
suryan
rekaĂłs
warni
risak

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
S
sabĂșk
sadĂȘla
sadulĂșr
salĂ­n
sandhangan
sapi
sapĂ­h
sapu
sĂȘga
sĂȘgĂ„rĂ„
selĂ­r
sendhĂłk
silĂ­h
slamĂȘt
suwé

sabĂșk
sĂȘkĂȘdhap
sadhĂšrĂšk
gantĂłs
panganggé
lĂȘmbu
sapĂ­h
sapu
sĂȘkul
sĂȘgantĂȘn
selĂ­r
séndhok
sambĂșt
wilujĂȘng
dangu

pĂȘningsĂȘt
sĂȘkĂȘdhap
sadhĂšrĂšk
gantĂłs
pangagĂȘm
lĂȘmbu
pĂȘgĂȘng
samparan
sĂȘkul
sĂȘgantĂȘn
ampil, ampéyan
lantaran
ampĂ­l
sugĂȘng
dangu

01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10. 11.
12.
13.
14.
15.
T
takĂłn
tandang gawé
tÄndhÄ tangan
tandĂșr
tangi
tapihan
tĂȘka
tĂȘkĂȘn
tĂȘtak, sunat
tiba
tilĂ­k
tuku
turah
turu
turĂșn

takĂšn
nyambut damĂȘl
tÄndhÄ tangan
tanĂȘm
tangi
tapihan
dugi, dhatĂȘng
tĂȘkĂȘn
tĂȘtak, sunat
dhawah
tuwi
tumbas
tirah
tilĂȘm
turĂșn

ndangu
ngastÄ damel
tapak astÄ
tanem
wungu
nyampingan
rawĂșh
lantaran
supĂ­t
dhawah
tuwi
mundhut
tirah
saré, néndrÄ
tĂȘdhak










silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

MuncĂșlĂ© AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar


 SawisĂ© jaman MĂ„jĂ„pait, muncĂșl jaman Islam lan uga jaman KolonialismĂȘ KulĂłn ing Tanah Jawa.
Ing jaman iki banjĂșr muncĂșl naskah-naskah manuskrip kapisan sĂ­ng wĂ­s nganggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar.
Naskah-naskah iki ora namĂșng katulĂ­s ing gĂłdhĂłng palĂȘm (rĂłntal utawa nipah) manĂšh, nangĂ­ng ugĂ„ ing dluwang utawa kĂȘrtas lan awujĂșd buku utĂ„wĂ„ codex ("kodhĂšks").
Naskah-naskah iki ditĂȘmĂłkakĂ© ing tlatah pasisir lĂłr JĂ„wĂ„ lan pĂ„dhĂ„ digawani mĂȘnyang Eropah ing abad kapĂ­ng 16 utĂ„wĂ„ 17.
BĂȘntukĂ© aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Anyar iki wĂ­s bĂ©dĂ„ karo aksĂ„rĂ„ sadurungĂ© kayĂ„tĂ„ aksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„paitan.
Prabédan utÄmÄ iku anané serif tambahan ing aksara HÄnÄcÄrÄkÄ Anyaran.
AksĂ„rĂ„-aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ awal iki bĂȘntĂșkĂ© mĂšmpĂȘr kabĂšh sĂ„kĂ„ BantĂȘn ing sisĂ­h kulĂłn nganti tĂȘkan Bali.
NangĂ­ng banjĂșr akirĂ© pirang-pirang tlatah ora nganggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ lan pindhah nganggo PĂ©gĂłn lan aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya Surakartan sĂ­ng dadi baku.
NangĂ­ng saka kabĂšh aksĂ„rĂ„ iku, aksara Bali sĂ­ng bĂȘntĂșkĂ© tĂȘtĂȘp padha nganti ing abad kapĂ­ng 20.

AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ ing médhia céthak

AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ wiwĂ­t digunakakĂ© kanggo nyithak buku ing pĂșrwanĂ© abad kapĂ­ng 19.
TĂšknik mĂ©dhia cithak wiwĂ­t ditĂȘpangi pĂșrwanĂ© ing Eropah ing tĂȘngahĂ© abad kapĂ­ng 15 ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© tahĂșn 1450.
SĂ­ng kapisan ngriptĂ„ iku Johannes Gutenberg sĂ„kĂ„ JĂȘrman.
MÄwÄ sistém Gutenberg iki, dadi sawijiníng tÚks ora usah ditulís mÄwÄ tangan manÚh déníng sawijiníng juru tulís nangíng bisa dicithak.
AkibatĂ© buku-buku bisĂ„ diprodhĂșksi massal lan Ă©wadĂ©nĂ© bisĂ„ diĂȘdĂłl luwĂ­h murah lan panyĂȘbaranĂ© luwĂ­h jĂȘmbar.
BĂ„ngsĂ„ Éropah wĂ­s pĂ„dhĂ„ nĂȘkani NuswantĂ„rĂ„ wiwĂ­t taun 1511, lan manyinaĂłni bĂ„sĂ„-bĂ„sĂ„ pribumi ing tlatah kĂ©nĂ©, nangĂ­ng gagasan kanggo nyithak buku-buku mĂ„wĂ„ aksĂ„rĂ„ pribumi lagi muncĂșl ing purwanĂ© abad kapĂ­ng 19.
SadurungĂ© Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂ­ng marĂȘmi brayat umĂșm, ana sawĂȘtĂ„rĂ„ gagasan-gagasan sĂ­ng muncĂșl prĂȘkĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak sĂ­ng apĂ­k sĂ„kĂ„ sumbĂȘr sĂ­ng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ©.
Ing kĂ„lĂ„ sĂȘmono pangriptĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ cithak iki dadi diprakarsani dĂ©nĂ­ng kĂȘlĂłmpĂłk sĂ­ng sĂ©jĂ©-sĂ©jĂ© yaiku: Raffles, pamarĂ©ntah Hindhia-WalĂ„ndĂ„, kaĂșm panyĂȘbar agĂ„mĂ„ KristĂȘn (zending), lan pĂ„rĂ„ ngĂšlmuwan.
Kanggo aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ JĂ„wĂ„, priyayi sĂ­ng kapisan nggawĂ© cithakan aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku Thomas Stamford Raffles ing bukunĂ© sĂ­ng misuwĂșr The History of Java (Raffles 1817).
NangĂ­ng aksĂ„rĂ„ cithak JĂ„wĂ„ iki namĂșng kanggo ilustrasi ing bukunĂ© waĂ©, ora kanggo nyithak tĂšks sĂ­ng akĂšh.

Van Vlissingen
SawisĂ© iku ing taĂșn 1820, kĂȘpala Algemeene Secretarie ing Batavia, J.C. Baud mutĂșsakĂ© supĂ„yĂ„ Ă„nĂ„ mĂȘsĂ­n cithak mĂ„wĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„. Baud banjĂșr awĂšh parĂ©ntah marang sawijinĂ­ng pakar bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„ Walanda sĂ­ng nalika iku manggĂłn ing SurĂ„kĂ„rtĂ„, P. van Vlissingen supĂ„yĂ„ bisĂ„ ngrancang sawijinĂ­ng aksĂ„rĂ„ cithak sĂ­ng praktis tur apik. Van Vlissingen sarujĂșk lan nggawĂ© sawijinĂ­ng modhĂšl aksaranĂ©. NangĂ­ng dhĂšwĂškĂ© ing taĂșn 1821 mulĂ­h mĂȘnyang WalĂ„ndĂ„.
SĂȘnadyan mĂȘngkono pĂ„rĂ„ pĂȘnggĂȘdhĂ© ing Batavia sĂȘnĂȘng marang rancanganĂ© lan Van Vlissingen sĂ­ng wĂ­s ing WalĂ„ndĂ„ dikirim layang supĂ„yĂ„ nĂȘrusakĂ© gayuhĂ©.
BanjĂșr wusananĂ© ing Juni 1825 aksĂ„rĂ„ cithak iki tĂȘkan ing Batavia. WĂłng-wĂłng ing kĂ„nĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng amĂȘrgĂ„ aksaranĂ© bisĂ„ kanggo nyithak tulisan tĂȘnanan lan tuladhanĂ© yĂ„ aksĂ„rĂ„ sĂ­ng kaanggĂȘp apĂ­k dhĂ©wĂ© kĂ„lĂ„ iku: aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ gaya kĂȘratĂłnan SurĂ„kĂ„rtĂ„. NangĂ­ng sĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ Ă„nĂ„ kritik marang aksĂ„rĂ„ cithak iki. AksaranĂ© kĂȘcilikĂȘn ukuranĂ© minĂ„ngkĂ„ rĂ©latif lan akĂšh pĂ„dĂ„-pĂ„dĂ„ sĂ„hĂ„ sandhangan sĂ­ng ora mĂšlu kacipta dadi aksĂ„rĂ„ iki ora bisa kanggo nyithak tĂšks-tĂšks kasusastran, namĂșng kanggo nyithak tĂšks-tĂšks biyĂ„sĂ„ waĂ© ing koran.
KamĂ„ngkĂ„ rĂȘncananĂ© mbiyĂšn olĂšhĂ© nggawĂ© aksĂ„rĂ„ cithak iku supĂ„yĂ„ bisa nyithak buku-buku kasusastran

BrĂŒckner
BanjĂșr kurang luwĂ­h ing mĂ„ngsĂ„ sĂ­ng pĂ„dhĂ„ Ă„nĂ„ sawijinĂ­ng juru dakwah ProtĂšstan (Walanda zendeling) sĂ„kĂ„ JĂȘrman ajĂȘnĂȘng Gottlob BrĂŒckner sĂ­ng nduwĂ© kapĂ©nginan nĂȘrjĂȘmahakĂ© Alkitab ing bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„. BrĂŒckner wĂ­s manggĂłn wiwĂ­t taĂșn 1814 ing SĂȘmarang. AlĂ­hbĂ„sĂ„ AlkitabĂ© wĂ­s rampĂșng ing taĂșn 1821, banjĂșr dhĂšwĂškĂ© kĂȘpĂ©ngĂ­n nyithak naskahĂ© lan takĂłn mĂȘnyang pamarĂ©ntah kolonial Ă„pĂ„ bisa nggawĂ© mĂȘsĂ­n cithak aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ ora.
NangĂ­ng suwĂ© ora olĂšh rĂ©aksi wusananĂ© dhĂšwĂškĂ© nggawĂ© aksara cithakan dhĂ©wĂ© sĂ­ng rampĂșng ing taĂșn 1831.
AksaranĂ© iki saliyanĂ© kanggo nyithak pratĂ©lan AlkitabĂ©, uga diĂȘnggo nyithak pamflĂšt-pamflĂšt KristĂȘn sĂ­ng diĂȘdĂșmakĂ© ing SĂȘmarang taĂșn 1831.
Ing SĂȘmarang pĂ„rĂ„ pĂȘdunĂșng pribumi tibakĂ© sĂȘnĂȘng bangĂȘt marang tulisanĂ© nganti pamarĂ©ntah kolonial dadi wĂȘdi lan mbĂȘslah Ă„pĂ„ sĂ­ng turah.
BanjĂșr BrĂŒckner ugĂ„ olĂšh pĂšngĂȘtan yĂšn Alkitab-AlkitabĂ© ugĂ„ bakal dibĂȘslah yĂšn diĂȘdĂșmakĂ©.
WujĂșd aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya BrĂŒckner iki ditliti dĂ©nĂ­ng pĂ„rĂ„ pakar sastrĂ„ JĂ„wĂ„ kĂ„lĂ„ iku yaiku C.F. Winter lan J.F.C. Gericke.
PĂ„rĂ„ pakar iki kĂșrang sĂȘnĂȘng marang modhĂšl aksaranĂ© BrĂŒckner amĂȘrga kaanggĂȘp dudu cangkĂłkan gaya KĂȘratĂłn SurĂ„kartan sĂ­ng kĂ„lĂ„ iku kaanggĂȘp apĂ­k dhĂ©wĂ©.

Roorda van Eysinga lan RadĂšn Saleh
Roorda van Eysinga, sawijinĂ­ng pakar sastrĂ„ JĂ„wĂ„ ing nĂȘgĂ„rĂ„ WalĂ„ndĂ„ uga tau ditugasi nggawĂ© aksara cithak.
Roorda van Eysinga banjĂșr ngrancang sawijinĂ­ng aksĂ„rĂ„, rinĂ©wangan dĂ©nĂ­ng RadĂšn SalĂšh.
AksĂ„rĂ„ riptan Roorda van Eysingan iki rampĂșng ing taĂșn 1835. NangĂ­ng kasilĂ© dikritik amĂȘrgĂ„ rupanĂ© isĂ­h Ă„lĂ„ lan wujĂșdĂ© wujĂșd aksĂ„rĂ„ pĂȘsisiran, dudu aksĂ„rĂ„ gaya SurĂ„kartan.

Roorda
Taco Roorda iku sĂ­ng kapisan bisĂ„ nggawĂ© aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ sĂ­ng bisĂ„ dianggĂȘp suksĂšs amĂȘrgĂ„ aksaranĂ© ditampa dĂ©ning pĂ„rĂ„ pakar sajaman lan tĂȘtĂȘp diĂȘnggo nganti luwih saka 100 taĂșn.
AksĂ„rĂ„ Roorda iki rampĂșng ing taĂșn 1838.
Taco Roorda iku sajatinĂ© pakar bĂ„sĂ„ WĂ©tan TĂȘngah kaya ta bĂ„sĂ„ Ibrani, budaya WĂ©tan TĂȘngah, sĂ„hĂ„ tafsir Prajanjian Lawas.
NangĂ­ng dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor bĂ„sĂ„ lan sastrĂ„ JĂ„wĂ„ wiwĂ­t taĂșn 1842 ing Delftsche Academie, akadĂȘmi studi ‘Hinda’ ing Delft. SawisĂ© lĂȘmbaga iki dibubarakĂ© ing taĂșn 1864, dhĂšwĂškĂ© dadi profĂ©sor ing lĂȘmbaga pĂȘnĂȘrusĂ© ing Leiden sĂ­ng diarani Rijksinstelling tot Opleiding van Indische Ambtenaren utĂ„wĂ„ 'LĂȘmbaga NegĂ„rĂ„ bagi PĂȘndidikan PĂȘgawai NĂȘgĂȘri Hindia'.
Roorda dhĂ©wĂ© miturĂșt panuturĂ© dhĂ©wĂ© bisĂ„ nggawĂ© aksĂ„rĂ„ sĂ­ng apĂ­k mĂȘrgĂ„ bisa niliki lan sinau sĂ„kĂ„ pĂȘngalaman pĂ„rĂ„ pĂȘndahulu-nĂ©. SaliyanĂ© iku dhĂšwĂškĂ© bisĂ„ nggambar mĂ„wĂ„ apĂ­k, mulanĂ© bisa nggambar konsĂšp cithakan aksaranĂ©.
BanjĂșr jĂȘnĂ­s aksĂ„rĂ„ sing diĂȘnggo dĂ©nĂ­ng Roorda iku jĂȘnisĂ© pancĂšn tĂȘpat, yaiku aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ gaya KaratĂłn SurĂ„kĂ„rtĂ„ sĂ­ng kĂ„lĂ„ iku dianggĂȘp apĂ­k dhĂ©wĂ©.








silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

AksÄrÄ MÄjÄpait






prasasti-Singosari_1351
Prasasti SinghÄsari 1351

Ing sajarah NuswantĂ„rĂ„ mĂ„ngsĂ„ antĂ„rĂ„ taĂșn 1250 - 1450 iki ditandhani karo dhominasi MĂ„jĂ„pait ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
AksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iki ugĂ„ nudĂșhakĂ© pangarĂșh sĂ„kĂ„ gaya panulisan ing rĂłntal lan rupanĂ© Ă©ndhah. GayanĂ© sĂȘmu kaligrafis.
Conto utĂ„mĂ„ gaya panulisan aksara iki bisa paling bĂȘcĂ­k didĂȘlĂȘng ing Prasasti SinghĂ„sari 1351 sing gambarĂ© ana ing sisih ndhuwur iki.
Gaya panulisan aksĂ„rĂ„ gaya MĂ„jĂ„pait iki wis nyĂȘdhaki gaya modhĂšrn.
05 AksÄrÄ Pasca-MÄjÄpait

Pr_Ngadoman
Prasasti NgadĂłman

SawisĂ© jaman MĂ„jĂ„pait sĂ­ng miturĂșt tradhisi JĂ„wĂ„ nĂȘgĂ„rĂ„ binĂȘdhah ing taĂșn 1478 (cĂ„ndrĂ„sangkalanĂ© sirnĂ„ ilang krĂȘtaning bumi) nganti pungkasan abad kapĂ­ng 16 utĂ„wĂ„ awal abad kapĂ­ng 17, kanggo sajarah aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ bisa diarani "jaman pĂȘtĂȘng".
AmĂȘrgĂ„ sawisĂ© iku nganti awal kapĂ­ng 17 mĂšh ora ditĂȘmĂłkakĂ© bukti panulisan.
Ujug-ujug bĂȘntĂșk aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ dadi bĂȘntukĂ© sĂ­ng modhĂšrn.

SĂȘnadyan mĂȘngkono ugĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© prasasti sĂ­ng wigati amĂȘrgĂ„ dianggĂȘp dadi "missing link" antĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ sĂ„kĂ„ jaman JĂ„wĂ„ KunĂ„ lan aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂ­ng isĂ­h diĂȘnggo ing Tanah JĂ„wĂ„, utamanĂ© ing sakiwa-tĂȘngĂȘning GunĂșng MĂȘrapi lan MĂȘrbabu nganti abad kaping 18.
Prasasti sĂ­ng diĂłmĂłngakĂ© iki diarani Prasasti NgadĂłman sĂ­ng ditĂȘmĂłkakĂ© cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„.
NangĂ­ng conto aksĂ„rĂ„ BudĂ„ sĂ­ng paling tuwĂ„ didugĂ„ asalĂ© sĂ„kĂ„ JĂ„wĂ„ KulĂłn lan ditĂȘmĂłkakĂ© ing naskah-naskah sĂ­ng ngamĂłt Kakawin Arjunawiwaha lan Kunjarakarna gancaran.








silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

AksÄrÄ Pallawa

Prasasti-Yupa02 Prasasti Yupa
AksĂ„rĂ„ Pallawa iku asalĂ© sĂ„kĂ„ India sisĂ­h kidĂșl. JĂȘnĂ­s aksĂ„rĂ„ iki digunakakĂ© ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© abad kapĂ­ng 4 lan abad kapĂ­ng 5.
BĂșkti kapisan panganggonan jĂȘnĂ­s aksĂ„rĂ„ iki ing NuswantĂ„rĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo Kalimantan sisĂ­h wĂ©tan ing cĂȘdhak tlatah sĂ­ng saiki diarani Kutai.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ iki ugĂ„ digunakakĂ© ing pulo Jawa ing Tatar SundhĂ„ ing prasastinĂ© TarumanĂȘgara sĂ­ng katulis ing kiwĂ„-tĂȘngĂȘnĂ© taun 450. Ing Tanah JĂ„wĂ„ dhĂ©wĂ© aksĂ„rĂ„ iki kagunakakĂ© ing Prasasti TĂșk Mas lan Prasasti Canggal.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki bisĂ„ dianggĂȘp babĂłnĂ­ng kabĂšh aksĂ„rĂ„ ing NuswantĂ„rĂ„, kalĂȘbu aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„.
YĂšn didĂȘlĂȘng aksĂ„rĂ„ Pallawa iki rupanĂ© makothak-kothak. Ing basa InggrĂ­s prĂȘkĂ„rĂ„ iki diarani nganggo ukara “box head” utĂ„wĂ„ “square head-mark”. BanjĂșr mĂšh kabĂšh aksĂ„rĂ„ tinulĂ­s nganggo Ă„pĂ„ sĂ­ng kasĂȘbĂșt mĂ„wĂ„ istilah serif. Serif-Ă© tinulis ing sisĂ­h kiwĂ„.
SĂȘnadyan aksĂ„rĂ„ Pallawa wĂ­s ditĂȘpangi ing NuswantĂ„rĂ„ wiwĂ­t abad kapĂ­ng 4, nangĂ­ng bĂ„sĂ„ NuswantĂ„rĂ„ asli durĂșng Ă„nĂ„ sĂ­ng katulis ing aksĂ„rĂ„ iki.

AksÄrÄ Kawi Wiwitan
Prabédan antÄrÄ aksÄrÄ Kawi Wiwitan karo aksÄrÄ Pallawa iku utamané gayané.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iku kĂȘtĂ„rĂ„ yĂšn sawijinĂ­ng aksara monumĂšntal sĂ­ng kanggo nulĂ­s ing watu.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan katĂłnĂ© utamanĂ© aksĂ„rĂ„ sĂ­ng kanggo nulĂ­s ing rĂłntal lan mulanĂ© bĂȘntĂșkĂ© dadi luwih kursif.
AksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan digunakakĂ© antara taun 750 nganti 925. Prasasti-prasasti sing katulĂ­s ing aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan cacahĂ© akĂšh, kurang luwĂ­h 1/3 (sapratĂȘlĂłn) sĂ„kĂ„ kabĂšh prasasti sĂ­ng ditĂȘmĂłkakĂ© ing pulo JĂ„wĂ„.
Ing Tanah JĂ„wĂ„, aksĂ„rĂ„ iki palĂ­ng tuwĂ„ ditĂȘmĂłkakĂ© ing Prasasti Plumpungan (cĂȘdhak SĂ„lĂ„tigĂ„) sĂ­ng kurang luwĂ­h ditulĂ­s ing taĂșn 750. Prasasti iki isĂ­h ditulĂ­s ing bĂ„sĂ„ SangskrĂȘta.

AksÄrÄ Kawi Pungkasan
Kira-kira sawisĂ© taĂșn 925, pusat kakuwasan ing pulo JĂ„wĂ„ dadi pindhah ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan.
Pangalihan kakuwasan iki uga katĂłn pangaruhĂ© ing jĂȘnisĂ­ng aksĂ„rĂ„ sĂ­ng kanggo.
MĂ„ngsĂ„ aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan iki kirĂ„-kirĂ„ sĂ„kĂ„ taĂșn 925 nganti 1250. SajatinĂ© aksĂ„rĂ„ Kawi Pungkasan ora bĂ©da akĂšh ing wujudĂ© karo aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan, namĂșng gayanĂ© waĂ© sing dadi rĂ„dĂ„ sĂ©jĂ©.
Ing sisi liyĂ„, gaya aksĂ„rĂ„ sĂ­ng kanggo ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan sadurungĂ© taĂșn 925 uga wĂ­s bĂ©dĂ„ karo gaya ing Jawa TĂȘngah.
Dadi katĂłnĂ© prabĂ©dan iki ora namĂșng prabĂ©dan ing wĂȘktu waĂ© nanging uga ing papan.
Ing mÄngsÄ iki bisÄ dibédakaké papat gaya aksÄrÄ sing bédÄ-bédÄ:
1. AksĂ„rĂ„ Kawi JĂ„wĂ„ WĂ©tanan sĂ„kĂ„ taĂșn 910 - 950;
2. AksÄrÄ Kawi JÄwÄ Wétanan sÄkÄ jaman prabu Airlangga
(1019 - 1042);
3. Aksara Kawi JĂ„wĂ„ WĂ©tanan KĂȘdhiri
(kurang luwĂ­h 1100 - 1220)
4. Aksara tĂȘgak (quadrate script) isĂ­h sĂ„kĂ„ mĂ„ngsĂ„ KĂȘdhiri
(1050-1220).




silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

AksÄrÄ JÄwÄ HÄnÄcÄrÄkÄ



AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku babĂłnĂ© aksĂ„rĂ„ Brahmi sĂ­ng asalĂ© sĂ„kĂ„ HindhĂșstan.
Ing anak bawĂ„nĂ„ Indhia iku akĂšh rupa-rupanĂ­ng aksĂ„rĂ„. Salah sijinĂ­ng aksĂ„rĂ„ sĂ­ng wigati iku aksara Pallawa saka Indhia sisih kidĂșl.
AksĂ„rĂ„ iki inaranan mĂȘngkĂ©nĂ© miturĂșt jĂȘnĂȘngĂ© salah siji karatĂłn ing Indhia kidĂșl yaiku Karajan Pallawa.
AksĂ„rĂ„ Pallawa iki digunakakĂ© ing kiwa tĂȘngĂȘnĂ© abad kapĂ­ng-4 MasĂšhi.
Ing NusantÄrÄ patilasan sajarah arupÄ prasasti YupÄ saka Kutai, Kalimantan Wétan tinulis nganggo aksÄrÄ Pallawa.
AksÄrÄ Pallawa iki dadi babóné kabÚh aksÄrÄ NusantÄrÄ, antarané aksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ ugÄ aksÄrÄ Réncóng (aksara Kaganga), Surat Batak, aksara Makassar lan aksara Baybayin (aksarané saka Filipina).
Professor J.G. de Casparis, yaiku pakar palĂ©ografi utĂ„wĂ„ ahli ngĂšlmu sajarah aksĂ„rĂ„ misuwĂșr sĂ„kĂ„ WalĂ„ndĂ„ mĂ©rang sajarah tuwuhĂ­ng aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ ing limang mĂ„ngsĂ„ utĂ„mĂ„:
1. AksÄrÄ Pallawa
2. AksÄrÄ Kawi Wiwitan
3. AksÄrÄ Kawi Pungkasan
4. AksÄrÄ MÄjÄpait
5. AksÄrÄ Pasca-MajÄpÄit utawa HÄnÄcÄrÄkÄ
AksÄrÄ Pallawa iki digunakaké ing NusantÄrÄ sÄkÄ abad kapíng 4 nganti kurang luwíh abad kapíng 8.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ Kawi Wiwitan diĂȘnggo sĂ„kĂ„ abad kapĂ­ng 8 nganti abad kapĂ­ng 10 utamanĂ© ing Jawa TĂȘngah.
Aksara Kawi Pungkasan digunakaké sawisé abad kapíng 10 nganti kirÄ-kirÄ abad kapíng 13 ing JÄwÄ Wétan.
BanjĂșr aksĂ„rĂ„ MĂ„jĂ„pait iku digunakakĂ© ing JĂ„wĂ„ WĂ©tan nalikĂ„ jaman MĂ„jĂ„pait.
BanjĂșr sawisĂ© karajan MĂ„jĂ„pait binĂȘdhah, muncĂșl aksara HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ modhĂšrn sĂ­ng ugĂ„ kĂȘrĂȘp diarani aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„.
AksĂ„rĂ„ ini banjĂșr dadi kanggo ing saubĂȘngĂ­ng Tanah Jawa, Tatar SundhĂ„, MadurĂ„, lan Bali.
KabĂšh-kabĂšh aksĂ„rĂ„ iki dadi sakĂȘlĂłmpĂłk lan isĂ­h sakĂȘrabat.
NangĂ­ng sajatinĂ© ugĂ„ Ă„nĂ„ aksĂ„rĂ„ liyanĂ© ing tanah JĂ„wĂ„ sĂ­ng luwĂ­h lawas lan isĂ­h diĂȘnggo.
AksĂ„rĂ„ iki jĂȘnĂȘngĂ© dadi aksara BudĂ„.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ banjĂșr dĂ©nĂ­ng wĂłng-wĂłng Eropah digawĂškakĂ© vĂšrsi aksĂ„rĂ„ cĂ©thak ing abad kapĂ­ng 19.








silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Sejarah HÄnÄcÄrÄkÄ


AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ ( utĂ„wĂ„ ) iku sarupanĂ­ng aksĂ„rĂ„ sĂ­ng kaanggo ing Tanah JĂ„wĂ„ lan saubĂȘngĂ© kĂ„yĂ„ tĂ„ ing MadurĂ„, Bali, LĂłmbĂłk lan ugĂ„ Tatar SundhĂ„.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iku ugĂ„ diarani aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nangĂ­ng sajatinĂ© ukĂ„rĂ„ iki kurang srĂȘg amargĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ iku warnanĂ© akĂšh saliyanĂ© iku aksĂ„rĂ„ iki ora namĂșng diĂȘnggo nulĂ­s bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„ waĂ©.
AksĂ„rĂ„ iki uga diĂȘnggo nulĂ­s bĂ„sĂ„ SangskrĂȘta, bĂ„sĂ„ Arab, bĂ„sĂ„ Bali, bĂ„sĂ„ SundhĂ„, basa MadurĂ„, bĂ„sĂ„ Sasak lan ugĂ„ bĂ„sĂ„ MĂȘlayu.
NangĂ­ng ing artikĂȘl iki ukĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ lan aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ diĂȘnggo loro-loronĂ© lan yĂšn Ă„nĂ„ ukĂ„rĂ„ aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ sĂ­ng dirujĂșk iku aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„.
AksÄrÄ HÄnÄcÄrÄkÄ kagólóng aksÄrÄ jinis abugida utÄwÄ hibridha antÄrÄ aksÄrÄ silabik lan aksÄrÄ alfabÚt.
AksĂ„rĂ„ silabik iki tĂȘgĂȘsĂ© yĂšn sabĂȘn aksĂ„rĂ„ ugĂ„ nyandhang sawijinĂ­ng swĂ„rĂ„. Hanacaraka kalĂȘbu kulĂ„wargĂ„ aksĂ„rĂ„ Brahmi sĂ­ng asalĂ© sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan.
YĂšn bĂȘntĂșkĂ©, aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ Ă„nĂ„ wĂ­s kĂ„yĂ„ saiki wiwĂ­t minimal abad kapĂ­ng 17.
AksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ iki jĂȘnĂȘngĂ© dijupĂșk sĂ„kĂ„ limang aksĂ„rĂ„ wiwitanĂ©.
Étimologi lan lĂȘgĂšndha asalAksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ jĂȘnĂȘngĂ© dijupĂșk sĂ„kĂ„ urutan limang aksĂ„rĂ„ wiwĂ­tan iki sĂ­ng uninĂ© "hĂ„nĂ„ cĂ„rĂ„kĂ„".
Urutan dhasar aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nglĂȘgĂȘna iki cacahĂ© Ă„nĂ„ rĂłngpulĂșh lan nglambangakĂ© kabĂšh fonĂ©m bĂ„sĂ„ JĂ„wĂ„.
Urutan aksĂ„rĂ„ iki kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ©:

hanacaraka-gambar
hÄ nÄ cÄ rÄ kÄ
dÄ tÄ sÄ wÄ lÄ
pÄ dhÄ jÄ yÄ nyÄ
mÄ gÄ bÄ thÄ ngÄ
Urutan iki uga bisÄ diwÄcÄ dadi ukÄrÄ-ukÄrÄ:
"HĂ„nĂ„ cĂ„rĂ„kĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "ÅnĂ„ utusan"
"DĂ„tĂ„ sĂ„wĂ„lĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ garĂȘjĂȘgan"
"PĂ„dhĂ„ jĂ„yĂ„nyĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ digjayanĂ©"
"MĂ„gĂ„ bĂ„thĂ„ngĂ„" tĂȘgĂȘsĂ© "PĂ„dhĂ„ dadi bathang".
Urutan ukĂ„rĂ„ iki digawĂ© miturĂșt lĂȘgĂšndha yĂšn aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ iku diastĂ„ dĂ©nĂ­ng Aji SĂ„kĂ„ sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan mĂȘnyang Tanah JĂ„wĂ„.
BanjĂșr Aji SĂ„kĂ„ ngarang urutan aksĂ„rĂ„ kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ© kanggo mĂšngĂȘti rĂłng pĂ„nĂ„kawanĂ© sĂ­ng sĂȘtyĂ„ nganti pati: DorĂ„ lan SĂȘmbĂ„dĂ„.
LoronĂ© mati amĂȘrgĂ„ ora bisa mbĂșktĂškakĂ© dhawuhĂ© sang ratu.
MulĂ„ Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr nyiptakakĂ© aksĂ„rĂ„ HĂ„nĂ„cĂ„rĂ„kĂ„ supĂ„yĂ„ bisĂ„ kanggo nulĂ­s layang.

CaritanĂ© kĂ„yĂ„ mĂȘngkĂ©nĂ©:
KacaritĂ„ ing jaman mbiyĂšn Ă„nĂ„ wĂłng sĂ„kĂ„ Tanah HindhĂșstan anĂłm jĂȘnĂȘngĂ© Aji SĂ„kĂ„.
DhĂšwĂškĂ© putranĂ© ratu, nangĂ­ng kĂȘpĂ©ngĂ­n dadi pandhitĂ„ sĂ­ng pintĂȘr.
KasĂȘnĂȘnganĂ© mulang kawrĂșh rupĂ„-rupĂ„. DhĂšwĂškĂ© banjĂșr pĂ©ngĂ­n lunga mĂȘncarakĂ© ngĂšlmu kawruh ing Tanah JĂ„wĂ„.
BanjĂșr anuju sawijinĂ­ng dinĂ„ Aji SĂ„kĂ„ sidĂ„ mangkat mĂȘnyang Tanah JĂ„wĂ„, karo abdinĂ© papat sĂ­ng jĂȘnĂȘngĂ© DugĂ„, PrayogĂ„, DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„. BarĂȘng tĂȘkan ing Pulo MajĂȘthi pĂ„dhĂ„ lĂšrĂšn.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr nilar abdinĂ© loro; DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„ ing pĂșlo iku.
DĂ©nĂ© Aji SĂ„kĂ„ karo DugĂ„ lan PrayogĂ„ arĂȘp njajah Tanah JĂ„wĂ„ dhisĂ­k.
DorĂ„ lan SambĂ„dĂ„ diwĂȘlĂ­ng orĂ„ olĂšh lungĂ„ sĂ„kĂ„ kono. SaliyanĂ© iku abdi loro wau dipasrahi kĂȘrĂ­s pusakanĂ©, didhawuhi ngrĂȘksĂ„, ora olĂšh diĂȘlĂșngakĂ© marang sĂ„pĂ„-sĂ„pĂ„.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr tindak karo abdinĂ© loro mĂȘnyang ing Tanah JĂ„wĂ„. NjujĂșg ing nĂȘgĂ„rĂ„ MĂȘndhang Kamolan.
SĂ­ng jumĂȘnĂȘng ratu ing kono ajĂȘjulĂșk Prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar. Sang prabu iku sĂȘnĂȘnganĂ© dhahar dagingĂ© wĂłng. KawulanĂ© akĂšh sĂ­ng pĂ„dhĂ„ wĂȘdi banjĂșr pĂ„dhĂ„ ngalĂ­h mĂȘnyang nĂȘgara liya. PatihĂ© ngaran Kyai TĂȘnggĂȘr.
Kacarita Aji SĂ„kĂ„ Ă„nĂ„ ing MĂȘndhang Kamolan jumĂȘnĂȘng guru, wĂłng-wĂłng pĂ„dhĂ„ mlĂȘbu dadi siswanĂ©.
PĂ„rĂ„ siswanĂ© pĂ„dhĂ„ trĂȘsna marang Aji SĂ„kĂ„ amĂȘrga dhĂšwĂškĂ© sĂȘnĂȘng tĂȘtulĂșng.
Nalika sĂȘmana Aji SĂ„kĂ„ mĂłndhĂłk nĂšng omahĂ© nyai rĂ„ndhĂ„ SĂȘngkĂȘran dipĂšk anak karo nyai rĂ„ndhĂ„.
Kyai patíh karo nyai rÄndhÄ iyÄ wís dadi siswané Aji SÄkÄ.
Anuju sawijinĂ­ng dinĂ„ sang prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar dukĂ„ bangĂȘt ora wĂłng manĂšh sĂ­ng bisĂ„ didhahar.
Aji SĂ„kĂ„ banjĂșr sagĂșh dicaĂłsakĂ© sang nĂ„tĂ„ dadi dhaharanĂ©.
Sang nyai rĂ„ndhĂ„ lan patĂ­h dadi kagĂšt bangĂȘt.
NangĂ­ng Aji SĂ„kĂ„ cĂȘlathu yĂšn wĂłng loro iku ora usah kuwatĂ­r yĂšn dhĂšwĂškĂ© ora bakal mati.
BanjĂșr Aji SĂ„kĂ„ diatĂȘrakĂ© ngadhĂȘp prabu DĂ©wata CĂȘngkar.
Prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar yĂ„ rumĂ„ngsĂ„ Ă©man lan kĂȘrsĂ„ ngangkat Aji SĂ„kĂ„ dadi priyayi, nangĂ­ng Aji SĂ„kĂ„ ora gĂȘlĂȘm. ÅnĂ„ siji panyuwunĂ©, yĂ„iku nyuwĂșn lĂȘmah saikĂȘt jĂȘmbarĂ©. SĂ­ng ngukĂșr kudu sĂ„ng prabu dhĂ©wĂ©.
Sang prabu DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar iyĂ„ banjĂșr nglilani.
Nuli wiwĂ­t ngukĂșr lĂȘmah diastĂ„ dhĂ©wĂ©.
IkĂȘtĂ© Aji SĂ„kĂ„ dijĂšrĂšng. IkĂȘtĂ© tansah mulĂșr baĂ©, dadi Ă„mbĂ„ sĂȘrtĂ„ dĂ„wĂ„. Iya dituti waĂ© dĂ©nĂ­ng sang prabu.
Nganti nĂłtĂłg ing sĂȘgĂ„rĂ„ kidĂșl. BarĂȘng wĂ­s mĂšpĂšd ing pinggĂ­r sĂȘgĂ„rĂ„, ikĂȘtĂ© dikĂȘbĂștakĂ©.
DĂ©wĂ„tĂ„ CĂȘngkar katĂșt mlĂȘsat kĂȘcĂȘmplĂșng ing sĂȘgĂ„rĂ„.
MalĂ­h dadi bĂ„yĂ„ putĂ­h, ngratĂłni saisinĂ­ng sĂȘgĂ„rĂ„ kidĂșl.
WĂłng-wĂłng ing MĂȘndhang Kamolan pĂ„dhĂ„ bungah.
AwĂ­t ratunĂ© sĂ­ng diwĂȘdĂšni wĂ­s sĂ­rnĂ„.
SĂȘka panyuwunĂ© wĂłng akĂšh. Aji Saka nggantĂšni jumĂȘnĂȘng ratu Ă„nĂ„ ing nĂȘgĂ„rĂ„ MĂȘndhang Kamolan ajĂȘjulĂșk Prabu JĂ„kĂ„, iya prabu WidĂ„yĂ„kĂ„.
DĂ©nĂ© patihĂ© isĂ­h lĂȘstari kyai patĂ­h TĂȘnggĂȘr. Si DugĂ„ lan si PrayogĂ„ didadĂškakĂ© bupati, ngaranĂ© tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lan tumĂȘnggung PrayogĂ„.
Sang prabu JÄkÄ, iyÄ sang prabu WidÄyÄkÄ nimbali si DorÄ lan si SambadÄ.
Kacarita sang prabu WidĂ„yĂ„ka, pinuju miyĂłs siniwĂ„kĂ„. DiadhĂȘp kyai patĂ­h sartĂ„ pĂ„rĂ„ bupati. Sang prabu kĂšngĂȘtan abdinĂ© sĂ­ng didhawuhi ngrĂȘksĂ„ pusĂ„kĂ„ kĂȘrĂ­s Ă„nĂ„ ing Pulo MajĂȘthi.
Ndangu marang DudugĂ„ lan PrayogĂ„ kĂȘpriyĂ© wartanĂ© si DorĂ„ lan si SĂȘmbĂ„dĂ„. PrayogĂ„ lan DudugĂ„ ora bisa mangsuli awit wĂ­s suwĂ© ora krungu Ă„pĂ„-Ă„pĂ„.
Kacarita si DorĂ„ lan si SambĂ„dĂ„ sing kari Ă„nĂ„ ing Pulo MajĂȘthi.
WĂłng loro iku wĂ­s pĂ„dhĂ„ krungu pawĂ„rtĂ„ manĂ„wĂ„ gĂșstinĂ© wĂ­s jumĂȘnĂȘng ratu Ă„nĂ„ rĂ­ng MĂȘndhang Kamolan.
Si DorĂ„ ngajak sowan nangĂ­ng si SambĂ„dĂ„ ora gĂȘlĂȘm awĂ­t wĂȘdi nĂȘrak wĂȘwalĂȘrĂ© gĂșstinĂ©, ora parĂȘng lungĂ„-lungĂ„ sĂȘkĂ„ pulo MajĂȘthi, yĂšn ora tinimbalan.
NangĂ­ng si DorĂ„ nĂ©kad arĂȘp sowan dhĂ©wĂ©.
Si SambĂ„dĂ„ ditilapakĂ©. BanjĂșr mangkat ijĂšn waĂ©.
ÅnĂ„ ing dalan si DorĂ„ kapĂȘthĂșk karo tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lan PrayogĂ„. Utusan loro mau banjĂșr diajak bali dĂ©nĂ­ng si DorĂ„.
Awit si SambadĂ„ dijak ora gĂȘlĂȘm.
WĂłng tĂȘlu banjĂșr sowan ing ngarsanĂ© sang prabu.
Sang Prabu ndangu si SĂȘmbĂ„dĂ„ Ă„nĂ„ ing ngĂȘndi lan diwangsuli yĂšn dhĂšwĂškĂ© ora gĂȘlĂȘm diajak.
MirĂȘng aturĂ© si DorĂ„, sang prabu dukĂ„ bangĂȘt, lali dhawuhĂ© dhĂ©wĂ© mbiyĂšn.
BanjĂșr DorĂ„, didhawuhi bali mĂȘnyang pulo MajĂȘthi lan nimbali si SambĂ„dĂ„.
YĂšn mĂȘksĂ„ ora gĂȘlĂȘm didhawuhi dirampungi lan kĂȘrisĂ© dibalĂškakĂ©.
DorĂ„ sanalikĂ„ mangkat. Ing pulo MajĂȘthi kĂȘtĂȘmu karo SĂȘmbĂ„dĂ„. KĂ„ndhĂ„ yĂšn mĂȘntas sowan gĂșstinĂ©.
Saiki diutĂșs nimbali si SambĂ„dĂ„. PusĂ„kĂ„ kĂȘrĂ­s didhawuhi nggĂ„wĂ„.
NangĂ­ng si SambĂ„dĂ„ ora ngandĂȘl marang kandhanĂ© si DorĂ„. BanjĂșr pĂ„dhĂ„ padu ramĂ©.
SuwĂ©-suwĂ© pĂ„dhĂ„ kĂȘkĂȘrĂȘngan, dĂȘdrĂȘg ora Ă„nĂ„ sĂ­ng kalah, awĂ­t pĂ„dhĂ„ digdayanĂ©.
WasĂ„nĂ„ banjĂșr pĂ„dhĂ„ nganggo gaman kĂȘrĂ­s pĂ„dha gĂȘnti nyudĂșk. WĂȘkasan pĂȘrangĂ© sampyĂșh.
Si DorÄ lan si SambÄdÄ pÄdhÄ mati kabÚh.
Sang Prabu ngarĂȘp-arĂȘp tĂȘkanĂ© si DorĂ„. WĂ­s sawĂȘtĂ„rĂ„ suwĂ©nĂ© tĂȘkĂ„ durĂșng sowan-sowan mĂ„ngkĂ„ didhawuhi Ă©nggal bali.
Sang prabu nimbali tumĂȘnggĂșng DudugĂ„ lĂ„n PrĂ„yogĂ„. Didhawuhi nusul si DorĂ„ mĂȘnyang pulo MajĂȘthi.
SanalikĂ„ banjĂșr mangkat.
BarĂȘng DudugĂ„ lan PrayogĂ„ wĂ­s tĂȘkĂ„ ing pulo mau, kagĂšt bangĂȘt dĂ©nĂ© si DorĂ„ lan si SambĂ„dĂ„ kĂȘtĂȘmu wĂ­s pĂ„dhĂ„ mati kabĂšh.
TilasĂ© mĂȘntas pĂ„dhĂ„ kĂȘkĂȘrangan pĂ„dhĂ„ tatu kĂȘnĂ„ ing gaman. PusĂ„kĂ„ kĂȘrĂ­s sĂ­ng dadi rĂȘrĂȘksan gumlĂ©thak Ă„nĂ„ ing sandhingĂ©.
PusĂ„kĂ„ banjĂșr dijupuk arĂȘp diatĂșrakĂ© marang gĂșstinĂ©.
DudugĂ„ lan PrayogĂ„ banjĂșr bali sowan ing ngarsanĂ© gĂșstinĂ© lan mratĂ©lakĂ© kahananĂ©.
Sang Prabu WidĂ„yĂ„kĂ„ kagĂšt bangĂȘt mirĂȘng pawaranĂ©, awĂ­t pancĂšn kaluputanĂ© dhĂ©wĂ© wĂ­s kĂȘsupĂšn pandhawuhĂ©.
BanjĂșr sang prabu nganggĂ­t aksĂ„rĂ„ JĂ„wĂ„ nglĂȘgĂȘna kanggo mĂšngĂȘti abdinĂ© loro iku.

silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Kapercayan Katuhanan


PitudĂșh : # 1
PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngĂȘndi papan, langgĂȘng, sĂ­ng nganakakĂ© jagad iki saisinĂ©, dadi sĂȘsĂȘmbahan wĂłng saalam donyĂ„ kabĂšh, panĂȘmbahan nganggo caranĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 2PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ iku anglimput Ă„nĂ„ ing ngĂȘndi papan, anĂšng sira ugĂ„ Ă„nĂ„ PangĂ©ran (maksudĂ© : tajalinĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi). PitudĂșh : # 3PangĂ©ran iki MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„, pĂȘpĂȘsthĂšn sĂ„kĂ„ karsaning PangĂ©ran ora Ă„nĂ„ sĂ­ng bisĂ„ murĂșngakĂ©.
PitudĂșh : # 4
PangĂ©ran iku nitahakĂ© sirĂ„ lantaran bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„, mulĂ„ kudu sirĂ„ ngurmati marang bĂ„pĂ„ lan biyĂșngirĂ„.
PitudĂșh : # 5
Ing donyĂ„ iki Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„ sĂ­ng diarani bĂȘbĂȘnĂȘr, yakuwi bĂȘnĂȘr mungguhĂ­ng PangĂ©ran lan bĂȘnĂȘr sĂ„kĂ„ kang lagi kuwĂ„sĂ„.
PitudĂșh : # 6KĂȘtĂȘmu Gusti (PangĂ©ran) iku lamĂșn sira tansah Ă©lĂ­ng. PitudĂșh : # 7CĂ„krĂ„ manggilingan (urĂ­p iku ibaratĂ© rodhĂ„ kang tansah mubĂȘng). PitudĂșh : # 8ÅjĂ„ sirĂ„ wani-wani ngaku PangĂ©ran, sĂȘnadyan kawrĂșhira wĂ­s tumĂȘka "NgadĂȘg SarirĂ„ Tunggal" utĂ„wĂ„ bisa mĂȘngĂȘrtĂšni "Manunggaling KawulĂ„ Gusti".PitudĂșh : # 9ÅjĂ„ ndisiki kĂȘrsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 10
ÅjĂ„ sirĂ„ wani marang wĂłng tuwanira, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ bĂȘndhu sĂ„kĂ„ Kang MĂșrbĂšng Dumadi. WĂȘwalĂȘr : # 11ÅjĂ„ mĂșng kĂšlingan lan migatĂškakĂ© barang kang katĂłn baĂ©, sĂȘbab kang katĂłn gumĂȘlar iki ananĂ© malah ora langgĂȘng. WĂȘwalĂȘr : # 12ÅjĂ„ darbĂ© pangirĂ„ yĂšn lĂȘlĂȘmbĂșt iku mĂȘsthi alanĂ©, jalaran sĂ­ng apik iyĂ„ Ă„nĂ„, sĂ­ng Ă„lĂ„ iyĂ„ Ă„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ karo manungsĂ„. WĂȘwalĂȘr : # 13ÅjĂ„ lali sabĂȘn ari (dinĂ„) Ă©ling marang PangĂ©ranira, jalaran sĂȘjatinĂ© sirĂ„ iku tansah katunggĂłn PangĂ©ranirĂ„.









silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Kautamaning Batin




PitudĂșh : # 14
Kahanan donyĂ„ iku ora langgĂȘng, mulĂ„ Ă„jĂ„ ngĂȘgungakĂ© kasugihan lan drajadira, awĂ­t samĂ„ngsĂ„ wolak-walikĂ­ng jaman ora kisinan.
PitudĂșh : # 15
Kahanan kang Ă„nĂ„ iki ora suwĂ© mĂȘsthi ngalami owah gingsĂ­r, mulĂ„ Ă„jĂ„ lali marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂ­ng tumitah.
PitudĂșh : # 16
SĂ­ng sĂ„pĂ„ sĂȘnĂȘng ngrusak katĂȘntrĂȘmanĂ­ng liyan bakal dibĂȘndhu dĂ©ning PangĂ©ran lan diwĂȘlĂšhakĂ© dĂ©ning tumindakĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 17
WatakĂ­ng manungsĂ„ iku kĂȘpingĂ­n kuwĂ„sĂ„, nangĂ­ng PangĂ©ran iku bakal marĂ­ngakĂ© panguwĂ„sĂ„ miturĂșt kĂȘrsanĂ© PangĂ©ran pribadi.
PitudĂșh : # 18
JanmĂ„ iku tan kĂȘnĂ„ kinĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, mulĂ„ sirĂ„ Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng ngaku lan rumangsa pintĂȘr dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 19
RamĂ© ing gawĂ© sĂȘpi ing pamrih, mĂȘmayu hayunĂ­ng bawĂ„nĂ„.
PitudĂșh : # 20
ManungsĂ„ sadĂȘrmĂ„ nglakĂłni, kadyĂ„ wayang saupamanĂ©.
PitudĂșh : # 21 Mulat sarirĂ„, tansah Ă©lĂ­ng lan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 22
SabĂȘgjĂ„-bĂȘgjanĂ© kang lali, luwih bĂȘgjĂ„ kang Ă©lĂ­ng klawan waspĂ„dĂ„.
PitudĂșh : # 23
Síng sÄpÄ salah sÚlÚh, lan mélík nggéndhóng lali.
PitudĂșh : # 24
NglurĂșg tanpĂ„ bĂ„lĂ„, sugĂ­h ora nyimpĂȘn, sĂȘkti tĂ„npĂ„ maguru, lan mĂȘnang tanpĂ„ ngasĂłrakĂ©.
PitudĂșh : # 25 YĂšn sirĂ„ dibĂȘciki liyan tulisĂȘn ing watu supĂ„yĂ„ ora ilang lan tansah kĂšlingan, yĂšn sirĂ„ gawĂ© kabĂȘcikan marang liyan tulisĂȘn ing lĂȘmah, supĂ„yĂ„ Ă©nggal ilang lan ora kĂšlingan.
PitudĂșh : # 26
SĂ­ng sĂȘnĂȘng gawĂ© nĂȘlangsanĂ© liyan iku ing tĂȘmbĂ© bakal kĂȘnĂ„ piwalĂȘs sĂ„kĂ„ panggawĂ©nĂ© dhĂ©wĂ©.
PitudĂșh : # 27
LamĂșn sirĂ„ mĂșng sĂȘnĂȘng dialĂȘm baĂ©, ing tĂȘmbĂ© kĂȘtĂȘmu bab-bab kang kurang prayogĂ„.
PitudĂșh : # 28 Wani ngalah luhĂșr wĂȘkasanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 29
ÅjĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© rusakĂ­ng liyan, jalaran sirĂ„ bakal kĂȘnĂ„ siku dhĂȘndhaning Guru SĂȘjatinirĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 30
ÅjĂ„ sira nyacad piyandĂȘling liyan, jalaran durĂșng mĂȘsthi yĂšn piyandĂȘlirĂ„ iku sĂ­ng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 31
ÅjĂ„ lali marang kĂȘbĂȘcikan liyan.
WĂȘwalĂȘr : # 32 ÅjĂ„ sirĂ„ dĂȘgsurĂ„, ngaku luwĂ­h pintĂȘr tinimbang sĂ©jĂ©nĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 33
ÅjĂ„ rumangsa bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©, jalaran ing donya iki ora Ă„nĂ„ sĂ­ng bĂȘnĂȘr dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 34 ÅjĂ„ wĂȘdi kangĂšlan, jalaran urĂ­p anĂšng donyĂ„ iku pancĂšn angĂšl.
WĂȘwalĂȘr : # 35
ÅjĂ„ gawĂ© sĂȘrĂ­k atining liyan lan Ă„jĂ„ golĂšk mungsĂșh.
WĂȘwalĂȘr : # 36 ÅjĂ„ sirĂ„ mulang gĂȘthing marang liyan, jalaran iku bakal nandĂșr cĂȘcongkrahan kang ora Ă„nĂ„ uwis-uwisĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 37
ÅjĂ„ ngumbar hĂ„wĂ„ napsu lan Ă„jĂ„ mĂ©lĂ­k darbĂškĂ­ng liyan, mundhak sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ©.








 silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Laku Budi UtÄmÄ

PitudĂșh : # 38
ÅlĂ„ lan bĂȘcĂ­k iku dumunĂșng Ă„nĂ„ awakĂ© dhĂ©wĂ©, mĂ©lĂ­k nggĂ©ndhĂłng lali, ngundhĂșh wĂłhĂ­ng pakarti.
PitudĂșh : # 39
SĂ­ng sĂ„pĂ„ lali marang kabĂȘcikan liyan, iku kĂ„yĂ„ kĂ©wan.
PitudĂșh : # 40
AjinĂ­ng dhiri iku dumunĂșng Ă„nĂ„ ing lathi lan budi.
PitudĂșh : # 41
YitnĂ„ yuwĂ„nĂ„, lĂ©nĂ„ kĂȘnĂ„.
PitudĂșh : # 42 ÅlĂ„ kĂȘtĂ„rĂ„, bĂȘcĂ­k kĂȘtitĂ­k.
PitudĂșh : # 43
Klabang iku wisané ÄnÄ ing capité.
KĂ„lĂ„jĂȘngkĂ­ng wisanĂ© mĂșng Ă„nĂ„ pucĂșk buntĂșt (ĂȘntĂșp).
YĂšn ulĂ„ mung dumunĂșng Ă„nĂ„ untunĂ© ulĂ„ kang duwĂ© wisĂ„.
NangĂ­ng yĂšn durjĂ„nĂ„ wisanĂ© dumunĂșng Ă„nĂ„ ing sakujĂșr badan.
PitudĂșh : # 44 RawĂ©-rawĂ© rantas, malang-malang putĂșng.PitudĂșh : # 45 MumpĂșng ĂȘnĂłm ngudiyĂ„ laku utĂ„mĂ„.PitudĂșh : # 46 SĂ­ng prasĂ„jĂ„, pĂȘrcĂ„yĂ„ marang dhiri pribadi.PitudĂșh : # 47NgĂšlmu pari, sĂ„yĂ„ isi sĂ„yĂ„ tumungkĂșl.
PitudĂșh : # 48
Wóng mati iku bandhané ora digÄwÄ.
PitudĂșh : # 49
WĂłng iku kudu ngudi kabĂȘcikan, jalaran kabĂȘcikan iku sangunĂ­ng urĂ­p.
PitudĂșh : # 50 WĂłng kang ora gĂȘlĂȘm ngudi kabĂȘcikan iku prasasat sĂ©tan. PitudĂșh : # 51 WĂłng linuwĂ­h iku ambĂȘg wĂȘlasan lan sugĂ­h pangapurĂ„.
PitudĂșh : # 52
PĂȘrang tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ© iku pambudidĂ„yĂ„ murih bisa mĂšpĂšr hĂ„wĂ„ nĂȘpsu.
PitudĂșh : # 53
NgĂšlmu iku kĂȘlakĂłnĂ© kanthi laku, sĂȘnajan akĂšh ngĂšlmunĂ© lamĂșn ora ditangkarakĂ© lan ora digunakakĂ©, ngĂšlmu iku tanpĂ„ gunĂ„.
PitudĂșh : # 54 TurutĂȘn pituturĂ© wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 55
WĂłng kang ora wĂȘrĂșh tĂ„tĂ„krĂ„mĂ„ udĂ„nagĂ„rĂ„ (unggah-ungguh), iku pĂ„dhĂ„ karo ora bisĂ„ ngrasakakĂ© rĂ„sĂ„ nĂȘm warnĂ„ (lĂȘgi, kĂȘcĂșt, asĂ­n, pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt, lan pait).
PitudĂșh : # 56
WĂłng pintĂȘr nangĂ­ng Ă„lĂ„ tumindakĂ©, sĂȘnĂȘngĂ© karo wĂłng Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 57
WĂłng linuwĂ­h iku kudu bisĂ„ ngĂȘpĂšk ati lan ngĂȘpĂ©nakakĂ© atinĂ© liyan. YĂšn kumpĂșl karo mitrĂ„ kudu bisĂ„ ngĂȘtrapakĂ© tĂȘmbĂșng kang manĂ­s kang pĂȘdhĂȘs, sĂȘpĂȘt,bisa gawĂ© sĂȘnĂȘngĂ­ng ati. YĂšn kumpĂșl pandhitĂ„ kudu bisĂ„ ngĂłmĂłngakĂ© tĂȘmbĂșng kang bĂȘcĂ­k. YĂšn Ă„nĂ„ sangarĂȘpĂ­ng mungsĂșh kudu bisĂ„ ngatĂłnakĂ© kuwĂ„sĂ„ pangaribĂ„wĂ„ kaluwihanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 58 ÅjĂ„ panastĂšn lan Ă„jĂ„ sĂȘnĂȘng gawĂ© gĂȘndrĂ„, jalaran gawĂ© gĂȘndrĂ„ iku sipatĂ­ng dhĂȘmĂ­t.
WĂȘwalĂȘr : # 59
ÅjĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn dĂšn alĂȘm, Ă„jĂ„ sĂȘngit yĂšn dĂšn cacad.
WĂȘwalĂȘr : # 60 ÅjĂ„ lali piwulang bĂȘcĂ­k.



silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

kebangsaan


PitudĂșh : # 61
BĂ„ngsĂ„ iku minĂ„ngkĂ„ sarĂ„nĂ„ kuwatĂ­ng nagĂ„rĂ„, mula Ă„jĂ„ nglĂ­rwakakĂ© kabangsanirĂ„ pribadi supĂ„yĂ„ antĂșk kanugrahan adĂȘgĂ­ng bangsa kang "AndĂ„nĂ„ WarĂ­h"
PitudĂșh : # 62 NĂȘgĂ„rĂ„ iku ora gunĂ„ lamĂșn ora duwĂ© anggĂȘr-anggĂȘr minĂ„ngkĂ„ pikukuhĂ­ng nĂȘgĂ„rĂ„ kang adhĂȘdhasar isi kalbunĂ© mĂȘnungsĂ„ salumahĂ­ng nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi. PitudĂșh : # 63 Kang bĂȘcĂ­k iku lamĂșn ngĂȘrti ananĂ© sĂȘsantinĂ© ngabdi bĂȘbrayan agĂșng : "Ing NgarsĂ„ AsĂșng TulĂ„dhĂ„, Ing MadyĂ„ AmangĂșn KarsĂ„, TĂșt Wuri Handayani".
PitudĂșh : # 64
NĂȘgĂ„rĂ„ kita bisĂ„ tĂȘntrĂȘm lamĂșn murah sandhang klawan pangan, margĂ„ pĂ„rĂ„ kawulĂ„ pĂ„dhĂ„ sĂȘnĂȘng nyambĂșt gawĂ©, lan Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ kang darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ laksĂ„nĂ„”.
PitudĂșh : # 65
WadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłng prĂ„jĂ„ kang sĂȘnĂȘng marang kawulĂ„ alĂ­t iku dadi sĂȘnĂȘnganĂ© pĂ„rĂ„ kawulĂ„ sajronĂ­ng prĂ„jĂ„ lan bisa gawĂ© kukĂșh sartĂ„ dadi tamĂšngĂ­ng nagĂ„rĂ„.
PitudĂșh : # 66 PĂ„rĂ„ mudhĂ„ Ă„jĂ„ ngungkĂșrakĂ© ngudi kawrĂșh kang nyĂ„tĂ„ amrĂ­h bisĂ„ kinaryĂ„ kuwatĂ­ng nagĂ„rĂ„, unggulĂ­ng bĂ„ngsĂ„, lan bisĂ„ gawĂ© rahayunĂ­ng sasĂ„mĂ„.
PitudĂșh : # 67
PanguwĂ„sĂ„ pamĂłngĂ© nĂȘgĂ„rĂ„ iku kudu bisĂ„ gawĂ© tĂȘntrĂȘm pĂ„rĂ„ kawulanĂ©, amargĂ„ yĂšn ora mangkono bisĂ„ kadadĂ©yan pĂ„rĂ„ kawulĂ„ ngrĂȘbĂșt panguwasanĂ­ng nĂȘgĂ„rĂ„.
PitudĂșh : # 68 NĂȘgĂ„rĂ„ kuwat iku margĂ„ kawulanĂ© sĂȘnĂȘng uripĂ© lan disujudi dĂ©nĂ­ng liyĂ„ nĂȘgĂ„rĂ„. PitudĂșh : # 69 LamĂșn sirĂ„ dadi wadyĂ„bĂ„lĂ„ pamĂłngĂ­ng nagĂ„rĂ„, Ă„jĂ„ sirĂ„ dhĂȘmĂȘn kuwĂ„sĂ„ dhĂ©wĂ©. Jalaran yĂšn sirĂ„ wĂ­s ora kasinungan panguwĂ„sĂ„ manĂšh, ing tĂȘmbĂ© bakal ndadĂškakĂ© ora kajĂšnĂ­ng awakirĂ„ ing tĂȘngahĂ­ng bĂȘbrayan. NgĂ©lingĂ„nĂ„ yĂšn sĂȘjatinĂ© isĂ­h Ă„nĂ„ wĂłng kang bisĂ„ ngalahakĂ© sirĂ„ ing babakan Ă„pĂ„ baĂ©.
PitudĂșh : # 70
DĂ©nĂ© sĂ­ng mĂȘngku nagĂ„rĂ„ ora darbĂ© watak "BĂȘr budi bĂ„wĂ„ lĂȘksĂ„nĂ„". Iku bisĂ„ njalari wadyabĂ„lĂ„ kang dadi tĂȘtungguling prajurĂ­t nĂȘgĂ„rĂ„ kuwi ora sujĂșd manĂšh lan bisĂ„ ugĂ„ kĂȘpingĂ­n ngrĂȘbĂșt panguwasanĂ­ng nĂȘgĂ„rĂ„.
PitudĂșh : # 71
YĂšn wĂłng bĂȘcĂ­k kang kuwĂ„sĂ„, kabĂšh kang Ă„lĂ„ didandani lamĂșn kĂȘnĂ„, dĂ©nĂ© yĂšn ora kĂȘnĂ„ disingkĂ­rakĂ© mundhak nulari (cuplak andhĂȘng-andhĂȘng).
PitudĂșh : # 72
PĂȘrang iku bĂȘcĂ­k lamĂșn tujuwanĂ© nggayĂșh kamardikanĂ­ng nagĂ„rĂ„ lan bangsanĂ©, lan pĂȘrang iku Ă„lĂ„ lamĂșn kanggo njarah rayah darbĂškĂ­ng liyan.
PitudĂșh : # 73 WĂłng Ă„lĂ„ yĂšn bisa kuwĂ„sĂ„, kang Ă„lĂ„ iku diarani bĂȘcĂ­k. KĂłsĂłkbalinĂ© yĂšn wĂłng bĂȘcĂ­k kang kuwasa, kang bĂȘcĂ­k iku kang ditindakakĂ©.
PitudĂșh : # 74
Wajibíng warganíng nagÄrÄ iku kudu bisÄ rumÄngsÄ mÚlu handarbÚni, wajíb mÚlu hanggóndhÚli. Mulat sarirÄ hangrÄsÄ wani.
WĂȘwalĂȘr : # 75
ÅjĂ„ sĂȘnĂȘng yĂšn lagi darbĂ© panguwĂ„sĂ„, sĂȘrĂ­k yĂšn lagi ora darbĂ© panguwĂ„sĂ„. jalaran kuwi-kuwi Ă„nĂ„ bĂȘbĂȘndhunĂ© dhĂ©wĂ©-dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 76 ÅjĂ„ mĂșng kĂȘpingĂ­n mĂȘnangĂ© dhĂ©wĂ© kang bisĂ„ marĂškakĂ© crahĂ­ng nagĂ„rĂ„ lan bĂ„ngsĂ„, kudu sĂȘnĂȘng rĂȘrĂȘmbugan njĂ„gĂ„ katĂȘntrĂȘman lahĂ­r batĂ­n.









silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Kakaluwargaan





PitudĂșh : # 77
BĂ„pĂ„ biyĂșng iku minĂ„ngkĂ„ lantaran urĂ­p ing ngalam donyĂ„.
PitudĂșh : # 78 SĂ­ng sĂ„pĂ„ lali marang wĂłng tuwanĂ© prĂȘsasat lali marang PangĂ©ranĂ©, NgabĂȘktiyĂ„ marang wĂłng tuwĂ„.
PitudĂșh : # 79
WĂłng tuwĂ„ kang ora ngudi kabĂȘcikan sartĂ„ ora ngĂȘrti marang udĂ„nagĂ„rĂ„ (trapsilĂ„, unggah-ungguh) lan tĂ„tĂ„ krĂ„mĂ„, kuwi sĂȘjatinĂ© dudu panutanĂ© putrĂ„ wayah.
PitudĂșh : # 80 SĂ„pĂ„ sĂ­ng sĂȘnĂȘng urĂ­p tĂȘtanggan, kalĂȘbu janmĂ„ linuwĂ­h.
TĂ„nggĂ„ iku pĂȘrlu dicĂȘdaki nanging Ă„jĂ„ ditrĂȘsnani.
PitudĂșh : # 81 ParibasanĂ© tĂ„nggĂ„ iku pĂ„dhĂ„ karo bĂ„pĂ„ biyĂșng. PitudĂșh : # 82 TĂ„nggĂ„ kang ora bĂȘcĂ­k atinĂ© Ă„jĂ„ dicĂȘdhaki nangĂ­ng Ă„jĂ„ dimungsuhi. PitudĂșh : # 83 Sadumuk bathĂșk sanyari bumi ditĂłh pati.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© kasĂȘtyanĂ© marang kulĂ„wargĂ„).
PitudĂșh : # 84
Mikul dhuwĂșr mĂȘndhĂȘm jĂȘro.
(UnĂšn-unĂšn kanggo nggambarakĂ© bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwĂ„nĂ©).
PitudĂșh : # 85 Anak iku minĂ„ngkĂ„ tĂȘrusanĂ© wĂłng tuwĂ„, ora Ă„nĂ„ katrĂȘsnan kang ngluwihi katrĂȘsnanĂ© wĂłng tuwĂ„ marang anak.
PitudĂșh : # 86
TrĂȘsnĂ„ marang mantu iku pĂ„dhĂ„ baĂ© trĂȘsnĂ„ marang putrĂ„, jalaran putu iku wĂłhĂ­ng katrĂȘsnanĂ© putrĂ„ lan mantu.
PitudĂșh : # 87
SayojĂ„nĂ„ iku dĂłhĂ© sĂȘpulĂșh Ăšwu dhĂȘpĂ„.
SwĂ„rĂ„ kang krungu nganti sayojĂ„nĂ„, arumĂ­ng jĂȘnĂȘng ngambar-ambar salumahĂ­ng bumi (dialĂȘmbĂ„nĂ„).
PitudĂșh : # 88
GĂłlĂšk jodho Ă„jĂ„ mĂșng mburu Ă©ndahĂ­ng warnĂ„, sĂȘnajan ayu utĂ„wĂ„ bagĂșs.
WĂȘwalĂȘr : # 89
ÅjĂ„ ngaku wĂłng tuwĂ„ lamun wĂłng tuwamu katĂłn sugĂ­h lan dhuwĂșr drajadĂ©, jalaran pangkat lan bandhanĂ© wĂłng tuwamu iku mau bisa sirnĂ„ sadurungĂ© sirĂ„ warisi.
WĂȘwalĂȘr : # 90
ÅjĂ„ gampang nyĂȘpatani anak nganggo tĂȘmbĂșng kang ora prayogĂ„, jalaran sĂȘpatanĂ© wĂłng tuwĂ„ bisa numusi sartĂ„ bisa ngilangakĂ© rĂ„sĂ„ bĂȘktinĂ© anak marang wĂłng tuwanĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 91
ÅjĂ„ mĂšnĂšhi jĂȘnĂȘng marang anak sĂ­ng kurang pantĂȘs, jalaran jĂȘnĂȘng sĂ­ng disandhang anak bakalĂ© kagĂ„wĂ„ nganti dĂȘlahan (akhĂ©rat).








silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

kadonyan


PitudĂșh : # 92
BĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂ­k iku bĂ„ndhĂ„ kang sĂ„kĂ„ nyambĂșt karyĂ„ lan sĂ„kĂ„ pamĂȘtu sĂ©jĂ©nĂ© kang ora ngrusakakĂ© liyan.
DĂ©nĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora rĂȘsĂ­k iku bĂ„ndhĂ„ cĂłlĂłngan utĂ„wĂ„ sĂ„kĂ„ nĂȘmu
duwÚkíng liyan kang kawruhan síng duwé.
PitudĂșh : # 93
Kadonyan kang Ă„lĂ„ iku atĂȘgĂȘs mĂșng ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ golĂšk bĂ„ndhĂ„ donyĂ„ ora mikirakĂ© kiwĂ„ tĂȘngĂȘnĂ©, ugĂ„ ora mikirakĂ© kahanan batĂ­n.
PitudĂșh : # 94
GolĂšk bĂ„ndhĂ„ iku samadyĂ„ baĂ©, udinĂȘn katĂȘntrĂȘman njĂ„bĂ„ njĂȘro.
PitudĂșh : # 95 BĂ„ndhĂ„ iku ananĂ© mĂșng anĂšng donyĂ„, mula yĂšn mati ora digĂ„wĂ„.
PitudĂșh : # 96
WĂłng golĂšk kĂȘmakmuran iku ora kalĂȘbu ngoyak kadonyan.
PitudĂșh : # 97
BĂ„ndhĂ„ iku gawĂ© mĂșlyĂ„ lan ugĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„.
GawĂ© mĂșlya lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang bĂȘcĂ­k, gawĂ© cilĂ„kĂ„ lamĂșn sĂ„kĂ„ barang kang Ă„lĂ„.
PitudĂșh : # 98
WĂłng urĂ­p Ă„jĂ„ tansah kĂȘpingĂ­n bĂ„ndhĂ„ baĂ©, jalaran kasugihan iku ing samĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ bisĂ„ gawĂ© cilĂ„kĂ„.
PitudĂșh : # 99 SĂ­ng sĂ„pĂ„ tansah ngĂȘgĂșngakĂ© pangkatĂ©, wirang lamĂșn Ă„nĂ„ owahing jaman.
SĂ­ng sĂ„pĂ„ ngĂȘgĂșngakĂ© bandhanĂ©, wirang lamĂșn sĂ­rnĂ„ bandhanĂ©.
PitudĂșh : # 100
DhĂšk jaman kunĂ„ pĂȘrang iku rĂȘbutan bĂ„ndhĂ„, nĂȘgĂ„rĂ„, lan mbĂłyĂłng putri. NangĂ­ng jaman iku ilang barĂȘng wĂ­s ngĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ wanitĂ„ bĂłyĂłngan mau bisĂ„ gawĂ© ringkihĂ­ng nagĂ„rĂ„.
WĂȘwalĂȘr : # 101
BĂ„ndhĂ„ iku pĂȘrlu nangĂ­ng Ă„jĂ„ diumĂșk-umĂșkakĂ©, drajad lan pangkat iku pĂȘrlu, Ă„jĂ„ dipamĂšr pamĂšrakĂ©, jalaran bisĂ„ mlĂšsĂšdakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©.
WĂȘwalĂȘr : # 102
ÅjĂ„ mĂ©lĂ­k darbĂšking liyan, margĂ„ rĂȘbutan rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„ lan wanita iku bisĂ„ gawĂ© congkrahĂ­ng pĂ„rĂ„ sujĂ„nĂ„ lan gawĂ© nisthanĂ­ng ati.
WĂȘwalĂȘr : # 103
ÅjĂ„ sĂȘnĂȘng mamĂšrakĂ© bĂ„ndhĂ„ lan ngĂȘgĂșngakĂ© pangkat, sĂȘbab bĂ„ndhĂ„ bisĂ„ lungĂ„, drajad/pangkat bisa oncat.
WĂȘwalĂȘr : # 104 ÅjĂ„ sĂȘnĂȘng marang wĂłng kang ngujĂ„ hĂ„wĂ„ napsu margĂ„ akĂšh bandhanĂ©. Jalaran bĂ„ndhĂ„ mau bisa gawĂ© cilĂ„kĂ„ amargĂ„ durĂșng mĂȘsthi bĂ„ndhĂ„ kang rĂȘsĂ­k.








silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

memayu hayuning pribadi

PitudĂșh : # 105 Ing samubarang gawĂ© Ă„jĂ„ sĂłk wani mĂȘsthĂškakĂ©, awĂ­t akĂšh lĂȘlakĂłn kang akĂšh bangĂȘt sambĂ©kalanĂ© sĂ­ng ora bisĂ„ dinuga tumibanĂ©. JĂȘr kĂ„yĂ„ uninĂ© pĂȘpĂšngĂȘt, "MĂȘnĂ„wĂ„ manungsĂ„ iku pancĂšn wajĂ­b ihtiyar, nangĂ­ng pĂȘpĂȘsthĂšnĂ© dumunĂșng ing astanĂ© PangĂ©ran Kang MĂ„hĂ„ Wikan".
MulĂ„ ora samĂȘsthinĂ© yĂšn manungsĂ„ iku nyumurupi bab-bab sĂ­ng durĂșng kĂȘlakĂłn. SaupĂ„mĂ„ nyumurupĂ„, prayogĂ„ Ă„jĂ„ diblakakakĂ© wĂłng liyĂ„, awĂ­t tĂȘmahanĂ© mĂșng bakal murihakĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 106
Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbĂșh karo uninĂ© bĂȘbasan : "Sabar iku kuncinĂ­ng swargĂ„", atĂȘgĂȘs marganĂ­ng kamulyan.
Sabar, lirĂ© mĂłmĂłt kuwat nandhang sakĂšhĂ­ng cobĂ„ lan pandadaranĂ­ng ngaurĂ­p, nangĂ­ng ora atĂȘgĂȘs gampang pĂȘpĂȘs kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
SuwalikĂ© malah kĂȘbak pĂȘngarĂȘp-arĂȘp lan kuwĂ„wĂ„ nampani Ă„pĂ„ baĂ© kang gumĂȘlar ing salumahĂ© jagad iki.
PitudĂșh : # 107
Kahanan donya iki ora langgĂȘng, tansah owah gingsĂ­r.
YĂšn sirĂ„ kĂȘbĂȘnĂȘran katunggĂłnan bĂ„ndhĂ„ lan kasinungan pangkat, Ă„jĂ„ banjĂșr rumangsa "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn", tansah ngĂȘndĂȘlakĂ© panguwasanĂ© tumindak dĂȘgsurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„.
Élinga yĂšn bĂ„ndhĂ„ iku gampang ilang (sĂ­rnĂ„).
Pangkat sawayah-wayah bisa oncat.
PitudĂșh : # 108
SaibĂ„ bĂȘcikĂ© samangsĂ„ wĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan nampĂ„ kabungahan iku tansah Ă©lĂ­ng gĂȘdhĂ© ngucap syukĂșr marang Kang PĂȘparĂ­ng. AwĂ­t Ă©linga yĂšn tumindak kĂ„yĂ„ mangkono mau kĂȘjĂ„bĂ„ bisĂ„ ngilangi watak jubriyĂ„ uga mlĂȘtikakĂ© rĂ„sĂ„ rumĂ„ngsĂ„ yĂšn wĂłng dilairakĂ© marang sapĂ„dhĂ„-padhanĂ© titah, mbĂȘngkas kasangsaran, munggahĂ© ngrĂȘksĂ„ hayunĂ­ng jagad.
PitudĂșh : # 109
ÅjĂ„ sĂłk ngĂȘndĂȘl-ĂȘndĂȘlakĂ© samubarang kaluwihanmu, Ă„pĂ„ manĂšh mamĂšrakĂ© kasugihan lan kapintĂȘranmu.
YĂšn anggĂłnmu ngĂłngasakĂ© dhiri mau mĂșng winatĂȘs ing lathi tanpĂ„ bĂșkti, dhĂłngĂ© pakarti kĂ„yĂ„ mangkono iku ngĂȘngĂłn awakmu dadi ora aji.
LuwĂ­h prayogĂ„ turutĂȘn pralampitanĂ© tanduran pari.
Pari kang mĂȘntĂȘs mĂȘsthi tumĂȘlĂșng, kang ndongak mracihnani yĂšn kĂłthĂłng tanpĂ„ isi.
PitudĂșh : # 110
"RumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ duwĂ©" lan "SarwĂ„ duwĂ© rumĂ„ngsĂ„", iku yĂšn ditulĂ­s gĂȘnah mĂșng diwolak-walĂ­k baĂ©, nangĂ­ng surasanĂ© jĂȘbĂșl kĂ„yĂ„ bumi karo langit.
SĂ­ng kapisan nudĂșhakĂ© watak ngĂȘdĂ­r-ĂȘdĂ­rakĂ©, wĂȘngĂ­s satindak lakunĂ© (polahĂ©), yĂšn nggayĂșh pĂȘpĂ©nginan ora maĂšlu laku dudu, samubarang pakarti nisthĂ„ ditrajang wani.
DĂ©nĂ© sĂ­ng kapindho pakartinĂ© tansah kĂȘbak wĂȘlas asĂ­h, wicaksĂ„nĂ„ ing sabĂȘn laku, rumĂ„ngsĂ„ dosĂ„ samĂ„ngsĂ„ gawĂ© kapitunanĂ© liyan.
PitudĂșh : # 111
Nadyan wĂȘsi iku kanyatanĂ© atĂłs, Ă©wa sĂȘmono yĂšn wĂ­s kĂȘtrajang ing taiyĂšng yĂ„ bakal ĂȘntĂšk gripĂ­s.
SĂȘmono ugĂ„ tumrapĂ­ng wĂłng kang kataman rĂ„sĂ„ mĂšri, atinĂ© mbĂ„kĂ„ sĂȘthithĂ­k ugĂ„ bakal gripĂ­s, awĂ­t rumangsa yĂšn awakĂ© tansah apĂȘs, saĂ©nggĂ„ kĂ©langan grĂȘgĂȘt lan lumĂșh makaryĂ„.
WusananĂ© pĂȘpĂȘs atinĂ© kĂȘntĂškan pĂȘngarĂȘp-arĂȘp.
PitudĂșh : # 112
YĂšn sirĂ„ sacĂ„rĂ„ badaniyah lan rohaniyah tĂȘtĂȘp kĂȘpingĂ­n bagas kuwarasan, tansah Ă©lingĂ„ rĂłng prakĂ„rĂ„ iki :
1. Tansah jaganĂȘn sakĂšhĂ­ng samubarang kang nĂȘdyĂ„ sirĂ„ lĂȘbĂłkakĂ© ing
tutĂșk, dithinthĂ­ng luwĂ­h dhisĂ­k Ă„pĂ„ bakal gawĂ© rusakĂ­ng rĂ„gĂ„ Ă„pĂ„ ora.
2. KulinaknĂ„ mikĂ­r luwih dhisĂ­k samubarang kang arĂȘp sirĂ„ wĂȘtĂłkakĂ©
sĂ„kĂ„ tutĂșk.
LirĂ© pikirĂȘn luwĂ­h dhisĂ­k klawan matĂȘng Ă„pĂ„ kang bakal sirĂ„
wĂȘtĂłkakĂ© iku ora malah gawĂ© kucĂȘmĂ­ng awakmu dhĂ©wĂ©, nglarani
atiníng liyan ÄpÄ ora.
DĂ©nĂ© yĂšn ora Ă„nĂ„ paĂ©dahĂ© luwĂ­h bĂȘcĂ­k Ă„jĂ„ kĂłk kojah amrĂ­h ora
nandhang piduwĂșng.PitudĂșh : # 113
DigĂȘndhĂłngĂ„nĂ„ dikuncĂšnĂ„nĂ„ kĂ„yĂ„ ngĂ„pĂ„, nangĂ­ng wĂłng iku yĂšn wĂ­s tinakdĂ­r tĂȘkan janjinĂ© utĂ„wĂ„ ajalĂ©, mĂ„ngsĂ„ bakal wurungĂ„.
Iki manÚh pélíng kita, yÚn kita manungsÄ mono ing atasé badan lan umuré dhéwé ora kuwÄsÄ.
ÅpĂ„ manĂšh sĂ­ng mĂșng wujĂșd barang sampiran kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© drajad sĂȘmat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan, lan kalungguhan.
Mula sÄkÄ iku ÄjÄ kibír, jubriya lan ÄjÄ sók dumÚh.
AwĂ­t isĂ­h Ă„nĂ„ panguwĂ„sĂ„ liyĂ„ (GĂșsti Allah) kang luwĂ­h kuwĂ„sĂ„.
PitudĂșh : # 114
NgombĂ© lan mĂȘmangan yĂšn tanpĂ„ takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂ­h-pilĂ­h iku pancĂšn bisĂ„ nĂȘkakakĂ© bilahi.
Mula nyandhĂȘt ubalĂ­ng kĂȘpinginan ngombĂ© lan mĂȘmangan kang kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau wĂ­s atĂȘgĂȘs sawijinĂ­ng pamarsudi nyĂȘgah karusakanĂ­ng jiwĂ„ lan rĂ„gĂ„.
WĂłndĂ©nĂ© srananĂ© kang prayogĂ„ yaiku pĂ„sĂ„ sĂ­ng mĂȘngku ancas pupĂșr sadurungĂ© bĂȘnjĂșt nyingkiri sadurungĂ© bilahi.
PitudĂșh : # 115
Kamulyan lan kanikmataning uríp wóng-wóng kang sugíh dituku mÄwÄ tangising rakyat kang mlarat.
PitudĂșh : # 116
Kang kinaran janmĂ„ kang wĂ­s kadunĂșngan cĂ­ptĂ„ kang wĂȘnĂ­ng iku, yĂ„iku sĂ„pĂ„ kang wĂ­s tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘn mantĂȘp pangidhĂȘpĂ© marang GĂșsti Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
WĂłng kang kĂ„yĂ„ mangkono mau samĂ„ngsĂ„ nindakakĂ© pakarti Ă„pĂ„ tĂ„ Ă„pĂ„ tansah linambaran ati kang sarwĂ„ tĂȘpa tulĂșs, kabĂšh-kabĂšh amĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
Ora cilĂ­k ati, gĂȘdhĂ©nĂ© ngrĂ„sĂ„ owĂšt ing kalanĂ© wĂłhĂ­ng panggawĂ©nĂ© mitunani awakĂ© dhĂ©wĂ©, nangĂ­ng bisĂ„ gawĂ© raharjanĂ© sĂȘsamanĂ­ng dumadi.
KĂłsĂłkbalinĂ© wĂłng kang nindakakĂ© pangibadah nangĂ­ng isih ndarbĂšni pĂȘpinginan supĂ„yĂ„ diwĂȘruhana lan digawĂłkana dĂ©nĂ­ng Allah, iku pratĂ„ndhĂ„ yĂšn pangidhĂȘpĂ© lan pangibadahĂ© durĂșng akarĂ„nĂ„ Allah.
PitudĂșh : # 117
PambudidayanirĂ„ manĂȘmbah marang PangĂ©ran iku prayoganĂ© Ă„jĂ„ sirĂ„ anggo sarĂ„nĂ„ ngalab tumurunĂ­ng pĂȘparingĂ©, nangĂ­ng mligiya nindakakĂ© panĂȘmbah mĂșng sĂ„kĂ„ niyat manĂȘmbah.
AwĂ­t wĂłng kang nyĂȘnyadhĂłng sihĂ­ng PangĂ©ran sarĂ„nĂ„ laku panĂȘmbah kathĂ­k banjĂșr nyĂ„tĂ„ kalĂȘksanan panyuwunĂ©, ing adat wĂłng mau banjĂșr dadi kĂȘthĂșl kawaspadanĂ© marang kaluhuran lan kĂȘagunganĂ© Kang MĂșrbĂšng Dumadi.
Aran isĂ­h bĂȘgjĂ„ yĂšn ora banjĂșr dadi wĂłng jubriyĂ„ sĂȘnĂȘng nyĂȘpĂšlĂškakĂ© marang sĂȘsamanĂ­ng dumadi.
PitudĂșh : # 118
ÅnĂ„ sawĂšnĂšhĂ­ng wĂłng kang duwĂ© pĂȘnganggap mĂȘnawa nyĂȘnyuwĂșn sihĂ­ng Allah iku ora Ă„nĂ„ gawĂ©nĂ©.
AwĂ­t GĂșsti Allah iku adĂ­l lan MĂ„hĂ„ Wuninga saĂ©nggĂ„ ora bakal pĂȘparĂ­ng marang wĂłng kang ora pantĂȘs nampa ganjaran, nangĂ­ng wĂłng mau sajak lali yĂšn GĂșsti Allah mono Maha WĂȘlas lan Maha AsĂ­h.
UgĂ„ ana sawĂšnĂšhĂ­ng wĂłng kang ora prĂȘcĂ„yĂ„ marang ananĂ© GĂșsti Allah, prĂȘsasat ugĂ„ ora prĂȘcaya marang ananĂ© dhĂ©wĂ©, dĂ©nĂ© nganti awakĂ© lair Ă„nĂ„ ing donya.
NangĂ­ng yĂšn wĂłng mau nandhang rĂȘribĂȘd lan nalarĂ© wĂ­s pantĂłg, adatĂ© tuwĂșh osikĂ­ng atinĂ© yĂšn PangĂ©ran iku Ă„nĂ„ malah banjĂșr disĂȘsuwuni.
PitudĂșh : # 119
WĂłng kang kulina ngĂ©nĂ­ngakĂ© cĂ­ptanĂ© kang rĂȘsĂ­k ing wayah Ă©sĂșk, lawas-lawas banjĂșr bisĂ„ ngĂȘningakĂ© cĂ­ptanĂ© ing wayah bĂȘngi ugĂ„, lan sangsĂ„yĂ„ lawas manĂšh bisa ngĂȘningakĂ© cĂ­ptĂ„ ing wayah Ă„pĂ„ baĂ© lan ing ngĂȘndiya baĂ©.
NangĂ­ng sabarang pratingkah iku bisĂ„ dadi pakulinan manĂ„wĂ„ katindakakĂ© kanthi ajĂȘg, sarĂ„nĂ„ panglantĂ­h kang tumĂȘmĂȘn lan ora bosĂȘn.
Klawan mangkono sabarang kang maunĂ© rinĂ„sĂ„ rĂȘkĂ„sĂ„ lan abĂłt, bakal sĂ­rnĂ„.
Mangkono ugĂ„ Ă„nĂ„ bĂ©danĂ© yĂšn kita kĂȘpingĂ­n nanĂȘm wiji kautaman, iya kudu kita gladhi tanpĂ„ bosĂȘn.
PitudĂșh : # 120
YĂšn pinuju wayah bĂȘngi langitĂ© tĂȘrang banjĂșr tumĂȘngÄÄ ing tawang, kita bakal nyipati sapĂ©ranganĂ© gĂȘlarĂ­ng alam, abyĂłrĂ­ng langĂ­t kang sumilak sinĂȘbaran lintang-lintang patĂ­ng krĂȘlip, gĂȘdhĂ© cilĂ­k kĂ„yĂ„ wĂ­s sĂȘngadi tinĂ„tĂ„ panggĂłnanĂ©, angin sumilĂ­r ngobahakĂ© kĂȘkayĂłnan lan gĂȘgĂłdhĂłngan kang ngandhĂșt arumĂ­ng gandanĂ© kĂȘkĂȘmbangan.
SĂ­ng kĂ„yĂ„ mangkono sayĂȘkti bisa nuwĂșhakĂ© rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tĂȘntrĂȘm ing ati kitĂ„.
NangĂ­ng luwĂ­h sĂ„kĂ„ iku, Ă„pĂ„ sĂ­ng kĂ„yĂ„ mangkono mau ora ngosikakĂ© kita tumrap kaluhuranĂ­ng Kang MĂ„hĂ„ AgĂșng kang wĂșs mranĂ„tĂ„ sakabĂšhĂ­ng mau ?
PitudĂșh : # 121
TumrapĂ­ng wĂłng mĂșrsĂ­d yĂšn pinuju kambah ing prihatin, nolah-nolĂšh ngiwĂ„ nĂȘngĂȘn wĂ­s ora Ă„nĂ„ pitulungan manĂšh kang bisĂ„ diarĂȘp-arĂȘp tĂȘkanĂ©.
ParandĂ©nĂ© ora bakal kĂłncadan ing pangarĂȘp-arĂȘp. AwĂ­t wĂ­s mangĂȘrti mĂȘnĂ„wĂ„ tambanĂ© prihatĂ­n kang ampĂșh iku ora liyĂ„ kĂȘjĂ„bĂ„ : sabar. Sabar lan tawakal nyĂȘnyuwĂșn kanthi tĂȘmĂȘn-tĂȘmĂȘnĂ­ng ati marang kamurahanĂ­ng Kang MĂ„hĂ„ KuwĂ„sĂ„ kang ngrĂȘgĂȘm sakabĂšhĂ­ng mobah-mosikĂ­ng jagad saisinĂ©.
PitudĂșh : # 122
Ala-alanĂ­ng kĂȘlakuwanĂ© wĂłng ora kĂ„yĂ„ kang sinĂșng watak "SĂ„pĂ„ sirĂ„ sĂ„pĂ„ ingsĂșn". MargĂ„ sĂšndhĂšnan kaluwihanĂ©, ĂȘmbĂșh kĂȘkuwasaanĂ©, ĂȘmbĂșh karĂłsan, sĂȘnĂȘng tumindak sawĂȘnang-wĂȘnang marang kalahanĂ© kang wĂ­s titĂ„ ora bakal kumawani mancahi gĂȘdhĂ©nĂ© nganti wani mbandakalani kĂȘkarĂȘpanĂ©.
WĂłng kang nduwĂšni sĂȘsipatan kĂ„yĂ„ mangkono mau prayogĂ„ Ă©nggal ngĂ©linganĂ„ mĂȘnĂ„wĂ„ laku jantranĂ­ng jagad mono wĂ­s kinodrat cĂ„krĂ„ manggilingan; sĂ­ng wingi Ă„nĂ„ ngisĂłr dĂ©nĂ© sĂ©sĂșk gilĂ­r gumanti bakal ngĂȘrĂšhakĂ©.
PitudĂșh : # 123
SabĂȘn dinĂ„ kitĂ„ ajĂȘg rĂȘrĂȘsĂ­k badan lan pĂȘnganggo, kajĂ„bĂ„ amrĂ­h bagas kuwarasan ugĂ„ katĂłn apĂ­k lan ngrĂȘsĂȘpakĂ©.
Iki pakulinan kang apĂ­k. nangĂ­ng luwĂ­h prayoga manĂšh yĂšn jronĂ­ng ati banjĂșr katuwuhan osĂ­k : Ă„pĂ„ sabĂȘn dinĂ„ kita ugĂ„ rĂȘrĂȘsĂ­k lan ngupakara batĂ­n lan jiwĂ„ kita amrĂ­h sangsĂ„yĂ„ apĂ­k lan sangsĂ„yĂ„ rĂȘsĂ­k sĂ„kĂ„ sakĂšhĂ­ng rĂȘrĂȘgĂȘd sĂ„kĂ„ ananĂ© cacad-cacad lan panggodhĂ„.
SĂȘbab yĂšn badan wadhag kang kĂȘnĂ„ ing rusak iku kita gĂȘmatĂ©ni, gĂ©nĂ©yĂ„ jiwĂ„ kitĂ„ kang asipat langgĂȘng malah kita lĂ­rwakakĂ© pangupakaranĂ© ?
PitudĂșh : # 124
SumĂ©ndhĂ© ing takdir iku dudu sipatĂ© wĂłng kang sĂȘnĂȘng ulah luhurĂ­ng kĂȘbatinan, nangĂ­ng dadi watakĂ© wĂłng kang lumĂșh tumandang gawĂ© lan cupĂȘt nalarĂ©.
LuhurĂ­ng kĂȘbatinan kudu tansah jumbĂșh lan laras karo ajunĂ­ng kawrĂșh lair.
LirĂ©, kĂȘbatinan kang luhĂșr iyĂ„ kudu bisĂ„ ngujudi pakarti kang luhĂșr ugĂ„, kang bisĂ„ njunjĂșng lan mulyakakĂ© drajadĂ­ng nusĂ„ lan bangsanĂ©.
PitudĂșh : # 125
SĂ„kĂ„ kayungyĂșnĂ­ng manungsĂ„ marang bĂ„ndhĂ„, sĂȘmat lan drajad anggĂłnĂ© migunakakĂ© nganti kĂȘrĂȘp nglĂ­rwakakĂ© kautaman, nglalĂškakĂ© jĂȘjĂȘrĂ­ng kamangnungsan.
UripĂ© prasasat kaĂȘsĂłk kabĂšh Ă„nĂ„ ing kono. Ora ngĂ©lingi kĂȘpriyĂ© wusananĂ­ng dumadi.
Ing jagad pancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr wĂłng nglumpĂșkakĂ© bĂ„ndhĂ„ rĂ„jĂ„brĂ„nĂ„, janji pikolĂšhĂ© manĂșt dalan kang bĂȘnĂȘr lan dipigunakakĂ© minĂ„ngkĂ„ prabĂłt prĂȘnatanĂ­ng jagad.
PitudĂșh : # 126
UrĂ­p tanpĂ„ gĂȘgayuhan luhĂșr, bĂȘbasanĂ© kĂ„yĂ„ lĂȘlawuhan tanpĂ„ uyah, sĂȘpĂ„ tan mirĂ„sĂ„.
GĂȘgayuhan bisanĂ© kasĂȘmbadan kudu sinartan ngĂšlmu, jalaran ngĂšlmu mono pancĂšn sangunĂ© ngaurĂ­p, wĂłndĂ©nĂ© ngĂšlmu iku tinĂȘmu ing laku lan tandang.
SakĂšhĂ­ng tandang ora bĂȘcĂ­k kĂȘlakĂłnĂ© yĂšn ora mapan.
Liré, bisowÄ tansah ngélingi marang jantraníng kahanan.
WĂłng kang tandang tandĂșkĂ© mapan, angĂšl kĂȘpĂšpĂštĂ©, jalaran yĂšn mapan mĂȘsthi cĂȘpak waspadanĂ©.
DĂ©nĂ© waspĂ„dĂ„ mono sirikanĂ© mĂ„lĂ„ lan adĂłh sĂ„kĂ„ bĂȘbĂȘndhu.
PitudĂșh : # 127
SakabĂšhĂ­ng tumindak iku panimbangĂ© manĂșt kawusananĂ©.
Mula murĂ­h bisanĂ© sampĂșrna, sabarang kang bakal dilakĂłni lan ditindakakĂ© iku luwĂ­h dhisĂ­k thinthingĂ„nĂ„ lan pilah-pilahna Ă„lĂ„ bĂȘcikĂ© kanthi wĂȘningĂ© nalar/pikĂ­r.
YĂšn wĂ­s, tumindakĂ© kanthi dugĂ„ lan prayogĂ„, sartĂ„ mĂ„wĂ„ tĂȘpĂ„ tulĂ„dhĂ„.
LirĂ©, sabarang patrap mau upamaknĂ„ tumrap awakĂ© dhĂ©wĂ©, ilangnĂ„ pangirĂ„-irĂ„ tumrap awakĂ© liyan kang durĂșng disumurupi.
ÉlingĂ„, sĂ„pĂ„ kang arĂȘp mbĂȘcĂ­kakĂ© alam donya iku, kudu mbĂȘcĂ­kakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ© luwĂ­h dhisĂ­k.
PitudĂșh : # 128
Ciri-cirinĂ© jiwa kang isih kĂłthĂłng mono bisĂ„ dititĂ­k sĂ„kĂ„ ulat praupan, tutĂșr wicara, lan tingkah lakunĂ© kang ora natĂ© gĂȘlĂȘm kalah.
Sabarang tindak-tandĂșkĂ© kĂȘpingĂ­n unggĂșl lan mamĂšrakĂ© kaluwihanĂ©, ora anggĂšr kaluwihan bisĂ„ kanggo ngadhĂȘpi bĂȘbĂ„yĂ„ lan ngĂȘntas sĂ„kĂ„ papan cintrĂ„kĂ„.
Kaluwihan kang tanpĂ„ dilandhĂȘsi kautaman, kĂȘnĂ„ diumpamakakĂ© kayadĂ©nĂ© wĂȘdhak pupĂșr sĂ­ng nĂšmpĂšl ing njaban kulĂ­t baĂ©, ora bisĂ„ tahan suwĂ© lan gampang luntĂșr margĂ„ sĂ„kĂ„ pakartinĂ© dhĂ©wĂ©, awĂ­t nĂȘrak dhasar-dhasar bĂȘbĂȘnĂȘr lan kasucian.
PitudĂșh : # 129
SabĂȘn tumindak sĂȘjangkah ngilowĂ„ marang kinclĂłng-kinclĂłngĂ© banyu samudrĂ„ sĂ­ng suthĂ­k kanggĂłnan sangkrah, jalaran sakĂšhĂ© uwĂșh mĂȘsthi disingkĂ­rakĂ© minggĂ­r.
SabĂȘn makaryĂ„ sapĂȘcak, tuladhanĂȘn pakartinĂ© banyu tritisan, nadyan tumĂštĂšs mbĂ„kĂ„ satĂštĂšs, ditindakakĂ© kanthi ajĂȘg kĂȘcĂłnggah mbĂłlĂłngakĂ© watu sĂ­ng atĂłsĂ© ngluwihi wĂ„jĂ„.
PitudĂșh : # 130
SĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© mungsĂșh-mungsĂșhĂ©, dhĂšwĂškĂ© diarani kuwat.
AnangĂ­ng sĂ„pĂ„ kang bisa nĂȘlukakĂ© awakĂ© dhĂ©wĂ©, iya dhĂšwĂškĂ© iku kang luwĂ­h kuwat manĂšh.
PitudĂșh : # 131
SamĂ„ngsĂ„ lagi ngadhĂȘpi urĂ­p rĂȘkĂ„sĂ„ prayoganĂ© adhĂȘpana klawan ĂšsĂȘm gumuyu.
AwĂ­t iku wus wujĂșd sĂȘnjĂ„tĂ„ kang bisa gawĂ© ĂšnthĂšngĂ­ng sanggan lan bakal numusi mulurĂ­ng pikĂ­r.
Nanging yĂšn pĂȘnandhangmu mau tansah kĂłk adhĂȘpi kanthi ulat kang suntrĂșt adhakanĂ© kowĂ© bakal kĂȘntĂškan pikĂ­r kang wĂȘnĂ­ng, wusananĂ© dadi nĂ©kat nuruti pokal kang nĂȘrak bĂȘbĂȘnĂȘr.
PitudĂșh : # 132
SĂ„pĂ„ kang nganggĂȘp Ă„pĂ„ baĂ© gampang, mĂȘsthi bakal nĂȘmu akĂ©h rubĂ©dĂ„.
SĂ„pĂ„ kang gampang janji, iya kuwi kang arang nĂȘtĂȘpi.
PitudĂșh : # 133
UrĂ­p tĂȘgĂȘsĂ© mbudidĂ„yĂ„ ngĂȘtĂłg tĂȘnĂ„gĂ„ (bĂȘrjuwang).
UrĂ­p nĂ­kmat tanpĂ„ angĂ­n prahĂ„rĂ„ pĂ„dhĂ„ karo sĂȘgĂ„rĂ„ kang mati.
Aku luwĂ­h sĂȘnĂȘng ditĂȘndhang, dilawan dĂ©nĂ­ng nasĂ­b, tinimbang diugĂșng.
PitudĂșh : # 134
Laku jujĂșr kuwi pĂ„dhĂ„ karo dhuwit kang bisĂ„ laku ing ngĂȘndi baĂ©.
PitudĂșh : # 135
Kang bĂȘcĂ­k lan Ă„lĂ„, kabĂšh mĂȘsthi nĂ„mpĂ„ pikolĂšh, sĂȘnajantĂ„ kadhang-kadhang nampanĂ© cĂȘpĂȘt, kadhang-kadhang alĂłn.
PitudĂșh : # 136
WĂłng kang kinaranan bĂȘrbudi iku, yĂ„kuwi wĂłng sĂ­ng rumĂ„ngsĂ„ tambah kasĂ­ksa yĂšn nyumurupi sapĂȘpadhanĂ© nandhang pĂ„pĂ„ lan kasangsaran.
RuntĂșhĂ© rĂ„sĂ„ wĂȘlasĂ© adatĂ© banjĂșr sinusĂșl sarĂ„nĂ„ cucĂșlĂ© prabĂ©yĂ„ lan barang darbĂškĂ©.
Nangíng pancÚn angÚl gólÚk-gólÚkané wóng síng kÄyÄ mangkono iku.
BuktinĂ© ora sĂȘthithĂ­k wĂłng sĂ­ng mati mĂȘrgĂ„ kĂȘwarĂȘgĂȘn, apamanĂšh wĂłng sĂ­ng mati amargĂ„ kalirĂȘn.

PitudĂșh : # 137
ManungsĂ„ kuwi dadinĂ© bĂȘcĂ­k miwiti sĂ„kĂ„ njĂȘro mĂȘnjĂ„bĂ„.
PitudĂșh : # 138
Kang waspĂ„dĂ„ marang awakmu dhĂ©wĂ© jalaran iyĂ„ awakmu dhĂ©wĂ© kuwi kang mujĂșdakĂ© mungsĂșhmu kang palĂ­ng gĂȘdhĂ©.
PitudĂșh : # 139
ManungsĂ„ kang mĂșng ngĂ©lingi marang pakartinĂ© pancadriyanĂ© mono bakal tansah kasinungan rĂ„sĂ„ dhĂȘmĂȘn utĂ„wĂ„ sĂȘngsĂȘm.
SĂ„kĂ„ RĂ„sĂ„ DhĂȘmĂȘn banjĂșr kathukĂșlan rĂ„sĂ„ mĂ©lĂ­k, sĂ„kĂ„ rĂ„sĂ„ mĂ©lĂ­k munggah dadi nafsu, sĂ„kĂ„ nafsu banjĂșr nasar pakartinĂ© lan sĂ­rnĂ„ bĂȘbudĂšnĂ© sĂ­ng wĂȘkasanĂ© tumiba ing pĂ„pĂ„, nandhang kasangsaran.
PitudĂșh : # 140
WĂłng juwĂšh, kawruhĂ© tumĂšmpĂšl ing lambĂ©, kumrĂȘcĂȘk ngĂȘbaki ing pasamuwan, katĂșt samirĂ„nĂ„ mrĂ„nĂ„-mrĂ©nĂ©.
BĂ©dĂ„ karo wĂłng mĂȘnĂȘng, kawruhĂ© sumimpĂȘn Ă„nĂ„ ing ati wĂȘnĂ­ng.
WĂȘtunĂ© ora sarĂ„nĂ„ lambĂ©, nangĂ­ng katampanan ing pucukĂ­ng pĂšn, mili ambĂšr ing kĂȘrtas putĂ­h, rinasakakĂ© ing wĂłng sajagad.
PitudĂșh : # 141
AmrĂ­h urĂ­p kita tansah nĂȘmĂłni rahayu, Ă„jĂ„ kĂȘndhat nggĂȘgulang nandĂșr cĂ­ptĂ„ utĂ„mĂ„ sajronĂ­ng ati sanubari kita sinartan panyuwunan kang manthĂȘng marang GĂșsti Kang MĂ„hĂ„ WĂȘlas lan MĂ„hĂ„ AsĂ­h, mugĂ„ pinaringan nugrĂ„hĂ„ bisĂ„ ndarbĂšni ati kang wĂȘnĂ­ng lan jiwĂ„ kang utĂ„mĂ„.
PancĂšn ora gampang wĂłng ngudi bisanĂ© kasinungan cĂ­ptĂ„ utĂ„mĂ„ ngĂ©lingi mĂȘnĂ„wĂ„ manungsĂ„ mono mulĂ„ wĂ­s kĂȘsĂȘrĂȘnan sipat apĂȘs lan lali.
SĂłk ngonowĂ„ yĂšn tĂ„ sawisĂ© nandhang apĂȘs lan lali banjĂșr gumrĂ©gah manĂšh pangudinĂ© Ă„pĂ„ dĂ©nĂ© ora kĂȘndhat ing panglantihĂ© mantĂȘpĂ„ ing kĂȘyakinan yĂšn GĂșsti Allah ora bakal ora ngudanĂȘni panyuwĂșn kitĂ„.
PitudĂșh : # 142
KawrĂșh lan "Ilmu pĂȘngĂȘtahuan" iku mĂșng bisĂ„ digayĂșh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo Ă„pĂ„ kang diwulangakĂ©.
LirĂ©, ajaran tĂ©orinĂ© kudu bisĂ„ dicakakĂ© lan ditrapkakĂ© kanggo karahayĂłnĂ­ng bĂȘbrayan. WĂłndĂ©nĂ© lakunĂ© mono kudu sinartan tĂ©kad kang gilĂ­g lan kĂȘkarĂȘpan kang tulĂșs lan mantĂȘp kinanthĂšnan katĂȘguhanĂ­ng iman, kanggo ngadhĂȘpi sakĂšhĂ­ng panggodhĂ„ sartĂ„ nyingkiri sikĂȘp laku kang sarwĂ„ dudu.
PitudĂșh : # 143 Banyu iku bisanĂ­ng bĂȘnĂ­ng yĂšn wĂ­s mĂȘnĂȘp. Sanadyan maunĂ© buthĂȘk, nangĂ­ng yĂšn wĂ­s mĂȘnĂȘp, iyĂ„ banjĂșr bĂȘnĂ­ng.
SĂȘmono ugĂ„ tumrap pĂȘpinginan utĂ„wĂ„ gĂȘgayuhan yĂšn diudi nganti katĂłg lan mĂȘnĂȘp ing tĂȘmbĂ© ugĂ„ bakal kasinungan sifat bĂȘnĂ­ng.
LirĂ©, nadyan pĂȘpinginan lan panggayu bisa kalĂȘksanan klawan tumuli, Ă©wĂ„ sĂȘmono yĂšn ditlatĂšni suwĂ©ning suwĂ© ugĂ„ bakal kasĂȘmbadan.
PitudĂșh : # 144
YĂšn kĂȘpingĂ­n nglungguhi pangkat kang dhuwĂșr luwĂ­h prayogĂ„ yĂšn dikawiti sĂ„kĂ„ kalungguhan kang ĂȘndhĂšk dhĂ©wĂ©.
AwĂ­t klawan mĂȘngkono ing tĂȘmbĂ© kowĂ© ora bakal gampang disĂȘpĂšlĂškakĂ© dĂ©nĂ­ng bawahanmu.
Lan kang utĂ„mĂ„ yaiku kowĂ© nuli bisĂ„ madĂȘg dadi pĂȘmimpĂ­n kang bisĂ„ nglungguhi ing kawicaksanan, adĂłh sĂ„kĂ„ watak dĂȘgsurĂ„, ananĂ© mĂșng sarwĂ„ kĂȘbak rĂ„sĂ„ tĂȘpĂ„ salirĂ„.
PitudĂșh : # 145 GinubĂȘl dĂ©nĂ­ng rĂ„sĂ„ "Tansah kurang marĂȘm" marang asilĂ­ng pakaryan utawa jĂȘjibahan kang diayahi, saugĂȘr ora ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„, sayĂȘkti malah dadi pamĂȘcĂșt kang bĂȘcĂ­k kanggo luwĂ­h maju.
NangĂ­ng yĂšn rĂ„sĂ„ tansah kurang marĂȘm mau ngĂȘnani wuwuhĂ­ng donyĂ„-brĂ„nĂ„, ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„dĂ©nĂ© rĂȘridhu sĂ­ng ĂšsthinĂ© mĂșng tansah rinĂ„sĂ„ kayadĂ©nĂ© pasiksanĂ© ngaurĂ­p.
PitudĂșh : # 146
ÉlingĂ„, mbĂ©sĂșk yĂšn wĂ­s tumĂȘkaning janjinĂ© ora kĂȘnĂ„ ora, badan wadhag lan sabarang kalĂ­r kang kita darbĂšni iki bakal kita tinggalakĂ© kabĂšh, ora Ă„nĂ„ kang kitĂ„ gĂ„wĂ„ mĂȘnyang alam kalanggĂȘngan.
Mula Ă„jĂ„ bangĂȘt nggĂłnira katrĂȘm marang kadonyan.
ÅpĂ„ manĂšh, sĂ„pĂ„ kang tansah ngĂȘgĂșl-ĂȘgĂșlakĂ© marang donyĂ„ brananĂ© lan gandrĂșng marang pĂȘpinginan kang ora langgĂȘng, ĂšsthinĂ© ora bakal bisa nĂȘmĂłkakĂ© kahanan kang bisĂ„ gawĂ© langgĂȘngĂ­ng kasĂȘnĂȘngan lan katĂȘntrĂȘmanĂ­ng ati.
PitudĂșh : # 147
BatinĂ© wĂłng kang bisa ndarbĂšni ati nriman iku tansah ayĂȘm lan tĂȘntrĂȘm, margĂ„ satingkah laku tansah linambaran kĂȘyakinan kang kandĂȘl marang kadar pĂȘparingĂ© PangĂ©ran.
Nriman ora tĂȘgĂȘs wis marĂȘm Ă„pĂ„ ananĂ©, nangĂ­ng suwalikĂ© kĂȘpĂ„rĂ„ malah sungkan mĂȘnĂȘng.
MĂșng baĂ© ora grusa-grusu kĂ„yĂ„ tumindakĂ© wĂłng kang nduwĂšni sipat ngĂ„ngsĂ„-Ă„ngsĂ„ kĂ„yĂ„ ora gĂȘlĂȘm ngakĂłni karang ananĂ© pandĂșm.
PitudĂșh : # 148
AbĂłt-abĂłting cobĂ„ tumraping ngaurĂ­p iku malah ora kĂ„yĂ„ wĂłng kang lagi kĂȘbyukan sihĂ­ng GĂșsti Allah.
YĂšn lulĂșs sĂ„kĂ„ pandadaran bisĂ„ dadi manungsĂ„ kang kajĂ„bĂ„ gĂȘdhĂ© sĂ­h kadarmanĂ© ugĂ„ wicaksĂ„nĂ„ laĂ­r batinĂ©.
NangĂ­ng yĂšn tĂ„ ora tĂȘgĂșh imanĂ©, wĂłng kang lagi kabĂłmbĂłng ing donyĂ„ artĂ„ lan kĂȘladĂșk rumĂ„ngsĂ„ sarwĂ„ kuwagang mbĂȘndĂșng sĂȘgĂ„rĂ„ njugrĂșgakĂ© gunĂșng mau istingarah bakal kĂłncatan kawaspadanĂ©.
KĂȘjĂ„bĂ„ lali marang sangkan paranĂ© ugĂ„ lali yĂšn sakĂšhĂ­ng drajat lan sĂȘmat dalasan tĂȘkan nyawanĂ© dhĂ©wĂ© pisan iku mĂșng lugu barang titipan kang sawayah-wayah bisa dipundhĂșt bali dĂ©nĂ­ng Kang Kagungan.
PitudĂșh : # 149
AmbudidĂ„yÄÄ ing bĂ„ndhĂ„ manĂșt sakatĂłgĂ­ng tĂȘnĂ„gĂ„ nangĂ­ng Ă„jĂ„ lali kinanthĂšnan tĂ©kad lan sĂȘdya yĂšn sapĂ©rangan bakal kita tanjakakĂ© kanggo nindakakĂ© pangibadah.
Élinga yĂšn pati iku lawangĂ­ng akhĂ©rat, dĂ©nĂ© laku ngibadah iku kang bisĂ„ dadi sarĂ„nĂ„ nggampangakĂ© manungsĂ„ tumĂȘkanĂ© marang ing lawang mau kanthi rĂ„sĂ„ pangrĂ„sĂ„ tobat lan sumarah.
SuwalikĂ©, jiwĂ„ rĂ„gĂ„ kang ora kanggo tobat nalangsa ing GĂșsti Allah iku ora bĂ©dĂ„ kĂ„yĂ„ angganĂ© bĂ„ndhĂ„ kang ora dijakati lan ora ditanjakakĂ© kanggo pĂȘnggawĂ© kabĂȘcikan.
PitudĂșh : # 150
YĂšn sirĂ„ pinuju nandhang bagas kuwarasan, Ă©linga yĂšn nalika kĂȘnĂ„ ing lĂ„rĂ„, suprĂ­h sirĂ„ tĂȘtĂȘp bagas kuwarasan kanthi sĂȘsirĂ­k prakĂ„rĂ„-prakĂ„rĂ„ kang mbiyĂšn nyĂȘbabakĂ© lĂ„rĂ„.
YĂšn ing nalikĂ„ sugĂ­h, Ă©lingĂ„ yĂšn kĂȘna ing pĂȘkĂ­r, lĂȘkas sĂ­ng kĂ„yĂ„ mĂȘngkono mau kanggo ngawĂ©kani amrĂ­h sira ora gampang kadunungan pikiran sĂȘnĂȘng pamĂšr lan sĂȘsĂłngaran.
KawruhĂ„nĂ„, iku kĂȘpĂ„rĂ„ nudĂșhakĂ© pratĂ„ndhĂ„ yĂšn dhĂšwĂškĂ© iku sĂȘjatinĂ© wĂłng kang tunĂ„ ing rĂ„sĂ„ wĂȘlas asĂ­h lan miskĂ­n ing kawrĂșh.
PitudĂșh : # 151
KitĂ„ manungsĂ„ iki ora kĂȘnĂ„ tansah ngantu-antu tĂȘkanĂ© wĂȘktu kang bĂȘcĂ­k, jĂȘr wĂȘktu kang bĂȘcĂ­k iku sĂȘjatinĂ© kudu kitĂ„ dhĂ©wĂ© sing gawĂ©.
KitĂ„ kudu tansah Ă©lĂ­ng yĂšn sabarang tingkah lan tandĂșk kitĂ„ ing dinĂ„ kang siji iku nggĂ„wĂ„ kĂȘputusan tumrap dinĂ„ sijinĂ©.
DĂ©nĂ© dinĂ„ kang pungkasan iku kang mutĂșsakĂ© sakabĂšhĂ­ng wĂȘktu lan dinĂ„-dinĂ„ kang wis kapungkĂșr.
MulĂ„ sadurungĂ© kitĂ„ tumapak marang dinĂ„ pungkasaning urĂ­p, dipĂ„dhĂ„ bisĂ„ nglungguhi marang jĂȘjĂȘrĂ­ng urĂ­p manungsĂ„.
PitudĂșh : # 152
WĂłng nandhang lĂ„rĂ„ mono akĂšh sĂ­ng mĂȘrgĂ„ anggĂłnĂ© ngombĂ© lan mĂȘmangan kliwat takĂȘr lan tanpĂ„ pilĂ­h-pilĂ­h.
MulĂ„ kanggo nyandhĂȘt ubalĂ­ng hĂ„wĂ„ marang bab sakaronĂ© mau, dibisĂ„ marsudi nyudĂ„ nuruti kĂȘcaping lidhah sarĂ„nĂ„ nglakoni pĂ„sĂ„ kang mĂȘngku ancas nyingkiri sadurungĂ© katamaning bilahi.
PitudĂșh : # 153
WĂłng kang lagi kasinungan kabĂȘgjan lan kamĂșlyan iku dibisĂ„ marsudi amrĂ­h langgĂȘng, Ă„jĂ„ banjĂșr kalimpĂșt watak jubriyĂ„ lan sĂȘmbrana sing sisĂ­p sĂȘmbirĂ© bisĂ„ kĂȘjlungĂșp tibĂ„ ing kasangsaran.
YĂšn wĂ­s mangkono mĂșng rĂ„sĂ„ gĂȘtĂșn lan piduwĂșng sing kari ing pamburinĂ©.
PitudĂșh : # 154
HÄwÄ napsu lan watak angkÄrÄ iku sawutuhé manjíng ing dhiri pribadiné dhéwé-dhéwé.
YĂšn diumbar ngrĂȘbdĂ„ bakal gawĂ© "BĂȘncĂ„nĂ„ lan kasangsaran".
SuwalikĂ© yĂšn bab mau bisĂ„ dikĂȘndhalĂšni bakal njĂ­lmĂ„ dadi watak "Sabar lan prasĂ„jĂ„", tulĂșs Ă©klas awĂšh pangapurĂ„ marang sapĂ„dhĂ„-pĂ„dhĂ„ sĂ­ng gawĂ© kaluputan.
PitudĂșh : # 155
Tapaning ati iku mĂșng tĂȘmĂȘn, yĂšn tapaning nyĂ„wĂ„ mĂșng Ă©lĂ­ng.
SĂ­ng sĂ„pĂ„ bisa Ă©lĂ­ng sĂȘdinĂ„ sĂȘpisan baĂ©, adatĂ© barang kang sinĂȘdyĂ„ bakal Ă„nĂ„.
SĂ­ng sĂ„pĂ„ tĂȘmĂȘn salawasĂ©, kabĂšh pangajabĂ© bakal kĂȘcandhak.
DĂ©nĂ© kang aran sĂȘjatinĂ­ng katĂȘmĂȘnan iku sakabĂšhĂ­ng pakarti kang ditindakakĂ© klawan madĂȘp mantĂȘp tanpĂ„ mandhĂȘg-mangu lan tolah-tolĂšh, saĂ©nggĂ„ sabarang kĂȘkarĂȘpanĂ© bakal ginayĂșh.
PitudĂșh : # 156
WĂłng iku yĂšn lagi nandhang lĂ„rĂ„ lagi bisĂ„ ngrasakakĂ© sĂȘpirĂ„ munggĂșh bĂȘgjanĂ© wĂłng kang kanugrahan awak kang tansah kuwarasan.
NangĂ­ng suwalikĂ©, wĂłng sĂ­ng awakĂ© sĂȘgĂȘr waras lumrahĂ© lali rĂȘkasanĂ© wĂłng lĂ„rĂ„.
SangsĂ„yĂ„ adĂłh kĂ©linganĂ©, sangsĂ„yĂ„ cĂȘdhak anggĂłnĂ© ngumbar hĂ„wĂ„ nuruti pĂȘpinginanĂ© mripat, ilat, lan tĂȘlĂ­h (wadhĂșk, wĂȘtĂȘng) kang sĂȘjatinĂ© ngajak marang rusakĂ­ng rĂ„gĂ„.
MulĂ„ prayoganĂ© tansah Ă©linga pĂȘrihĂ­ng lĂ„rĂ„ kanthi nggĂȘmatĂšni kanikmatan kang wĂ­s diparingakĂ© dĂ©nĂ­ng GĂșsti Allah tan kĂȘna kinayangĂ„pĂ„ ajinĂ©, yaiku wujĂșd awak kang bagas kuwarasan.
Pituduh : # 157
ManungsĂ„ pinaringan dĂ©nĂ­ng PangĂ©ran pĂ©ranganĂ­ng awak kang kalarasakĂ© karo gumĂȘlarĂ­ng bĂȘbrayan.
Pinaringan mripat loro, pĂȘrlunĂ© supĂ„yĂ„ akĂšhĂ„ kang didĂȘlĂȘng, yĂ„ kang ngĂȘnani ubĂȘr ingĂȘring alam, Ă„lĂ„ bĂȘcikĂ­ng kahanan, lan owah gingsirĂ­ng jaman.
Liré, supÄyÄ linarasna kanthi lantipíng panggraitÄ.
Pinaringan kupĂ­ng loro, murih akĂšhĂ„ swĂ„rĂ„ kang dirungĂłkakĂ©, nuli kathinthingana lan kasaringa kanthi lungidĂ­ng panyiptĂ„ lan alapĂȘn kang awĂšh pakolĂšh.
Pinaringan tangan loro, sikĂ­l loro, supĂ„yĂ„ akĂšhĂ© kang ditandhangi, pilihĂȘn kang murakabi kanggo bĂȘbrayan agĂșng.
PitudĂșh : # 158 PancĂšn ora Ă„nĂ„ wĂȘwalĂȘr ing jagad iki tumrapĂ­ng wĂłng kang nglumpĂșkakĂ© donya brĂ„nĂ„. nangĂ­ng kitĂ„ kudu tansah Ă©lĂ­ng yĂšn donyĂ„ brĂ„nĂ„ mono dudu panggĂłnanĂ© kalanggĂȘngan.
Nabi Muhammad wĂșs parĂ­ng sabdĂ„ : "Ora prayogĂ„ ninggalakĂ© kadonyan margĂ„ nglakĂłni akhĂ©rat.
NangĂ­ng jĂȘnĂȘng wĂłng kang nisthĂ„ sĂ„pĂ„ kang ninggalakĂ© bab akhĂ©rat margĂ„ mĂșng golĂšk donyĂ„ brĂ„nĂ„ tanpĂ„ waspĂ„dĂ„ marang pungkasanĂ­ng dumadi."
PitudĂșh : # 159
Brangating ati sabisĂ„-bisĂ„ kĂȘndhalĂšnĂ„nĂ„, Ă„jĂ„ diububi nganti muntab dadi ubalĂ­ng nĂȘpsu.
KĂ„yĂ„dĂ©nĂ© nyirĂȘp gĂȘni sarĂ„nĂ„ lĂȘngĂ„.
Napsu amarah mono isĂ­h tĂȘtĂȘp bakal tansah mbĂȘbĂȘdhag sĂȘlawasĂ© yĂšn tĂ„ ora kinanthĂšnan pikiran kang mĂȘnĂȘp, lan ati kang Ă©lĂ­ng.
ÉlingĂ© ati lan mĂȘnĂȘpĂ­ng pikĂ­r bakal numusi mulurĂ© budi kang tundhĂłnĂ© bisĂ„ dadi panyirĂȘp sakĂšhing pakartinĂ­ng sĂ©tan.
PitudĂșh : # 160
WĂłng kang ringkĂ­h iman lan batinĂ© bakal gampang dadi jujuganĂ© dĂșrjĂ„nĂ„ apĂșs-apĂșs kang patĂ­ng sliwĂȘr golĂšk mangsan.
Pirang-pirang kĂšhĂ© wĂłng kasĂȘlak pĂȘrcĂ„yĂ„ rĂȘmbĂșg pangimĂ­ng-imĂ­ng ora pinikĂ­r bakal kĂȘdadĂ©yanĂ© ing tĂȘmbĂ©.
WusananĂ© nandhang kapitunan lan kĂȘnĂ„ ing apĂșs.
Mula ditansah waspÄdÄ, ÄjÄ lirwÄ ing kaprayitnan.
PitudĂșh : # 161 SamĂ„ngsĂ„-mĂ„ngsĂ„ thukĂșl plĂȘtikĂ­ng pikĂ­r kang kasarung dĂ©nĂ­ng ubalĂ­ng nafsu Ă„lĂ„, yogyanĂ© sumĂȘnĂȘpnĂ„ sauntĂ„rĂ„.
YĂšn bisĂ„ kĂ„yĂ„ mangkono karan wĂłng wicaksana, jalaran kĂȘjaba bisĂ„ nglĂȘrĂȘmakĂ© ati kanth
i mĂȘnĂȘpĂ­ng pikirmu ugĂ„ bakal kĂȘcĂłnggah nyirĂȘp ubalĂ­ng nafsumu mau.
WusĂ„nĂ„ rahayu kang tinĂȘmu mĂȘrgĂ„ bisĂ„ sumingkĂ­r sĂ„kĂ„ mĂȘmĂ„lĂ„ kang tĂȘkĂ„ arĂȘp ngrĂȘridhu awakmu.
PitudĂșh : # 162 WĂłng kang sĂȘngsĂ„rĂ„ uripĂ© jalaran Ă„nĂ„ rĂłng warnĂ„.
Kapisan sĂ„kĂ„ kaluputanĂ© dhĂ©wĂ©, kang kapindho mĂȘrgĂ„ sĂ„kĂ„ pokalĂ© dhĂ©wĂ©.
SĂ­ng kapisan iku paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah kodanan lan kĂȘpanasan ora diopĂšni, dĂ©nĂ© sĂ­ng kang kapindho paribasanĂ© tanĂȘm tuwĂșh kang tansah diapĂšk asilĂ© nganti ora kobĂȘr thukĂșl gĂłdhĂłngĂ©.
PitudĂșh : # 163 YĂšn sirĂ„ urĂ­p ing alam donya iki rumĂ„ngsĂ„ nampĂ„ pandĂșm kĂȘsĂȘthithikĂȘn iku wĂ­s dadi pĂȘpĂȘsthĂšnĂ© urĂ­pmu, ora pĂȘrlu mbĂłk murinani.
Pamurinamu prayogĂ„ lipurĂȘn sarĂ„nĂ„ mawas lĂȘlabuhanmu dhĂ©wĂ©, jĂȘr lĂȘlabuhan ing alam donya mono dadi trajunĂ­ng akĂšh sĂȘthithikĂ© pandĂșmmu.



silahkan anda Copy paste artikel diatas tapi kalau anda tidak keberatan cantumkan sumber dengan linkback ke blog ini. terimakasih....!!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More